
Di Batam.
Jay yang sudah berusia 7 tahun sedang mengemasi barang bawaannya dengan sangat riang. Ia tak henti-hentinya tersenyum sejak tadi. Berbeda dengan Shalsabilla yang berwajah muram.
“Honey, sudah, jangan bersedih lagi.” Jimi memeluk dan mengecup kepala Billa.
“Honey, aku bahkan tidak pernah mengidam Arsen dulu, aku tidak pernah memajang foto Arsen waktu hamil dulu, di kamar kita. Memasang foto bersama sih di ruang tamu, tapi itu ada Kinah, Kita, Arhen, Ardhen, bahkan kedua orangtuaku. Lalu, aku juga tidak pernah minta ini itu, foto yang aku pajang di kamar dan hpku hanya kamu. Kenapa putra kita begitu terobsesi pada Arsen,” Billa berucap sendu.
Jimi menghela nafasnya pelan, menatap Billa dan mengelus pipinya lembut. Ia juga sebenarnya sedih, putra semata wayangnya itu memilih ingin pergi ke Belanda.
Awalnya, ia hanya mengira rengekan anak kecil berumur 7 tahun, jadi dia mengabaikan dan membujuknya. Namun, putranya Jay malah memilih tidak makan 2 hari sehingga ia ditemukan pingsan di dalam kamar dengan wajah pucat. Akhirnya, Jimi dan Billa hanya bisa pasrah. Mengizinkan putra semata wayangnya itu ke Belanda.
“Honey, apa aku terlalu memanjakan dia? Aku bahkan mendidiknya seperti Kinah mendidik sikembar, tidak memanjakannya. Tapi kenapa?” Lagi-lagi, Billa kalut dengan pikirannya. Bisa-bisa nya putra semata wayangnya lebih memilih ingin bersama Arsen dari pada dirinya.
“Honey, kita lihat saja dulu. Biasanya anak-anak hanya sebatas ingin semata saja, nanti juga akan merindukan kita. Apalagi kamu, Ibunya. Biasanya, anak-anak akan selalu merindukan Ibunya dimana pun,” tutur Jimi mengelus lembut rambut Billa yang tak berkedip, melihat putranya tersenyum sendiri mengemasi semua barangnya.
Billa sengaja merapikan pakaian Jay saja, ia berharap putranya itu hanya akan tinggal selama sebulan di sana. Akan tetapi, putranya itu membawa semuanya, buku kesukaannya, mainannya, bahkan boneka wajah Arsen tak pernah lepas dari tangannya.
“Honey, aku jadi khawatir, apakah nanti anak kita tidak menjadi pecinta sesama jenis?” Billa mulai dirasuki kecemasan. Ia takut putranya itu menjadi tidak normal. Melihat bagaimana sikap Jay selama ini.
“Honey, jangan berkata apalagi berpikir seperti itu. Berdo'a saja, semoga putra kita hanya sebatas mengagumi, tidak lebih.” jawab Jimi.
Billa mendesah. “Aku juga berharap begitu, Honey.”
Beberapa hari yang lalu, setelah Jay mendengar dan melakukan video call bersama Arsen, jika Abang kesayangannya itu telah menyelesaikan studinya di Inggris, lalu dia akan menetap di Belanda untuk menjalankan perusahaan Ar3s. Jay langsung bersemangat, ia meminta sekolah di sana, padahal ia sudah di sekolahkan di sekolah elit di Batam.
Ia bersikukuh meminta sekolah di Belanda, ia juga memohon pada ke-dua orangtua Jimi, agar membujuk Billa dan Jimi. Tentu saja, kedua nenek dan kakek itu urung melakukannya, hanya pura-pura mengangguk. Lalu, anak itu merajuk, memilih mengurung diri di kamar, hingga Jimi mendobrak pintu, melihat putranya itu pingsan dengan wajah pucat.
Jay, anak laki-laki yang sangat pendiam. Ia jarang berbicara, lebih suka menggerakkan tangan atau mimik wajahnya. Bahkan waktu dia batita, Billa sampai membawa dia ke dokter, mengira anaknya itu bisu, tetapi Jay tidak bisu, hanya saja, memang anak itu pendiam dan malas bicara.
Ia akan bicara jika itu sangat terdesak, meminta dan memohon sesuatu.
Terkadang, Billa menemukan wajah dinginnya dengan sorot mata tajam, cara bicara, pakaian, potong rambutnya, ia meniru semua yang dilakukan Arsen.
“Honey, jika saja putraku ini perempuan, pasti akan aku nikahkan dini mereka!” rungut Billa. Jimi malah terkekeh mendengarnya.
Jimi sekeluarga baru saja sampai di Belanda.
Di mansion, tepatnya baru saja memasuki gerbang mansion. Billa sekeluarga di sambut sosok gadis berumur 5 tahun dengan rambut diikat kepang dua. Rambut coklat tuanya yang ikal terlihat lucu. Ia adalah Jamila, putri Sakinah satu-satunya. Tubuhnya tinggi sebanding dengan Jay yang berumur 7 tahun.
“Miss, Dad, Ajo, Momku ada di dalam, silahkan masuk!” sapa nya dengan wajah terkejut, lantas langsung berbelok ke kiri dengan berlari kencang.
“Ya ampun, calon menantuku itu gesit sekali, padahal aku masih merindukannya,” ucap Billa menggelengkan kepala melihat Jamila yang berlari. Sedangkan Jimi hanya menatap tersenyum ke arah gadis kecil itu belari. Lalu, reaksi Jay? Anak itu diam bak patung. Ia tak peduli. Yang ia inginkan hanya Abang kesayangannya, Arsen.
Dari jauh, tampak Nani berlari ngos-ngosan.
“Ada apa Nani?” tanya Jimi dalam bahasa Belanda.
“Saya sedang mengejar dan membujuk Nona Muda. Sore ini Nona Muda harus belajar tata krama bersama gurunya Van Balert, tetapi dia malah kabur, tak mau mandi,” jawab Nani dengan suara yang masih ngos-ngosan. “kalau begitu, saya permisi dulu, Nona, Tuan. Silahkan masuk, Nyonya Muda kami ada di dalam.” lanjut Nani. Kemudian mencari Jamila.
Billa sekeluarga masuk ke mansion.
“Billa!”
“Aku merindukanmu, Billa.”
“Aku juga merindukanmu, Kinah.” Dua wanita itu saling berpelukan. Jimi hanya tersenyum kecil melihat adegan itu. Adegan itu akan selalu terjadi saat istrinya dan Kinah bertemu.
“Hai, Sayang. Kau sudah besar dan semakin tampan.” Kinah mengusap wajah Jay, lalu mengecup pipinya lembut. Jay menatap Kinah, lalu tersenyum tipis.
“Clara, tolong antarkan Jay ke kamarnya, ya, susun barang-barang bawaan sesuai seleranya.” Sakinah menatap Clara. “Nah, menantu Mom sama Bi Clara dulu ya ke kamar,” pinta Kinah pada Jay.
“Iya, Mom,” jawab Jay patuh, lalu mengikuti Clara bersama dua pelayan lain yang membawa barang-barang bawaan Jay dan Billa ke kamar Jay dan kamar tamu.
Panggilan menantu untuk Jay ataupun Jamila sudah mereka rencanakan sejak Sakinah melahirkan anak perempuan, bahkan mereka sudah menjodohkan mereka sejak bayi. Masalahnya, dua anak itu tidak akur, mereka selalu berebut dan berkelahi, yang mereka perebutkan utama adalah perhatian Abangnya, Arsen. Hingga Billa sampai berkata, putranya seharusnya lahir menjadi perempuan saja, jika begitu terobsesi pada Arsen.
••
Kinah asik berbincang dengan Billa, Jimi memilih merebahkan dirinya di sofa.
Satu jam sudah berlalu, tiba-tiba Nani menangis.
“Nyonya Muda, maafkan saya, saya bersalah, saya gagal menjadi pengasuh Nona Muda Jamila. Nona Muda Jamila menghilang, saya sudah mencarinya kemana-mana. Maafkan saya...” lirih Nani duduk bersimpuh.
“Apa?!” Billa terkejut, ia langsung berdiri. Kinah memijit keningnya.
“Panggil Kepala Pelayan!” pinta Kinah pada Nani.
“Ayo, kita cari Jamila, Kinah!” Billa menarik-narik tangan Kinah yang tampak diam saja. “Hei, kau tak cemas putrimu hilang?” seru Billa bertanya dengan mata membelalak.
“Bukan tak cemas, Bil. Mansion ini di jaga ketat oleh pengawal, gerbang dan tembok tinggi, ia tak bisa kemana-mana, makanya aku butuh Kepala Pelayan,” jelas Kinah pada Billa.
Billa menatap Kinah dengan tatapan yang tak mengerti.