
Vindo memakai jas hitam dengan celana dan sepatu kulit mengkilat yang senada, tubuh tinggi dan kekarnya terlihat ketat memakai jas yang pas ditubuh nya itu. Rambut poninya yang sedikit panjang ia sibakkan dengan jari-jarinya ke kebelakang saat ia turun sempurna dari mobil marsedes hitam.
Ia berjalan dengan gagahnya ke kantor dan berhenti tepat di meja resepsionis kantor.
“Pagi, saya Vindo, saya ingin bertemu dengan Direktur Utama, Tuan Arsen!” ucapnya tegas.
“Baik, tunggu sebentar.” Resepsionis itu menekan telepon umum yang ada di atas mejanya, lalu memberikan kabar pada penerima panggilan.
“Hei, jaga meja ya, saya akan mengantarkan Tuan itu dulu, ke ruang direktur!” bisiknya pada teman di sebelahnya.
“Mari ikut saya, Tuan!” ucap resepsionis itu. Vindo pun mengangguk dan mengikutinya.
Resepsionis itu menuju lift VIP khusus, ia menggesek kartu kerjanya untuk membuka dan menjalankan lift itu. Setelah sampai dan lift terbuka, ia berkata pada Vindo.
“Tuan, ini ruangan Direktur Utama, silahkan!” ujarnya mempersilahkan, setelah melihat Vindo mengetuk ruangan itu sambil memanggil, ia pun kembali masuk ke dalam lift dan turun kembali ke meja resepsionis.
Mendengar ketukan, Hans langsung membuka pintu kaca ruangan itu, masuklah Vindo ke dalamnya.
“Pagi Tuan Muda!” sapanya.
“Hm, pagi! Duduklah!” perintah Arsen. Vindo pun duduk.
Tak lama seorang sekretaris masuk sambil membawa nampan berisi minuman dan cemilan.
Arsen dan Vindo pun berbincang, sedangkan Hans melanjutkan pekerjaan dan memeriksa beberapa file yang harus ditangani Arsen segera.
**
Eline Fey merasa di atas awang saat dirinya menjadi pusat perhatian, dirinya bahkan disebut wanita baik yang sabar, wanita yang seharusnya mendapatkan yang lebih baik dari pada superstar casanova itu.
“Lula, apa rencana selanjutnya?” Eline Fey bertanya pada asistennya, sambil memperhatikan kuku-kuku ditangannya.
“Sekarang kita harus bersabar dulu, Nona. Anda harus bisa memperhatikan sekitar, saya kira Arhen cukup terpukul, dia akan segera menemui Nona dan meminta balikan.”
“Ahahaha! Ya seharusnya begitu, bagaimana mungkin dia hanya berpacaran denganku seminggu, itu benar-benar membuat harga diriku rendah, selama ini para pria mengejarku, tapi dia dan saudara-saudara nya itu menyebalkan! Arsen pria sombong itu dan Ardhen pria cuek, menyebalkan! Lalu, Arhen pria tukang pacar itu seenaknya menghinaku seperti itu! Tidak akan aku biarkan!” gumam Eline yang tiba-tiba kesal jika mengingat tiga saudara kembar itu.
“Nona, jika saya boleh tahu, sebenarnya ... diantara mereka bertiga, siapa yang Anda sukai?” tanya Lula, sang asisten Eline.
Dia tampak menghela nafas. “Sebenarnya aku menyukai Arsen, pria sombong itu! Tapi antara mereka bertiga sama saja keren dan tampannya, sama-sama keturunan Van Hallen, kaya raya, dan tentu Arhen lebih mudah didekati dari yang lain, kau tahu itu 'kan?” Eline Fey menoleh menatap Lula.
“Iya, saya paham Nona,” sahut Lula.
Saat mereka berdua berbincang, tiba-tiba seorang pria tampan dengan tubuh tinggi atletis, berotot dengan bajunya yang ketat membentut tubuhnya yang sixpack masuk ke dalam butiknya.
Eline Fey terkesima sesaat. Kemudian ia langsung tersenyum dan menyambut ramah.
“Silahkan Tuan, ada yang bisa saya bantu?”
“Lul!” Eline Fey sedikit berbisik dengan memberikan kode mata.
Karyawan butik Eline dan Lula segera membawa beberapa jas ke hadapan Vindo.
Vindo mencoba kemeja dan jas itu di depan Eline dan Lula. Dua wanita itu bahkan tak berkedip saat melihat tubuh perfeck Vindo.
Setelah mencobanya dan memakai yang nyaman, Vindo mengulurkan kartu hitam pada Lula. “Perkenalkan, saya Cristian, apakah Nona cantik ... manager butik ini?” tanya Vindo berpura-pura.
Eline Fey tersenyum. “Hm, bisa dibilang begitu, apakah Tuan ... baru di kota ini?” tanya Eline Fey.
“Ya, baru seminggu. Saya belum mengenal daerah di sini.” jawab Vindo.
“Oh, apakah Tuan hendak mencari kerja atau kemari karena dapat panggilan kerja?” Eline Fey kembali bertanya.
“Saya kemari diminta Kakak untuk mengelola anak perusahaannya di daerah Law.”
“Law? Lawsen?” tanya Eline Fey. Vindo mengangguk. Eline Fey langsung tersenyum senang mendengarnya.
“Oh, ya Tuan, ini kartu nama saya, jika Tuan butuh bantuan atau ingin saya menemani untuk mengenal daerah sini, saya akan bantu.” Eline Fey memberikan kartu namanya pada Vindo.
“Ah, merepotkan Nona. Terimakasih banyak, ya!” Vindo mengambil kartu nama itu.
Lawsen, dulunya yang dikenal orang sebagai Lawyer. Setelah dipindah alihkan menjadi milik Arsen, berganti menjadi Lawsen. Sayangnya, tak banyak pihak yang tahu, jika perusahaan itu milik Arsen. Orang-orang hanya tahu, jika itu dipimpin oleh seorang pemuda, kecuali orang-orang terkait. Perusahaan Lawsen mendukung kerja sama bersama Wilz Plantsgroup, Wizgold Antaman Groub dan Ar3s, serta perusahaan lainnya.
Tentu saja info Lawyer juga tidak diketahui oleh Eline Fey.
“Ini tidak merepotkan kok Tuan!” Eline Fey tampak tersenyum dengan wajah memerah tersipu malu.
Eline Fey, wanita cantik berkulit putih, jika ia tersenyum, terkena cahaya, mengerut, bahkan membuat gerakan kecil di wajahnya, wajah itu akan memerah, terkhusus pipinya.
“Kalau begitu, saya permisi dulu, Nona!” pamit Vindo.
“Ah, iya Tuan, izinkan saya mengantar Anda keluar!”
“Tentu, silahkan!”
Mereka berjalan berdua dengan beriringan keluar dari butik. Sebuah mobil marsedes hitam telah setia terparkir di depan butik milik Eline Fey. Vindo masuk ke dalam mobil itu dengan gaya maskulin.
Setelah masuk ke dalam mobil, mobil segera melaju dan Vindo pun menelepon Arsen.
“Tuan Muda, mangsa sudah mulai menggigit umpan!” lapor Vindo.
“Bagus! Lanjutkan! Kutunggu kabar baik darimu!” Arsen menjawabnya dari sebrang sana.