Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Kawin Lari?


“Sekarang sudah terasa 'kan Sayang?” bisik Ardhen manja ditelinga belakang Haizum.


“Aaa--” Haizum membalik tubuhnya cepat dengan memaksa melepaskan tangan Ardhen dari pinggulnya.


Ardhen tersenyum lembut menatap wanita yang dia kira istrinya. Haizum hanya bisa menghela nafas, godaan yang sangat besar, atasannya yang tampan ini benar-benar menggoda imannya.


Tiba-tiba, Ardhen meraih tangan Haizum, meletakkannya di sana. “Terasa 'kan, dia sangat rindu.”


“Aaa---” Haizum tak bisa berkata-kata. Malu, kaget, penasaran menjadi satu. Dia tak menghentikan tangan Ardhen yang menuntun tangannya untuk menyentuh area terlarang itu karena tepukau sesaat.


“Hm... Aku mau!” Suara Ardhen terdengar berat dan serak, tatapan matanya sayu, apalagi setelah menuntun tangan Haizum menyentuh area sensitif itu.


Lalu, dengan sekali gerakan, Ardhen menarik celananya, hingga menyisakan kain segitiga yang sudah tampak membengkak, sesuatu di dalam kain segitiga itu sesak ingin mengeluarkan dirinya. Barulah Haizum tersadar dan menarik tangannya.


“Kenapa?”


“I-itu, aku belum siap!” Haizum langsung bangun dan duduk, memunggungi Ardhen.


“Hmmm,” terdengar gumaman Ardhen sedikit kecewa. Dia kembali menaikkan celananya yang baru ditarik turun hingga setengah paha.


“Ya sudah, gak apa-apa, kalau kamu belum siap, aku gak akan memaksa.” Ardhen memiringkan tubuhnya ke samping, memunggungi balik Haizum yang duduk memunggunginya.


Hening, cukup lama.


Haizum akhirnya berdiri, mengintip Ardhen. “Eh?” Terlihat Ardhen menatapnya juga saat dia mengintip wajah Ardhen yang memunggungi. “Aku kira, kamu sudah tidur,” ringis Haizum dengan senyuman kaku.


“Belum bisa tidur, kepalaku sakit.”


“Mau aku pijitin?” tanya Haizum. Ardhen menatapnya lama tanpa menjawab. Membuat Haizum menjadi canggung.


“Hm, tidak, berbaringlah kembali, cukup temani aku saja di kamar.”


“Oh, baiklah!” Haizum kembali perlahan berbaring diam dengan perasaan berdebar.


Kepala Ardhen semakin sakit, awalnya ringan, tapi bertambah berdenyut setelah adik kecil dalam celananya tadi mengeras. Apalagi, tiba-tiba barusan ada beberapa potongan ingatan menyusup ke dalam memori otaknya.


‘Tidak boleh dalam agama kita, pacaran itu haram!’ Seorang wanita berwajah manis, menggunakan kerudung panjang tengah mengelus kepala Ardhen lembut.


‘Tapi--- kalau tidak pacaran, bagaimana bisa Mom dan Papa menikah?’


‘Karena jodoh. Mom 'kan tidak pacaran sama Papa. Adek ingat 'kan? Waktu itu Papa datang jengukin Adek ke rumah sakit, terus gak lama, Papa lamar Mom, lalu menikah. Kita semua dibawa sama Papa ke Belanda deh!’ jelasnya tersenyum lembut.


Ardhen mengernyitkan keningnya beberapakali, kepalanya benar-benar sakit rasanya.


‘Makanya, Kakak jangan merepotkan Abang terus! Kalau Mom tahu kelakuan Kakak yang gonta ganti pacar, pasti Mom sedih!’


‘Eh, itu namanya bukan pacaran, itu cuma gosip alias skandal buat mendongkrak namaku dan nama dia saja! Dhen, Kakakmu ini kerja di dunia hiburan, banyak tipu muslihat di sana!’


‘Terserah Kakaklah! Kalau aku sih tidak bisa hidup seperti itu!’


‘Iya, makanya, aku ini disebut si genius di dunia hiburan,’ jawabnya sambil mengedipkan mata menggoda.


“Siapa mereka?” Ardhen bergumam memijat-mijat kepalanya.


“Hei, kepalamu sangat sakit ya?” Haizum mulai khawatir, sejak tadi Ardhen terdengar meringis dan memegangi kepalanya.


Ardhen membalik tubuhnya, menghadap ke arah Haizum. “Dulu, kita pacaran?” tanyanya menatap Haizum intens.


“Hah? Mm-i-iya!” jawab Haizum terbata.


“Oh... apa kita kawin lari?” tanya Ardhen lagi.


“Hah!” Haizum terkejut mendengar pertanyaan itu.


“Hm, melihat ekspresi wajahmu seperti itu, aku tahu jawabannya. Kita kawin lari ya!” Entah dari mana Ardhen bisa berpikir seperti itu, membuat Haizum membulatkan matanya tak percaya dengan pola pikir atasan mudanya ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...