Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Menikah


Rumah Sakinah telah didecor dengan warna putih, biru dan silver oleh Shalsabilla bersama team decoration, Wedding Organizer Steve. Beberapa tetangga, teman kerja Sakinah telah mulai memenuhi rumahnya.


Satu hal yang membuat Sakinah terkejut, kehadiran Ayahnya dan Rukhsa adiknya bersama orangtua Shalsabila.


Ia berjalan perlahan memakai gaun feminim yang terlihat sederhana, namun sangat anggun saat ia gunakan. Berwarna cream, lengan panjang dengan motif berbunga diujungnya. Ada pita besar dibelakang, ball gown strapless dengan kelopak bunga yang disulam pada bagian roknya yang mengembang.


Tak lupa, perias juga memakaikan cadar berwarna senada dengan motif bunga padanya atas permintaan Arsen.


Penghulu dan saksi telah duduk, Sakinah awalnya berniat menikah tanpa wali sah, seperti Andrean yang menginginkan sebuah pernikahan kontrak. Namun sekarang ia benar-benar menikah yang sesungguhnya, ayahnya sebagai wali berjabat tangan dengan Andrean.


Awalnya Andrean sangat merasa percaya diri, namun entah kenapa tiba-tiba saja tangannya dan lidahnya menjadi kaku saat mengucapkan sumpah pernikahan, pengulangan pembacaan sumpah nikah pun dilakukan dua kali.


Sekar dan Wizza duduk di samping Andrean, lalu dibelakang mereka duduklah Jimi, Dedrick, Ayah Shalsabilla dan David serta beberapa orang lainnya. Sedangkan disamping Sakinah ada Ruksa, Shalsabila, Ibu Shalsabila dan tiga anak laki-laki kembarnya.


Dedrick mencuri-curi pandang melihat Sakinah yang menutupi wajahnya dengan cadar. Ia sungguh terpukau.


Saat pengucapan sumpah menikah, hati Dedrick dilanda cemburu, ia ingin duduk disamping Sakinah menggantikan Andrean. Benar-benar keinginan yang sangat egois. Kenapa dia harus memiliki perasaan pada seorang wanita untuk pertamakalinya pada Sakinah? Ia bahkan sampai mencubit lengannya sendiri.


Akhirnya, Sakinah dan Andrean pun menikah dengan syah di depan penghulu, wali nikah dan saksi.


Setelah menikah mereka melakukan acara berfoto bersama, makan bersama hingga acara selesai.


Arsen sedang berjalan berbimbing tangan dengan Ayah Kinah. Laki-laki tua itu hanya mengenal satu cucu, yaitu Arsen. Sedangkan Arhen dan Ardhen ia tidak mengenal, ia bahkan berfikir mereka berdua anak tiri Sakinah dari Andrean.


Kakek tua itu masih sempat-sempatnya menggendong Arsen saking rindunya. Tak peduli dengan pinggangnya yang akan encok. Kelakuan Ayah Kinah membuat dua adik laki-laki Arsen cemburu.


Sekar, Wizza, Dedrick dan Andrean sempat melihat keakraban Ayah Sakinah dengan Arsen. Mereka tak terlalu peduli, menurut mereka kedekatan itu dikarenakan Ayah Sakinah tetangga dengan orangtua Shalsabila dan Shalsabila adalah teman dekat Sakinah. Benar-benar kesalahpaham yang sengaja dibuat oleh Arsen.


“Kakek!” Arhen mengejar kedua orang yang sedang berjalan berbimbing tangan itu. Ayah Kinah menoleh saat mendengar anak kecil memanggilnya.


“Kakek aku juga mau!” rengek Arhen cemburu. Ia merampas tangan Ayah Kinah satunya lagi.


“Kakek kenapa hanya sayang pada Abang? Kenapa tidak sayang juga padaku dan Adik?” tanya Arhen.


“Mungkin karena kita baru kenal, sedangkan sama Arsen kakek sudah kenal duluan.” Jawaban yang paling tercepat yang laki-laki tua itu pikirkan.


“Apa Abang tidak bilang sesuatu sama Kakek?” Arhen berbisik pada Ayah Kinah.


“Tidak, memangnya apa?” tanya Beliau.


“Sebenarnya kami kembar tiga, tapi mereka cuma tahu kami berdua saja anak Mom, Kek. Kami mirip dengan mereka, sedangkan Abang tidak mirip, ia lebih cendrung sedikit mirip Mom.” bisik Arhen lagi, membuat mata Ayah Sakinah terbelalak.


“Tiga?!” tanyanya berseru.


“Ssssstt! Jangan kuat-kuat Kek, nanti ketahuan. Abang soalnya gak mau ke Belanda.” beber Arhen.


Arsen memelototkan matanya, meminta Arhen diam, pasalnya sang kakek belum tahu apa-apa. Laki-laki tua itu hanya tau tentang Arsen dan pernikahan putrinya Sakinah.


“Maksudnya bagaimana? Kakek belum paham.” tanya Ayah Kinah.


“Loh? Kakek belum tau?”


Arsen memegang tangan kakek itu. “Sebenarnya kami kembar tiga Kek. Saat itu aku belum sempat cerita sama Kakek dan Bibi.” jelas Arsen.


“Abaaaaaaaang! Kau belum menceritakan kami pada Kakek? Kau sangat curang!!!”


“Kek, Abang jahat! Kami sangat merindukan Kakek, dia pulang ke kampung bisa bertemu Kakek dan Bibi sedangkan kami tidak.” Memeluk kaki pria tua itu. Cemburu berbalut kesal.


Ayah Kinah mengusap rambut Arhen. “Maaf, Kakek baru tahu.” bujuknya.


Ardhen berjalan menghampiri mereka. Senyum malu-malu. Lalu bersalaman dan mencium punggung tangan Ayah Kinah.


Rukhsa pun menghampiri Kakek dan cucunya yang asik mengobrol itu bersama Shalsabila. Ia langsung memeluk Arhen dan Ardhen.


“Maafkan Bibi. Sungguh, tadi Bibi tidak tahu jika kalian itu kembar, Bibi kira hanya Arsen anak Kak Kinah. Maafkan Bibi ya,” ucapnya lembut, mengecup pipi Arhen dan Ardhen bergantian.


Sekarang Arsen mendapatkan tatapan tajam dari Arhen dan Ardhen. Sungguh tega kakak pertamanya itu tidak menceritakan keberadaan mereka. Begitulah pikiran mereka.


Malam pun tiba.


Acara sudah selesai, para tamu pun sudah beranjak dari sana semenjak petang datang. Kini di rumah Sakinah, ada Ayah Kinah, Jimi, Ayah Shalsabilla yang sedang berbincang dengan Andrean di ruang tamu berhidangkan cemilan dan teh hangat.


Ruksha sibuk bercengkrama dan saling melepaskan rindu bersama Sakinah. Sedangkan Shalsabila bersama Ibunya asik bermain dengan Sikembar.


“Sha, kenapa kalian bisa sampai ke sini?” tanya Sakinah pada Ruksha.


“Dijemput sama Kakak Ipar, Kak. Ayah sangat terkejut mendengar kabar Kakak akan menikah.”


“Apa beliau sedih dan kecewa?”


“Hm, ya, sedikit. Ayah mana yang tak akan bersedih, tak pernah mendengar kabar putrinya lagi, datang-datang bukan dirinya sendiri yang mengabari akan menikah. Tetapi Ayah sangat paham, Beliau juga sangat senang saat Kakak Ipar datang melamar.”


“Melamar?” tanya Sakinah tercengang.


“Iya.”


“Ceritakan pada Kakak bagaimana caranya dia melamar?” Sakinah merapatkan duduknya, ia sangat ingin tahu.


“Cieeee!”


“Ayo ceritakan!” pinta Sakinah mencubit kedua pipi adik perempuannya itu.


“Iya, iya.”


Beberapa hari yang lalu.


Andrean dan David pergi ke kampung Sakinah, tepatnya dimana ia pergi berkunjung mensurvei Perusahaannya di desa bersama Dedrick 7 tahun yang lalu.


Ia mendatangi sebuah rumah yang diantarkan oleh Pak RT, lebih tepatnya ayah Shalsabilla.


Andrean bersimpuh dikaki pria tua yang dipanggil Ayah oleh Sakinah itu.


“Ayah, tolong maafkan saya, tolong izinkan saya bertanggungjawab atas kesalahan yang telah saya lakukan.”


“Bangunlah Nak! Mungkinkah kau salah orang? Aku sungguh tidak memiliki anak laki-laki, semua anakku itu perempuan.”


“Iya Ayah. Tolong maafkan saya dan izinkan saya menjadi anak menantumu.” ucap Andrean lagi.


“Apa yang harus aku maafkan? Aku sungguh tak tahu apa salahmu, Nak. Bangunlah!” ujarnya tak enak. Ia coba mengangkat bahu kekar Andrean dengan tangan keriputnya.


“Saya telah menyakiti putri Ayah, membuat keluarga Ayah malu, sungguh saat itu saya khilaf. Saya baru mengetahui jika perbuatan itu membuat putri Ayah di usir dari desa ini.”


Ayah Sakinah terdiam, ia tatap Andrean yang menunduk. ‘Putri Ayah diusir dari desa ini?’ Perkataan itu terngiang dikepalanya.


“Apa kau pelaku pemerkosa putriku?” tanyanya dengan suara lemah.


“Iya. Maafkan saya Ayah. Saya akan mempertanggungjawabkan perbuatan saya.”


“Semuanya sudah terlambat, putriku sudah pergi sejak lama dari desa ini. Aku bahkan tak tahu keberadaannya dimana. Hanya harapan dan do'a yang bisa aku lantunkan untuknya.” katanya sendu.


...***...