Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Pintu Rahasia!


Berend dan para bawahannya telah bersiap.


Teknisi terburu-buru berlari, ia baru saja menyelesaikannya dan mengejar Arsen. “I-ini bendanya sudah siap, Tuan Muda!” ucapnya gugup.


“Kerja bagus, Paman!” ucap Arsen tersenyum tipis pada teknisi itu. Bukannya senang, teknisi itu malah semakin khawatir.


“Kau boleh beristirahat Paman, hanya tinggal mengerjakan yang aku suruh beberapa hari lalu saja. Kau bisa pergi!” lanjut Arsen lagi.


Setelahnya, Arsen, Berend dan beberapa pengawal lain telah sampai dititik koordinat keberadaan Vindo secara garis besar.


“Aku menunggu di sini, bawalah hp ini, agar menemukan lokasi tepatnya anak itu.” Arsen memberikan hp genggam itu pada Berend.


“Hati-hati, jangan salah sentuh!” Membuat Berend waspada mendengarnya. “bawalah sekalian permen ini!” ucap Arsen tersenyum simpul, membuat Berend menelan salivanya.


Ya, Berend sangat tahu benda-benda apa saja yang dipegang oleh Arsen. Selama ia bekerja menjadi preman ataupun pengawal pribadi, menurutnya Arsen adalah sosok yang sangat teliti, penuh ambisi dan tentu saja sangat royal atas apa yang dia inginkan.


Satu buah permen yang diberikan Arsen pada Berend itu seharga 30 juta rupiah, anak laki-laki itu memberikan padanya dua biji. Pembuatan permen itu tentu saja senilai dengan harga jualnya dan kegunaannya.


“Aku menunggu kabar baik!” ucapnya, lalu pengawal N7K205 menutup pintu setelah Berend keluar dari mobil, ia kemudian berdiri siaga. Sedangkan N7K204 masih setia duduk ditempat kemudi.


Lantas, Arsen dengan santai mengeluarkan hp dari saku celananya, memeriksa game buatannya, lalu memainkan game itu dengan kaki duduk menyilang di atas mobil.


~~


‘Aku sudah menekan tombol dan memberi sinyal, semoga keberadaanku segera ditemukan.’ gumam Vindo.


Ia telah selesai makan, tangannya satu lagi bahkan kembali diikat. Ia tak bisa melakukan apapun sekarang, kondisinya tak memungkinkan, tubuhnya yang kecil berhadapan dengan banyak pria dewasa berbadan kekar. Jika hanya satu atau dua orang berbadan nelayan, ia bisa saja mengibulinya, namun kini sangatlah sulit, jika pun berhasil mengibulinya, kemanakah arah ia berlari, jika dipulau lautan kebebasan ia sangat hafal seluk beluk bahkan dimana air dangkal, kapan pasang surut, dimana pohon kayu yang kuat, dimana kepiting dan lobster bersembunyi. Sedangkan sekarang, ia berada ditempat yang asing!


Vindo mendesah, berharap Tuan tanah yang baik hati menyelamatkannya segera.


“Boss belum memberikan perintah selanjutnya, aku tidak ingin merawat anak kecil terlalu lama, makannya banyak sekali, ia bahkan menghabiskan semua makanan itu. Sebenarnya dia anak orang kaya atau anak miskin kelaparan? Makannya seperti orang jarang makan enak saja!” dengus salah satu preman itu.


“Hah, kali saja anak ini memang makan banyak karena bodoh. Biasanya orang bodoh itu makannya banyak, jajannya banyak!” celetuk salah satunya.


“Sialaan kau! Kau menyindirku bodoh karena banyak makan! Plak!” Ia menepuk bahu kawannya.


~~


Berend memutar balik tubuhnya, melihat satu buah mobil berdiam diri mencolok terparkir di sana, sedangkan mobil yang lain sudah menyingkir.


‘Apa aku harus menelpon Tuan Muda, posisinya sekarang terlalu mencolok!’ gumam Berend. Lantas, memutuskan menelfon Arsen.


Tuuuut!


‘Hm?‘ jawab Arsen saat mengangkat hpnya.


“Itu ... Tuan Muda, posisi Anda terlalu mencolok. Bisakah Anda bersembunyi dari sana.” tutur Berend.


‘Paman, jangan khawatir. Selamatkan saja Vindo, aku sudah memiliki rencana sendiri dan aman di sini. Sekarang bergegaslah pergi. Karena terlambat satu detik pun sangat berharga, kita tak tahu apa yang dilakukan para manusia bodoh itu pada Vindo 'kan?’


“Hm, kalau begitu ... baiklah, tolong jaga diri Anda tuan Muda.”


‘Pasti!’


Berend mendesah, lalu berjalan kembali menuju tanda palacak yang diberikan teknisi itu.


Hingga cukup jauh jaraknya dari Arsen parkir menunggu. Ada sebuah bangunan yang cukup tua, namun masih utuh, ada beberapa bangunan di sekitarnya, bangunan rubuh, namun masih terlihat terawat, sepertinya bangunan rubuh itu sering dipergunakan.


Berend memperhatikan tanda pelacak di hp genggang yang ia pegang, Vindo berada di dalam rumah utuh itu, pintu rumah itu ada beberapa orang berjaga dengan senjata api.


‘Pilih memutar 90° dari pintu utama ke arah kiri!’ Arsen mengirim pesan. Berend membacanya, lalu menyelidiki ke kiri dan ke kanan, benar saja kata Arsen ada jalan kecil di sebelah kiri.


Ia jalan pelan dan mengendap-endap bersama bahawannya. Ia melakukan apa yang dikatakan Arsen, kemudian Arsen mengirim pesan kembali.


‘Temukan jalan rahasia di bawah pohon besar!’


Berend sampai menggaruk kepalanya, tak melihat ada jalan dan bangunan, yang ada hanya pohon besar, semak belukar, bahkan ini gerakan yang menjauh dari bangunan utuh itu.


Saat Berend masih pusing mencari pintu rahasia, pergerakan mereka diketahui oleh dua orang anak buah preman itu sehingga terjadilah pertarungan antara bawahan Berend dan anak buah preman itu, untungnya mereka tidak membawa pistol karena hanya berniat untuk buang air kecil.


Pergerakan mereka bertarung hampir tak terdengar karena sangat cepat melumpuhkan dua anak buah itu.


“Awch!” Setelah memukul anak buah itu, ia malah terjirambab, kakinya sebelah terpuruk ke bawah.


Saat yang lain hendak membantu, ia melihat ada yang aneh dibawah. Dan akhirnya, Berend menemukan jalan rahasia yang dikatakan Arsen itu.


“Ayo, cepat kebawah, tutupi dua orang itu dengan sampah!” perintah Berend.


Bergegas mereka menuruti dua orang yang tak sadarkan diri itu dengan sampah, lalu turun ke bawah berhati-hati.


‘Sekitar 25 meter, lubangi bagian atas, di sanalah keberadaan Vindo!’ Berend berdecak kagum, Arsen bisa tahu semuanya.


Sebenarnya, Arsen sudah memasang banyak alat pelacak, tentu saja kamera berkualitas yang bisa terhubung dengannya, sehingga ia bisa melihat keadaan sekitar.


Ia memang duduk di mobil, namun beberapa pengawal dan Berend ia pasang alat pelacak, sehingga ia bisa mendeteksi sisi bangunan yang terlihat oleh target.


Ya, anak kecil ini telah menghabiskan ratusan juta untuk mengembangkan alat-alat yang ia butuhkan. Alat yang akan bisa dipergunakan untuk masa depan, untuk melindungi dirinya dan keluarganya.


Tap iPad terletak dipaha Arsen menunjukkan dimana posisi Berend dan anak buahnya, di kursi sebelah kanan notebook menyala menunjukkan kurva jual beli pasar dan hp yang ia pegang sedang menyeting karakter akun terbaru.


“Tuan Muda, sepertinya dari jarak 50 meter ada yang sedang menyelidiki kita dengan teropong.” ucap pengawal N7K205.


“Apa terlihat mengarahkan senjata kemari?”


“Belum, namun mereka bertambah banyak berkumpul dari atas atap sana.”


“Bagus! Masuklah segera ke dalam mobil sekarang!” perintah Arsen.


“Baik, Tuan Muda!” Pengawal itu segera masuk.


“Paman, aktivkan mode slink!”


“Siap!” Pengawal N7K204 segera mengaktifkannya.


Ya, mobil yang dipakai Arsen bukanlah sembarangan mobil, jika belinya mungkin seharusnya 10 Milyar, namun modifikasi terbaru dan kecanggihan yang dipasang olehnya menghabiskan sekitar 40 Milyar.


Apakah itu uang anak kecil? Ya, ia mendapatkan banyak uang itu dari kecerdikannya, perusahaan biji besi di Batam, perusaahan Ar3s dan aplikasi game, cukup membuat ia membeli barang-barang mahal, ditambah Grandma, Grandpa dan Andrean memberikannya uang jajan tambahan secara adil untuk dia, Arhen dan Ardhen.


Bukankah sangat menyenangkan bagi dia yang memiliki kepintaran dan rasa ingin tahu tinggi untuk menghabiskan uang jajannya yang tak pernah habis?