
Rayyan uring-uringan. Sejak siang itu, tak ada kabar dari Roselia, bahkan apartemen nya juga kacau.
Rayyan memberanikan diri pergi ke perusahaan Ar3s. Sayangnya, harapan dia tidak berhasil, karena untuk bertemu Hans atau Arsen, harus membuat janji, jadwal penting dulu.
“Tolong izinkan saya bertemu dengan Tuan Hans, ada hal penting yang ingin saya bicarakan Nona,” tawar Rayyan pada resepsionis.
“Maaf, Tuan. Ini sudah prosedur. Ini peraturan dari perusahaan yang harus kami laksanakan. Anda harus membuat janji. Jika benar Anda kenal dengan Tuan Hans, tentu Anda bisa menghubungi beliau sendiri. Banyak orang yang mengaku-ngaku mengenal Tuan Hans dan Tuan Arsen,” sindir resepsionis itu.
Rayyan tak bisa berkata lagi, mau marah, dia tak berdaya, karena dasarnya, wanita di depannya ini hanya mengerjakan pekerjaannya.
“Baiklah, terimakasih Nona.” Rayyan kembali dengan langkah gontai.
Saat Rayyan hendak kembali pulang, dia berhenti dulu di kafe untuk membeli minuman. Dia melihat sesuatu, dia pun mengikuti pergerakan itu. Ayahnya, menuju sebuah tempat, dia bertemu dengan seorang wanita sexsy, lalu bercumbu mesra.
“Dasar pria bajingan!” umpatnya kesal. Rayyan tidak menyukai pria yang suka bermain wanita, apapun alasannya, jika tidak memiliki hubungan seperti kekasih atau pernikahan, dia sangat kesal.
Saat dia hendak berbalik, dia mendengar suara Sekretaris ayahnya berbicara.
“Tuan, wanita itu sudah di bawa, Tuan Muda Rayyan sudah mulai mencari-cari, bahkan dia tadi ke apartemen gadis itu.”
Deg! Jantung Rayyan berdetak cepat mendengarnya
Apa barusan yang dia dengar? “Dia bilang aku dari apartemen? Apa Papa pelaku kekacauan ini? Apa Papa yang ngelakuin ini semua?” Rayyan mulai bersembunyi dengan baik, dia masih ingin mendengar semuanya.
“Tugas kita hanya sampai di sini, kita tidak akan ikut campur lagi, kita tidak akan bertanggungjawab untuk hal lainnya lagi. Tugas kita hanya membawa gadis itu pada Mr. J.” Ayah Rayyan berkata sambil menghisap cerutu nya, seorang wanita sexsy terus saja meraba tubuhnya, bahkan mengelus perutnya yang sedikit buncit.
“Kau cantik dan seksi!” Mata mesumnya menatap dua buah dada empuk milik wanita itu.
“Kalau begitu, apa kau ingin melihat yang lebih seksi, Tuan?” tanya wanita itu menggoda, ia bangkit dari duduknya, langsung duduk menghadap dalam pangkuan pria paruh baya dengan perut sedikit buncit itu. “Bagaimana kalau kita menyewa kamar?” ajak wanita itu.
“Kau nakal ya, kita isi perut dulu, makan yang banyak, agar kau bertenaga!” Plak! Satu tepukan di paantaa*t wanita itu diberikan oleh ayah Rayyan dengan senyuman mesum menghiasi wajah kedua orang itu.
Di pojok sana, Rayyan membentuk tinju di tangannya dengan amarah. Selama ini, dia selalu bersikap biasa-biasa saja, tak ingin mencolok. Dia ingin berdekatan dengan teman dan wanita yang tulus berteman dengannya tanpa memandang status keluarga dan harta.
Selama ini, hanya Roselia yang menganggapnya biasa, gadis itu juga bersikap sederhana dan tertutup, padahal dia adik seorang asisten perusahaan besar. Dia jatuh hati pada gadis itu sejak SMA.
Dia diam-diam mencintai, hingga sang ayah mengetahui saat dia tertidur memegang foto Roselia. Dari sanalah, dia jujur dan menceritakan pada sang ayah, jika dia menyukai Roselia. Akan tetapi, apa yang kini didengarnya? Bukankah selama ini ayahnya selalu mendukung perasaannya dengan Roselia? Kenapa kini ayahnya malah menculik Roselia.
Rayyan tak tahu harus berbuat apa, dia tak memiliki kekuatan apapun, uang juga dari ayahnya, bagaimana bisa dia menyewa orang untuk menyelamatkan Roselia. Hingga satu-satunya yang dia pikirkan kini hanyalah mansion Van Hallen.
Rayyan pun pergi diam-diam dari sana menuju mansion Van Hallen. Berharap, dia bisa bertemu ibu Arsen, sehingga dia bisa bicara dengan Arsen atau Hans.
***
Wajah Arsen benar-benar kusut, dia tidak istirahat, tidak makan, apalagi mandi! Xander Pim menyodorkan sebuah roti padanya.
“Tuan Muda, kau harus mengisi perutmu, kita butuh tenaga untuk bertarung.” Arsen menoleh, mengambil roti itu, tapi hanya menatapnya saja, sedangkan Xander Pim dan yang lainnya telah memakan roti dengan lahap.
“Tuan Muda, coba ingat-ingat lagi, apa Anda punya musuh waktu di sekolah atau teman bisnis yang bernama J!” Xander Pim berkata dengan mulut penuh.
“Waktu aku sekolah, ada 3 orang murid genius, salah satunya aku! Salah satunya, dia anak perusahaan cigaretek. Satu lagi dia anak petani miskin. Sikap mereka berdua selama ini baik, nama mereka berdua bukan inisial J. Ada pun musuh, biasanya musuh Arhen yang menjadi musuhku, karena musuh Arhen selalu juga membenciku!” Arsen bersandar di badan mobil sambil menghela nafas.
Xander Pim menarik roti yang dipegang Arsen, membuka bungkusnya, kemudian menyodorkan ke mulut Arsen. “Isilah perutmu, Tuan Muda. Aku tahu, kita harus mencari Tuan Hans dan Nona Roselia. Tapi ingat, Ibu dan adik-adik Tuan Muda juga dalam bahaya. Ada dua kemungkinan, mereka sengaja menjebak kita, agar membuat rencana mereka sempurna dengan mengulur waktu, atau mereka tidak berniat membebaskan siapapun. Jadi, kita harus memilih, langkah yang mana yang harus kita ambil.”
Arsen menatap Xander Pim tajam, lalu menggigit roti yang di sodorkan pengawal pribadinya itu. Setelahnya, dia meraih roti itu dan memakannya sendiri.
“Jika--- Jika Anda harus memilih, memilih Nona Roselia atau Ibu Anda?” tanya Xander Pim meletakkan air mineral di samping Arsen.
Deg!
Arsen tiba-tiba meragu, dia bukan seperti Arsen kecil yang langsung menjawab “Mom! Di dunia ini cintaku hanya Mom!” Dia tidak bisa berkata langsung, dia diam sejenak lalu menjawab pertanyaan Xander dengan bimbang, “Tentu saja Mom, dia wanita yang melahirkan dan membesarkan ku, selamanya dia adalah wanita yang paling berharga.”
Xander Pim mengangguk. “Sekarang aku tahu jawaban dimana Nona Roselia berada,” tuturnya.
Arsen memiringkan wajahnya.
“Minumlah dulu, Tuan Muda.” Xander Pim membuka tutup botol mineral dan memberikan minuman pada Arsen.
Setelah meneguk minuman, Arsen langsung bertanya pada Xander. “Dimana?”
“Tentu saja Nona Ros dan Tuan Hans ada di tempat Mom dan adik-adik Tuan berada. Sesuatu yang sulit Anda pilih adalah dua wanita yang sama-sama Anda cintai. Menurut ku, dia akan menguji keteguhan hati Anda.”
Arsen terdiam sejenak, lalu dia melihat jam dan cincin safire miliknya. “Apa kau yakin, Paman?”
“Aku yakin!” jawab Xander Pim mantap.
Arsen mengusap wajahnya. Memikirkan mereka dikumpul di tempat yang sama, Arsen tak yakin mereka di pijakan yang sama. Setidaknya, satu di ujung, satu dipangkal. Apalagi mendengar ucapan Xander Pim, membuat keresahan dalam hatinya semakin kuat. Bagaimana jika dia di uji, kepintaran, ketepatan, dan keberuntungan nya dalam memilih.
“Apakah aku akan seberuntung menaklukan perusahaan, menggapai harta berlimpah hingga kaya raya? Atau---” Arsen menghentikan ucapannya, dia langsung membuka tutup botol mineral, meneguk air itu sampai tandas.
Untuk kali ini, Arsen gentar, dia tak percaya diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah ketebak belom? Kisah siapa yang sad ending 😆Udah diujung cerita nih😆😆😆