
Sakinah tak henti-hentinya menyebut nama Allah. Masih ingat diingatannya, saat itu Sekar menggenggam tangannya.
‘Maaf, Putraku yang sumber masalah itu. Terimakasih kau bersedia menjadi pendampingnya.’
Sakinah menatap Sekar. ‘Kenapa Mama mengatakan begitu?’ tanya Sakinah.
‘Karena dia memang sumber masalah. Pria tampan dan kaya adalah masalah besar dalam hidup ini. Dimanapun dia berada, akan banyak sekali wanita yang akan tertarik padanya. Mulai dari yang hanya sekedar tertarik, suka, hingga tergila-gila setengah mati sampai terobsesi ingin memiliki.’ tutur Sekar.
‘Saat kau memilih menikah dengan Andrean, kau bukan hanya menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya, tapi kamu juga menjadi bagian dari keluarga ini, menjadi Nyonya Muda keluarga Van Hallen. Identitasmu bukan main-main, akan banyak orang-orang yang mengujimu, dari pergaulan hingga kepintaranmu.’ lanjut Sekar.
‘Banyak perempuan diluaran sana berlomba untuk mendapatkan posisimu itu, ingin menjadi Nyonya Van Hallen. Mereka rela melakukan apapun demi untuk menjadi istri Andrean atau pun Dedrick, bahkan tidak satu atau dua kali mereka melakukan tindakan melawan hukum, memakai cara-cara yang licik. Kau dituntut tangguh agar bisa terus berada diposisimu ini, Mama juga sering dulu seperti ini. Kau harus sabar dan percaya ya, walaupun Andrean bersikap buruk selama ini, tetapi dia anak yang bertanggung jawab dan selalu mengakui kesalahan yang ia perbuat.’ terang Sekar.
‘Jadi, gunakanlah instingmu sebagai istri untuk mengenalnya, walaupun kalian belum saling jatuh cinta. Mama percaya, kamu pasti bisa memilih yang terbaik.’ Sekar menepuk punggung tangan Sakinah, kemudian memeluknya.
‘Mom, Papa itu adalah sumber masalah! Apa kau lelah menghadapinya?’ tanya Arhen.
‘Jika kamu lelah, katakan saja Mom, aku akan membuat perhitungan dengan Papa.’ lanjut Arhen.
Arsen berdiri, menepuk pundak Arhen.
‘Papa bukan sumber masalah, tetapi orang-orang itu yang bermasalah. Jika hidup dipenuhi dengan iri dan dengki, hanya kesakitan dalam hati yang dimiliki. Tidak salahnya jika dia tampan dan kaya, tidak salahnya juga orang-orang tergoda, bahkan ia sering berkata kasar dan cuek.’ ucap Arsen.
‘Yang salah itu, mereka yang tak pakai logika, sehingga menggila karena dunia!’ lanjut Arsen.
‘Mom harus percaya pada keyakinan hati sendiri, bukankah Mom sendiri yang mengatakan pada kami, bahwa Papa itu sebenarnya sangat baik, hanya ia tak pandai mengungkapkannya, sama sepertiku, bukankah begitu?’ Arsen menatap Sakinah yang tampak bimbang.
‘Mom, Papa pertama ataupun Papa kedua, mereka sama-sama baik dengan kepribadian yang berbeda, yang satu Ayah kedua yang kami anggap, yang satu lagi Ayah kandung kami. Mereka berdua sama-sama populer, mereka berdua menunjukkan sikap yang berbeda dan sangat baik pada Mom. Sikap itu bisa membuat Mom dalam bahaya, terlebih mom diakui sebagai Nyonya Muda Van Hallen. Jadi, Abang mohon, Mom lebih hati-hati ya, jangan sering-sering keluar rumah. Hm ... Lalu, jangan pernah lepaskan cincin ini!’ Arsen menunjuk cincin yang ia pasangkan dijari telunjuknya kala itu, kemudian memeluk Sakinah, Arhen dan Ardhen juga ikut memeluknya.
Ya, itulah segelintir ingatan saat ia bersama Sekar membahas masalah Monessa, lalu saat ia berkunjung ke apartemen Arsen bersama Arhen dan Ardhen.
‘Maafkan aku yang sempat meragu dan meninggikan suaraku padamu kala itu....” lirih Sakinah dalam hati.
Rambutnya yang panjang indah itu hanya bisa ia tatap pilu, rambut yang ia jaga sejak gadis, ia bahkan hanya memotong sedikit sampai batas pinggul jika rambut itu bertambah panjang.
‘Maaf, maaf, Suamiku, karena aku melawan dan tak percaya padamu. Maafkan Mom, anak-anak....’ Sakinah menangis, ia menggigit bibir bawahnya menahan suara isakan agar tak terdengar oleh mereka yang mengurungnya.
Entah kenapa tiba-tiba matanya terfokus pada cincin yang dikatakan Arsen. Cincin yang memiliki permata biru itu berubah warna menjadi ungu secara perlahan lalu ditengahnya berwarna merah.
‘Ya Allah, jika itu benar, aku tak akan banyak melarangnya ini dan itu lagi. Aku akan mendukung kesukaannya sepenuhnya dengan cara yang baik.’
Jujur, Sakinah selama ini tak pernah mendukung dunia yang disukai Arsen, begitu banyak larangan yang dibuat Sakinah, sehingga anak itu sering berbohong saat menggunakan laptopnya. Berbeda dengan kesukaan Arhen dan Ardhen, ia selalu mendukung, Sakinah menganggap menjadi artis cilik dan koki cilik bukanlah suatu hal berbahaya, berbeda dengan hacker cilik, itu hal yang sangat menakutkan baginya.
Klek! Pintu dibuka, beberapa orang masuk. Mereka duduk didekat Sakinah. Lalu, tak lama Andrean masuk dengan dua orang pengawal yang menodong punggungnya dengan senjata, menyuruhnya berjalan maju ke depan.
Deg! Jantung Sakinah rasanya ingin melompat antara senang dan takut. Senang karena bisa melihat suaminya, lelaki itu berusaha menemukannya, artinya kelaki itu peduli padanya bukan? Lalu, rasa takut, ia takut tidak selamat karena Andrean juga dalam posisi berbahaya, ia sangat ia bertemu dan memeluk tiga putranya sekarang.
Andrean menatap kearahnya tajam, membuat ia takut sendiri menatap mata elang suaminya itu. Mata yang mengandung kemarahan.
‘Apa dia marah karena aku tak bisa menjaga diri? Sehingga membuat ia masuk dalam masalah?’
Sakinah yang sejak sore tertekan itu mulai berpikir buruk, padahal Andrean marah karena rambut wanitanya dipotong. Dia saja begitu lembut untuk menyentuh rambut itu, sangat jarang melihat rambut itu terurai, rambut yang melambai indah membuat ia terpesona, kini tergeletak dilantai begitu saja.
Sakinah melihat jelas Andrean membuat kepalan tinju, segurat garis diwajahnya jelas dibaca, ia dalam keadaan yang sangat marah. Entah apa yang Andrean lempar, yang Sakinah dengar hanya suara ledakan, lalu asap tebal yang membuat ia terbatuk-batuk.
Suara aneh terdengar seperti gemuruh dalam asap tebal itu.
“Sialaaan! Apa-apaan ini?! Akh!” Beberapa orang terpekik karena hampir semua senjata tertarik ke arah Andrean, membuat mereka terjatuh dan ikut tertarik hingga mereka refleks melepaskan senjata itu dari tangannya.
Andrean mengambil salah satu senjata, memasukkannya dipinggang, kemudian melempar jauh benda kecil yang diberikan Arsen di dalam jasnya tadi ke atas, sehingga menimbulkan suara gemuruh kembali. Senjata-senjata itu tertempel dilangit-langit ruangan bersama dengan benda itu. Lalu, dengan cepat ia pergi kearah Sakinah.
“Aah! To-” Sakinah hendak berteriak, di dalam kekacauan asap tebal itu, tubuhnya seolah ditarik beserta kursinya, mulutnya dibekap.
“Tenanglah Sayang, aku akan menolongmu, maaf aku terlambat.” bisik pelan suara lelaki yang sangat ia kenal.
‘Sayang?’
Panggilan yang membuat Sakinah menjadi melayang, ia sempat lupa jika dirinya dalam keadaan yang berbahaya sekarang.
Dor! Dor! Suara tembakan tanpa arah jadi menjadi setelah sang pria yang mengurung Sakinah itu berada diluar ruangan. Anak buahnya menembak sembarang arah. Mereka tak peduli apakah mereka akan menembak orang-orang mereka sendiri. Yang jelas, di dalam pikirannya sekarang ingin membunuh Sakinah dan Andrean.
Sebelumnya Andrean juga sudah memiliki prediksi seperti itu. Sebelum Pria itu keluar, ia telah keluar terlebih dahulu mengangkat Sakinah beserta kursinya keluar dengan sigap. Ya, Andrean memakai lensa multifungsi yang telah ia siapkan sejak awal.
...***...