Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Sembuh


“Sepertinya ... Momku tidak suka kita pacaran, karena itu kita kawin lari 'kan? Dan... itu alasan kamu belum siap tidur denganku 'kan? Karena kita belum mendapatkan restu dari orangtuaku. Maaf ya, maaf Sayang.” Ardhen langsung memeluk erat tubuh Haizum. Menelusupkan wajahnya di bahu Haizum.


Haizum tak bisa berkata-kata, dia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Jika jujur, khawatir Ardhen akan syok berat, jika tidak jujur takut salah jawab.


Ardhen mengangkat kepalanya yang tadi dia benamkan di bahu Haizum, menatap wajah Haizum. Lalu, berkata dengan lembut dan mesra. “Aku akan memperjuangkan kamu, aku akan berusaha dan meyakinkan kedua orangtuaku. Aku janji, kamu jangan khawatir. Cup!” Ardhen mengecup kening Haizum.


Deg! Deg! Jantung Haizum rasanya ingin melompat keluar, mulutnya setengah terbuka dan matanya beberapa kali berkedip. Saking tak percayanya dengan perkataan Ardhen dan sikap lembutnya. Andai saja dia adalah istri Ardhen sesungguhnya....


“Kamu terlihat sangat imut seperti ini!” Ardhen memegang dagu Haizum, kemudian langsung mencium bibir gadis itu.


Deg! Deg! Jantung Haizum berdendang bertalu-talu. Menari dan melayang-layang.


Ciuman yang manis beberapa saat, membuat pipi kedua insan manusia itu memerah. “Bibirmu sungguh manis, mengalahkan puding mangga kesukaanku,” ucap Ardhen setelah melepaskan pertautan bibir mereka.


***


Arhen baru saja tersadar setelah melakukan operasi, dia sudah dipindahkan di kamar inap dua jam yang lalu. Seluruh wajahnya masih diperban, hanya menampakkan dua bola matanya yang berwarna biru keabu-abuan.


Aini tengah tertidur karena diminta Rukhsa untuk istirahat. Sedangkan Salwa sudah pulang bersama orang tua Eric kembali.


Rukhsa mengelus tangan Arhen lembut. “Jangan banyak bergerak dulu,” ucapnya pada Arhen.


“Dia baru saja tidur, sudah beberapa hari ini dia belum istirahat, pasti dia bakalan senang saat dia bangun kamu sudah sadar,” lanjut Rukhsa lagi setelah melihat arah pergerakan mata Arhen memandang. Dia sengaja tak membangunkan Aini, kantong mata gadis itu sudah terlihat seperti mata panda.


“Bi, sudah berapa hari saya tidak sadar?”


“Mom dan yang lainnya tahu aku kecelakaan Bi?” tanya Arhen.


Rukhsa beberapa detik terdiam, dia tak langsung menjawab. Dia tersenyum getir. “Sudah, tapi belum mengkonfirmasi dengan pastinya. Lucas masih menghindar.


Mendengar jawaban itu, Arhen kembali ingat dengan perkataan Eric sebelum dia melakukan operasi. Bahwa Ibu dan Papa keduanya telah meninggal dunia atas insiden itu. Semua ini adalah rencana pembunuhan.


Arhen pun mengalihkan ke pertanyaan yang lain. “Kata Dokter berapa lama kondisi wajahku akan mengering Bi?”


“Kurang lebih sebulan,” jawab Rukhsa.


“Hm, cukup lama, semoga saja cepat kering, rasanya gerah dan batal Bi,” tutur Arhen.


“Iya, nah, sekarang Kakak makan dulu sedikit untuk minum obat. Ini, Bibi sudah siapkan, udah haluskan juga makanannya sama obatnya, biar Kakak cepat sembuhnya,” terang Rukhsa.


“Baiklah, Bi!” jawab Arhen tersenyum. Karena wajahnya masih diperban, dia hanya bisa makan makanan yang dihaluskan, agar mudah ditelan dan disedot tanpa musti dikunyah yang menyebabkan banyak bergerak di area mulut dan rahang.


“Bibi ke sini sama siapa?”


“Sama keluarganya Eric,” Rukhsa membantu menyuapi Arhen.


“Oohhh,” gumam Arhen.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...