Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Bangga


“Kenapa?” Dedrick masih menatap Sakinah.


“Kerena Allah.”


‘Karena Allah?’ Dedrick bergumam.


“Allah, Tuhan yang telah meredai pilihanku.” lanjut Sakinah.


“Jadi, kamu akan mencintai pilihan itu, ya?”


“Ya, aku akan berusaha mencintainya sepenuh hati, menjaga hati agar hanya bisa mengabdi padanya, menjaga kehormatan untuknya yang telah kupilih menjadi pemimpin dalam ikatan perkawinan ini.”


Dedrick berdiri sejajar dengan Sakinah, memegang pagar penyangga balkon, lalu sama-sama menatap bintang yang bersinar di langit.


“Apakah ... mencintai seseorang yang pasti tidak akan pernah menjadi milikmu ... adalah dosa?”


“Pada dasarnya perasaan adalah anugerah dari Tuhan, kita tidak bisa memilih jatuh cinta pada siapa, tak ada yang bisa mengendalikan rasa cinta itu untuk siapa. Tetapi kita bisa mengontrol perasaan dengan iman dan logika. Itulah beda kita dari hewan dan syaitan, karena kita punya pemikiran dan iman.”


“Cinta memang membuat orang lemah menjadi kuat, orang bodoh jadi pintar, bahkan sebaliknya. Cinta memberi jutaan warna dihidup seseorang yang tengah jatuh cinta, membuat sesuatu yang biasa menjadi istimewa. Lalu, perasaan patah hati membuat hati remuk redam tanpa bekas yang terlihat, ia terasa namun dilihat tiada.”


“Cinta yang telah Tuhan titipkan di setiap hati manusia adalah anugerah. Kenapa? Dengan jatuh cinta kita bisa belajar, memiliki kepekaan, ingin memperjuangkan, ingin bersama, ingin berbagi, bertahan, berkorban dan lainnya. Dengan sebuah nama cinta seseorang bisa menangis, lalu tertawa sendiri.” Sakinah berkata dengan tersenyum kecil.


“Lalu pertanyaan Kakak tentang sebuah dosa dari rasa jatuh cinta ... apa Kakak menyukaiku?”


Deg!


Dedrick terkesiap dengan pertanyaan itu, ia diam tanpa bisa menjawab pertanyaan itu.


“Cukup hanya menyukaiku saja Kak, jangan sampai mencintaiku, sukai dan sayangilah aku sebagai adik ipar, redamlah perasaanmu, tekan perasaan itu. Perasaan itu adalah larangan.”


“Kakak tidak berdosa memiliki perasaan itu, namun jika kakak memeliharanya dan memperturutkan perasaan itu, maka itu adalah dosa. Tuhan pasti akan membalas perasaan itu, bahkan akan memberikan balasan yang lebih dari perasaan yang kakak miliki sekarang pada orang yang tepat dan pantas. Jadi, berhentilah menambah rasa suka itu apalagi mempertahankannya, cukup sukai aku sebagai adik ipar.”


“Apakah kamu marah dan jijik padaku?” tanya Dedrick masih dengan tatapan lurus memandang langit, sama halnya dengan Sakinah yang menjawab sedari tadi dengan tatapan lurus ke atas langit.


“Tidak, aku menghormati kakak dari suamiku, aku tak akan marah dan jijik selama kakak menekan perasaan itu dengan baik. Aku sangat berharap dan berdo'a agar Kakak akan segera bertemu dengan jodohmu.” Sakinah memutar tubuhnya menghadap pada Dedrick.


Dedrick pun memutar tubuhnya, mereka saling hadap, lalu saling menebar senyum. Untuk pertama kalinya Sakinah menatap dan tersenyum pada lelaki lain selain suaminya.


Di ujung sana, seseorang telah salah paham, ia melihat Sakinah dan Dedrick berduaan sejak tadi, lalu mereka saling hadap dan menebar senyum. Hanya gerakan yang bisa dilihat oleh Andrean, ia tak mendengar perkataan mereka berdua.


‘Kalian tampak saling suka dan bahagia.’ gumam Andrean.


**


Arsen terkejut saat melihat laptopnya tiba-tiba eror.


“Papa, kau menyerangku,”


“Apa yang sedang kau rencanakan, Pa?” Arsen berucap sendiri menatap laptopnya yang terserang virus.


“Apa kau sudah menarik temanmu itu ke Belanda? Dia sudah sampai mana, Kak Hans?” tanya Arsen.


“Sebentar lagi sampai Tuan Muda, sopir kita sudah menjemputnya ke bandara.” jawab Hans.


“Bagus.”


Model laki-laki cilik dari perusaan Irfan adalah Frans, lalu model laki-laki dari perusahaan Antaman Wizgold adalah Arhen, sedangkan untuk perusahaan Ar3S Arsen masih meragu. Kemarin Berend mengusulkan modelnya adalah Max Zoel, putra pertama dari sekutu perusahaan Irfan, ia juga sangat terkenal sebanding dengan Frans dan Arhen.


“Hah?!”


“Jika Max Zoel, ia adalah putra dari sekutu perusahaan Irfan, walaupun Berend berkata mereka berkerja profesional, aku lebih yakin dengan Tuan Muda.”


“Tuan Muda, tampan dan keren.” lanjut Hans lagi.


Arsen menatap Hans lama. “Apa aku terlihat mau melakukannya?”


Hans Akhirnya memilih diam, tak ingin melanjutkan idenya pada Arsen.


Saat berdebat dengan Hans ia melihat pergerakan baru Irfan, ada sesuatu yang aneh, Arsen pun memantaunya dengan sangat serius melalui laptopnya.


**


Andrean langsung masuk ke kamar mandi, ia berendam cukup lama, otaknya benar-benar terasa lelah karena berpikir, kepalanya terasa pusing, ia memijat-mijat keningnya, bahkan berkali-kali ia menghela nafasnya.


Setelah mandi, Andrean memakai baju santai dan sibuk mencari surat, Sakinah tersenyum manis padanya. Tadi, ia segera mengakhiri percakapannya dengan Dedrick karena melihat punggung Andrean yang berjalan masuk ke dalam kamarnya.


“Lelah ya, mau aku pijitkan tidak?” tawar Sakinah. Ia bisa melihat wajah Andrean lelah.


Andrean tak menjawab sedikit pun, ia hanya mengeluarkan surat perjanjian nikah.


“Maaf, aku tak bisa melawan semua rayuan yang menggoda, membuatmu tersakiti karena sikap burukku.”


‘Jika aku tak pernah kau ingini, biar aku mengalah. Walau aku harus menelan kecewa.’ Ia melanjutkan perkataannya dalam hati sembari mengembangkan surat kontrak itu.


“Maafkan khilafku, aku menciumimu berulang kali, padahal aku berjanji tak akan melakukan itu. Sebelum aku melakukan sesutu yang buruk lagi, mari kita akhiri kontrak ini.”


“Apa kamu akan menikahi wanita itu?” tanya Sakinah. Jujur, hatinya yang tadi yakin, kini mulai goyah.


‘Ya Allah, apakah aku akan diceraikan atau dimadu? Ya Allah, aku tak pernah berharap pernikahan ini berakhir pendek seperti ini, aku menerima semua kekurangannya karena percaya padaMu, Ya Allah.’ ucap Sakinah dalam hati dengan getir.


Andrean hanya diam tak menjawab.


“Aku pernah bermimpi, dibawah langit yang indah, cinta suci dalam sebuah pernikahan bersemi berhiaskan pelangi. Dibawah hangatnya mentari, kita merajut mimpi, tersenyum bahagia bersama anak-anak.”


“Aku menganggap pertemuan kita yang tidak disengaja itu adalah takdir. Aku yang telah menikah 10 tahun lamanya dulu dengan suami pertamaku, aku tak kunjung hamil, namun pertemuan malam kita dengan cara yang salah itu bagiku adalah anugerah dalam musibah. Aku bahagia, aku bangga, aku merasakan menjadi seorang wanita sempurna.”


“Dulu, aku tak percaya diri karena tak pernah hamil, aku iri dan cemburu. Aku juga ingin hamil.” Suara Sakinah mulai terdengar serak, airmatanya mulai jatuh.


Ia ingat bagaimana dulu hidupnya, 10 tahun tak bisa hamil, dihina dan dicemoohkan. Ia mencoba membesarkan hati dan belajar ikhlas untuk melepaskan suaminya menikah kembali karena keinginan keluarga suaminya, tetapi suaminya Ardi pria yang baik, ia setia sampai mati.


Kini, Sakinah mencoba belajar ikhlas menerima pria yang jauh berbeda dengan Ardi, pria yang tak ada setianya, pria yang dingin dan sering mengabaikannya, tetapi pria itu telah memberikan dia kebahagiaan dan kebanggaan karena telah menitipkan tiga putra kembar didalam rahimnya.


Yang ia tangiskan adalah ia mulai jatuh hati pada suaminya itu, ia terlalu percaya diri dan yakin jika suaminya adalah jodoh yang ditakdirkan Tuhan. Ia berhayal pria itu akan berubah dan mereka bahagia bersama dengan anak-anak. Namun, sekarang ia mendengar suaminya minta maaf padanya.


“Setelah pertemuan kita malam itu, Tuhan menitipkan anak laki-laki dirahimku melalui dirimu. Sungguh, aku sangat bahagia, aku sangat bangga.” ucap Sakinah dengan air mata yang mengalir di pipinya.


“Jika kau ingin menikah dengan wanita itu, menikahlah, bertanggung jawablah pada wanita itu, aku tak apa-apa, aku baik-baik saja.” Sakinah menyeka air matanya, lalu mengambil surat nikah itu.


Srek! Srek! Ia merobek surat kontrak itu.


...***...