
Dua pria tua itu kini tengah duduk di atas mobil, menuju ke suatu tempat, wajah mereka tampak cerah, tak ada lagi tatapan kosong, apalagi kebencian dari satu sama lain.
“Sudah lama, ya, kita tak naik mobil bersama.” ucap Wizza melirik Irfan dengan ekor matanya.
Terpampang sebuah senyuman lembut di bibir Irfan. “Iya, sudah sangat lama. Aku merindukannya.” jawabnya dengan suara pelan nyaris berbisik, namun Wizza mendengarnya dengan jelas.
“Apa kau masih ingat dengan janjimu?” Wizza melirik Irfan.
Irfan menggigit bibirnya, kini, pria tua itu terlihat seperti anak laki-laki berumur 6 tahun yang sedang ditanya oleh sang kakak. Kedua bola matanya berkedip-kedip, mengingat sesuatu.
“Hm? Kau tak ingat?” tanya Wizza menolehkan wajahnya, kemudian menatap langit-langit mobil. “Sepertinya kau sudah melupakan janjimu, ya!”
“Tidak! Aku ingat kok, Kak!” Ekspresi Irfan langsung berubah, pembuluh darah dilehernya tampak menegang keras membuktikan betapa ia menegaskan, kalau ia tak pernah lupa.
Mulut Wizza berkedut, kemudian perlahan melengkung membentuk senyuman. “Apa? Sebutkan lah janjimu itu, jika kau tidak lupa.” pintanya.
“A-aku-” Irfan menggaruk pelipisnya. Kemudian ia hirup udara dalam-dalam. “Aku ingin bersama Kakak selamanya, suka dan duka.”
Wizza mengerlingkan matanya, kemudian mengacak-acak rambut Irfan yang sudah ditumbuhi sedikit uban di daerah jambangnya.
“Bukan itu, tetapi janjimu, akan melakukan apapun untukku!” Wizza menoyor kening Irfan pelan. “Dasar, tukang ingkar janji! Kau bahkan tidak datang ke acara ulang tahunku!”
“Mmm ... itu-” Wizza kehilangan kata-kata.
“Ya, ya, aku paham. Kau berpikir aku marah dan membencimu, terus kau juga membenci dan tak ingin berjumpa denganku? Setiap bertemu kau selalu bersikap anak-anak, membuatku semakin jengkel agar diperhatikan 'kan?” Wizza berkata dengan terkekeh.
Sudah sangat lama mereka tidak berbincang panjang lebar, sudah sangat lama mereka tidak bercanda seperti ini. Sudah sangat lama...
Tak terasa, perjalanan mereka pun sampai. Di sebuah sudut kota, jalanan sepi yang cukup asri, ditumbuhi dengan rumput hijau dan semak liar. Mereka berdua turun dari mobil, sopir dan pengawal Wizza juga turun mengiringi langkah keduanya di belakang.
Mobil tak bisa masuk karena hanya ada jalan setapak. Mereka jalan kurang lebih 5 menit, hingga sampai disebuah rumah kayu jati yang di rawat oleh sepasang Aki dan Nini.
“Tuan Besar!” sapanya. “Sudah lama, Tuan berdua tidak mampir kemari.”
“Iya, Pak. Bagaimana kabar kalian?” balas Wizza ramah.
“Ah, kami masih sehat dan kuat. Mari, ayo, duduk dulu, Tuan.” tawar sang Aki. Nini kemudian pergi berjalan ke dapur.
Irfan menepuk-nepuk celananya yang ditempeli oleh tumbuhan sicancang. “Dasar, anak kecil! Ini tak bisa ditepuk. Tapi, harus dicabut!” Wizza langsung berjongkok.
“Kak! Apa yang kau lakukan?!” Irfan terkesiap dan refleks menggeser kakinya.
“Aku mau membantumu membuang sicancang yang menempel di kaki celanamu.” Wizza mencabut sicancang itu dari celana dasar yang dipakai Irfan. “Begini caranya, kau paham!” ucapnya.
“Wah, Tuan masih saja akrab dari sejak kecil, ya.” tutur Nini yang telah berjalan bersama seorang gadis cantik yang membawa nampan berisi air minum.
“Tentu, kami 'kan saudara.” jawab Wizza, membuat Irfan tersenyum kecil.
Gadis cantik itu menatap Irfan cukup lama, sedangkan yang di tatap hanya fokus pada Kakak laki-lakinya. “Hai, Mindi, kau sudah besar dan bertambah cantik, ya.” sapa Wizza.
Mendengar Wizza menyapa, barulah Irfan menoleh pada gadis itu. “Kau, Mindi?” tanya Irfan.
“Iya, Paman. Apa kabar?” Gadis cantik itu menyelipkan rambut ikalnya ke belakang, tersenyum manis.
“Kau gila, Kak. Aku bukan fedofil!” jawab Irfan memelotot.
“Hahahha! Kali saja, Mindi belum bisa move on dari Paman cinta pertamanya.” Wizza masih saja tergelak. Sedangkan wajah Mindi merah padam.
Gadis cantik yang sudah berumur dewasa ini memang menaruh hati pada Irfan sejak lama. Ia begitu benci dan cemburu pada Roqa, teman Kakak pertamanya yang menjadi istri dadakan sang pujaan hatinya.
Mereka berbincang sekitar 30 menit lamanya sampai sepasang manusia datang dengan pakaian lusuhnya yang basah.
“Woy, Tu-an-” Pria tua itu menghentikan teriakan dan tangannya saat melihat Irfan. “Ka-kalian sudah lama sampai?” tanyanya, ekspresinya berubah.
“Ah, aku bersihkan diri dulu, ya!” ucapnya. “Sayang, aku duluan, kita gantian!” teriaknya pada sang istri yang baru sampai.
Sang Istri menatap Wizza dan Irfan bergantian. “Hm, apa sekarang mata tuaku sudah mulai kabur, ya? Apa aku tidak salah lihat! Kau Wiza dan dia Irfan, 'kan?” tanyanya menunjuk-nunjuk wajah dua pria itu.
“Uhuk! Uhuk! Risa, kenapa kau menunjuk-nunjuk Tuan seperti itu!” ucap Aki menegur putrinya.
“Aduh, Pak! Aku cuma memastikan! Kadang mataku suka salah lihat.” protesnya, kemudian langsung duduk.
“Tidak apa-apa, Pak! Kami semua adalah teman sekolah dulu. Jadi, jangan sungkan.” Wizza tersenyum. “Iya, ini aku, disebelah Irfan, adikku.” jelas Wizza.
“Pfft! Sejak kapan kalian akur? Aku menjadi geli sendiri mendengar kau mengatakan adik!”
Irfan dan Wizza hanya tersenyum mendengar ejekan Risa, wanita itu memang suka ceplas-ceplos dari dulu.
“Kau masih beternak ikan?” tanya Wizza.
“Iya lah! Kalau tidak, mau makan apa, biaya kehidupan sama biaya kuliah sibungsuku pake apa? Kalian enak mah kaya!” cibir Risa.
“Yailah, ini bini mulutnya maju bener kalo ngomong. Yang sopan sama Tuan Van Hallen, ntar usaha ikanmu bisa bangkrut di eksekusi sama dia.” kelakar suaminya, Jhondri.
“Kalian berdua sama aja! Aku kasih uang gak mau, aku suruh masuk perusahaanku gak mau, aku kasih rumah, ajak pindah gak mau! Sekarang malah nyindir aku!” Wizza mencebikkan bibirnya.
“Hahaha! Ya sudah, kalian ngobrol lah! Sekarang giliran ku mandi!” Risa beranjak pergi.
“Kamu mandi, apa cuma ganti baju aja? Kok, ceper bener?!” tanya Wizza pada Jondri yang sudah duduk dengan pakaian rapi.
“Biasalah! Cebur aja, terus handuk!” kelakar Jhondry. “Ngomong-ngomong, ada apa kalian berdua kemari? Kalian gak sibuk sama perusahaan?” Jhondri menatap kedua pria tua dihadapannya.
“Hm, tumben kalian berdua dekat, biasanya seperti kucing dan tikus!” lanjutnya lagi.
“Iya, kami sudah baikan. Bisa antar kami ke rumah belakang?”
Jondry termangu sebentar. “Hm, baiklah.” jawabnya.
Mereka bertiga pun berjalan santai menempuh jalan setapak tanpa membawa sopir dan pengawal. Di sana tampak berdiri kokoh sebatang pohon besar dengan rumah di atasnya yang memiliki tangga panjang yang melilit badan pohon untuk naik ke atasnya.
“Dik, pergilah, di mana kau mengatakan cinta padanya!” perintah Wizza menepuk dan mendorong tubuh Irfan pelan. “Aku dan Jondri menunggumu di sini.” Ia tersenyum lembut. “Tepat di bawah kakimu berpijak, kali lah tanah itu, temukan kotak surat cinta darinya untukmu.”
Irfan menatap Wizza lama, kemudian berjalan ke depan dengan pelan, darahnya berdesir, jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya berkeringat dingin, wajahnya sedikit memucat karena perasaan yang berdebar.