Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Jangan Menggodaku Cris


Di sepanjang perjalan pulang, Vindo berbincang dengan Eline, lebih tepatnya dia hanya membual bisnis ini dan itu. Eline semakin melekat dengannya.


‘Hm, sebenarnya dia ini matre, licik, atau bodoh?’ Vindo bergumam sepanjang jalan dengan pikirannya tentang gadis yang dia dekati.


Dia mulai meragu, apakah sebenarnya gadis ini bodoh? Tetapi Vindo terus mengorek informasi sedikit demi sedikit selama berbincang itu, ia tidak menyangka, Eline Fey cukup mudah untuk didekati.


Saat sampai di rumah, Vindo sengaja menurunkan kaca mobilnya sedikit dengan pura-pura membantu melepaskan sabuk pengaman Eline. Cup! Setelah Vindo merasa adegan itu sempurna, dia langsung memberikan ciuman mesra kembali pada bibir Eline.


Eline tersenyum dan membalas ciuman itu kembali.


“Emm, aku turun, ya!” pamit Eline dengan perasaan yang kurang rela, ia masih ingin bersama Vindo.


“Iya!” Vindo menjawabnya dengan tersenyum. Eline turun dari mobil dengan malas, lalu kembali menoleh pada Vindo.


“Aku masuk dulu, ya!” Dia kembali berkata.


“Iya,” sahut Vindo mengangguk.


Beberapakali Eline menoleh ke belakang, Vindo selalu menyambutnya dengan senyuman. Setelah gadis itu menghilang masuk ke dalam balik gerbang rumahnya, Vindo segera memutar stir mobilnya sambil menekan tombol di dada kirinya. “Sudah selesai, ayo kembali!” perintahnya berkata pada alat itu.


Ia menarik tisu, melap bibirnya. “Rasanya lumayan, tapi dia terlalu liar!” gumam Vindo dengan wajah dingin.


Selang beberapa saat kemudian, Vindo telah sampai di mansion keluarga Van Hallen. Kepala Pelayan menyambutnya dengan ramah.


“Hai, Brooooo!” Jamila berlari dan melompat ke dalam pelukan Vindo.


Vindo langsung menggendong Jamila dengan gendongan depan, kedua kaki Jamila bergelantungan di pinggang Vindo dengan erat dan kuat, kedua tangannya bergelayut di tengkuk Vindo. Ia mengadukan ujung hidungnya dengan hidung Vindo.


“I Miss you Bro, muach!” Jamila langsung mengecup pipi Vindo penuh sayang.


“Princes!” Dua saudara kembar itu memanggil Jamila serempak. Vindo tampak tak acuh, malah membalas mencium pipi Jamila.


Jay hanya melirik sakilas, tetapi dia hanya diam, sedangkan Andrean pura-pura tidak melihat. Adegan ini sudah biasa terjadi, jika Jamila bertemu dengan Vindo. Mereka sekeluarga telah menganggap Vindo juga keluarga mereka.


Vindo langsung menuju di mana dua saudara kembar itu berkumpul, ia memeluk Jamila di pangkuan dengan santainya.


“Tuan Muda Arsen ada di rumah, Tante?” tanya Vindo pada Sakinah.


“Ada, tadi ada di ruang kerjanya, pergi saja ke sana.”


“Litle girl, your bro ke atas dulu ya, temui Tuan Muda Arsen dulu!” Vindo berucap lembut sambil mengelus lembut rambut keriting Jamila yang berwarna coklat itu.


“Tak perlu!” sahut Arsen, pemuda tampan bermata sipit itu tengah berjalan ke arah keluarga mereka berkumpul.


“Tuan Muda!” sapa Vindo hormat.


“Duduklah!” sahut Arsen. Ia berjalan dan duduk di sofa king khusus satu orang di atasnya, menatap ke arah Vindo yang duduk di sofa panjang di hadapannya.


“Princes,” panggil Arsen lembut, mengulurkan sedikit tangannya, Jamila langsung berlari, berhambur dan duduk manis di atas pangkuannya.


“Cih, Princess, ini namanya tidak adil untuk Kakak dan Uda, masa Abang yang baru datang langsung manja-manja sama dia.” Arhen mengerucutkan bibirnya.


“Ah, besok Uda gak mau bikin es banana lagi!” Ardhen juga ikut-ikutan.


Jamila menoleh menatap Arsen, lalu menjawab. “Ya sudah, biar adik minta Abang belikan es banana saja. Abang 'kan kaya, punya banyak perusahaan dan bisa memperkerjakan para koki, bisa membelikan es banana yang banyak. Iya 'kan Bang?” ucap Jamila tersenyum menatap Arsen minta persetujuan.


“Hm,” jawab Arsen.


Jamila tampak meragu, ia berpikir, menatap Arsen kembali. Arsen membelainya, mencium pipi gadis itu lembut. Jamila pun turun dan duduk diantara Arhen dan Ardhen, meraih kedua tangan pemuda tampan itu.


“Baiklah, ayo main masak-masakan sama Adik, terus Kakak videoin ya!” ajak Jamila.


“Baiklah, ayo!” Arhen langsung menggendong Jamila dengan semangat, Ardhen pun juga tampak riang, mereka bertiga pun akhirnya pergi entah kemana.


“Jay, setelah periksa pelajarannya, langsung bersih-bersih dan tidur, ya. Mom tidur lebih dulu ya!” Sakinah mencium Jay yang sedang memeriksa PR. Andrean sudah naik ke atas duluan.


“Sayang, Mom tidur dulu ya. Jangan terlalu keras bekerja, istirahatlah yang cukup, kamu juga Vindo.” pesan Sakinah sebelum ia ke atas.


“Iya, Mom.”


“Iya, Tante.”


Kini, tinggallah Arsen dan Vindo di sana. Arsen masih duduk dengan cool-nya, sejak tadi menatap hpnya setelah Jamila turun dari pangkuannya.


“Kau benar-benar duplikat Paman Barend! Kau sangat menikmati sekali ya peranmu! Aku harap kau tak main hati sampai ingin menikahinya seperti Paman yang mencintai Ibumu, Tante Monic!” terang Arsen dengan wajah dingin.


“Saya akan bekerja profesional dan berhati-hati Tuan, terimakasih atas nasehatnya, Anda adalah panutan saya.”


“Aku bukan panutan!” Arsen menatap Vindo tajam. “Tak kusangka hanya beberapahari, kau sudah menaklukkannya!” Arsen menyimpan hp yang tadi ia tonton video dan beberapa gambar di dalam kantongnya.


“Bukankah Tuan Muda ingin aku menyelesaikan tugas ini dalam satu bulan. Aku akan membuat dia yakin dan bertekuk lutut padaku selam sebulan ini, hingga dia tidak akan mengganggu Tuan Muda lagi, Tuan Muda Ardhen dan Tuan Muda Arhen juga.” jawab Vindo tegas.


Arsen berdiri, menepuk pundak Vindo. “Aku suka dengan kerjamu, sejak dulu, kau masih sama, hebat dan pintar sesuai keinginanku!” puji Arsen kemudian ia beranjak pergi.


“Ah, iya, istirahat lah! Aku juga akan tidur!” lanjut Arsen berkata sambil berjalan tanpa menoleh pada Vindo.


“Baik, terimakasih Tuan Muda,” jawab Vindo. Kemudian ia segera masuk ke kamar tamu yang diperuntukkan untuk dirinya.


Baru saja ia masuk ke dalam kamar, Eline sudah menelfonnya, dengan menghela nafas, dia mengangkat telepon itu.


“Cris, apa kau sudah sampai, kau tidak membalas pesanku dari tadi, aku cemas, aku mengkhawatirkan dirimu.” Terdengar nada cemas Eline dari seberang telepon.


“Terimakasih Sayang, telah mencemaskanku. Aku sudah sampai, tadi aku langsung bersih-bersih, ini baru saja selesai mandi.”


Mendengar itu, Eline malah langsung melakukan panggilan video.


“Apa kau masih merindukanku?” tanya Vindo menggoda di atas ranjangnya, satu tangannya dibelakang bantal yang menopang kepala.


“Ya, kau terlihat sangat tampan sekarang dan ... seksi!” ucap Eline membisikkan kata seksi.


“Apa kau suka?” tanya Vindo, ia malah meraba-raba bulu di dadanya, menggoda Eline.


“Jangan menggodaku terus, Cris!”


“Aku tidak menggodamu Fey, tetapi aku sedang tergoda olehmu sekarang. Kau terlihat sangat cantik, lembut dan sexsy dengan baju tidur pinkmu itu, renda dibagian dadanya ... mm, motif yang cantik.”


“Kau suka Cris?”


“Ya, di dalamnya.”


“Apa?” tanya Eline.


“Mmm, rendanya bagus.” jawab Vindo dengan tersenyum kecil, matanya tertuju pada renda di dada Eline.