Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Panggilan Video


Arhen memilih duduk di balkon kamar Lucas. Ia melakukan panggilan video bersama Arsen, pemuda tampan bermata sipit yang ia telfon itu kini sedang duduk dengan wajah suram di Vend Beutique.


“Abang sedang patah hati?”


‘Kau juga?’ Arsen bukannya menjawab, malah bertanya balik.


“Aku tak tahu,” gumam Arhen dengan tatapan kosong.


‘Apa wanita itu buruk? Jelek? Matre? Atau-’


“Dia tidak buruk, tidak jelek, dan tidak juga matre,” Arhen menjawab dengan menerawang.


‘Lalu kenapa? Apa kau masih menyukai wanita masa kecilmu yang ada di desa Mom?’ tanya Arsen, Arhen tak menjawab, dia hanya memilih diam.


‘Kurasa kau harus melupakan gadis itu, mungkin saja dia juga sudah menikah, menemukan pria lain, mungkin saja dia sudah lupa denganmu!’ Arsen lagi-lagi berucap yang mematahkan hati Arhen.


“Hm.” Arhen hanya menjawab dengan bergumam. “Bang, sebenarnya ... aku-” Arhen tak melanjutkan ucapannya dan memilih diam kembali.


‘Apa? Jangan ngomong setengah-setengah deh, bikin kesal aja tau!’ sungut Arsen.


“Aku tak boleh mengatakan aib keluarga ku pada siapapun Bang. Jadi, gak jadi deh.”


‘Ck! Aku ini bukan orang lain, tapi kakak laki-lakimu!’ kesal Arsen.


“Ya, aku tahu, Bang. Oh ya, gimana hubungan Abang Ama Ros?” Arhen mengajak Arsen membahas perihal lain, mengalihkan pembicaraan.


‘Ya-- begitulah!’ Tampak Arsen menghela nafas panjang, Arhen mengerti sekarang, masalah kakak laki-lakinya itu hanyalah seorang gadis yang dia sukai sejak kecil, gadis kecil berkacamata yang tak kunjung dia dapatkan.


‘Apaan sih, gak jelas banget kalo ngomong!’


“Ck, Bang, kamu sudah menyatakan perasaanmu pada Ros belum?” Arhen bertanya dengan berdecak lidah mengejek.


‘Untuk apa?’


“Tentu saja untuk memberitahu dirinya, kau selama ini menyukainya!” Arhen ingin sekali menjitak kening Abangnya yang menatapnya dengan alis berkerut. Tampak sekali jika kakak laki-lakinya itu belum mengungkapkan perasaannya.


“Apa kau yakin, Ros menyukaimu? Sehingga kau sangat percaya diri begitu. Ingat Bang, perasaan seseorang bisa berubah kapan saja, mungkin dulu waktu kecil, dia simpatik sama kamu, belum tentu sekarang saat dia sudah besar merasakan perasaan yang sama! Apalagi disekitarnya banyak pria yang-” ucapan Arhen dihentikan


‘Stop!’ Wajah Arsen berubah kesal, tak ingin mendengar kelanjutan ucapan Arhen, pikirannya langsung melayang pada Rayyan dan Ros yang tertawa riang. Pikiran buruknya pun semakin berkecamuk.


‘Aku benci R dan R! Dia memakai kalung R & R!’ Setelah berbicara seperti itu, Arsen membenamkan wajahnya di meja, hanya menampakkan rambut hitam legam nya di panggilan video itu.


“R dan R. Apaan tuh?” tanya Arhen.


‘Bajiingan itu memberikan kalung, bahkan dipakaiankan di leher Ros. Dia malah senang memakainya!’ Bercerita dengan ketus.


“Hahahhaa!” Arhen terkekeh. “Oh, aku kira apaan! Makanya Bang, kau juga harus memberikan sesuatu pada Ros. Katanya kaya, tapi gak pernah ngasih hadiah!” sindir Arhen sambil tertawa.


“Huh!” Arsen mendengus, dia masih membenamkan wajahnya, tanpa menoleh ke layar hp.


Ardhen menarik hp dan menampakkan wajahnya pada Arhen. “Hai Kak,” sapa pemuda tampan berambut coklat itu pada Arhen.