
‘Hatiku cuma ada satu dan disana hanya ada kamu. Bahkan aku telah mengikrarkan janji dalam hatiku, segalanya hanya dirimu. Untuk apa aku menikahi wanita yang tak pernah aku ingini, jika aku menikah, aku hanya ingin bersumpah dan menyerahkan jiwa ragaku padamu, wanita terbaikku.’ gumam Andrean dalam hati.
‘Aku juga bangga memiliki putra yang terlahir dari rahim wanita baik sepertimu.’ Andrean menjawab dalam hati.
‘Aku tak ingin menikahi wanita itu!’
Srek! Srek! Sakinah merobek surat perjanjian itu.
Andrean terkejut.
“Menikahlah dengannya, tetapi jangan ceraikan aku!” seru Sakinah.
Sakinah mengatup wajah Andrean dengan kedua tangannya, lalu ia dekatkan wajah mereka berdua. Cup! Wanita itu mencium bibir Andrean.
“Aku tak akan memaafkanmu, jika kau berani menceraikanku!” ucapnya, lalu beranjak pergi menuju kamar anak-anak.
Andrean masih diam membatu, otaknya melambat mencerna kejadian barusan.
‘Dia menciumku?’
‘Benarkah dia menciumku?’
‘Kenapa dia menciumku?’
‘Dia tak ingin aku ceraikan? Kenapa?’
“Kinah, apa maks-” Ia menatap sekeliling dan terdiam tanpa menyelesaikan ucapannya, tak ada siapapun lagi dikamar, Sakinah sudah keluar sejak tadi.
“Apa aku berhalusinasi?” Andrean meraba bibirnya.
“Gila, hayalanku terlalu tinggi.”
Tetapi matanya tiba-tiba melihat surat itu memang robek. “Tunggu! Apakah kejadian yang tadi itu beneran terjadi?”
Di dalam kamar anak-anak.
Sakinah berbincang dengan Arhen dan Ardhen.
“Mom menangis?”
“Sedikit.” jawab Sakinah jujur.
“Mom habis memarahi Papa tadi. Kalian sudah tau 'kan jika kalian akan segera memiliki adik dari Tante Monessa?”
Ya, Sakinah memang sengaja berkata langsung pada anak-anak, ia mengenal mereka, pasti mereka sudah tau, apalagi cara Monessa bersikap terang-terangan.
“Ya, kami sudah tau Mom. Papa akan menikahi Tante Monessa. Sedangkan Tante itu mengira kami anak Papa Dedrick dan Mama istri Papa Dedrick. Seharusnya sebelum menikah, Papa harus jujur pada Tante Monessa kalau kami anaknya bukan anak Papa kedua.” jawab Arhen.
“Maafkan Papa ya, beliau khilaf, dia tidak berniat kok mengecewakan kalian seperti ini.” Sakinah mengusap kepala Ardhen dan Arhen.
Ia hanya ingin membujuk anak-anak agar tak membenci ayahnya.
“Lalu, bagaimana dengan Mom?” tanya Ardhen.
“Mom tentu saja istri pertama, Mom punya kalian.”
“Maksudnya Mom masih bersama Papa?”
“Iya.”
“Kenapa Mom? Kenapa masih bersama Papa yang jahat seperti itu?”
“Arhen, Ardhen, Papa kalian tidak jahat. Dia adalah pria yang sangat baik.”
“Baik darimananya? Orang baik tidak pernah menikah lagi, orang baik tidak akan memberikan kami adik dari wanita lain, orang baik itu peduli pada Mom dan kami. Kapan dia mempedulikan kami seperti Papa Dedrick memperhatikan kami?” jawab Arhen.
“Kapan dia mendatangi kami? Kapan dia memuji kami? Kapan dia ada waktu untuk kami? Hadiah apa yang sudah ia berikan pada kami? Apa?”
“Tunggulah kalian lebih besar dan dewasa, kalian pasti akan paham dan mengerti nanti, jika Papa kalian itu ayah yang baik.” Sakinah memeluk Arhen dan Ardhen. Menenangkan kedua anaknya itu.
“Mom ngantuk, bolehkan Mom tidur disini?”
“Boleh!” seru mereka berdua, wajah kesal mereka berganti jadi senang.
Mereka berdua memijat kaki dan tangan Sakinah hingga wanita itu tertidur sendiri.
“Mom menangis, Papa akan menikahi wanita buruk itu.” adu Arhen pada Arsen.
‘Tidak, mereka tidak akan menikah.’
“Tidak apanya? Wanita itu bahkan menginap disini, hampir setiap saat ia menempel pada Grandma dan Papa.”
‘Mereka tidak akan menikah. Sudah dulu ya, aku sangat sibuk, tolong jaga Mom, aku pasti akan mengabari kalian nanti, Tut!’ Arsen mematikan teleponnya secara sepihak.
“Abaaaaaang! Dasar kau keterlaluan!”
“Sudah Kak, pasti Abang sibuk, jangan ganggu dulu. Nanti saja kita menelfon lagi.” sahut Ardhen menepuk pundak Arhen, mengingatkan Arhen yang terbawa emosi.
“Ayo, kita tidur!”
Dua anak laki-laki itu mengapit tubuh Sakinah dengan pelukan mereka.
Andrean sejak tadi mencoba memejamkan matanya, namun sampai dini hari matanya tak bisa terpejam. Ia masih berpikir, benarkah ia dicium? Atau hanya halunya sendiri?
Ia menunggu-nunggu Sakinah, namun wanita itu tak kunjung masuk ke dalam kamar. Ia keluar kamar, melihat balkon dan teras, tiada siapapun.
“Apakah mungkin ia tidur dikamar anak-anak?”
Perlahan Andrean berjalan pelan-pelan dan membuka pintu kamar anak-anak dengan hati-hati.
Setelah pintu terbuka, ia masuk ke dalam kamar, hatinya merasa senang dengan pemandangan itu. Wanita terbaik yang pernah ia temukan, wanita yang menggetarkan dadanya. Anak-anak yang ingin ia lindungi dan pedulikan.
Cup! Cup! Ia mencium kening Arhen dan Ardhen, lalu mengelus lembut wajah Sakinah.
**
Di dalam kamar Dedrick.
Ia masih memandangi bintang yang masih bertahta di atas sana, bahkan rembulan telah muncul dengan tersenyum manja, seolah menyapanya.
Ia berdiri dengan menggenggam kopi panas di balkon kamarnya.
“Waktu tak bisa diputar ulang, sama halnya dengan cinta sepihak yang mustahil bisa kuraih.
“Cinta ini membuatku merasakan jutaan rasa, cintaku ini memiliki jalannya sendiri, aku juga berharap mendapatkan wanita yang pantas bisa berada disampingku.” Ia berkata sendiri dengan tersenyum hambar, lalu menyeruput kopi itu perlahan karena masih panas.
“Tuhan, aku juga ingin memiliki pendamping yang mencintaiku tulus, aku menunggunya.”
Dedrick menautkan tangannya di dada lalu memejamkan matanya.
‘Ya Allah Bapa yang bertahta di dalam Kerajaan Surga, pada saat ini aku umatMu datang untuk memanjatkan doa yang ingin aku sampaikan. Terutama tentang pasangan hidup yang belumku dapati hingga saat ini. Ku mohon kiranya Engkau berkehendak untuk memberikan yang terbaik dan mempertemukan hambaMu ini dengan pasangan hidup yang seturut rencanaMu. Supaya kami seturut dengan firmanMu, mampu untuk membentuk keluarga yang sesuai dengan kehendakMu.’ Ia berdo'a dalam hati.
Setelah itu, ia tidur.
**
Pagi hari, Sakinah telah membantu sikembar memasangkan dasi mereka, walaupun ada para Maid, namun Arhen dan Ardhen suka jika diperhatikan oleh ibunya.
Setelah membantu sikembar, Sakinah masuk ke dalam kamar, Andrean sudah rapi bahkan dasinya telah terpasang.
Andrean tak bicara sepatah katapun, ia langsung turun menuju ruang makan. Arhen dan Ardhen semakin kesal melihat Andrean berjalan cepat meninggalkan Ibunya, padahal Sakinah sengaja menyusul ia ke dalam kamar.
“Aku dan Ardhen ingin Papa pertama antarkan ke sekolah, kami tak ingin diantarkan oleh sopir! Kami tak ingin mendengar kata penolakan apapun!” ucap Arhen tegas.
“Baiklah.” jawab Andrean.
Setelah makan, mereka pun berangkat dengan mobil Andrean yang dikendarai oleh David.
Di dalam mobil,
“Aku suka bersandiwara, hobiku dunia akting dan model. Aku dengan mudah menangis, lalu tertawa, aku bisa mengontrolnya saat itu juga, tetapi Pa, hatiku tak bisa berpura-pura baik-baik saja, jika Mom terluka dan sedih. Aku tak peduli siapapun itu, termasuk Papa, aku pasti akan membalasnya!” ucap Arhen tegas.
“Aku menyukai dan mencintai Papa, tetapi aku lebih mencintai Mom. Aku benci jika Mom terluka dan bersedih. Tolong jaga Mom dan jangan membuat ia sedih, Pa.” sambung Ardhen.
Andrean diam, apalagi David, ia bahkan menelan salivanya. Dua anak kecil itu terlihat tidak seperti biasanya. Sikap mereka jelas-jelas berbeda, perkataan mereka berdua adalah peringatan, tatapan serius mereka menjelaskan ia akan membuat perhitungan pada Andrean jika membuat Sakinah bersedih.
...***...