
“Sampai kapan kalian akan berbincang? Aku ingin bermain dengan istriku!” bentak Andrean berbicara dalam bahasa Indonesia pada David, agar orang-orang di depannya juga tak paham apa yang dikatakannya.
David juga mengerti bahasa Indonesia, tetapi tidak terlalu fasih dalam mengucapkan, dia mengangguk, lalu bertanya pada pria berjas itu.
“Maaf, Nyonya, Tuan, lama menunggu. Mari, kita masuk ke dalam.” ucap Pria berjas hitam dengan sepatu kulitnya yang mengkilat. Pria ini adalah pengelola pasar malam.
“Taman kecil ini cantik ya,” puji Sakinah menyentuh bunga mawar merah dan putih yang ada di sana.”
Pengelola itu menoleh pada Sakinah, dengan expresi bingung. “Nyonya mengatakan kalau taman kecil ini cantik, bunga-bunganya indah.” jelas David.
Pria pengelola pasar malam itu langsung membungkuk. “Tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan kecantikan Nyonya. Anda sangat berkilau, mengalahkan kerdipan bintang malam ini.” ucapnya. Membuat rahang Andrean mengeras saja mendengarnya.
‘Sialan! Pria tua bangka! Berani sekali kau menggombali istriku!’ dongkol Andrean dalam hati.
Sakinah berbisik, “Apa yang dia katakan, Sayang?” tanyanya pada Andrean penasaran setelah melanjutkan berjalan, walaupun tadi ia mengangguk dan tersenyum membalas ucapan pria pengelola pasar malam itu, dia sama sekali tidak mengerti bahasa Belanda, biasanya percakapan akan diterjemahkan oleh Clara. Sedangkan sekarang, ia hanya pergi sendiri tanpa Clara, karena acara dinner nya dengan suami tercinta.
Andrean mendengus kecil, “Huh! Kamu sangat penasaran? Dia cuma bilang terimakasih.” jawabnya.
‘Eh? Ekspresi apa tuh?!’ gumam Sakinah melihat raut wajah jengkel dari suaminya. Dia berpikir keras, apa dia membuat kesalahan? Jadi, setelah itu, dia tidak memuji apapun yang dilihatnya lagi, ia hanya memujinya di dalam hati.
‘Hm, mungkin karena saya dari kampung, jadi sikap saya terlalu kampungan! Seharusnya saat saya terpukau tadi, saya bersikap anggun dan biasa saja, tidak perlu seheboh tadi. Benar kata anak-anak, seharusnya saya memang harus disembunyikan, sikap saya yang kampungan ini bisa membuat malu suami dan anak-anak saya.’ gumam Sakinah dalam hati.
Sakinah benar-benar salah paham, anak-anak ingin melindunginya dari orang-orang jahat seperti penculikan waktu itu. Sedangkan Andrean, disebalik karena ia ingin melindungi, tentu saja karena sifat cemburuannya yang kuat. Bukanlah seperti yang dipikirkan Sakinah.
Jika membahas sikap Andrean, biasanya, saat ia mengencani wanita-wanitanya dulu, ia akan menyeleksi wanita cantik, seksi dan berkelas, yang pertama untuk kesenangan hatinya, yang kedua ajang pamer dong!
Tetapi kini, ia sangat benci jika orang lain menatap istrinya sedikit saja. Hanya boleh dia saja yang menatap Sakinah! Jadi, kata pamer sudah jalan-jalan kelaut, sejak dia jatuh cinta pada istrinya.
Jika dibandingkan, apakah Sakinah secantik bidadari? Sehingga tak boleh dilihat pria lain? Tidak, dia biasa saja, wanita cantik nan manis standar wanita biasa, berbadan mungil dengan mata sedikit sipit. Tetapi, tidak bagi pria di sampingnya, yang telah jatuh cinta berat itu, Sakinah melebihi bidadari, malaikat rindunya.
“Sayang, kenapa diam saja? Apa kamu lelah berjalan? Mau aku gendong?” bisik Andrean. Sakinah menggeleng.
“Lalu, kenapa diam saja? Apa kamu tidak suka?” tanya Andrea.
Sakinah menatapnya dalam, ‘Maaf, aku masih terlalu buruk jadi istrimu. Setelah ini, aku akan lebih giat lagi belajar etika bangsawan di mansion, agar aku tidak membuatmu malu saat berjalan bersamamu.’
Andrean mengelus pipi Sakinah, “Kenapa menatapku begitu lekat? Apa ada sesuatu diwajahku?”
“Tidak, kamu masih tampan.” jawab Sakinah jujur, membuat rona merah dikedua pipi Andrean.
“Ekhem. Selamat menikmati pasar malam, Tuan, Nyonya. Kami akan menunggu diluar, disetiap sudut juga sudah ada penjagaan.” tutur pengelola pasar malam, sejak tadi ia sudah menjelaskan tata letak pasar malamnya dan menemani menunjukkannya.
“Ok, terimakasih, maaf merepotkan Anda.” balas Andrean.
“Jangan sungkan Tuan Muda, saya sangat senang, ini adalah kehormatan bagi saya karena telah dikunjungi oleh Tuan Muda dan Nyonya muda yang tidak bisa dilihat selama ini. Terimakasih Tuan Muda, Nyonya Muda.” Ia membungkuk hormat dengan senyuman ramah.
Senyuman ramah yang ia keluarkan terlihat seperti senyuman menggoda oleh Andrean. Ia sangat tidak suka istrinya dilihat dan dipuji orang lain.
‘Menyebalkan!’
“Silahkan, Tuan, Nyonya. Saya akan menunggu di sini.” ucap David.
Andrean pun berjalan bersama Sakinah, beberapa pedagang yang ia lewati tersenyum ramah sambil menawarkan makanan.
“Silahkan Nona, Tuan!”
Sakinah hanya membalasnya dengan tersenyum ramah. Lalu menatap Andrean. “Kamu mau? Kalau mau, ambil saja.” Sakinah mengangguk.
Pedagang itu tersenyum, lalu membungkus makanan yang ia jual, setelah itu memberikannya pada Sakinah.
“Sayang, uangnya?” Sakinah menengadahkan tangannya. Bukannya diberi uang malah Andrean mengecup tangannya.
“Terimakasih!” ucap Andrean menatap pedagang, lalu meraih pinggang Sakinah agar beranjak pergi.
“Semoga malam ini menyenangkan Nyonya, Tuan!” balas pedagang itu.
“Sayang, tunggu! Kenapa kamu tidak membayarnya. Lihatlah, pasar malam ini sepi, tak ada pengunjung! Kamu hanya bilang terimakasih?!”
“Ssst! Pedagangnya tidak rugi kok! Aku sudah sewa pasar malam ini untuk malam ini, juga sudah mengganti rugi dagangan yang belum habis.” Andrean menempelkan tangannya dibibir Sakinah yang sedang protes.
“Hah?! Menyewanya? Jadi, pasar malam ini sepi dan pintu masuk diluar tadi ditutup karena disewa?!” seru Sakinah, Andrean mengangguk.
“Ooooh. Mahal tidak? Berapa biaya sewanya?” tanya Sakinah.
Andrean menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sumpah, jika berurusan dengan Sakinah, ia akan menemukan jiwa Ibu-ibu sesungguhnya, berbeda dengan Mamanya, Sekar, tidak terlalu perhitungan. Sakinah akan selalu menegur dirinya, ‘Jangan suka berlebihan, berlebihan itu temannya syaitan!’
“Tidak mahal, murah kok, 'kan kita datangnya jam sekarang, cuma sedikit!” ujar Andrean membentuk gerakan kecil dengan jari tangannya.
“Berapa sedikitnya? Apa ada 5 juta?”
“Kurang lebih segitu.” jawab Andrean bohong.
“Ooooohh.”
Helloooow? 5 juta? Emangnya pasar malam ini, kaleng-kaleng? Pasar malam yang disewa Andrean ini pasar malam yang paling mewah dan terbesar di negara Belanda. Pria itu menyewanya 50 juta baru benar!
Sakinah tipe perempuan sederhana yang tak suka berlebihan, jika Andrean menghamburkan uang, dia akan selalu protes, menjabarkan keuntungan dan kebaikannya.
Dulu, Andrean menghamburkan uangnya sesuka hati, bahkan perempuan yang ia kencani sangat senang meminta barang-barang mahal limited edition!
Meminta liburan mewah yang berkualitas dan banyak lainnya. Sedangkan istrinya?
“Jalan-jalan yuk?”
“Kemana? Kamu 'kan kerja. Seorang atasan itu tidak boleh asal libur saja dengan sesuka hati, berilah contoh yang baik pada bawahanmu.” jawab Sakinah.
“Sayang, ini khusus untukmu.”
“Apa ini? Untuk apa membeli perhiasan lagi? Perhiasanku sudah sangat banyak, aku tidak tahu harus memakai yang mana lagi. Pakainku sudah memenuhi satu kamar, tas, sepatu, semuanya berlimpah ruah. Sesuatu yang berlebih-lebihan itu tidak baik. Aku tidak suka!”
Ada-ada saja alasan Sakinah untuk menolaknya, kecuali kalung embun pagi seharga 300 milyar itu. Kalung paling termahal, karya putranya sendiri.
“Terimakasih, Sayang.” ucapnya manis kemudian mencium mesra Andrean.
Hadiah yang pertamakali disambut baik Sakinah.