Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Kue


Arsen sampai di Mansion, Xander Pim membukakan pintu, membawakan kue yang di ambilnya dari Vend Boutique tadi.


Suara mobil yang datang telah memberitanda pada Kepala Pelayan untuk menyambut sang majikan kecilnya.


“Selamat datang, Tuan!” sapanya ramah, membungkukkkan badannya sedikit.


“Wah, bawa apa Bang?” sapa Arhen yang telah sampai di daun pintu, dibelakang Kepala Pelayan.


“Siapkan Paman.” ucap Arsen menatap Kepala Pelayan.


“Baik, Tuan Muda.” sahut Kepala Pelayan, ia segera mengambil kue yang dibawa Xander.


Arsen langsung masuk dan menuju ruang tengah, dimana Sekar dan Sakinah serta Ardhen sedang melihat lihat gambar decor yang akan dipersiapkan untuk acara ulangtahunnya.


“Assalamu'alaikum Mom.” Arsen langsung mencium punggung tangan Sakinah.


“Wa'alaikumsalam.” Sakinah mengelus kepala Arsen yang sedang mencium punggung tangannya.


“Good afternoon, Grandma!” ucap Arsen pada Sekar, ia juga mencium punggung tangan wanita itu.


“Good afternoon, kamu sudah datang? Come! Sit here my Grandson! (Kemari! Duduk disini cucuku!)” ucap Sekar menepuk-nepuk sofa disampingnya.


“Ok!” Arsen duduk di samping sekar.


“Look, do you like?” tanya Sekar. (Lihatlah, apa kamu suka?)


“Hm.”


Sekar tersenyum kecil, lalu berkata sembari membalik gambar yang sudah disiapkan team decor. “Next!”


Arsen menatap sekilas, ia malas. Bosan dengan hal-hal seperti ini. “Grandma, kamu bisa menanyakan masalah decor atau fashion kepada Arhen, lalu jika masah dessert atau makanan apapun tanyakan saja pada Ardhen. Aku tida tahu dengan hal begini, sedangkan mereka ahlinya!” ucap Arsen panjang lebar.


Ya, ia sangat malas berbicara panjang lebar, jika bukan pada Sakinah ataupun Sekar. Dua wanita yang ia hormati.


“Grandma sudah tanya selera mereka berdua, mereka bahkan sudah memilih decor yang disukainya, sekarang tinggal seleramu saja.” tutur Sekar.


“Mom,” panggil Arsen, dari tatapannya bisa terlihat kalau ia sedang memohon bantuan ibunya yang hanya tersenyum melihat mereka.


“Grandma benar-benar cemburu, kamu selalu saja memberitahu Mommu, tetapi tidak padaku, padahal aku sangat ingin dekat dengan cucuku ini...” Sekar memasang wajah sedih.


“Apakah aku ... Grandma yang buruk....”


“Tidak kok, Grandma!” Arsen langsung memegang punggung tangan Sekar dan berucap dengan cepat. “Aku suka warna merah dan hitam, simple.”


“Melihat dari decor ini, decor ini terlalu rame dengan gaya anak-anak, aku tidak suka.” lanjut Arsen lagi.


“Abang 'kan anak-anak, wajar dong decor anak-anak!” sambar Arhen.


“Permisi.” ucap Kepala Pelayan sopan. “ini kuenya saya letakkan disini, Tuan Muda?” Arsen mengangguk.


“Apakah Tuan Muda ingin minum sesuatu?” tanyanya.


“Susu hangat.” jawab Sakinah cepat, wajah Arsen tampak kecut, ia tak suka susu, tetapi Ibunya suka memaksanya minum susu untuk pertumbuhan.


“Susu itu bagus untuk tulang dan pertumbuhanmu, bla, bla, bla!” Sakinah panjang kali lebar menjelaskan kembali tentang manfaat susu bagi tubuh. Arsen hanya bisa mendengar saja, mau tidak mau ia harus bisa minum susu.


Arhen yang sedari tadi sibuk menonton video Ytube dirinya sendiri meletakkan hpnya, mendekat pada kue yang terhidang, Ardhen juga.


“Cobalah!” ucap Arsen. Dua adik kembarnya itu langsung mencicipinya, kemudian disusul oleh Sakinah dan Sekar.


“Bagaimana?” Arsen bertanya.


“Enak, manis!” jawab Arhen cepat.


“Empuk, kuenya banyak mengandung soda, ia menggunakan tepung terigu protein tinggi untuk lapis bawah, lapis di atas yang berwarna hijau ini menggunakan tepung terigu protein rendah. Sedangkan yang ini dari lelehan madu diberi perisa pandan, sedangkan buah ini dimasak dengan gula cair sebentar, tanpa membuat buahnya layu.”


“Cream diatas ini dibuat dengan mentega putih, susu, vanilla, gula, garam dan perisa kopi. Sedangkan cream yang dibawah ... Abang jangan makan, ini ada kacang tanahnya. Sedangkan ditepinya ini, Abang bisa lihat, yang tipis-tipis berbentuk bunga ini adalah kacang almond.” jelas Ardhen.


Semua orang terkesima dengan penjelasan Ardhen.


Arsen mencubit daging kue dan membuang creamnya. “Berarti kau bisa?” tanyanya.


Ardhen tersenyum dan berkata, “Aku suka kerjasama yang menguntungkan, bagaimana dengan hasil pembagiannya?”


Arsen membalasnya dengan tersenyum. “Lumayan kepercayaan dirimu!”


“Huh, apa salahnya sih Abang memuji, bilang Abang suka dengan kamampuan dan kehebatannya dalam memasak!” cibir Arhen menyambar pembicaraan mereka.


“Apa kamu mau kue seperti ini saat ulangtahun nanti?” tanya Sekar.


“No.”


“Abang mau kue yang lebih dari ini Grandma!” Arhen menerjemahkan ucapan Arsen pada Sekar.


Sekar menatap Arsen.


“Grandma tanya saja kesukaan Abang pada kami, jika bertanya padanya takutnya Grandma sakit jantung dengan sikapnya yang cuek itu.” celetuk Arhen.


Arsen langsung mengapit kepala Arhen, meletakkan diketeknya sembari menjitak kening Arhen beberapakali.


“Adik bantuin! Cepat gelitik Abang, biar dia mau lepasin Kakak.” seru Arhen memberi perintah pada Ardhen.


Arsen melotot, membuat Ardhen jadi takut.


“Adik, ayo, bantuin Kakak!”


“Sudah, jangan bergelut lagi! Ayo, selesaikan ini dulu.” ucap Sakinah mencegah mereka agar tidak berdebat lagi.


**


Irfan memijat keningnya, beberapa kali ia menghela nafas, ia terpaksa menandatangani kesepakatan berat sebelah itu, dari pada ia tenggelam dalam kebangkrutan, ia sangat butuh dana besar.


Kini, ia tengah membuat rencana agar bisa membuat langkah baru, mungkin dengan menyelundupkan barang? Merubah operasional pengolahan tertentu, bukankah tetap ia yang sering wara wiri diperusahaan karena ia masih menjadi bosnya dalam surat perjanjian itu.


“Jiming Ho Chen!” gumam Irfan membaca kembali surat menyuratnya bersama Hans kemarin.


Ia mendengar Tuan Ar, pemilikik Ar3s masih berusia dibawah 17 tahun, jadi masih memakai tandatangan dari walinya. Ia berdecak kagum dan juga jengkel menjadi satu. Kagum karena ia menyukai orang-orang yang bekerja keras dan memiliki cita-cita tinggi, jengkel karena kesepakatan berat sebelah itu.


Irfan mencoba mencaritahu profil tentang Arsen dan Jiming, namun ia tak menemukan apapun. Sangat privat! Ia bahkan tidak mengenal nama-nama mereka yang terkenal dengan kekayaan berlimpah itu, bukankah seharusnya Irfan mengenal mereka?


Setiap Irfan mencoba membuka informasi pada mereka, ia akan selalu diblokir, bahkan barusan laptopnya diserang virus.


“Ahh, siaaalan!” gerutu Irfan.


Kepalanya benar-benar pusing, kerangka kalung yang susah payah ia dapatkan waktu itu, kenapa ada orang lain yang bisa membuat rancangan kerangka kalung yang sama seperti dia, hanya sedikit yang membedakannya. Belum lagi, omset perusahaan semakin menurun!


Ia menyeduh kopi yang sudah mulai dingin.


**


Sikembar telah kembali ke kamar mereka.


Pilihan decor untuk Arsen telah selesai ia pilih, sehingga semua persiapan sudah selsai. Arsen langsung merebahkan tubuhnya diranjang, tak lama matanya langsung terpejam dan ia pun terlelap. Ya, akhir-akhir ini ia sangat sibuk sehingga ia sangat lelah.


...----------------...