Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Cemas!


“Hei, apa yang kau lakukan?!” Calista menghentikan tangan Dedrick yang melilit tubuhnya dengan pakaian. Mulai dari jacket panjang, hingga syal untuk menutupi leher.


“Hei, ini bukan musim dingin! Tapi musim gugur, cuacanya sangatlah panas!” Calista mencoba melepaskan syal yang dililitkan dilehernya.


“Bukankah kau berkata ingin menjadi pacarku? Menyukai semua yang aku suka? Menuruti semua kemauanku, karena kemauanku adalah kemauanmu juga?” ucap Dedrick masih menahan tangan Calista yang hendak melepaskan syal itu.


“Kau berkata ingin menjadi istriku seutuhnya, lalu kita berpacaran agar lebih dekat lagi.” Dedrick melanjutkan ucapannya.


“Tapi ini musim gugur! Bukan musim salju! Mana ada orang memakai jacket tebal yang panjang dengan syal seperti ini di cuaca terik!”


“Kalau begitu, jangan keluar, kita di rumah saja weekend ini.”


“Hah?!” Calista terperangah.


Setelah kejadian percintaan yang menggairahkan itu, tiba-tiba Dedrick berniat bertanggungjawab atas perbuatannya, tentu saja itu dimanfaatkan oleh Calista yang memang sangat mendambakannya. Ia sangat bahagia sekali saat itu.


Dedrick ingin meminang Calista kepada kedua orangtuanya, namun Calista ingin menunda dulu selama dua bulan ini, ia ingin merasakan pacaran, ia tak ingin ditinggalkan sendirian setelah menikah karena Dedrick pasti akan sibuk bekerja, bekerja dan bekerja.


Jadi, ia memutuskan untuk berpacaran selama dua bulan ini. Dedrick pun menyetujuinya.


Dedrick hanya berharap semoga keputusannya ini memanglah yang terbaik, Calista perempuan yang cukup ia kenal selama ini. Semenjak kecil, Calista memang sedikit egois dan manja, dia keras kepala, selalu berusaha untuk mendapatkan apapun yang dia mau. Mungkin saja karena ia anak yang sangat disayang, semua kehendaknya selalu dipenuhi keluarganya.


Walaupun begitu, ia sebenarnya wanita yang baik, tetapi jahat pada orang yang ia anggap mengganggu miliknya.


“Aku ingin keluar, aku ingin makan pizza jamur, es kacang almond, lalu berenang di pantai saat menjelang sore.” jawab Calista tersenyum sumringah, membayangkan indahnya senja berwarna jingga.


“Berenang di pantai?! Tidak boleh!” Dedrick meninggikan suaranya, langsung menarik tangan Caliata, membawa gadis itu masuk ke dalam kamar.


“Hei, jangan bilang kau ingin melakukannya lagi? Bukankah hari itu kau berkata tak akan mengulanginya lagi? Kau tak ingin aku hamil dan memiliki anak haram sebelum menikah? Apakah kau berubah pikiran?!” tanya Calista dengan pertanyaan beruntun.


Dedrick memeluk Calista, ia sandarkan wajahnya diceruk leher gadis itu. Ia hanya diam.


Cukup lama, akhirnya Calista mendesah. “Baiklah, aku tak akan pergi. Aku akan dirumah bersamamu.” Calista mengelus rambut Dedrick lembut.


“Benarkah?” Dedrick mengangkat kepalanya, lalu tersenyum, lalu berkata setelahnya. “Calista, akhir-akhir ini aku sering sensitif, sepertinya kau berhasil membuatku jatuh hati padamu. Aku tak rela jika kecantikanmu dilihat siapapun, aku cemburu jika kau tersenyum pada siapun, bahkan saat kau tersenyum melihat ikan di aquarium, aku cemburu!” tutur Dedrick.


“Heh?!” Calista terperanjat. “Bukankah itu terlalu berlebihan?” tanyanya. “Masa sama ikan cemburu?!


“Ya, aku tau, itu berlebihan, tetapi ... aku selalu memikirkan dan merindukanmu setiap saat. Apa kau juga merasakan perasaan yang sama sepertiku? Apa kau juga memikirkan ku setiap saat?” tanya Dedrick dengan wajah imut.


Pfft! Calista terkekeh dengan membekap mulutnya. Pria berumur 37 tahun bersikap seperti pria yang baru berumur 17 tahun. Ya, mau gimana lagi, Dedrick belum pernah pacaran, jadi Calista adalah pacar pertamanya.


Calista juga baru berpacaran, namun ia gadis terbuka, memiliki banyak angan-angan untuk berkencan dan memiliki berbagai macam cara untuk menggoda Dedrick.


Calista juga memahami, Dedrick memiliki penyakit trauma, jadi memang sulit menjalin hubungan dengan wanita. Bahkan ia tak menyangka, hasil dari kerja keras dan kesabarannya, ia akhirnya memiliki Dedrick. Ya, walaupun dengan cara memalukan dan terlihat seperti gadis jalaang. Namun, apa daya, ini semua karena cinta!


“Jangan meledekku seperti itu.” Dedrick mencubit hidung mancung Calista.


“Ampun, aku tidak mengejekmu lagi.” Calista mengecup pipi Dedrick dengan penuh kasih sayang, membuat pipi Dedrick memerah.


~~


Andrean terkesiap saat mendapatkan laporan dari David.


“Kenapa baru sekarang kau laporkan padaku?! Anakku dalam keadaan berbahaya sekarang! Siapkan team sinffer!” perintah Andrean.


Andrean hanya bisa mendesah.


Setelah acara even selesai, Andrean bergegas membawa Sakinah, Ardhen dan Arhen dengan penjagaan ketat ke Mansion. Sedangkan Jimi dan Billa juga segera dibawa oleh Xander Pim dan Hans ke apartemen Arsen.


Mobil melaju dengan cepat, hening tanpa suara, Sakinah dan anak-anak bisa melihat raut wajah suram Andrean.


Setelah mobil sampai di mansion, Kepala Pelayan dan para maid menyambut mereka.


“Kalian segeralah masuk ke dalam!” perintah Andrean. Mereka bertiga patuh, masuk ke dalam yang di ikuti oleh maid.


“David mari bersiap, aku tak ingin terjadi apa-apa pada putra sulungku!”


“Baiklah, Tuan Muda!”


~~


Sakinah masuk ke dalam kamar, membersihkan diri dan mengajak anak-anak sholat witir sebelum tidur, lalu membaca Al-Qur'an bersama di dalam kamar anak-anak.


Di dalam hatinya, ia merasa cemas, namun ia tak ingin menunjukkan didepan kedua putranya. Ia yakin terjadi sesuatu, karena setelah tampil, Arsen langsung menghilang. Setelahnya, Andrean terburu-buru dengan wajah kusut. Ia hanya berdoa untuk keselamatan putra dan suaminya.


“Mom segeralah tidur! Kami sangat mengantuk!” ucap Ardhen dan Arhen setelah mereka mengaji. Mereka tau, jika Sakinah sedang cemas.


“Baiklah, kalian berdua juga, ya!”


“Tentu saja Mom! Kami sangat lelah! Ya 'kan Dik?!” jawab Arhen.


“Iya, Mom. Selamat malam. Muach!” sahut Ardhen, langsung memberikan ciuman manis di pipi Sakinah.


Arhen juga mengecup pipi Sakinah.


“Assalamu'alaikum.” ucap Sakinah sembari menutup pintu kamar anak-anak.


“Wa'alaikumsalam.” jawab si kembar kompak.


Sakinah kembali ke kamarnya, merebahkan tubuhnya di ranjang, membaca do'a hendak tidur, beberapa ayat pendek, kemudian berdoa untuk keselamatan keluarga kecilnya dan keluarga besarnya, tentunya untuk ayah dan adik-adik nya dikampung juga.


Setelah Sakinah keluar, Arhen langsung memberondong adiknya dengan berbagai macam pertanyaan.


“Abang meminta kode nomor pengawal padaku setelah anak yang menggantikan Abang itu hilang. Nama anak itu Vindo, ia dibawa oleh Paman Berend. Aku juga tidak tahu kejadian pastinya Kak. Tetapi aku denger, nguping pembicaraan Paman David, anak itu diculik, Abang berniat menolongnya bersama Paman Berend.”


“Apa? Itu 'kan bahaya?!” seru Arhen.


“Iya, makanya Papa cemas banget, buru-buru bawa kita pulang. Papa takut, jika nanti kita dan Mom sasaran selanjutnya. Sepertinya mereka benar-benar salah tangkap, mereka kira Vindo itu adalah Abang!” tutur Ardhen.


“Benar-benar orang jahat. Semoga saja Abang dan Papa baik-baik saja.” sahut Arhen.


“Iya, Adik cemas, Kak. Kasihan Mom, pasti dia juga kepikiran,” kata Ardhen kemudian memeluk Arhen.


“Iya.” Arhen membalas pelukan Ardhen.


Dua anak kecil itu saling peluk sembari berdoa untuk keselamatan Papa dan Abangnya, begitu pula dengan Sakinah yang tak bisa memejamkan matanya di kamar.