
“Kakak Cantik, tolong bacakan ya ceritanya, kami akan memerankan cerita itu.” ucap Arhen, ia mengedipkan matanya pada Maid sembari memberikan buku.
Tiga Maid itu tersenyum, ingin sekali mencubit pipi Arhen yang tampan dan menggemaskan itu, tetapi juga memiliki sifat menggoda seperti Andrean.
“Baiklah, Tuan Muda.” jawabnya.
“Dihutan belantara, hiduplah seekor monyet yang sangat tangguh, besar dan gagah fisiknya, ia sangat pandai memanjat semua pohon, mengambil semua buah, yang muda, masak sampai putiknya. Ia langsung menggigit, jika suka, ia habiskan. Jika tidak suka, langsung ia buang.” Maid membaca prolog cerita.
Frans dengan bangga memakai baju costum monyet, menepuk-nepuk dadanya, mengeluarkan suara monyet.
“Dihutan yang sama juga ada seekor kancil, badannya ramping, ia memiliki empat kaki, larinya sangat kencang, ia sering memilih makanan yang telah dijatuhkan monyet karena ia tak bisa memanjat.”
“Hahahahhaa!” Frans tertawa terbahak-bahak saat melihat Arhen memakai kostum kancil, berjalan merangkak, memungut makanan mainan yang tadi lempar oleh Frans.
“Di salah satu pohon ada sarang lebah yang sangat besar, di dalamnya ada ratunya dan ribuan lebah.” lanjut Maid membacakan cerita.
Ardhen duduk dengan pakaian lebahnya, ia memegang banyak mainan berbentuk lebah yang terbuat dari busa spon.
Frans masih bangga, karena monyet memang yang paling gagah dan kuat.
“Sifat Monyet yang sering mengambil buah dari putik sampai yang belum matang, membuat pohon-pohon tak nampak lagi buahnya. Ia terus berkelana mengelilingi hutan, memanjat setiap pohon, tak ada buah-buahan yang terlihat. Hingga ia berdiri di sebuah pohon besar yang memiliki banyak buah.”
“Tak ada yang berani mendekati buah itu, termasuk kancil, ia hanya berdiri dibawah dengan berjalan mengendap-endap, lalu langsung melompat ke dalam sungai.” Maid melanjutkan bacaannya, anak-anak juga terus memainkan perannya.
“Monyet dengan sombongnya memanjat pohon itu, mengejek kancil yang terlihat bodoh dan tidak bisa memanjat selalu memungut buah-buahan yang ia buang.”
“Hahaha. Monyet tertawa setelah mendapatkan makanan, memakan yang masak, membuang yang matang dan putiknya. Kancil memungut buah itu, membawa dan menyembunyikannya, Ia lihat hanya satu pohon itu yang tersisa makanan, sedangkan di pucuk paling tinggi pohon itu ada sarang lebah, di sana begitu banyak buah-buahan.”
“Kancil berkata ‘Aku harus menghemat makanan ini sebelum datang musim buah berikutnya, jika seandainya semua putik dan buah yang belum masak tidak dipetik, tentu saja kita tidak akan kekurangan makanan seperti ini.’ Kancil menatap monyet yang duduk santai memakan buah dan membuang-buangnya sebagian.” baca Maid itu.
“Hingga keesokan harinya monyet kembali, ia mengambil makanan di dekat sarang lebah. Lebah menggigit dan mengejar monyet, kancil memanggilnya dan mengajaknya masuk ke dalam air, tetapi simonyet mengatakan sikancil bodoh, ia memanjat pohon yang paling tinggi agar tak bisa dikejar lebah, begitulah pikirnya. Namun, lebah yang memiliki sayap terbang mengejar dan menggigitnya hingga ia terjatuh kebawah.”
Ardhen mengejar dan menembaki Frans dengan mainannya sebagai peran ratu lebah yang mengejar monyet.
“Siaaal! Apa-apaan kau ini! Kenapa kau menembakku dengan mainan itu?!” Frans berkata dengan berkacak pinggang, kemudian ia menghancurkan mainan berbentuk lebah yang dipegang Ardhen. Kemudian ia mendorong Ardhen membuat anak laki-laki itu jatuh tersungkur.
Arhen langsung memukul pipi Frans!
“Tuan Muda!!” jerit para Maid. Mereka saling memegang tiga anak laki-laki itu.
“Lepaskan aku! Aku akan memukulnya, kalian berdua mengeroyokku!” teriak Frans.
“Lepaskan aku! Aku akan keluar!” ucap Frans, ia membuka paksa costum monyet itu sampai rusak. Lalu berlari keluar.
“Dasar anak-anak!” ucap Arhen kesal.
“Kak, kau terkadang terlihat seperti Abang. Bukankah biasanya Abang yang selalu mengatakan itu pada kita?” ucap Ardhen.
“Tapi dia memang sangat anak-anak! Kamu tidak apa-apa? Apa perutmu sakit? Ada yang sakit?” tanya Arhen cemas.
“Kakak jangan cemas, aku kan sudah operasi, aku tidak sakit lagi, aku sudah sembuh sepenuhnya.” jawab Ardhen tersenyum.
Tak lama, Sakinah masuk ke dalam ruangan itu.
“Ada apa ini Arhen, Ardhen? Apakah Mom pernah mengajarkan sifat seperti itu? Bukankah Mom sudah ceritakan sifat balas dendam itu sikap yang tidak terpuji yang tak disukai oleh Allah. Kenapa kalian berdua mengeroyok Frans? Siapa yang ingin menjelaskan masalah ini pada Mom?” tanya Sakinah tegas.
“Maaf Mom, kami sungguh tidak balas dendam, apalagi mendendam. Kami hanya bermain peran seperti yang disukai Frans. Dia sendiri yang memilih menjadi peran Monyet. Tetapi dia tidak terima.” jelas Arhen.
“Tetapi Kakak sudah menanyakan dia beberapa kali Mom.” Arhen masih membela diri.
“Sekarang minta maaflah.” pinta Sakinah.
“Kami tidak salah, Mom.”
“Apakah orang yang meminta maaf itu adalah orang salah?” tanya Sakinah. “Orang yang meminta maaf dan memaafkan terlebih dahulu adalah orang baik yang memiliki hati luas.”
“Sorry.” Arhen mengulurkan tangan pada Frans yang mengintip dibelakang Ibunya.
Frans diam tak menerima uluran tangan itu.
Ibu Frans mendekat, “Jagoan tadi apa yang terjadi?” tanyanya dalam bahasa Belanda, mendekat pada Arhen dan Ardhen, kemudian berjongkok menyamaratakan tinggi tubuh mereka.
“Maaf Tante, semua ini kesalahanku, bukan kesalahan Kakakku. Aku yang mengajak Kak Frans bermain peran, aku memilih menjadi lebah, ia memilih jadi monyet. Aku kira ia akan memilih menjadi kancil. Maaf, biasanya aku sering memainkan peran ini bersama Kakak.” jawab Ardhen.
Ibu Frans menatap Ardhen lembut. “Boleh Tante melihat ceritanya.”
“Boleh.” Ardhen langsung mengambil cerita itu dan memberikan pada Ibu Frans.
Wanita itu membacanya, melihat mainan lebah yang terbuat dari busa. “Apakah mainan ini yang ditembakkan sebagai lebah pada Frans?” tanyanya.
“Iya, Tante. Maafkan saya.” balas Ardhen.
Ibu Frans mengelus kepala Arhen dan Ardhen.
“Frans, ayo, saling bermaaf-maafan. Ini hanya busa, tidak sakit. Lalu, peran itu kau juga yang memilihnya. Ini salahmu juga!” ucap Wanita itu tegas pada putranya.
“Tidak, Tante. Kami yang salah, tidak menjelaskan isi cerita keseluruhan padanya.”
“Kalian anak-anak yang baik dan pintar. Tetaplah berteman dengan Frans, Tante sangat menyukai kalian.” ucapnya.
“Sekarang ayo saling maaf.”
Frans pun dengan terpaksa mengulurkan tangan, mereka bertiga saling berjabat tangan.
“Maafkan anak saya Kakak Ipar, mungkin karena dia sangat dimanja jadi bersikap seperti ini. Selanjutnya, aku akan mendidiknya lebih baik lagi.”
“Tidak apa-apa, ini masa pertumbuhan, anak-anak pasti pernah melakukan kesalahan.”
________________
Kunjungan keluarga Irfan pun berakhir. Mereka beranjak pergi dan masuk ke dalam mobil.
“Bagaimana tadi bermain dengan mereka?” tanya Irfan mengelus kepala Frans.
“Mereka masih sombong dan angkuh Kek! Tadi, mereka menembakku dengan mainan, memberikanku peran buruk agar bisa ditembak.” adunya pada Irfan.
“Kurang ajar! Mereka benar-benar keturunan yang sangat sombong dan angkuh. Tenang saja, Kakek akan membalas mereka. Jangan bersedih lagi.” bujuk Irfan.
“Iya Kek. Kakek selalu yang terbaik.” Frans memeluk Irfan.
...***...