Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Bertamu ke Rumah Pak RT


“Pada zaman dahulu kala. Ini adalah kisah seorang ibu dan dua orang anak, anak pertamanya laki-laki berumur 8 tahun sedangkan adik perempuannya baru berumur dua tahun. Hari itu, sang ibu berpesan pada anak-anaknya, ‘Nak, jangan pergi ke atas loteng ya, di atas sana ada belalang untuk ibu jual dan simpanan untuk kita makan sehari-hari,’ Setelah berpesan seperti itu, sang ibu kembali ke luar mencari belalalang.” Sakinah memulai ceritanya.


“Loh? Kok belalalang, Mom.” Arhen bingung.


“Kan zaman dulu Kak, jadi makannya belalang, iya 'kan Mom?” Ardhen meminta persetujuan Sakinah.


“Kalian ini! Denger saja sampai Mom selesai cerita, nanti aja tanya-tanya!" Arsen memelototi adik kembarnya. “ Lanjut lagi Mom, ceritanya.” pinta Arsen.


“Sang anak menjawab iya, dia tidak akan ke atas loteng. Namun, sang anak lupa setelah asik bermain, ia pergi ke atas loteng bersama adik perempuannya, kemudian memakan belalang yang sudah dimasak dan dijemur kering diatas loteng itu sampai habis. Tak lama, Ibunya pulang, mendapati kedua anaknya sudah tertidur pulas karena kekenyangan, ia pun tersenyum senang. Ia memasak belalang yang baru ia dapat, membagi untuk ia makan di tudung saji, selebihnya ia bawa ke atas loteng.” Sakinah melanjutkan ceritanya.


“Setelah sampai di loteng, sang ibu langsung bersedih, belalang sudah tidak ada. Ia sangat kecewa, kemudian memilih pergi dengan memakai tikuluaknya (Hijab selendang model lama yang hanya ditempelkan di kepala, lalu kedua ujungnya diletakkan kebelakang bahu). Kedua anak itu terbangun, mereka mengikuti sang ibu yang baru saja menutup pintu.”


“Anak laki-laki menggendong belakang adik perempuannya sambil memanggil sang ibu. ‘Amak! Amak!’ Dia terus memanggil, ‘Amak adik haus!’ Mendengar itu, sang ibu berhenti sejenak, menyusukan putrinya, kemudian meninggalkan kedua anaknya kembali.”


“Berhari-hari mereka berjalan, hanya makan buah-buahan yang mereka lewati, anak terus memanggil, ibu selalu menjawab. ‘Marilah Nak, Marilah, Sayang.’ Namun, Hari ke tujuh mereka tidak lagi mendengarkan suara jawaban dari sang ibu. Tepat di batu besar mereka berdiri, melihat sekeliling. Mereka berdua menangis, lalu terlihatlah ujung rambut sang ibu uang terjepit di dalam batu. Sang anak mencoba melihat, rupanya batu itu belah sebelumnya, setelah ibu sampai duluan, batu itu bertaut. Sang ibu kembali berkorban demi sang anak.”


Kali ini, Ardhen, Arhen dan Arsen masih tercengang mendengar ceritanya.


“Sudah tamat Mom?” tanya Arsen bingung, Sakinah menjawab mengangguk.


“Kok ceritanya gantung sih, Mom!” Arhen protes.


“Memang begitulah ceritanya, adapun sambungannya, nanti Mom akan cerita saat kalian sudah berumur 12 tahun.” Sakinah mengelus kepala Arhen.


“Loh? Kok nunggu umur 12 tahun sih!” Ardhen pun juga ikut berkomentar.


“Iya, nunggu kalian sunat dulu.” jawab Sakinah.


Sikembar langsung diam, tiba-tiba pipi Arsen memerah. Sakinah hanya mengelus rambut Arsen lembut dengan senyuman manis.


“Jadi, cerita di atas, kita bisa petik apa?” tanya Sakinah menatap tiga putra kembarnya.


“Hm, apa ya? Menurut kakak, dia tidak patuh pada ibunya, hampir mirip cerita Malin Kundang juga, iya 'kan Bang?” Arhen menoleh pada Arsen.


“Menurut Abang, bener kata Arhen. Di sini, sang ibu ingin anaknya lebih bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan, ia ingin melihat anaknya lebih mandiri dan bisa dipercaya.” jawab Arsen.


Sakinah tersenyum. “Pintar, jawabannya semuanya benar, kalau adik mau jawab apa?” Sakinah menatap Ardhen yang tengah melamun.


“Adik belum pernah makan belalang. Adik pengen makan belalang.” ujarnya menatap Sakinah dengan tatapan memohon.


“Mom dulu pernah makan belalang waktu kecil, tapi setelah agak besar, gak pernah lagi. Soalnya, belalang yang dimakan itu udah gak hidup lagi sepertinya. Belalangnya agak besar, bukan belalang kecil yang biasanya kita jumpa di rumput untuk dimakan burung puyuh, sih.” jelas Sakinah.


“Hm, jadi Mom gak tau dan sudah lupa seperti apa belalang yang bisa dimakan itu. Tangkapnya seperti apa, dan hidupnya biasanya dimana. Maaf, ya, Sayang.” lanjutnya, kemudian Sakinah mengecup pipi Ardhen.


“Oh, kalau begitu, Mom pernah makan kijang, rusa, atau kancil?” tanya Ardhen kembali dengan penasaran.


“Pernah, dulu, waktu Mom kecil, rusa, kijang, kancil, berkeliaran di halaman rumah. Kalau kini, gak akan pernah jumpa lagi.” tutur Sakinah.


“Kalau mau lihat binatang bisa lihat di kebun binatang, kalau mau makan kancil bisa beli juga, harga dagingnya sedikit mahal karena sudah susah mendapatkan. Untuk apa ingin ke zaman Mom, kalau hidup di zaman Mom, pasti repot, gak ada hp, gak ada laptop, pasti gak bisa dapat banyak uang.”


“Ish, Abang nih, uang, uang aja!” gerutu Arhen. Ardhen malah terkekeh mendengarnya.


~~


Keesokan harinya.


Sakinah dan Andrean bertamu ke rumah Billa, ada yang ingin Andrean bicarakan dengan Pak RT itu. Saat sampai di sana, terlihat Ayah dan Ibu Billa sedang berbincang dengan seorang pria, ada koper dan tas sandang di sudut tempat mereka duduk, lalu beberapa oleh-oleh, coklat, kacang campur, roka-roka dan lainnya.


Pria itu menoleh ke belakang saat Sakinah dan Andrean sampai. Ia langsung berdiri, tersenyum cerah menatap Sakinah. “Assalamu'alaikum, Kinah.” sapanya.


“Wa'alaikum salam.” jawab Sakinah.


Pria itu langsung menjulurkan tangan pada Andrean. “Shaleh.” ucapnya.


Andrean menjabat tangannya. “Andrean, suami Sakinah.” ucap Andrean menegaskan. Entah kenapa, dadanya berdebar hebat saat melihat pria dihadapannya ini, seolah melihat musuh.


“Silahkan duduk, Nak Andrean, Nak Kinah.” Pak RT alias ayah Billa meminta mereka duduk, lalu Ibu Billa pergi ke belakang untuk menyiapkan minuman dan tambahan cemilan untuk mereka berdua. Sekalian memasak sup.


“Bagaimana kabarmu, Kinah?” tanya Shaleh.


“Alhamdulillah, baik, Bang. Bagaimana dengan kabarmu juga?” jawab Sakinah berbasa basi.


“Alhamdulillah, juga baik.” Ia tersenyum hangat.


“Mau kemana, Bang?” tanya Sakinah. Setelah ia lihat mulai dari pakaian, gaya, dan barang bawaan Shaleh.


“Baru sampai, gak mau kemana-mana, memang mau ke rumah Pak RT saja.”


“Oh.”


“Iya.”


Pak RT, Andrean dan Shaleh berbincang, kadang juga ada selaan dari Sakinah sekali-kali. Akan tetapi, selama perbincangan Andrean merasa gerah, mata Shaleh tak henti-hentinya menatap wanita miliknya, walaupun lelaki itu berkedip, tetap saja ia mencuri-curi pandang.


Tak lama, setelah cukup banyak berbincang, Ibu Billa menghidangkan sup buntut buatannya.


“Nah, ayo, kita makan sup nya dulu, selagi panas!” ajaknya.


Mereka pun menyendok ke mangkuk masing-masing, memakannya dengan lahap. Setelah menghabiskan makanan mereka, Shaleh malah mengajukan pertanyaan yang membuat Andrean mendelik tajam.


“Kinah, apa kau bahagia dengan pernikahanmu?”


Pertanyaan yang cukup berani, bukan hanya Andrean, tetapi Ayah dan Ibu Billa lebih terkejut lagi.