
Arsen palsu di bawa ke suatu tempat yang cukup jauh dan terpencil. Beberapa pohon besar ada di sekelilingnya, hampir seperti hutan. Arsen palsu diikat, mulutnya dilakban, topengnya sudah dibuka oleh mereka.
“Cih, rupanya sempurna, tak ada cacat sama sekali diwajahnya, kenapa harus menggunakan topeng segala?” tanya salah satu penjaga di sana yang mengamati Arsen palsu yang masih pingsan.
“Kurasa karena wajahnya tak mirip dengan saudara kembarnya. Dengar-dengar, dia ini cerdik, mungkin karena itu identitasnya disembunyikan, buktinya Boss tertarik padanya 'kan?” jawab lainnya.
“Bodoh! Tertarik apanya? Boss hanya ingin memanfaatkan anak ini! Cerdik apaan seperti itu! Kalau dia cerdik, pasti tak bisa ditangani, ini malah berakhir seperti ini dengan membawa satu orang pengawal. Lalu, ini sudah 4 jam terlewatkan, tidak ada pergerakan apapun sama sekali dari keluarga Van Halen!” sambung yang lainnya.
“Mungkin mereka belum tahu anaknya hilang!”
“Maksudmu, sebenarnya anak ini ... tidak penting? Makanya terabaikan?”
“Ehm ... bu-bukan begitu juga maksudku, aku hanya menebak-nebak saja.” gumamnya menjawab terbata.
“Ah, sudahlah! Lebih baik kita bekerja dengan benar, jaga anak ini, ikuti semua perintah Boss. Kalau tidak, kepala kita bisa hilang!” ucapnya mengingatkan betapa mengerikan atasan mereka.
“Iya, iya!” jawab mereka akhirnya mengangguk.
Setelah acara peragaan perhiasan selesai, semua model telah kembali, ada yang langsung pergi dari tempat acara, ada yang duduk di kursi VIP dan lainnya.
Arsen memilih membuka topengnya, duduk diantara barisan tamu biasa yang sudah ia pesan.
‘Dek, kemana perginya Vindo?’ Arsen mengirim pesan pada Ardhen.
“Vindo? Siapa itu?” Ardhen bergumam sendiri setelah membaca pesan dari kakak pertamanya.
Melihat dari raut wajah Ardhen dari kejauhan, Arsen kembali mengirim pesan.
‘Vindo, anak yang duduk disampingmu tadi, yang kusuruh menggantikan ku!’
Barulah tampak Ardhen menengok ke kanan dan ke kiri. Ia melihat jam dipergelangan tangannya. Anak itu telah berpamitan ketoilet padanya sejak satu jam yang lalu.
‘Tadi dia minta izin padaku ke toilet, Kak! Tapi sudah satu jam lebih berlalu, dia belum kembali. Dia dikhawal oleh pengawal tadi.’ balas Ardhen mengetik pesan.
‘Ok, nomor kode pengawal itu berapa? Coba tanya Paman David!’
‘Ok Kak!’
Ardhen mengirimkan pesan pada David, menanyakan nomor berapa kode pengawal yang mengawal Arsen palsu.
‘N7K203, Tuan Muda.’ jawab David. ‘Memangnya ada apa Tuan Muda? Apa terjadi sesuatu? Atau Tuan Muda membutuhkan sesuatu?’ jawab David dengan beberapa pertanyaan, namun Ardhen tak membalas, ia hanya mengirim nomor kode pengawal itu pada Arsen segera.
Arsen memencet tombol jam tangan yang ia pakai, lalu menghidupkan hp pintarnya saling menghubungkan koneksi. Ia mendesah. Ya, Arsen memang selalu memiliki persiapan, dan benar saja perasaannya jika yang akan diincar setelah Sakinah, pastilah dirinya.
‘Mereka benar-benar tidak jera! Bersiaplah mendapatkan pembalasan dariku Paman-paman bodoh!’ Arsen menyunggingkan senyuman devilnya, matanya seolah mengeluarkan cahaya merah bersinar saking garangnya.
“Ada apa?” Andrean bertanya setengah berbisik pada David karena melihat wajah David aneh setelah menatap ponselnya.
“Tidak apa-apa, Tuan Muda. Tuan Muda Ardhen hanya bertanya nomor kode pengawal yang mengawal Tuan Muda Arsen.” jawab David.
Andrean mulai mengedarkan pandangannya, ia mulai melihat sekeliling. Ia melihat disamping Ardhen kosong, lagi ia menoleh ke arah lain, Berend duduk sendiri, tak ada Arsen.
‘Apa anak itu melakukan sesuatu?’ gumam Andrean.
‘Hei Bocah, apa yang kau lakukan?’ Andrean langsung mengirim pesan pada Arsen karena tak melihat sosok putra sulungnya itu.
‘Dimana?’ Andrean mengirim pesan lagi, Arsen tak membalasnya, hanya membaca dan mengabaikannya.
‘Dasar Bocah! Kau cemburu ya, karena aku berpakaian sama dengan Mommymu😎😆’ Andrean menggoda Arsen dengan menambahkan beberapa emoticon di pesan.
‘Kekanak-kanakan!’ balas Arsen. Andrean terkikik, bagaimana mungkin anak kecil berumur 7 tahun mengatakan dia kekanak-kanakan, bukankah itu sangat lucu? Ya, menurutnya sih!
‘Ada yang sedang bermain-main dengan kita. Apa kamu tau Pa, Vindo diculik!’ Sebuah pesan masuk kembali, Andrean menghentikan tawanya, membaca pesan dengan serius, masih tampak nama ‘Putra Dinginku’ sedang mengetik diatas pesan.
‘Vindo? Siapa?’ balas Andrean.
‘Aku akan menghancurkan mereka sampai akarnya kali ini Pa. Jangan hentikan aku dan jangan beritahu Mom! Oh ya, bagaimana dengan Kakek Irfan, apakah...?’ Pesan Arsen serentak masuknya dengan pesan yang dikirim Andrean.
‘Ck! Tangan yang kau gandeng tadi Pa! Apa kamu berpikir itu beneran aku?’ balas Arsen lagi.
‘Eh? Jadi perasaan anehku tadi ... beneran bukan putraku, pantas saja!’ gumam Andrean dalam hati.
‘Tentu saja aku tahu, maksudku aku tidak tahu kalau nama anak itu Vindo!’ jawab Andrean berdalih.
Lagi, Arsen tak membalas pesan ayahnya dan mengabaikan. Bahkan anak itu tidak online lagi di WhatsApp nya.
‘Ck! Anak dingin ini!’ Andrean mendengus.
Tak lama, Arsen mengirim pesan pada Hans dan Berend. Perlahan Berend telah lebih dahulu keluar dan menunggu Arsen di lorong.
‘Pa, tolong suruh pengawal N7K204 dan N7K205 menungguku diluar! Aku ingin pergi. Pengawal pribadiku Xander Pim sedang kutugaskan bersama Miss!’ Hp Andrean kembali bergetar dan ia melihat pesan Arsen.
‘Baiklah.’ balas Andrean. Kemudian ia mengirim pesan kembali. ‘Apa terjadi sesuatu?’ tanyanya. Masih sama, tak ada balasan.
‘Dasar anak ini!’
David menutup mulutnya agar tak terlihat sedang tertawa keras, bagaimanapun ia sangat tahu karakter para majikannya. Arsen yang dingin memang sulit digoda dan didekati, berbeda dengan Arhen dan Ardhen.
“Aku melihat kau menertawakan ku!” Andrean melotot.
“Tidak Tuan Muda. Saya tidak berani!” jawab David, namun bibirnya sulit berhenti untuk tidak terkekeh.
“Huh, ya sudahlah! Ku do'akan kau akan mendapatkan banyak anak, kau diabaikan, kau diacuhkan, dan mereka nakal semua!”
“Aamiin.” jawab David dengan tersenyum, membuat Andrean semakin kesal dan menepuk bahunya, sehingga David mengelus bahunya karena sakit.
Ya, David dan Alex asisten pribadi Dedrick itu memang berteman sejak dulu, ditambah dengan Calista satu-satunya perempuan. Alex dan Calista lebih cendrung mengidolakan Dedrick sama seperti Andrean. Sedangkan David memiliki perasaan netral, jadi dia lebih merasa dekat dengan Andrean yang lebih sering bermain dengannya. Hingga ia memutuskan suka dukanya bersama Andrean.
“Semoga kau segera mendapatkan perempuan itu!” ucap Andrean sambil membuang muka, wajahnya sedikit memerah. Ia dari dulu tidak pandai memberi perhatian pada sahabatnya.
“Tapi, kau harus tetap fokus pada pekerjaanmu! Walau kita bersahabat, aku tidak bisa menerima orang yang bekerja tidak becus!” ucapnya pura-pura garang.
“Iya.” jawab David patuh. Ia tersenyum tipis. Ia tahu, Andrean sangat baik hati.
~~
Pengawal yang diminta Arsen telah menunggu Arsen di depan pintu keluar. Saat mereka melihat Arsen telah melepaskan topengnya dari dalam acara even, membuat para pengawal itu terkesiap. Kaki mereka tiba-tiba menjadi gemetar karena cemas.
‘Apakah telah terjadi sesuatu yang buruk?!’ gumam mereka berdua. Mereka tahu betul jika Arsen tak pernah menunjukkan wajahnya kecuali didepan para pengawal, maid atau orang kepercayaan yang bekerja dibawah naungan Van Hallen, namun kini anak laki-laki itu telah menunjukkan wajahnya!!