
“Apa? Puloh mengalihkan semua asetnya? Dan dia sekarang berada di rumah sakit jiwa?” pekik Jonathan.
“Ayo, kita kembali ke Belanda. Ini pasti ada yang tidak beres. Sepertinya, orang ini sengaja mengiring kita ke Inggris agar memudahkan dia melakukan semuanya aksinya.”
Ya, walaupun ia memutuskan semua hubungan kerjasama dengan Puloh, ia masih ingin mengambil alih semua milik pria bejat yang sudah meniduri istrinya itu. Bahkan, ia telah menyusun lembaga pinjaman online dengan memberikan setengah uang, lalu akan menjebloskan pria itu ke penjara sebagai tuduhan menipu uangnya dan menarik aset Puloh secara paksa karena pria itu sudah menandatangani surat gadai.
“Sial! Siapa yang melakukan semua ini? Bahkan uangku yang ku pinjamkan itu lumayan besar, bukannya dapat untung, malah aku buntung!” gerutu Jonathan.
Langkah yang sudah ia susun serapi mungkin, kini diambil seenaknya oleh orang lain.
“Selidik dalang semuanya, pada siapa Puloh memindahkan hak warisnya!” perintahnya.
“Baik, Tuan.”
~~
Hari ini Sakinah tengah berdiri melihat kepergian tiga putra kembarnya bersama Berend.
“Mom, kami pergi dulu, ya.” pamit ketiga putra kembarnya itu dengan mencium punggung tangannya.
“Pa, kami pergi dulu, tolong jaga Mom!” Tiga putra kembarnya itu mencium punggung tangan Andrean dengan mata melotot sebagai peringatan jangan buat ibu mereka susah.
“Anak pintar, tenang saja. Papa akan menjaga Mom.”
Setelah berpamitan, tiga anak laki-laki itu masuk ke dalam mobil dengan melambaikan tangan, Sakinah juga membalasnya dengan melambaikan tangan. Andrean menyunggingkan senyuman devilnya.
“Sayang, para kurcaci pergi merantau, kini waktunya kita berkencan.” Andrean berbisik.
“Beberapa hari ini cukup untuk kita berkencan, aku akan menelfon David, aku akan cuti beberapa hari ini. Kita harus menghabiskan waktu honeymoon kita!” Andrean langsung memangku Sakinah masuk ke dalam mansion.
“Hei, turunkan aku! Ini memalukan! Para Maid dan pelayan lainnya melihat!” seru Sakinah dengan pipi merah padam.
“Biarkan saja, ini waktu kita berdua Sayang! Kapan lagi kita berduaan!” Memangku tubuh kecil Sakinah sangatlah mudah bagi Andrean yang tinggi dengan tubuh atletis.
Setelah naik ke atas dan sampai di depan pintu kamar. “Buka pintunya, Sayang!” pinta Andrean mengedipkan matanya.
Setelah terbuka, Andrean menutup pintu itu dengan kakinya, lalu meletakkan tubuh Sakinah pelan dan lembut, kemudian langsung mencium wajah istrinya itu.
Mencium semua sisi wajah, kemudian perlahan membuka peniti hijab, melepaskan hijab dengan sempurna.
“Istriku sungguh sangatlah cantik,” Mengelus wajah Sakinah lembut, kemudian mencium bibirnya mesra.
Perlahan namun pasti, gerakan lincah Andrean mulai mendominasi, tangannya perlahan membuka satu persatu penutup tubuh istrinya sembari menciumi setiap lekuk tubuhnya.
“Sayang, aku tidak bisa lagi menahannya!” Tatapan mata Andrean sudah sangat bergairah saat ia berkata seperti itu.
“Aku ingin memuaskanmu dengan beberapa gaya!” katanya menatap wajah Sakinah yang sudah berkabut gairah juga.
Dan terjadilah keromantisan pasangan suami istri itu dengan berbagai gaya yang dipimpin oleh Andrean.
“Tunggu! Kamu mau apa lagi, Sayang?! Ah! Ah!” Sakinah yang baru menerima serangan main belakang pun terkejut. Ia hendak protes, karena ia pikir Andrean akan melakukannya ditempat buang air besar.
“Hmp!” Sakinah menggigit bibirnya, menahan serangan gaya terbaru. Biasanya, adegannya hanya posisi dia dibawah, Andrean di atas.
Tenaga Andrean yang mahir memang tak bisa mengalahkan mantan suaminya Ardi, apalagi sensasi yang tadi pertama kali ia rasakan, dengan berbagai gaya, membuat tubuhnya remuk redam, bahkan sebelum siotong Andrean menyemburkan larva panasnya, Sakinah sudah tertidur duluan.
“Sayang, aku bahkan belum selesai, kau sudah tertidur?!” Andrean mengecup bibir Sakinah, memaksa ribuan kecebongnya agar segera keluar.
Setelahnya ia memeluk Sakinah dengan tersenyum, mengecup kening istrinya yang sudah tertidur sangat lelap.
“Wah, kau sangat kelelahan, ya!”
Entah berapa lama Sakinah tertidur, ia hanya mendapati dirinya sendirian di kamar. Sepucuk surat terletak di nakas.
“Makasih Sayang, aku harus kembali ke kantor, ada rapat penting. Setelah ini, aku akan meminta cuti dan membahasnya dengan David. Oh ya, aku sudah menyuruh Missel datang ke mansion nanti, jam 7 malam kita dinner ya! Aku menunggumu, Sayang!”
Sakinah membacanya dengan tersenyum, kemudian perlahan berdiri, hendak mandi.
Clara, Nani dan Amy segera menghangatkan kuah sup, kemudian menyiapkan semua makanan di meja makan.
“Silahkan, Nyonya!” ucap Clara. Amy dan Nani juga ikut membungkuk.
Sakinah menatap menu pagi ini. Biasanya hanya telur, roti, susu, jika pun ada daging, tak akan sebanyak ini. Sekarang menunya seperti menu makan malam, steak daging, sup ikan dengan jamur, seafood saus kacang, dan lainnya.
“Apa Andrean tadi tidak makan sebelum berangkat ke kantor?” tanya Sakinah menatap pada Clara yang masih berdiri di sampingnya.
“Tuan Muda sudah makan, Nyonya. Beliau berpesan, agar kami menyiapkan banyak makanan bergizi untuk Nyonya.” jawab Clara.
“Maksudnya semua hidangan ini untuk saya sendiri?” tanya Sakinah lagi memastikan. Clara mengangguk.
“Ini terlalu banyak, tolong pisahkan, sisanya biar kalian bisa makan.” Sakinah mengambil piring, meminta Clara membagi makanan itu.
“Tapi, Nyonya-”
“Clara, perutku tidak sebesar itu. Makan makanan terlalu berlebihan itu tidak baik, bisa membuat sakit perut, jadi di bagi saja, buang-buang makanan juga tidak baik, jika aku mengaduk semua makanan ini, siapa yang akan makan sisaku? Jadi, pisahkan sekarang, ya!” Sakinah menatap Clara dengan serius.
“Baik, Nyonya.”
“Ada apa?” tanya Amy dan Nani yang tak paham bahasa Indonesia.
Clara pun menjelaskan perkataan Sakinah, lalu mereka menghidangkan dalam porsi biasa.
Setelah makan, Sakinah duduk di ruang televisi sambil membaca buku. Tiba-tiba hp nya berdering.
‘Sayang, kau sudah bangun? Aku sangat merindukanmu.’ ucap pria tampan di layar hp Sakinah.
‘Istriku, kau sangat cantik dan manis, aku sungguh tak bisa berpisah denganmu, seharusnya aku gendong saja dirimu dan membawamu ke kantor, mumpung tiga anak laki-laki kita tidak ada, jadi sainganku tidak ada, aku bebas berdua denganmu. Temani aku dikantor, ya?
“Aku tidak mau!”
‘Kenapa?’
“Aku tidak bisa bahasa Inggris ataupun Belanda. Aku malu.” jawab Sakinah menatap layar hpnya.
‘Malu pada siapa?’
“Tentu saja pada karyawanmu!”
‘Siapa yang bilang aku mengizinkan karyawanku melihatmu? Aku bilang, akan membawamu ke kantorku, bukan ke perusahaan untuk di pamer! Tetapi hanya di dalam ruanganku saja. Aku bahkan tidak bersedia, jika ada yang masuk ke dalam ruanganku selama kamu ada, termasuk David!’ gumam Andrean, memelankan nama David.
‘Sayang, aku telpon sopir ya, agar mengantarmu ke kantor.’
“Tidak!”
‘Loh, kenapa? Aku rindu kamu!’
“Baru juga tadi pagi bertemu, badanku pegal-pegal, perutku bengah karena kamu menyuruh maid memasak banyak dan lagi kamu minta dinner nanti malam di luar. Kalau begitu, kita gak usah dinner aja deh!”
‘Loh, Sayang, Sayang, jangan!’ rengek Andrean.
‘Sayang, maafkan aku, aku terlalu bersemangat, aku tidak tahan, selama ini aku menahan karena ada sikembar, mereka selalu menatap tubuhmu, memeriksa jika ada merah sedikit saja ditubuhmu. Maaf, aku tidak bisa mengontrolnya.’ Andrean memasang wajah tak berdayanya.
‘Sayang, maaf, aku membuat tubuhmu pegal, bagaimana kalau aku kirim tukang pijat profesional ke mansion untuk memijatmu? Tapi dinner kita jangan batal, ya ... please!’ ucapnya.
‘Sayang, inilah kesempatan dinner kita berdua, jika sikembar pulang, kita tidak bisa dinner berdua. Boleh ya, Sayang...’ menatap Sakinah dengan tatapan memohon.
“Hm, baiklah.”
‘Unnchh, Sayangku, kamu memang malaikat hatiku, pujaan jiwa ragaku, muach, muach!’ Andrean mencium layar hpnya bertubi-tubi.
David yang sejak tadi berdiri di depan pintu hendak memberitahu sesuatu, membekap mulutnya kuat, agar tak tertawa kuat. Tetapi setelah melihat adegan terakhir, ia sungguh tidak tahan lagi.
“Pffftt!”