Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Tindakanmu


Setelah selesai berbincang dengan David, Andrean menjemput Monessa disalon. Wanita itu meminta ditemani check kandungan pada Andrean tadi pagi,lalu meminta beli perhiasan. Katanya, leher dan tangannya gatal-gatal dengan perhiasan lama.


Andrean membelikan ia satu set perhiasan dari kalung, anting, gelang dan cincin. Lalu, ia meminta ke salon, badannya terasa pegal-pegal sejak hamil, begitulah alasannya, Andrean mengikuti saja.


Andrean disambut baik di salon itu. Ya, siapa yang tidak tahu dengan putra kedua Van Hallen, apalagi kini setelah ia menjadi CEO di Antaman Wizgold, namanya semakin dikenal. Mungkin saja dulu namanya hanya dikenal sebagai putra kedua dan sang pemburu wanita, tetapi sekarang tidak lagi.


“Honey, apa pekerjaannya sudah selesai?” tanya Monessa dengan suara yang dibuat manja.


“Hm.” jawab Andrean cuek, ia menatap hp nya lagi.


“Honey, setelah ini kita ke restoran ya, lapar.” rengeknya, memonyongkan bibir kedepan, membuat-buat wajah imut.


“Ok.”


Monessa semakin tersenyum lebar, tak ia sangka semuanya berjalan mulus.


**


Andrean dan Monessa telah duduk dan memesan makanan di restoran mahal pilihan Monessa.


“Honey, aku sangat senang hari ini. Aku yakin, anak kita pasti bertambah sehat dan sangat bahagia memiliki ayah sepertimu.” Monessa meraih tangan Andrean dan menuntun tangan Andrean untuk mengelus perutnya.


Andrean menepis.


‘Sialaaaan! Beraninya kau menepis tanganku! Lihat saja nanti!’ gumamnya kesal.


“Honey, anak kita ingin dimanja-manja dan dielus oleh ayahnya.” ucap Monessa.


Andrean terkekeh mendengarkannya.


‘Lihat, kau senang 'kan?’ pikir Monessa percaya diri.


“Apa kau sudah selesai makan?” Andrean bertanya, ia tak memesan makanan, ia hanya memesan jus buah.


“Iya, aku sudah kenyang, Honey.” jawabnya.


“Baguslah, kau sudah berbelanja, sudah merilexkan diri ke salon, juga sudah mengisi perut, sudah waktunya kita berbicara.” tutur Andrean.


“Kau tahu? Aku tak pernah mempermasalahkan jika kau meminta ini dan itu. Apa pernah aku tak memberikan sesuatu yang kau inginkan?” Andrean menatap Monessa serius.


“Aku tak suka perempuan pembohong, apalagi menyangkut pautkan dengan hubungan keluarga. Permainanmu cukup cantik, tetapi sayangnya, aku sudah mengetahuinya. Anak yang didalam perutmu itu bukan anakku!”


“Sebelum kita bercinta, aku selalu memakai pengaman dan obat. Kita terakir bercinta 5 bulan yang lalu, usia kandunganmu di USG baru 14 minggu. Aku tak lupa jadwal kita bertemu, jika pun aku lupa asistenku selalu mencatat jadwal kemanapun aku pergi.”


Deg! Jantung Monessa berdetak.


“Aku tahu anak itu dari pria yang kau beri amplop kemarin saat bersama Mamaku 'kan?”


Deg! Deg! Debaran di dada Monessa semakin cepat, wajahnya tampak berubah.


“Aku menghargaimu, kau pernah menemani hari-hariku sebelumnya, kita juga pernah bercinta. Aku punya dua kesepakatan denganmu, yang pertama kau bisa pergi dan minta maaf pada keluargaku besok, mengakui jika kau keliru, anak dalam perutmu bukan anakku.” tutur Andrean.


Monessa menatapnya dan menunggu kesepakatan yang kedua.


“Kau bisa melanjutkan sandiwara itu terus menerus, tetapi jangan salahkan jika video ini tersebar.” Andrean mengirim dua video pada hp Monessa.


Mata wanita itu terbelalak. Darimana Andrean bisa mendapatkan video iya berhubungan badan dengan orang lain, lalu vidio ia membayar orang lain untuk melakukan tindakan curang.


“Monessa, Kau bertanggung jawab atas tindakanmu dan kau punya kuasa untuk memilih, kau pilih kesepakatan pertama atau kedua. Bahkan kau juga bisa memilih tak memilih yang manapun, semua terserah dirimu.” jelas Andrean.


“Aku akan memilih kesepakatan pertama.” jawab Monessa.


“Bagus, tanda tanganlah di sini.” Andrean memberikan surat perjanjian.


Dengan terpaksa Monessa menandatangani surat itu.


“Kau bisa pergi!” usir Andrean setelah mendapatkan kesepakatan, Monessa pun keluar.


“Baru punya kemampuan seperti itu sudah ingin menjebakku, mimpimu terlalu tinggi untuk menjadi istriku.” gumam Andrean menatap surat perjanjian yang telah dibubuhkan tanda tangan oleh Monessa.


Di pojok yang sedikit tersembunyi karena hiasan bunga talas yang besar, Arsen duduk bersama Xander Pim, ia sedang mengintai Andrean. Semakin hari, ia tak bisa lagi melacak langkah sang ayah.


Andrean semakin curiga, ia mengirim pesan pada David, agar bawahan rahasia yang mengikutinya memotret orang yang berada dalam ruangan pojok sebelah sana.


Beberapa waktu yang lalu, ia telah memeriksa seberapa genius Arhen dan Ardhen, mereka tidak genius dalam bidang IT. Jadi, ia sangat curiga terhadap orang terdekat Sakinah, buktinya saat operasi ginjal saat itu. Kemampuan jimi pun tak sehebat itu, Andrean sudah memeriksanya.


Semua hal pribadi dan data penting telah diketahui oleh peretas, tetapi tak ada yang bocor ataupun mereka rugi, kecuali kerangka kalung, itupun hanya hampir sama tapi tak persis.


Bawahan Andrean mengirim 6 wajah dalam foto ke hpnya, salah satunya wajah Arsen.


‘Arsen.’ gumam Andrean.


‘Bukankah nama anak ini hampir mirip dengan Arhen dan Ardhen, apakah dia anakku? Bukankah di dalam kartu keluarga waktu itu dijelaskan Sakinah memiliki tiga orang putra?’


**


Malam hari.


Sekar, Sakinah, Dedrick dan anak-anak sudah kembali pulang ke mansion.


Arhen dan Ardhen sedang belajar dan mengerjakan PR bersama guru pembimbing mereka, sedangkan Sekar sibuk bersama Wizza yang baru saja pulang dari luar kota.


Sakinah berdiri dibalkon, tadinya ia menonton televisi namun ia merasa bosan, sehingga memandangi bintang dilangit.


“Begitu banyak bintang, mereka terlihat sama cantik dan terangnya, tak bisa dipilih mana yang terbaik rasanya.” Terdengar suara Dedrick berdiri di sampingnya.


Ya, pria itu menyusul Sakinah yang terlihat merenung memandangi langit, ia ingin menghiburnya.


“Sebenarnya bisa, jika kita telah memilih dan menetapkannya satu. Contoh diujung sana, aku memilih yang itu. Bukan karena dia berada lebih jarak dari banyak bintang lainnya, namun aku telah jatuh hati pada pandangan pertama padanya.” sahut Sakinah.


“Jika seandainya bintang itu sebenarnya bisa membakar dan melukaimu, apa kamu masih memilihnya?”


“Memilih melalui pandangan mata itu sangat berbeda, tetapi jika kita memilihnya melalui hati, sepertinya aku akan mencoba bertahan.”


“Apa kau membenci bintang yang melukaimu itu?”


“Tidak, aku tak akan membencinya karena aku yang memilihnya.”


“Memilih bukan berarti mencintai?” Dedrick memutar kepalanya, menatap Sakinah yang masih menatap bintang lurus di atas langit.


“Sebelum aku memilih, aku memohon petunjuk, aku akan menimbangnya, jika hatiku menetapkan dan memantapkan untuk memilihnya, aku akan bertahan dan belajar mencintainya sepenuh hati.”


“Termasuk Andrean?” tanya Dedrick.


Sakinah memutar tubuhnya, menatap kearah Dedrick sebentar, tersenyum, kemudian memutar tubuhnya kembali menatap lurus ke atas langit yang berbintang.


“Aku memilihnya, aku mempercayainya. Aku yakin dia orang yang sangat baik. Aku yakin padanya, bahkan aku yakin wanita itu bukan siapa-siapa baginya.”