
“Tuan Muda, air kompresnya sudah siap. Apakah Tuan Muda ingin saya kompreskan?” tanya Xander Pim saat meletakkan kompres yang sudah ia siapkan.
“Iya, silahkan.” Arsen memejamkan matanya.
Xander pim, meletakkan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat diatas mata Arsen yang terpejam. Lalu, ia pijit ringan kepala Arsen. Selang beberapa detik, ia rendam kembali handuk kecil itu, ia kompreskan diseluruh permukaan wajah Arsen, pijitan kecil ia iringi juga di sekitar alis, rongga mata dan batang hidung Arsen. Kemudian ia rendam kembali handuk itu, ia pijit ringan secara melingkar pipi Arsen, kemudian gerakan pijit ke bawah di dagu dan rahang Arsen.
Terakir ia kompreskan lagi handuk itu diatas mata Arsen.
Entah berapa lama, saat Xander Pim bertanya dan memeriksa handuk kompres itu tak ada jawaban lagi dari Arsen. Anak laki-laki itu telah tertidur pulas. Xander Pim pun menggendong Arsen masuk ke dalam kamarnya.
Sekali lagi, setelah meletakkan Arsen ke atas ranjang di kamarnya, Xander memeriksa dapur, memastikan semua sudah aman, lalu pintu apartemen, ia matikan lampu, hanya menghidupkan lampu pedar diruang santai dimana Hans juga sudah tertidur.
Sebenarnya Xander Pim bisa saja memindahkan Hans ke dalam kamarnya, namun pria kekar itu urung melakukan, pasti Hans tak suka digendong, kecuali ia sedang dalam keadaan tidak baik-baik.
Xander masuk kembali ke dalam kamar Arsen, berbaring diatas sofa yang bisa disulap menjadi ranjang, tempat itu khusus disediakan untuknya istirahat malam sebagai pengawal pribadi Arsen.
________
Pagi yang cerah dengan mentari yang tersenyum riang di atas sana tak seriang hati para penghuni Mansion di pagi ini.
Seorang wanita dengan perut sedikit buncit dibagian bawahnya menangis mendatangi Mansion, matanya sembab, ia meletakkan surat tentang tes kehamilan dari dokter dan hasil USG yang sudah menunjukkan bayi di dalam perutnya sudah berusia 14 minggu.
Wizza dan Sekar terperangah, mereka berdua tak bisa berkata apapun lagi. Sakinah dengan cadarnya menatap wanita cantik dan seksi itu dalam diam, namun hatinya berdetak hebat, tak henti-hentinya hatinya menyebut nama Allah, berdoa agar hatinya harus kuat dengan pilihan yang telah ia pilih.
Dedrick yang baru saja turun menatap tajam wanita yang menangis terisak-isak itu. Sedangkan Andrean hanya diam saja, ia juga tak berucap satu patah katapun, menjelaskan, membenarkan ataupun mengatakan tidak.
Dedrick memilih duduk disamping Andrean yang terdiam.
“Kenapa baru sekarang kau mengatakan hamil?” tanya Dedrick dengan tatapan yang menghunus pada wanita itu.
“Aku tidak menyadari hamil selama ini, aku baru mengetahuinya sekarang, Kakak Ipar.” jawab wanita itu.
“Cih!” Dedrick berdecih, “jangan pernah memanggilku Kakak Ipar, kau bukan istri adikku!” ucap Dedrick ketus.
“Aku akan pergi ke kantor, segera selesaikan ini dan cepat kekantormu!” ucap Dedrick menepuk pundak Andrean.
“Ma, Pa, aku berangkat dulu.”
“Kinah, aku pamit duluan, ya.” ucap Dedrick lembut. Intonasi yang jauh berbeda.
“Iya, hati-hati, Kak.” jawab Sakinah sopan dengan sedikit anggukan kepala.
“Lalu, bagaimana ini?” tanya Sekar bingung, ia melirik Sakinah dan juga wanita yang menangis itu.
“Aku akan bertanggung jawab dengan anakku. Mama, Papa, tenang saja.”
“Aku akan berangkat kerja, tolong disinilah dulu untuk sementara.” tutur Andrean menatap wanita itu dengan raut wajah biasa saja.
“Tolong jaga mereka.” ucap Andrean pada Kepala Pelayan. Pria paruh baya itu mengangguk, ia mengerti.
“Aku berangkat kerja dulu.” ucap Andrean tanpa menoleh pada siapapun, David membuntuti langkahnya.
“Nona, silahkan beristirahat dulu, saya akan mengantar Anda kekamar tamu.” ajak Kepala Pelayan.
“Ya, silahkan istirahat dulu, biar pelayan menyiapkan makanan dulu.” sambung Sekar.
Wizza hanya diam dan memilih pergi karena hpnya berdering.
“Terimakasih Tante.” ucapnya, langsung memeluk Sekar.
“Ya.” Sekar mengusap punggung wanita itu, sebenarnya ia merasa canggung dan segan, bagaimanapun juga putranya Andrean sudah memiliki istri dan anak, tetapi sekarang putranya itu lagi-lagi berulah, sudah menghamili wanita lagi.
Menjadi seorang ibu, apa yang harus ia lakukan dalam situasi ini? Marah? Membela salah satu diantara dua wanita yang sama-sama dihamili anaknya?
_____
“Hai Uncle, hai Aunt.” sapa mereka berdua pada para maid yang menyambut mereka.
“Hai Pretty Aunt.” sapa Arhen mengedipkan matanya pada Maid muda yang cantik.
“Hai Tuan Muda tampan.” sahut Maid itu ramah dengan senyuman manisnya.
Maid muda membuka sepatu dua anak laki-laki itu, setelahnya Arhen dan Ardhen berlari masuk ke dalam.
“Grandmaaaaa!” Arhen dan Ardhen meneriaki Sekar, lalu melompat ke dalam pelukan neneknya itu.
Wanita yang tadi menangis itu duduk di samping Sekar, namanya Monessa. Ia mencoba tersenyum pada kedua anak laki-laki yang bermanja pada Sekar itu. Bukannya balasan senyuman yang ia dapat, namun tatapan sinis.
“Siapa wanita ini Grandma?”
“Dia ... hm, dia-”
“Saya calon Tante kalian, kalian pasti anak Kak Dedrick ya?” sahut Monessa memotong perkataan Sekar yang sejak tadi bingung menjawab apa.
Arhen dan Ardhen langsung memicingkan matanya, menatap wanita itu penuh selidik.
“Apakah itu benar Grandma?”
Sekar hanya terdiam, tak bisa menjawab.
“Salam kenal Tante, saya Arhen, dia adik saya Ardhen. Oh ya, apa Tante sudah tau jika Papa Andrean itu punya banyak pacar? Apa Tante yakin Papa Andrean akan melamar Tante?”
“Waktu kami main ke taman bersama Papa Andrean, dia juga punya pacar di sana, rambutnya berwarna merah diblonde.” adu Arhen pura-pura polos.
Monessa terdiam.
“Tante yakin kok, aku akan menjadi tante kalian.” jawab Monesaa kemudian.
“Baguslah kalau Tante yakin. Grandma, kami ke kamar dulu ya.”
“Iya, Sayang.” jawab Sekar.
Sekar menarik nafas panjang, lalu menghelanya, setelah melihat Arhen dan Ardhen masuk ke dalam kamar.
‘Syukurlah, mereka tidak mengamuk. Mungkin mereka belum paham, perlahan aku akan memberitahu dan menjelaskan pada mereka secara perlahan.’ bisik Sekar dalam hati.
Arhen dan Ardhen berjalan masuk ke dalam kamar, tiba dikamar, mereka melempar tas mereka, Arhen menendang kuat kaki ranjang, sedangkan Ardhen diam sejak tadi.
“Pria seperti apa yang menjadi ayah kita?! Pria bajiingan!” umpat Arhen marah.
“Dari awal aku memang tak suka dan tak setuju Mom menikah dengannya! Tetapi kau dan Abang malah membelanya!” Arhen menunjuk Ardhen marah.
Arhen langsung menelfon Arsen, tetapi anak laki-laki itu tak bisa dihubungi. Arhen pun mengirimkan pesan.
“Aku tak akan lagi memaafkan dia!”
Toktoktok! Ketukan pintu terdengar dari luar.
“Tuan Muda, ini saya Nani, apakah ada yang bisa saya bantu?”
“Tidak! Pergilah! Jangan menganggu sampai aku memanggilmu!” Teriak Arhen dengan emosi.
“Baik, Tuan Muda. Permisi.” pamit Nani, ia menyadari perasaan kedua anak laki-laki itu tidak dalam keadaan baik sekarang.
Ardhen duduk meringkuk disudut, ia memilih menangis, Arhen berkomat kamit, sumpah serapah sakit hati, ia telah merebahkan tubuhnya diranjang sembari memukul-mukul kasur.
Tak lama, Arhen bangkit dari tidurnya. “Ayo, cepat ganti pakaian dan cuci wajahmu, kita harus menemani Mom yang sedang bersedih. Bukankah sejak tadi kita tidak melihat Mom!”
...***...