
“Kau mau bawa aku kemana Andrean?” tanya Dedrick. Tangannya sedang ditarik paksa oleh Andrean.
“Kamu harus membalas orang yang jahat dan kurang ajar padamu, Kak. Kamu harus membuatnya mengetahui betapa hebatnya dirimu.”
“Apa maksudmu?”
“Balaskan semua penghinaannya selama ini padamu, Kak. Masuklah ke dalam.” Andrean mengunci pintu dari luar. Lalu ia pergi.
3 jam kemudian, David dan Alex menemukan Andrean yang sedang minum di club. Mereka berdua membawa Andrean pulang.
Di rumah, Dedrick telah tidur setelah diberi obat.
Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Andrean.
“Dasar anak kurang ajar! Sudah payah aku membesarkanmu! Susah payah mendidikmu! Apa yang kau lakukan, hah?!” Teriak Wizza marah.
“Kau bermain wanita, lalu kau memaksa Kakak laki-lakimu hingga dia menjadi sakit seperti itu? Apa kau tak tahu kalau dia selama ini masih trauma terhadap perempuan!” bentak Wizza lagi.
“Jika kau ingin bersenang-senang, kau saja! Jangan ajak kakakmu! Dasar anak tak berguna!” Wizza meninju tembok, kemudian berlalu pergi.
Andrean terdiam.
“Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti itu?” tanya Sekar lembut.
Andrean masih diam tak menjawab.
“Baiklah jika kamu tak mau cerita. Mama harap, kamu jangan melakukan itu lagi pada Kakakmu kedepannya.” tegurnya halus.
Lalu, Sekar pergi meninggalkan Andrean.
_________
Malam itu, di kamar itu, gadis yang menjadi kekasih Andrean itu tiba-tiba memeluk Dedrick saat pria itu masuk ke dalam kamar hotel dengan suasana hening dan gelap.
Dedrick mendorong wanita itu dan meraba-raba saklar lampu untuk menyalakan lampu.
Lampu hidup!
Gadis itu terkesiap, begitupula Dedrick.
“Kenapa kau berada dalam kamar ini! Dasar pria tak punya malu! Kau masih mengejar-ngejarku sampai ke sini? Kau benar-benar sakit jiwa. Aku tak sudi dengan pria seperti dirimu.” Mulutnya benar-benar ahli melontarkan perkataan yang buruk untuk Dedrick.
“Keluar!” usirnya.
Dedrick masih diam seperti biasa, ia tak pernah menjawab sepatah katapun dari dulu. Ia terlalu mencintai wanita itu, namun penolakan keras dan hinaan yang ia dapat, hingga saat ini.
“Kau tuli, aku bilang keluar, Kakak pacarku akan datang kemari!” Ia dorong tubuh Dedrick.
Dedrick tercenung. “Kau menunggu Kakak pacarmu? Untuk apa?” tanya, ia tatap bola mata gadis itu. Sungguh bola mata yang cantik.
“Itu bukan urusanmu. Keluar!”
“Akulah yang kau tunggu.” sahut Dedrick lagi.
“Dasar tak punya malu.”
“Aku Kakak Andrean.” tegas Dedrcik memberitahu.
“Hahaha. Lucu sekali. Kau mengaku sebagai kakak kekasihku? Apa kau tau siapa kekasihku? Dia keturunan keluarga Van Hallen! Bukan pria cupu sepertimu!” ejeknya.
“Baiklah, jika tak percaya. Untuk apa menunggunya?”
“Apa kau sangat ingin tahu?” Gadis itu mendekat.
“Aku ingin membagi tubuhku dengannya demi Andrean.”
!!!
Dedrick terdiam.
“Sekarang kau puas mendengarnya? Pergilah keluar!”
“Kau ingin membagi tubuhmu demi Andrean? Dia memintamu?”
“Kau berpakaian seperti ini, ingin menggodaku agar aku tidur denganmu?” tanya Dedrick lagi. Tatapannya menjadi aneh.
“Kau gila! Siapa yang ingin tidur denganmu!”
“Tidak! Aku tidak!” Dedrick tiba-tiba memegang kepalanya.
“Dasar pria aneh, kau sudah gila ya!”
“Tidak, aku tidak!” Dedrick duduk memeluk lututnya, menggigil, menjambak rambutnya.
“Tidak, aku tidak begitu!” Ia terus terusan bergumam, membuat gadis itu menjadi takut.
Perempuan itu memakai bajunya dengan benar, lalu mencoba keluar, tetapi pintu dikunci oleh Andrean dari luar.
Dedrick berdiri. “Aku tidak ... aku tidak....” ucapnya memegang tangan gadis itu.
“Dasar pria sakit jiwa!” Wanita itu mendorong kuat Dedrick sampai terjatuh.
“Aku tidak seperti itu.” Lagi, Dedrick masih bergumam, mencoba bangkit dari dorongan Gadis itu.
“Tolong!” Gadis itu terus berteriak-teriak.
“Tidak, aku tidak begitu.” ucap Dedrick lagi, lagi dan lagi.
“Tolong! Tolong!”
Ia masih saja berteriak, hingga seseorang mendengar, tepatnya yang mendengar Alex. Pria itulah yang membuka pintu, menolong Dedrick yang terlihat aneh, sedangkan gadis itu langsung berlari keluar dan pergi entah kemana.
Dedrick pria baik hati dan lembut sebenarnya, ia tak bisa mendengar perkataan kasar dan hinaan. Itu membuat harga dirinya terluka. Apalagi dengan menghadiahkan tubuh atas keinginan adiknya. Ia tahu, waktu itu ia melihat Andrean menggandeng gadis yang ia cintai. Ia hanya berbohong saat itu, mengatakan sibuk tak bisa kembali ke apartemen. Padahal ia sedang bersembunyi.
Apakah kali ini adiknya memberikan pacarnya karena mengalah kembali? Selama ini Andrean selalu mengalah, ia tahu itu. Harga dirinya benar-benar terluka. Sungguh kesalahpahaman yang harus diluruskan. Andrean mengalah demi kesembuhan dan harga diri Kakaknya, sedangkan ia mengira harga dirinya jatuh karena Andrean selalu mengalah.
Ia menjadi pria dingin dan tak pernah dekat dengan wanita mana pun lagi. Setiap dia dijodohkan atau di dekati wanita, Andrean selalu menyosor wanita itu terlebih dahulu. Ia selalu memainkan wanita.
Setiap kali ditanya, kenapa Andrean melakukan itu semua? Dia akan selalu menjawab hatinya sakit, hatinya hancur. Membuat Dedrick tak bisa berkutik lagi. Mereka sama-sama memiliki luka.
**
Andrean mengusap wajahnya kasar, menyudahi lamunan dari masa lalu.
“Kakak!” ucapnya terkejut, saat mendapati Dedrick sudah berdiri didepannya, entah sejak kapan pria itu masuk ke dalam ruangan ini.
“Apa kau bahagia melakukan itu?” tanya Dedrick.
Pria itu menarik kursi, saling berhadapan dengan Andrean.
“Apa hatimu merasa puas?” Ia bertanya kembali.
“Sudahi semuanya! Atau...” Dedrick menggantung kalimatnya.
“Atau Kakak ingin merebutnya dariku? Kau ingin balas dendam karena aku merebut wanita-wanita yang dijodohkan padamu?”
“Ini bukan masalah dendam, masalah tanggungjawab. Kau memiliki dua orang putra dan satu orang istri yang sangat baik. Dia selalu menghormatimu, mengajarkan kebaikan pada anak-anak. Wanita seperti apalagi yang kau inginkan?”
“Wanita yang juga mencintaiku.” jawab Andrean.
Suasana tiba-tiba menjadi hening, cukup lama.
Cinta? Jika membahas tentang cinta, mereka jatuh cinta pertama pada wanita yang sama, wanita yang salah. Apakah sekarang mereka memiliki hati yang sama kembali?
“Apa Kakak menyukainya?” Pertanyaan pertama yang terlontar oleh Andrean setelah diam beberapa saat.
“Apa aku harus menjawabnya?”
“Tak perlu, aku sudah mengetahuinya. Kau tak akan bisa merebutnya dariku selama dua tahun ini. Aku sudah melakukan kontrak dengannya.” tutur Andrean.
“Apa maksudmu? Apa kau gila, Andrean?!”
“Ya. Aku gila!”
Lagi, mereka kembali terdiam, saling berpikir.
___________________
“Apa?! teriak Arhen.
Ia baru saja mendengar dari Arsen, jika seorang Maid menarik-narik hijab dan menampar Ibunya.
“Berani sekali dia!” Ardhen juga menggerutu mendengar suara Handphone yang diloudspeakerkan itu.
“Abang tenang saja, kami akan membereskan Maid itu.” jawab Arhen dan Ardhen menyeringai.
‘Apa kau menjalankan tugasmu dan selalu mengikuti mereka?’
“Ya, tentu saja. Papa Dedrick selalu the best, berbeda dengan Andrean, dia sangat buruk, Bang. Kemarin aku menemukan dia bersama wanita di dalam apartemennya. Dia sungguh tidak cocok menjadi ayah kita!” adu Arhen kembali menyahuti pertanyaan Arsen.
**
Setelah panggilan berakhir. Arsen menghidupkan laptopnya.
Rencananya tadi siang ia akan pergi ke rumah Sekar, namun tiba-tiba ia urungkan setelah melihat sebuah rekaman.
Arsen memasang CCTV dan mengakses data, jaringan yang ia akses merambas sampai beberapa apartemen sekitarnya, salah satunya apartemen yang ditinggali Andrean.
“Apa yang harus aku lakukan?” Arsen mengelus dagunya.
“Yang mana yang harus aku lakukan terlebih dahulu? Sepertinya aku butuh bantuan.”
...***...