Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Extra Bab


Kehidupan keluarga Sakinah selalu saja harmonis, sikap Andrean yang semakin manja dan bucin padanya, ia hanya sibuk bekerja dan membahagiakan ketiga putra kembarnya. Apalagi sekarang, Sakinah tengah hamil besar setelah mengikuti program hamil. Begitu pula sikembar, selalu mendapatkan hasil yang baik dalam karir, bisnis dan study mereka.


Calista dan Dedrick juga bahagia, putra sulung mereka yang bernama King itu, diberikan kemewahan bak layaknya seorang raja, sesuai dengan nama yang dipilih untuknya. Dedrick hanya menatap Calista seorang, sedangkan Calista akhir-akhir ini lebih bersikap cuek yang membuat Dedrick merasa istrinya itu balas dendam padanya, karena lama diabaikan sejak dulu. Namun, sebenarnya ia tak ada niat balas dendam, hanya saja ia terlalu sibuk memikirkan putranya, cintanya sangat banyak pada anaknya, jadi ia tak lagi mencurahkan cinta sepenuhnya pada Dedrick lagi seperti waktu ia gadis dulu.


Kehidupan Billa dan Jimi juga bahagia, walaupun Billa tak bisa lagi punya anak, namun putra semata wayangnya itu tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat. Satu hal yang membuat Jimi dan Billa terkejut, putra semata wayangnya itu fans berat Arsen sejak kecil. Jika putranya itu adalah wanita, ia akan menikahkan mereka. Akan tetapi, putranya itu seorang anak laki-laki.


“Jay, masa pakai baju ini, sih!” Billa protes pada putranya yang berumur 4 tahun.


“Pokoknya aku cuma mau pakai baju ini, titik!” ucap bocah itu dengan cadelnya.


Billa menghela nafasnya. “Ada apa Honey?” tanya Jimi. Billa menunjukkan baju yang akan dipakai putranya di acara peresmian cabang perusahaan Ar3s.


“Sayang, kita harus pakai baju ini.” Jimi mencoba membujuk putranya dengan menunjuk baju seragam yang sesuai dengan yang mereka pakai.


“Tidak! Tidak ada Abang di sana!" tolaknya mendorong baju itu. Baju yang ia inginkan adalah baju dengan gambar wajah Arsen.


Ia selalu memakai baju yang ada wajah Arsen, kasur, bantal, poster dinding kamar, tas sekolah memakai wajah Arsen. Jika saja baju sekolah boleh tidak seragam, anak itu mungkin akan meminta bajunya di gambar wajah Arsen.


Billa mendesah, ia langsung menelfon Arsen.


Arsen mengangkat panggilan dan membujuk Jay. Sekali bujuk saja, anak itu langsung bersemangat dan mau berganti pakaian.


“Ayo, Mom and Dad, aku harus pakai baju seragam ini, soalnya ini demi perusahaan Abang!”


“Ok!” jawab Billa.


Jimi hanya bisa tersenyum.




Sakinah merasa perutnya melilit mules. Kepala pelayan, semua orang yang ada di mansion cemas, langsung menelfon dokter khusus keluarga Van Hallen dan Dokter khusus program hamil yang menjadi langganan Sakinah.



Andrean dan Sikembar pun tak kalah cemas, mereka yang tadinya sedang melakukan aktivitas masing-masing langsung menghentikan kegiatan mereka, menyusul Sakinah yang telah dibawa ke rumah sakit.



Sakinah yang telah berusia 40 tahun ke atas, sangat rentan mendapatkan masalah dalam kehamilan. Jadi, ia harus dioperasi. Dari awal, memang ia tak bisa melahirkan normal, karena itu sangat berbahaya.



Andrean dan Sikembar serta keluarga lainnya menunggu dengan cemas di luar ruangan operasi. Hingga akhirnya, berita bahagia pun terdengar, Sakinah melahirkan seorang bayi perempuan.



“Alhamdulillah.”



“Puji Tuhan.”



“Terimakasih Tuhan.”



Pujian dan rasa syukur semua orang lantunkan kepada Tuhan, saat mendengar berita bahagia itu, apalagi keadaan Sakinah baik-baik saja.



“Hai, adik bayi!” sapa King pada bayi mungil yang tertidur lelap di ranjangnya. Ia baru saja dipindahkan ke ruangan bersama Sakinah.



Wizza yang mendengar berita bahagia itu tiba-tiba saja serangan jantung karena terlalu bahagia diberikan cucu perempuan.




Kini...


Semua orang telah pergi saat Wizza telah dikuburkan, sedangkan Irfan masih berdiri diam di sana. Hingga Frans memeluknya erat, memaksanya pulang dengan menangis, barulah pria tua itu beranjak pergi dari sana.



~~



Hari-hari terus berlalu. Tepatnya dua tahun setelah kepergian Wizza, Irfan juga menghembuskan nafasnya di ranjang, pria tua itu memeluk sebuah foto.



Perlahan foto itu di lepas dari tangannya oleh putranya.



Roque menangis saat melihat foto itu, foto keluarga besar Van Hallen, ada Irfan, Wizza, Ibu dan Ayahnya.



“Selamat jalan, Ayah....” lirihnya.



Irfan dikuburkan di samping istrinya, Roqa. Kini, ada empat kuburan sejajar. Andrean, Dedrick, dan Roque berdiri di depan pusara itu.



“Paman sudah tenang, Kak.” ucap Dedrick.



“Paman sudah bahagia, Kak.” sambung Andrean.



“Iya, Papa dan Paman sudah bahagia. Tak ada lagi penyesalan.” jawab Roque.



Dibelakang tiga pria dewasa itu kini tengah berdiri empat anak laki-laki, Sikembar dan Frans.



“Kita adalah keluarga.” ucap Arsen tegas.



“Kami akan selalu jadi keluargamu!” sambung Arhen.



“Kami juga menyayangimu sama seperti kami menyayangi Kakek pertama dan Kakek kedua.” Ardhen memeluk Frans.



Anak laki-laki itu membalas pelukan Ardhen erat, menangis sesenggukan. Ia sangat mencintai Kakeknya.



...----------------...