
Beberapa waktu yang lalu, masih hangat diingatan, Arsen telah waspada, saat Maid yang bernama Nani jahat pada Ibunya. Ia menyiapkan sebuah cincin yang bisa melacak dimanapun Ibunya berada, serta permata biru itu adalah kamera kecil yang sangat unik dan mahal ia pesan.
Cincin permata biru yang dipasangkan Arsen kala itu ditelunjuk Sakinah, bukan cincin biasa. Namun harga cincin itu lebih dari setengah uang tabungannya yang banyak fungsinya bagi siapa yang mengetahuinya.
Sewaktu ia menyelidiki jika ayahnya bukan Ardi, Arsen telah bersiap saat mendapati info tentang Dedrick dan Andrean. Menyelidiki orang-orang yang terkait dengannya, mereka bukanlah orang-orang biasa sehingga Arsen meminta Sakinah memakai cadar agar tak ada siapapun yang mengenal dirinya.
Beberapa hari yang lalu. Sebuah rekaman jejak dari Irfan yang ia tonton dari laptopnya, ia menemukan hal aneh dan ganjil. Ada orang yang baru bergabung dengan mereka, sepasang manusia, salah satunya Monessa.
Arsen menyelidiki melalui bantuan orang kepercayaannya Barend. Menurut info, pria itu adalah pria yang pernah mengundurkan diri dari saham Antaman Wizgold karena tidak setuju Andrean menjadi CEO.
Arsen juga telah menyelidiki latar belakang Monessa, tujuan dan kebenaran tentang anak yang ia kandung melalui orang-orang kepercayaannya. Arsen telah menyadari jika Monessa ular beracun, ia juga sudah mengabarinya pada Arhen dan Ardhen. Ia berpesan agar menjaga Sakinah.
Arsen telah menyusun rencana cadangan, namun ia tak menyangka target utamanya adalah Sakinah kali ini, padahal ia mengira target itu tetapkah Andrean. Walaupun ia tak terlalu yakin pada Andrean terdahulunya, namun perlahan semakin ia memahaminya ia mulai mengagumi sosok Andrean.
Makanya ia melindungi Andrean sebagai bayangannya yang tak akan diketahui siapapun.
Sakinah, wanita yang pendiam, lembut dan bercadar itu, sangat jarang keluar rumah, sehingga siapapun tak akan mengira targetnya adalah dia.
Arsen meremas hp yang ia pegang hingga retak, tangan kecil mungilnya terluka dan mengeluarkan darah, matanya menatap tajam saat melihat video rekaman yang masuk. Pria itu memaksa membuka hijab Ibunya, terlihat di sana Sakinah menangis dan mengaduh kesakitan.
Barend dan lainnya bergidik ngeri melihat anak laki-laki yang bengis itu. Andrean yang melihat expresi Arsen aneh juga melihat video itu. Darahnya langsung mendidih melihat gambar itu.
Andrean langsung bersiap hendak menyerang duluan!
“Tunggu! Apa ya-” Barend terdiam saat ia hendak melarang Andrean dan ingin menenangkan pria itu agar tidak ceroboh. Tetapi matanya langsung terbelalak melihat Arsen meraih tas sandang kesayangannya.
Tas anak-anak berwarna coklat yang terlihat biasa saja, bahkan isinya juga mainan anak-anak, namun bagi Barend yang telah memahami atasan kecilnya itu, itu bukanlah mainan anak-anak biasa.
Mainan itu telah dimodifikasi menjadi alat canggih yang multifungsi.
“Tuan Muda!” panggil Barend.
Arsen telah melompat kedalam mobil Andrean. Andrean pun juga telah membawa mobilnya sangat kencang. Barend dan para pengawal pun mengejar mereka.
“Sialaaan! Karena aku sudah lama tidak seperti ini, aku jadi kalah dengan mereka berdua!” gerutu Barend.
“Sepertinya mereka berdua singa gila!”
“Bukan, mereka mafia pscyopat!”
Begitulah sahut para pengawal mengejar mereka. Bayangkan saja, mereka ke sana tanpa rencana, bukankah itu artinya mengantar nyawa? Bukankah orang yang tak takut mati itu seperti singa yang sedang menggila mengejar mangsa? Atau Psycopat? Ya, begitulah mereka berkata dengan laju mobil sangat cepat mengejar ayah dan anak itu.
“Kiri!”
“Kanan!”
“Belok gang kecil di persimpangan!”
Arsen memandu jalan, entah kenapa mereka bisa saling memahami satu sama lain, kapan waktunya mengatakan berbelok, ataukah memang Andrean sangat mahir ngebut-ngebutan?
“Kita harus menukar mobil di sini!”
Andrean memarkirkan mobilnya, lalu berjalan mencari mobil yang lebih terlihat umum berwarna gelap namun kuat. Ia pecahkan kaca pintu mobil, lalu mereka langsung masuk dengan sigap. Andrean mencabut kabel dekat stir, lalu mengadukan antara dua kabel hingga mengeluarkan percikan api, kemudian mesin pun hidup.
Brum! Mobil langsung melaju cepat.
Mereka sampai dititik koordinat tanda yang ditunjukkan cincin Sakinah.
“Selipkan ini dijas Papa, kunyahlah permen ini perlahan, hindari mengunyah bulatan-bulatannya. Cukup pura-pura mengunyah saja!” Arsen memberikan sesuatu dari dalam tasnya.
Andrean mengambilnya, kemudian ia berjongkok. Ia pasangkan kalung yang ia pakai dileher Arsen. “Pakai ini!” pintanya, Arsen mengangguk.
“Papa masuk dulu, ingat kamu harus jaga diri, tetaplah disini sampai mereka datang.” pesan Andrean, kemudian ia pencet tombol kecil dijam tangannya sebagai penanda pada pengawalnya, dimana keberadaannya, begitupula dengan Arsen juga sudah menggosok cincin permata emerald yang ia pakai 3 kali sebagai titik koordinat dimana dia berada.
“Papa janji akan menyelamatkan Mommu. Tunggu disini ya!” Ia elus lembut kepala Arsen.
Andrean membawa mobilnya pelan sampai di suatu tempat, ia meninggalkan Arsen ditempat tadi sendirian. Kemudian, Andrean menjinjing satu buah koper, berjalan kedepan.
Di depan sana terlihat empat orang pengawal, mereka memeriksa tubuh Andrean, mengambil satu buah senjata api yang Andrean letakkan dicelananya.
Andrean didorong dengan senjata masuk ke dalam ruangan. Hatinya langsung memanas saat melihat Sakinah dengan mata bengkak, rambut panjangnya yang indah itu dipotong pendek oleh pria itu hingga sependek tengkuk.
“Akhirnya kau datang juga!” ucap pria itu. Ia menggunakan topeng agar Andrean tak mengenali rupanya.
“Mana uang yang aku minta dan permata ruby yang menang tahun lalu itu?”
Andrean meletakkan koper. “Uang dan ruby itu berada di dalam.” jawabnya.
“Periksa!” perintahnya.
Pengawalnya menscand dengan alat pendeteksi, memastikan bukan hal berbahaya di dalam. Alat itu tak berbunyi, artinya aman, ia membuka koper, melihat jumlah uang yang banyak.
“Hitung!”
Pengawal itu menarik mesin, memasukkan uang ke dalam mesin, memastikan itu uang asli dan mengetahui berapa jumlahnya.
“Sesuai dengan keinginan kita, Tuan.” ucap bawahannya memberitahu lagi.
“Bagus, bawa ruby itu kemari!”
Perlahan dan sangat hati-hati. Pengawal itu membawa permata ruby yang berharga itu, kehadapan pria itu.
Ia periksa dengan sebuah mesin kecil, kaca pembesar yang bisa melihat partikel-partikel yang terkandung didalam sebuah benda.
“Ahahahahaha! Bagus! Tak kusangka wanita ini memang berharga bagimu!” Ia berkata dengan tertawa lantang, kemudian memberikan kode mata pada bawahannya.
Andrean yang paham akan kode jahat itu langsung merunduk dan tengkurap. Lalu melempar permen yang tadi ia gunam di dalam mulutnya kedalam kumpulan banyak pengawal.
Duooaar! Terdengar suara ledakan, kemudian keluar banyak asap. Andrean segera merogoh benda kecil yang Arsen selipkan dijasnya tadi.
Srek! Shhh! Srek! Terdengar suara gemuruh.
Andrean terkesiap melihat semua pistol mendekat kearahnya.
‘Alat apa ini? Magnet senjata?’ pikirnya disituasi yang masih kacau karena asap.
...***...