
Di Inggris.
“Tidak! Tidak! Mom, jangan tinggalkan aku! Mom!!!” teriak seorang pria berkulit hitam di atas ranjangnya.
Dia langsung terduduk dengan keringat yang membanjiri seluruh wajah dan tubuhnya. Seorang pria tampan dengan kulit putih berlari secepatnya masuk ke dalam kamar penginapan kecil itu.
“Hei, kau kenapa?” Dia telah berada di samping pria berkulit hitam itu dengan cemas.
“Aku tak apa-apa, hanya bermimpi buruk!” jawabnya.
“Kau bermimpi dengan Ibumu lagi, Johan?” tanya Sony.
“Hm.” Dia hanya bergumam.
Sony mengambil air di dalam botol kaca, menuangkannya ke dalam gelas. Lalu, memberikannya pada Johan.
“Apa kau juga sering memimpikan Eline?” Johan menoleh pada Sony.
“Tidak terlalu sering,” jawabnya menatap Johan yang meneguk segelas air langsung tandas.
Sony mengambil gelas kosong, meletakkannya di nakas. “Setelah ini, bagaimana lagi?”
“Mereka semua sudah mati! Setidaknya, aku sudah membalaskan dendam ku! Tentu saja kita berdua harus menjalani hidup baru di sini.”
“Caranya?” tanya Sony menatap Johan. “Kita kehabisan uang dan orang-orang kepercayaan kita. Senjata dan kendaraan yang kita gunakan untuk menghancurkan keluarga Van Hallen telah menyita semua uang tabungan kita selama ini. Kita cuma punya uang untuk makan sebulan saja, bahkan membawamu ke rumah sakit saja aku tak mampu,” tutur Sony dengan tertunduk lesu.
“Sony, lihat aku, aku baik-baik saja. Kau adalah temanku, dan aku juga mencintai adikmu Eline sepenuh hatiku. Mari kita hidup damai dan memulai semuanya menjadi lembaran baru. Kita akan mengumpulkan harta dan orang-orang kembali untuk tunduk di bawah kekuasaan kita.”
Sony merenung mendengarnya. Dia masih ingat, saat dia menjalankan misi balas dendam di Vend Beutique, dia membuntuti seseorang yang rupanya bawahan Johan. Mereka bertemu dan bernostalgia.
Darah Johan mendidih saat mengetahui, Eline Fey mati bunuh diri di Amerika karena putra kembar Van Hallen. Semakin benci dan dendam lah Johan, mereka berdua pun membentuk kelompok besar dan bersatu bersama orang-orang yang juga membenci keluarga Van Hallen itu.
“Sony!” Johan memanggilnya sekali lagi.
Sony tersentak dari lamunannya. “Iya, aku dengar Johan. Itu lebih baik. Mari kita kumpulkan harta dan kekuatan baru di sini.”
Mereka berdua tersenyum dengan pikiran masing-masing.
Eline Fey adalah adik tiri Sony. Dia menyayangi anak itu sangat besar. Masih diingat dalam ingatannya, ibu kandung Eline Fey memiliki penyakit menyimpang, masokis, dan menyukai perempuan. Hari itu Sony menyaksikan Eline kecil yang cantik putih dan bersih, dicium dengan aneh, dicubit, dan dianiaya ibu kandungnya.
Jika Eline tidak patuh, dia akan dipukul dan dicambuk, ibunya akan tertawa senang melihat Eline menangis, lalu memeluk dan mencium putri kecilnya itu setelah pingsan. Sedangkan pada Sony, dia tidak pernah mempedulikan apapun yang dilakukan anak tirinya itu. Bahkan, lebih mengerikannya lagi, ayahnya menikah kembali dengan seorang wanita yang memiliki seorang putra yang sama besar dengannya karena permintaan istrinya itu mencari istri simpanan untuk temannya di rumah.
Kehidupan di rumah besar Sony sungguh mengerikan, dimana Ibu tirinya yang masokis itu menganiaya ibu baru yang menikah dengan ayahnya. Dia dan anak laki-laki itu hanya bisa melihat sambil mengepalkan tangannya sambil bersembunyi menyaksikan.
Sore itu, anak laki-laki yang ibunya dijahati oleh Ibu Eline Fey, memukul gadis kecil yang cantik itu. Sony tentu saja melerainya, menengahi, tetapi kebencian itu tumbuh teramat besar. Hampir setiap hari anak laki-laki itu mendorong dan menendang Eline Fey, membalas perlakuan Ibu kandungnya.
Hingga, ibu anak laki-laki itu bunuh diri, Eline Fey dibantu kabur oleh Sony untuk menemui ayah kandungnya, dan anak laki-laki itu juga menghilang tanpa kabar, sampai mereka bertemu waktu itu.
Anak laki-laki itu adalah Johan. Pria yang sangat membenci Ibu kandung Eline Fey, namun akhirnya dia mengasihi dan mencintai putrinya yang setiap hari juga disiksa oleh ibunya itu.
“Oi, apa kau memikirkan Eline? Jika Eline masih ada, aku khawatir aku akan bertarung denganmu merebutnya!” Johan menepuk bahu Sony. Menghibur.
“Jika itu kamu, aku tak apa-apa Johan. Aku dan ayahku telah menghancurkan hidupmu dan ibumu.”
“Tidak, yang menghancurkan hidupku dan Ibuku adalah bajingan Arsen itu. Jika bukan karena dia, ayahku tidak akan dihukum mati, semua harta kami tidak akan disita, ibuku tidak akan dijual jadi pemuas nafsu laki-laki. Apa kau tahu, ayahmu sebenarnya menolong ibuku degan menikahinya dia terlepas dari jerat jual beli wanita. Akan tetapi sayangnya ... ayahmu sebelumnya menikahi wanita gila!” Johan tersenyum masam diakhir kalimat.
“Aku berharap Eline akan hidup bahagia, tetapi malah berakhir sama dengan ibumu, dia malah memilih bunuh diri karena pria. Dasar bajingan!” Sony mengepalkan tangannya membentuk tinju.
Ya, setelah kejadian bersama Vindo waktu itu, Eline Fey menjadi trauma dan ingat kejadiannya waktu kecil. Dia menjadi setengah gila, berhalusinasi. Ayah kandungnya membawa ke Amerika, Sony menjaganya hampir setiap hari. Namun sayangnya, sore itu dia kecolongan, Eline Fey memilih melompat dari atas atap gedung rumah sakit dengan foto tiga saudara kembar yang tak jauh dari tubuhnya yang remuk patah dan berdarah.
Sebelumnya, Sony juga sering mendengar Eline Fey bergumam tentang nama Arsen, Arhen, Ardhen, dan Chrys.
“Masih ada satu lagi orang yang ingin aku cari Johan!”
“Siapa?”
“Chrys!”
Mendengar nama itu, Johan memicingkan matanya. Sangat banyak yang bernama Crys, dia butuh nama kepanjangan atau nama keluarga sebagai petunjuk.
“Pria itu pasti berhubungan dengan keluarga Van Hallen, kita hanya butuh mencari tahu lebih!” Sorot matanya tajam.
“Ok!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...