
Sekar dan Amy memeriksa semua lemari pakaian sikembar, mencari baju yang senada dengan gaun yang dibelikan Andrean untuk Sakinah, namun anak-anak tetap merasa tak cocok. Akhirnya, Sekar menelfon pemilik butik pakaian yang dipesan Andrean itu, ia meminta agar segera mengantarkan pakaian untuk cucunya.
Terpaksa, pemilik butik itu bergegas memeriksa dan memerintahkan bawahannya mengukur tubuh para Tuan Muda Van Hallen. Untung saja, ada baju yang senada ia buat cukup lebih, karena Andrean tidak meminta pakaian spesial. Pria itu sengaja memesan pakaian umum, ia tak ingin membuat Sakinah terbebani dikencan pertamanya, mengingat Sakinah yang suka berpenampilan sederhana.
“Kalian tenang ya, sebentar lagi akan ada yang mengukur tubuh kalian untuk membuat baju.” bujuk Sekar pada sikembar.
Tak berapa lama, seorang pria berpakaian wanita dengan suara cempreng kebanci-bancian datang menyapa. Ia mengukur tubuh tiga Tuan Muda itu, lalu menelfon atasannya, memberitahu ukurannya.
“Nyonya Muda, kira-kira jam berapa acaranya?” tanya banci itu pada Sekar.
“Kalau bisa, harus siap jam 6, setidaknya masih ada waktu 2 jam lagi 'kan dari sekarang? Paling tidak sebelum jam 7, karena acaranya jam 7 malam.” jelas Sekar.
“Baiklah Nyonya, kami akan melakukan yang terbaik.”
“Oh, ya, kamu tau 'kan peraturan keluargaku?” Tatap Sekar penuh ancaman.
“Nyonya tenang saja, kami bisa menjaga privasi. Ini adalah kebanggaan kami, bisa menyediakan pakaian untuk Nona Muda dan para Tuan Muda. Bahkan saya sangat bahagia sekali setelah melihat Tuan Muda Arsen, dia sangat tampan dan maskulin.”
“Baguslah.”
Baju itu sampai tepat jam 06.20 sore. Keringat mereka tampak bercucuran karena terburu-buru.
“Wah, ini baru sama dengan punya Mom!” ucap Arhen.
“Ah, bagus dan pas!” puji Ardhen menyambung ucapan Arhen.
“Terimakasih.” ucap Sekar, ia memberikan tips pada pengantar itu.
**
Andrean sudah sejak tadi menatap jam tangan dipergelangan tangannya dengan perasan berdebar. Ini adalah kencan pertamanya dengan istrinya, sudah sangat lama ia tak merasakan debaran seperti ini.
Semuanya sudah sempurna diatur oleh david, makan malam romantis yang sudah ia siapkan sejak tadi pagi.
“Sudah jam 7.30, kenapa Sakinah belum juga datang?” gumamnya.
“Mungkin Nona Muda terjebak macet dijalan Tuan Muda.” sahut David.
“Lain kali, jemputnya pakai helikopter saja!” gerutunya.
“Baiklah, Tuan Muda.” jawab David patuh, tak tau harus menjawab seperti apa.
Beberapa kali Andrean mendesah, sang istri belum juga muncul, bahkan sudah jam 8 malam.
“Coba telfon sopir itu?! Lalu pengawal! Apa mereka tidak becus dalam bekerja?!” hardik Andrean.
“Pecat mereka semua, kalau menjemput istriku kemari saja tidak bisa!”
“Siapa yang mau Papa pecat?!” sambung Arhen tiba-tiba dengan berkacak pinggang. “Kalau menunggu satu jam saja tidak sabaran, bagaimana dengan kami yang menunggu 6 tahun lebih, tetapi Papa baru datang, kemudian masih bersifat kekanak-kanakan!” lanjut Arhen.
Andrean terperangah, ia terkejut saat melihat Arhen yang datang, kemudian mendapatkan ucapan yang cukup nyelekik.
“Ah, akhirnya ... sampai juga! Waaaahhh, indah sekali pemandangannya!” puji Ardhen takjub, ia baru saja menyusul Arhen yang berlari lebih dahulu.
Kemudian tak lama, Sakinah datang berpegangan tangan dengan Arsen, bak princes. Andrean terpana, istrinya sangat cantik, putra pertamanya juga sangat keren, cool, kemudian ia menoleh pada Arhen dan Ardhen yang sibuk menatap pemandangan, mereka juga sangat tampan dan keren.
‘Jadi, ini alasan mereka terlambat, mereka memakai baju yang sama. Hm, sebenarnya aku hanya ingin makan berdua dengan istriku saja. Tetapi ... Ya, sudahlah!’ bisik Andrean dalam hati.
Andrean melirik pada David, tentu saja bawahannya itu paham, ia segera mememerintahkan koki untuk menambah masakan sesuai selera anak-anak.
Arsen langsung duduk bersama Sakinah, musik langsung dimainkan oleh pemain musik yang sudah siap sejak tadi disana setelah melihat Sakinah duduk. Arhen dan Ardhen masih saja menatap keindahan.
Andrean mengibaskan tangan, para pengawal dan sopir pun kembali turun, menunggu mereka diruangan khusus yang sudah disiapkan juga.
“Cukup bagus.” ucap Arsen masih dengan wajah dinginnya.
“Seleramu memang buruk, ini jelas-jelas sangat bagus, adik-adikmu bahkan memujinya.” jawab Andrean menyunggingkan senyumannya.
Andrean terkekeh. “Astaga, putra-putraku sangat imut sekali. Padahal tadi aku hanya ingin berdua saja dengan istriku disini.” pancing Andrean, ingin melihat reaksi Arsen yang duduk didepannya.
Rupanya Arhen dan Ardhen juga mendengar, dua anak kecil itu baru saja selesai melihat-lihat, hendak duduk.
“Apa?! Karena itu Papa tidak membelikan kami baju? kami akan mengadukannya pada Grandma.”
“Dasar tukang ngadu, dikit-dikit ngadu!” selorohnya.
Ketiga anak itu menatapnya tajam.
“Sudah, sudah! Jangan kerjain anak-anak lagi. Papa cuma bercanda kok. Ayo, cepat duduk, sini!” Sakinah menepuk-nepuk kursi yang kosong disampingnya.
Arhen dan Ardhen pun duduk disamping Sakinah.
Makanan pun terhidang. Lagi, Andrean usil, ia menyuapi Sakinah dan meminta disuapi. Tentu saja sikembar cemburu, mereka juga minta disuapi.
“Dasar anak kecil! Makan sendiri dong!”
“Papa juga disuapi! Padahal sudah besar!” balas Arhen.
“Aku bosnya, 'kan aku yang ajak ke sini, itu adalah bonus. Sedangkan kalian cuma tamu!” balas Andrean tak mau kalah sambil terkekeh.
Selama makan malam, Andrean selalu menjahili anak-anak. David selama ini menjadi asistennya tidak pernah melihat sikapnya seperti ini, senyuman yang benar-benar tulus, keceriaan yang tak pernah ia lihat, walaupun pria itu bersenang-senang. Dia mabuk, dia main perempuan, menghamburkan uang, wajahnya masih saja menjelaskan tak bahagia.
Kini, kebahagiaan itu sungguh terpancar. David tersenyum kecil di sudut, di samping pemain musik melihat keakraban atasannya itu.
“Pa, ku pastikan setelah dewasa, aku akan mengalahkanmu!” tantang Arhen kesal karena terus-terusan dijahili Andrean.
Arsen yang pendiam itu bahkan terpancing karena Andrean membawa-bawa Momnya, ia sudah mulai hafal dengan sikap ketiga putranya itu.
Makan malam yang menyenangkan itu pun selesai, walaupun tak seromantis bayangan Andrean, namun ia semakin dekat dengan anak-anak.
Sekarang, mereka memegang tangan Sakinah, tidak mengizinkan Ibunya duduk bersama Andrean.
“Tadi Mom pergi sama kami, pulang juga sama kami. Papa pulang saja sendirian sama Paman David!”
“Mom, ayo, kita duduk di mobil itu saja!” bujuk Ardhen.
“Tidak bisa, dia itu istriku, dia harus pulang bersamaku!”
“Dia itu Mom kami! Mom harus pulang sama kami!”
“Kalian itu masih kecil, tidak bisa menjaga istriku!” ejek Andrean.
“Seharusnya papa yang mengaku besar itu mengalah pada yang kecil!” sungut mereka bertiga berapi-api.
“Hahahaahaha!” Andrean tertawa terbahak-bahak sambil memegang Perutnya.
“Kalian lucu sekali!” ucapnya masih terkekeh.
Ketiga anak itu masih menatapnya tajam.
“Baiklah mari kita naik mobil bersama!”
“Hei, kalian kemarilah!” panggilnya, Andrean kembali serius.
“Kami akan pulang dengan mobilmu!” ucapnya tegas setelah bawahannya itu mendekat.
Mereka pun akhirnya kembali ke Mansion menggunakan mobil pengawal yang cukup besar, sehingga mereka semua muat dengan satu orang pengawal didepan beserta sopir disampingnya.
Andrean masih saja tersenyum, teringat waktu ia berebut Ibunya bersama Dedrick, lalu Wizza akan menjahili mereka.
‘Beginikah rasanya menjadi seorang ayah?’ gumamnya sembari tersenyum.
...----------------...