
Malam telah begitu larut, bulan yang menampakkan separuh dirinya tak cukup terang untuk menerangi kegelapan malam ini. Orang-orang masih memenuhi jalan, walaupun kebanyakan toko-toko sudah mulai ditutup, tetapi masih ada beberapa restoran 24 jam yang terbuka.
Amerika, dimana Negara yang ditinggali Dedrick sekarang. Ia tengah berjalan sambil memapah tubuh seorang gadis yang ia pasangkan jacketnya. Angin malam yang dingin berhembus menusuk kulit. Membuat wanita cantik nan berpakaian seksi itu meracau dengan tangan gemetar.
Beberapa kali Dedrick mendesah. Layar hpnya dan gadis itu telah padam karena tidak ada baterai.
Tidak ada taxi yang lewat sejak tadi, menambah frustasinya ia menghadapi gadis ini.
“Siaal!” umpatnya mendesah saat gadis itu muntah di dadanya.
“Calistaaaaa!” pekik Dedrick kesal, ingin rasanya ia tinggalkan gadis menyebalkan ini dijalan, namun bagaimana jika gadis itu dijahati oleh preman? Bagaimana jika gadis ini dia bawa ke rumah bordil? Begitu banyak pikiran buruk yang melintas di kepala Dedrick.
Ia cukup sayang pada Calista, bagaimana pun gadis ini sejak kecil memang selalu mengikutinya kemanapun. Tetapi kali ini benar-benar menyebalkan!
“Dedrick sialaan! Kau pria dingin yang tak punya perasaan! Aku sangat mencintaimu, kenapa kau tak memilihku? Kenapa kau malah berkencan dengan beberapa wanita, tetapi kenapa tidak mencoba berkencan denganku?! Kau pria bajingaaaaan!” racau Calista menepuk-nepuk lengan Dedrick.
“Sssshhht!” Dedrick mendesis. “berhentilah bertindak konyol! Orang-orang akan berpikiran aku pria cabul, diamlah!” Dedrick merangkul Calista, duduk di trotoar.
“Muntahmu bau sekali. Apa yang harus aku lakukan?!” Dedrick sungguh merasa jijik melihat muntah yang memenuhi dadanya.
“Coba saja aku bisa memanggil orang melalui suara hati, sudah kusuruh Alex menjemputku!” ucapnya dengan menghela nafas kasar.
“Dedrick, pria bajingaaaaan! Apa sih kurangnya diriku ini? Kenapa kau tidak melihatku?!” Calista menarik wajah Dedrick, kemudian menerkam bibir pria itu.
‘Calistaaaa!!!’ Mata Dedrick terbelalak.
‘Wanita ini...’ Dedrick terdiam cukup lama, ‘Aneh, tubuhku terasa baik-baik saja...’ Ia bergumam dalam hati, kemudian menikmati ciuman Calista.
“Awwwh!” Dedrick terpekik, Calista menggigit bibirnya kuat hingga berdarah.
“Kau!” Dedrick memegang bibirnya yang berdarah.
“Dedrick sialaan! Kenapa kau berciuman dengan wanita lain? Kenapa tidak berciuman denganku? Aku juga bisa!” Calista masih saja meracau dalam mabuknya.
“Kapan aku berciuman dengan wanita lain? Malah kau bertanya kenapa tidak berciuman denganmu? Barusan kau telah mencuri ciuman pertamaku!” jawab Dedrick kesal. Namun sayangnya, Calista tak akan mengerti karena dia mabuk berat, coba saja jika wanita itu kini sadar telah mencium Dedrick. Dan pria yang dicintainya itu berkata tentang ciuman pertama, mungkin dia akan rela jika nyawanya dicabut saat ini juga!
Tak lama, taxi pun datang juga. “Pak, tolong antarkan ke alamat ini!” ucap Dedrick, ia merapikan tubuh Calista. Bersiap hendak menutup pintu mobil taxsi, namun ia masih merasa khawatir, akhirnya ia juga ikut mengantar.
Setelah sampai di alamat, Calista malah tertidur pulas, ia merasa tak tega, lalu menggendong wanita itu sampai di depan pintu apartemen. Ia turunkan Calista perlahan, ia cari kunci apartemen itu, lalu memasukkan Calista ke dalam kamarnya.
“Hei, kau mau kemana bajingaaaaan!” teriak Calista. Ia menarik tangan Dedrick yang hendak meninggalkannya.
“Rupanya mulutmu sekasar ini ya aslinya! Dari tadi mengatakan aku pria bajingan, pria tak memiliki perasaan! Sudah kubilang cari pria lain, jangan mengejarku!” Dedrick mencoba melepaskan cekalan tangan Calista.
“Aku tak akan melepaskanmu sampai mati Dedrick! Kau hanya milikku selamanya! Bahkan jika kau menikahi wanita yang kau kencani itu, aku akan memanjat ranjangmu dan memperkosaamu!”
Dan apa yang terjadi?
Calista langsung menghimpit tubuh Dedrick, mencium paksa pria tampan itu. Menciumi bibir dan lehernya, tangan Calista meraba-raba dengan nakal.
“Calista! Hentikan!” Dedrick memegang tangan Calista.
Wanita mabuk itu tak peduli!
“Calista, hentikan!” Ia mendorong tubuh Calista.
Terjadilah adegan dorong mendorong! Beberapa kali Dedrick menolak, ia sadar, dan ia tak ingin menjadi pria penjahat yang bercinta dengan seorang perempuan saat perempuan itu mabuk!
Calista membuka seluruh pakainnya, memperlihatkan tubuhnya, hingga polos, memperlihatkan semua sisi indah tubuhnya nan molek.
“Aku akan memperkosaamu! Aku tak bersedia berbagi dirimu dengan wanita lain! Kau hanya milikku!” Ia membuka paksa baju Dedrick dan menciuminya.
Seberapapun besar niat hati Dedrick menolak, namun godaan mengalahkannya. Dan akhirnya terjadilah pergulatan diatas ranjang!
“Aaakh!” pekik Calista menjerit, antara sakit dan nikmat tentunya! Ia gadis perawan yang baru saja digagahi.
Entah berapa lama pergulatan itu terjadi hingga pagi pun telah datang menyapa!
Mentari senyum malu-malu mengintip tubuh polos mereka dalam selimut.
“Hm?” Mata Calista menangkap tubuh polos Dedrick.
‘Jadi ... tunggu?! Apa benar aku memperkosanya semalam?!’ Mata Calista terbelalak, ia lihat begitu banyak tanda merah ditubuh Dedrick menandakan betapa ganasnya ia semalam.
‘Hihihihi!’ Ia gelak terkikik.
Mata Dedrick terbuka. Pandangan mereka saling bersirobok.
“Kau tidak menjerit?” tanya Calista.
Alis Dedrick berkerut, pertanyaan apa itu? Kenapa dia harus menjerit? Bukankah seharusnya wanita yang akan menjerit saat menyadari kegadisannya hilang?! Jelas-jelas Dedrick sadar melakukannya semalam, karena tidak bisa menahan hasraatnya ia sampai khilaf.
Bukankah seharusnya wanita akan menangis dan histeris? Jelas-jelas ia melihat saat penyatuan, milik Calista berdarah!
Calista langsung duduk dan langsung mengaduh. “Auch!”
Dedrick juga reflek langsung duduk, ia sangat khawatir!
“Tak apa! Apa penyakitmu sudah sembuh?” Calista menatap Dedrick dalam.
Pria itu membuang muka. Masalah penyakit, ya? Sepertinya akhir-akhir ini ia bisa berdekatan dengan wanita, tetapi wanita itu hanya Calista. Sedangkan yang lainnya ... ia hanya berpura-pura berkencan agar Calista tidak membuntutinya setiap saat.
“Hei! Ayo kita lakukan lagi! Sepertinya penyakitmu sudah sembuh!”
“A-ap-pa maksudmu Calista!” Wajah Dedrick memerah.
“Semalam aku mabuk saat memperkosaamu! Sekarang aku dalam keadaan sadar.” Ia mendorong tubuh Dedrick dan menindihnya.
“Ka-kamu jangan seperti ini Calista!”
Calista mengabaikannya dan menciumi semua sisi wajah Dedrick hingga berlabuh lama dengan ciuman bibir yang hangat dan dalam.
Ya, akhirnya Dedrick kalah dengan godaan lagi! Perasaan aneh dan rasa nikmat yang berbeda! Permainan ranjang yang panas.
Dedrick tertelentang karena kelelahan, sedangkan Calista tersenyum penuh kegirangan, walaupun area sensitifnya terasa sangat sakit, tetapi hatinya berbunga-bunga!
Ia berjalan ke kamar mandi secara perlahan dan membersihkan diri. Setelah mandi, ia melihat Dedrick sedang duduk ditepi ranjang, ia hanya memakai celana boxer dan meletakkan handuk dipundaknya.
“Aku akan memesan makanan! Mandilah segera!” ucapnya santai sambil memakai baju di hadapan Dedrick.
“Ka-kau, kenapa memakai baju di sini!” Dedrick langsung berdiri dan masuk ke kamar mandi terburu-buru.
“Aneh! Aku biasanya memakai baju memang di sini! Memangnya memakai baju dimana? Di kamar mandi?” sahut Calista.