
Baru saja, Andrean dan Sakinah sampai dipuncak kenikmatan, masih dengan nafas yang tersengal-sengal. Tiba-tiba saja pintu dibuka dengan kuat tanpa aba-aba. Tentu saja senjata pamungkasnya yang setengah layu belum dicabut dari gawang Sakinah, segera ia cabut paksa senjatanya itu. Mereka berdua menarik selimut dengan gelagapan, malu.
“Mom, kenapa?! Anak-anak langsung berlari tanpa melihat keadaan apapun disekitar ranjang. Mereka hanya fokus pada Ibunya, mendekat, ingin memeluknya.
Andrean menurunkan kakinya sebelah, meraih celana boxer yang jatuh tepat di bawah kakinya, tiga pasang mata anak laki-laki itu masih fokus pada Sakinah, sekalian ia raih pakaian tidur Sakinah yang tak jauh dari celananya, memasukkan dalam selimut agar tak ketahuan pakaian Sakinah berserakan dilantai.
Sakinah mencoba menolak pelukan ketiga putranya, sebelah tangannya menahan selimut tebal yang menutup tubuhnya, tangan yang sebelahnya lagi mengibas-ibas agar ketiga putranya menjauh.
Ketiga anak itu terdiam karena dapat penolakan dari Sakinah, tak pernah wanita itu menolak mereka sebelumnya. Lalu, mereka menatap Andrean dengan tajam. Pria itu tengah memakai celana boxernya dari dalam selimut.
Tatapan itu menjelaskan, karena Andrean, Ibunya menolak pelukan mereka.
Reaksi yang bisa Andrean miliki sekarang hanya meneguk salivanya. Seumur hidup, dia tidak pernah diposisi seperti ini. Malam pertama yang telat terjadi dengan sang istri malah dipergoki ketiga anaknya.
‘Apa-apaan itu tatapan mereka? Siaal, kenapa aku sampai lupa mengunci pintu. Ah, padahal waktu mandi taubat kemarin, aku sudah mengingat akan selalu mengunci pintu!’ Andrean hanya bisa menggerutu, masih ingat dalam ingatannya, saat itu ia menggoda Sakinah untuk memandikannya namun Arhen malah masuk ke kamar mandi saat itu.
‘Ah, kapan mereka bisa pintar tentang hal begini? Padahal dalam pelajaran di sekolah mereka sangat pintar.’
“Mom, dapat tugas apa? Kok, bisa badannya merah-merah begini?” tunjuk Arhen, matanya menyelidik leher, tulang selangka Sakinah yang memiliki banyak tanda merah-merah.
Wajah Sakinah memerah, ia sangat malu.
Ketiga anak itu menatap tajam Andrean kembali, pandangan mata mereka seperti elang yang menukik hendak menangkap anak ayam.
“Ah, hm ... itu ... Mom pu-” Belum selesai Sakinah menjawab, Arsen langsung memotong pembicaraan Ibunya itu sembari memencet tombol yang berada di atas meja nakas.
“Kami akan melakukan tugas Mom, jadi selanjutnya jangan kerjakan tugas itu lagi!” ucap Arsen tegas.
“Iya, Mom. Apa tugasnya sangat sulit? Sampai Mom digigit ulat seperti ini. Untuk apa melakukan tugas itu, kami akan meminta izin Grandma dan Granda agar Mom tidak melakukan tugas keluarga itu. Kami tidak mau Mom kenapa-kenapa, apalagi sakit.” sambung Arhen.
Melihat reaksi wajah memerah Sakinah tadi, membuat ketiga putranya mengartikan Ibunya tak berdaya. Menurut mereka, Sakinah terpaksa melakukan tugas keluarga itu.
“Iya, Mom. Lihat, mom sampai keringat seperti ini. Jangan kerjakan tugas itu lagi.” lanjut Ardhen menyentuh jari tangan Sakinah.
Sakinah dan Andrean terperangah mendengar ucapan ketiga anak laki-laki polos dihadapan mereka ini.
Toktoktok! Terdengar suara ketukan pintu di daun pintu yang terbuka lebar itu, dua orang Maid berdiri di sana. Mereka adalah Clara dan Nani.
“Kenapa lama sekali kalian datang?! Cepat ambilkan obat, Momku sakit!” ucap Arhen berkacak pinggang.
Clara dan Nani saling pandang, mereka masih merunduk, canggung rasanya, mereka berdua mengerti kondisi yang sekarang, apalagi Kepala Pelayan juga masih berdiri diluar dekat tangga, ia sudah memberitahu mereka akan kejadian ini.
“Kenapa kalian masih bengong?! Cepat sana!” hardik Arhen. Sedangkan Arsen dan Ardhen menatap tajam kedua Maid itu.
Nani melirik Andrean sekilas, dari mata Andrean menyiratkan mereka harus segera pergi.
“Iya, Tuan Muda. Tetapi cara mengobatinya hanya boleh dioles sendiri, tidak boleh dilihat dan terkena angin. Bisakah kita keluar dulu, agar Nyonya bisa mengobatinya.” Nani membuat alasan.
Mereka bertiga mendelik.
“Apa maksudnya itu?” tanya Arsen, lalu dia menoleh kembali dengan tatapan tajam pada Andrean. “Jadi, itu tubuh Mom banyak merah-merah karena dilihat Papa?!” lanjutnya lagi.
“Karena itu Mom berteriak tadi? Mom pasti kesakitan!” sambung Ardhen dan Arhen.
“Aku juga baru bangun, ini bukan salahku. Aku juga sakit, aku juga berkeringat. Kenapa kalian tidak peduli sedikitpun padaku.” ucap Andrean.
“Lihat, tubuhku juga memerah!” Ia singkapkan selimut yang tadi ia tutupkan pada tubuhnya. Terlihat di dadanya dan perutnya ada tiga buah tanda merah.
Mata Sakinah membelalak sempurna, apalagi mendengar perkataan terakhir Andrean. Wajahnya merah padam, terlihat wanita itu merapatkan giginya, alis matanya berkerut, menyiratkan dalam hatinya sedang mengomeli suaminya itu.
Tiga anak laki-laki itu melihat dada Andrean sebentar, lalu sama-sama mendengus, seolah itu adalah hal yang tak penting.
“Kalau cowok sakit, itu biasa!” jawab Arsen.
“Kalau mau jadi Papa kami harus lebih kuat dong, masa lemah sih, sampai gak bisa jagain mama dari ulat!” sambung Arhen.
Bukannya simpati yang Andrean dapat dari tiga putranya itu, ia hanya bisa tersenyum kecil. Dulu, dia dan Dedrick juga seperti itu pada Wizza, bahkan lebih, Andrean dan Dedrick akan menangis, memukul ayahnya jika kedapatan memeluk dan bergandengan tangan dengan Ibunya, apalagi jika ketahuan tidur berdua.
Wizza dan Sekar harus sembunyi-sembunyi jika ingin berduaan, waktu bebas yang mereka miliki adalah jika Andrean dan Dedrick pergi ke sekolah.
“Dasar bocah! Sana, pergi ke sekolah! Aku akan mengobati istriku, apa yang kalian bisa lakukan dengan tubuh kalian yang kecil ini.” ucap Andrean, ia sengaja mengisengi tiga putra itu.
‘Lihat, wajah mereka sekarang. Ahahahaha!’ Andrean tergelak dalam hati. Ia teringat bagaimana dulu ia sangat posesif pada Sekar.
Andrean merapat dan sengaja meletakkan tangannya dipundak Sakinah, ia tarik tubuh Sakinah ke samping dalam dekapannya.
Mata Sakinah semakin membulat. ‘Apa yang kau lakukan?!’ Seperti itulah kira-kira tatapan Sakinah pada Andrean.
“Cih! Bocah teriak Bocah!” dengus Arsen.
“Ayo, kita bersiap ke sekolah!” ajaknya pada Arhen dan Ardhen.
“Mom, kami bersiap ke sekokah dulu ya. Semoga Mom cepat sembuh, kami pasti akan minta izin pads Grandma dan Grandpa, Mom jangan khawatir lagi.”
Mereka bertiga pun bersalaman dan mencium punggung tangan Sakinah.
“Iya, hati-hati ya, belajar yang baij dan benar.”
“Iya, Mom. Kami pasti belajar dengan baik.” jawab merrka bertiga kompak dengan senyuman terkembang diwajah mereka masing-masing.
Senyum kecil terpoles dipipi Arsen yang menegaskan seberapa dinginnya anak itu, hingga senyumannya hanya sedikit dan terlihat mahal. Lalu, Arhen yang tersenyum lebar, mencerminkan wajah tampannya yang riang. Sedangkan Ardhen tersenyum dengan deretan giginya yang berjajar rapi, terlihat lembut dan manis.
Setelah bersalam dengan Sakinah, mereka juga menyalami Andrean, mencium punggung tangan pria itu, namun dengan wajah mendengus. Andrean terkekeh. Lalu mengacak rambut mereka bertiga.
“Papa!” teriak Arhen kesal.
“Aku paling tidak suka rambutku diacak!” lanjutnya lagi sembari merapikan rambutnya dengan tangan.
Andrean masih saja usil, ia semakin mengacak rambut Arhen dengan terkekeh.
“Sudah, jangan jahili lagi anak-anak, mereka harus pergi ke sekolah, nanti bisa terlambat. Ayo, anak-anak, cepat turun.”
“Ok, Mom.”