Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Peraturan di Vend Boutique


Rufia sibuk menata menu makanan, melihat bacaan pesanan yang diantarkan oleh waiter dan waitress (pelayan kafe). Setelah tersusun rapi yang di antarkan oleh Cook Helper, alias yang membantu koki, Rufia akan memencet bel, waiter dan waitress akan segera menghampiri meja resepsionis, lalu mengambil menu makanan itu, mengantarkannya pada pembeli yang menunggu di meja tunggu masing-masing.


Vend Boutique awalnya hanya sebuah kafe kecil yang dirintis oleh Ardhen kecil bersama Tuan Samer sebagai pembimbingnya, namun lama kelamaan tempat ini menjadi semakin ramai, Arsen pun membantu memperluas lokasi itu dengan menawar lokasi sekitar, dengan harga dua kali lipat demi sang adik. Andrean pun sebagai ayahnya juga mendukung usaha kecil putra bungsunya itu dengan mempermudah akses dan mempromosikan usaha putra-putra nya, baik Arsen, Arhen dan Ardhen.


Seorang gadis cantik masuk bersama asistennya dan satu orang bodyguard nya, bunyi sepatunya yang menusuk-nusuk lantai keramik cukup nyaring, apalagi gemerincing dari aksesoris pakaiannya, cukup menarik perhatian tamu di Vend Boutique.


Rambutnya yang di blonde dengan gaya model kini, satu dompet kulit kecil berwarna coklat muda ia pegang, ia berjalan lenggak lenggok menuju kursi yang ingin ia duduki, asisten dan bodyguardnya mengikuti.


Waitress cantik dengan rambut disanggul menghampiri meja itu. “Ada yang bisa saya bantu, Nona, Tuan. Ini adalah menu makanan dan minuman di Vend Boutique, juga ada beberapa aneka kue.” Waitress itu menjelaskan sambil memberikan buku-buku menu.


Asisten gadis cantik itu langsung membuka dan melihat menu. Sedangkan gadis cantik yang bernama Eline Fey memainkan jari telunjuknya agar waitress mendekat ke arahnya.


“Pemilik Vend Boutique, Tuan Muda Ardhen di mana? Apa dia belum sampai ke sini?” tanya Eline Fey berbisik.


Mata Waitress sedikit terbelalak. “Maafkan saya Nona, sungguh saya tidak mengetahui jadwal Tuan Muda. Kami hanya fokus akan tugas untuk melayani tamu dan memeriksa makanan.” jelas pelayan kafe itu.


“Oh!” Eline Fey akhirannya mengambil hpnya yang terletak di dalam dompet kulit yang ia pegang, kemudian asik mengotak atik hp itu.


“Orange juice dua, coffee milk satu, banana cake 1 potong, coklat vanilla cake 1, spaghetti 1, fried Kentucky 1, Tuna kecap 1, tiramisu dan pasta satu!” Asisten Eline Fey menyebutkan pesanannya sambil memberikan buku menu pada waitress.


“Baik, saya akan ulangi lagi, orange juice dua, coffee milk satu, banana cake 1 potong, coklat vanilla cake 1, spaghetti 1, fried Kentucky 1, Tuna kecap 1, tiramisu dan pasta satu! Apa itu benar?” Waitress menatap Asisten Eline Fey.


“Benar!” jawabnya.


“Baiklah, tunggu sebentar ya, kami akan menyiapkannya segera!” Waitress itu tersenyum ramah dan undur diri dari sana, ia segera memberikan catatan itu pada Rufia.


Saat cook helper mengantar makanan ke meja Rufia, ia akan membawa kertas menu pesanan ke belakang.


Tiba-tiba, suara ribut dan keramaian muncul dari luar Vend Boutique, begitu banyak pengawal yang menghadang kerumunan orang, lalu muncullah pria tampan berambut emas, masuk dengan ngos-ngosan.


Ia langsung mengedipkan matanya pada Rufia, berbincang sebentar dengan beberapa pria kekar. Semua mata tamu tertuju pada pria tampan itu, mungkin sebentar lagi gosip nya akan tersebar. Lihat saja, di sudut sana, beberapa gadis sudah diam-diam memotret.


Greb! Tetapi apa yang terjadi? Vend Boutique adalah tempat yang paling privasi untuk artis dan kalangan orang-orang penting. Walaupun tidak menyediakan privat room, dilarang keras memotret orang lain di tempat ini tanpa izin. Bahkan saat keluar dari Vend Boutique, hp akan di scan. Jika terdapat memotret, akan diberikan sangsi.


“Maaf, maaf, aku hanya memoto idolaku! Sungguh, aku tidak mengambil gambar lain!” Gadis itu memohon saat seorang pria berbadan kekar memakai baju waiters mengambil hpnya.


“Jika Nona ingin berfoto, silahkan diluar. Peraturan di sini sudah tertulis seperti itu, Anda hanya boleh memoto makanan dan diri Anda sendiri bersama teman-teman satu meja Anda, Nona!” tegas pria berbadan kekar itu.


“Silahkan hapus foto itu, jika tidak, Anda akan mendapatkan sangsi lebih. Anda juga dikenakan denda membayar makanan dengan harga dua kali lipat karena telah melanggar peraturan kami!” jelasnya lagi.


Arhen yang mendengar suara ribut itu berjalan ke arah sana. “Ada apa ini?” Ia bertanya dan menatap dua orang itu.


“Maaf Tuan Muda, Nona ini telah melanggar peraturan, ia mencuri foto Anda!” jelas pria itu.


“Oh....” Arhen menatap gadis itu dengan mengelus dagu. “Nona, hapuslah foto itu, mari berfoto berdua denganku, masalah denda, untuk kali ini biar aku yang bayar, tetapi lain kali jangan lakukan lagi ya. Tolong ikuti dan patuhi peraturan di Vend Boutique!” Arhen mengedipkan matanya.


Wajah gadis itu memerah, dadanya berdebar kencang, bias nya mengajak ia berfoto berdua.


“Tolong ambilkan gambarnya, ya!” Arhen meminta pria kekar tadi.


“Baik, Tuan Muda.” Pria kekar itu mengambilkan gambar Arhen dengan gadis itu.


Arhen sungguh menggoda gadis itu, ia membuat gerakan yang terlihat sangat romantis. “Nih, ada tiga gambar, posting di sosmedmu ya, tag padaku, dan tolong tulis lokasi ini, Vend Boutique!” Arhen tersenyum manis, kemudian beranjak pergi.


Dengan tubuh yang masih sedikit bergetar karena degdegan, gadis itu memeluk hpnya, melompat kegirangan setelah punggung Arhen menghilang.


Arhen tersenyum kecil, lalu berbelok kanan, dimana di situ hanya beberapa orang penting yang duduk, salah satunya Eline Fey. Ruangan itu juga sedikit kecil berdinding kaca.


Arhen duduk di sebuah meja di samping meja Eline Fey. Pesanan Eline Fey telah datang, begitu pula makanan kesukaan Arhen juga sudah terhidang dengan sendirinya.


“Akhirnya kau datang juga, aku sudah menunggumu sejak tadi!” Eline Fey memulai bicara.


“Ya, aku sudah datang. Ada apa? Seberapa penting kalimat yang akan kau ucapkan, sehingga harus dengan bertemu, padahal bisa bicara di hp bukan?” Arhen mulai mencubit banana cake, mencicipinya.


“Ini masalah busana terbaru, apa kau mau jadi ambassador nya?”


“Hah? Cuma membahas pekerjaan? Itu bisa dibahas di hp, kau bisa membahasnya dengan Lucas, kenapa harus bertemu, ck!” Arhen berdecih sebal, lalu melahap banana cake penuh ke dalam mulutnya.


“Em, itu karena aku rindu ingin bertemu denganmu....”


Uhuk! Uhuk! Arhen tersedak mendengar ucapan Eline Fey yang berkata merindukannya. Mulutnya yang penuh oleh banana cake tersembur keluar, kerongkongan nya terasa sangat sakit, sehingga airmatanya keluar.


“Arhen, pelan-pelan!” Eline Fey mengelus punggung Arhen sambil menyodorkan minuman.


...----------------...


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar nya Arlove 🌹💓😚