Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
91 - Menyampaikan Pesan


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Salah satu pulau di wilayah Laut Biru yang berbatasan langsung dengan Wilayah Laut Nila)


Saat ini, tepat ketika seluruh kapal Perompak Laut Biru telah berlayar meninggalkan wilayah mereka untuk bergerak memasuki wilayah Laut Nila, armada kapal Kelompok Bandit Serigala yang kebanyakan adalah anggota baru mantan Perompak wilayah Laut Hijau, bersama dengan anggota asli Kelompok Bandit Serigala yang menaiki kapal perang Grade Superior Gaia Mercenaries, atas intruksi Theo, segera membuat barikade penghadang di wilayah perbatasan.


Sembilan mantan Kapten memegang komando untuk melakukan koordinasi pertahanan, sementara San Juan, bersama Zhou Kang dan Razak, melakukan pertemuan terbatas di satu pulau kecil.


"San Juan, setelah ini, aku akan menyerahkan komando pertahanan wilayah Laut Biru kepadamu! Dalam beberapa waktu kedepan, jangan pernah membiarkan ada Kelompok Perompak Laut Biru yang telah berada di wilayah Laut Nila, untuk bisa berlayar kembali ke wilayah ini!" Ucap Theo. Sembari memandang kearah San Juan.


"Bahkan ketika terjadi satu hal yang cukup intens di wilayah Laut Nila, dimana kemungkinan besar akan menyebabkan para Perompak tersebut berusaha untuk menerobos kembali ke wilayah Laut Biru, usahakan sekuat yang kau mampu untuk tetap menahan mereka!" Lanjut Theo. Dengan nada sangat serius.


"Boss! Asal semua langkah yang kau lakukan adalah untuk menghancurkan Aliansi 7 Lautan, maka aku akan memberi seluruh kemampuan untuk memastikan semua berjalan dengan lancar!" Jawab San Juan. Dengan raut wajah serta nada dingin.


Terlihat jelas San Juan sangat membenci Aliansi 7 Lautan setelah kelompok tersebut memilih untuk mengabaikan ketika para Perompak wilayah Laut Hijau, meminta uluran tangan.


Terlebih lagi, tepat dihari yang sama ketika para Kapten Perompak yang kalah duel dengan Razak akhirnya tunduk untuk bergabung dengan kelompok Bandit Serigala, mereka ternyata segera mendapatkan suplai Sumberdaya berharga yang bisa dikatakan dalam jumlah cukup besar.


Karena secara kebetulan, di hari itu pula, jadwal pembagian rutin Sumberdaya Kelompok Bandit Serigala tengah berlangsung. Sehingga para anggota baru pun ikut mendapat bagian.


Satu hal yang menyebabkan para Kapten Perompak Laut Hijau, segera merasa bahwa keputusan untuk bergabung dengan kelompok Bandit Serigala, adalah hal yang sangat tepat. Titik-titik keraguan yang jelas masih ada di awal, seketika sirna.


Hal yang sama juga dirasakan oleh para anggota biasa kelompok Perompak. Bahkan bisa dikatakan orang-orang inilah yang justru menjadi sangat antusias.


Bagaimanapun juga, sebagai anggota biasa, mereka jarang mendapat suplai Sumberdaya berharga dalam jumlah besar. Namun, belum ada satu hari mengikuti para Kapten untuk bergabung dengan kelompok Bandit Serigala, kebutuhan Sumberdaya mereka segera terpenuhi.


Belum lagi dikatakan bahwa pembagian Sumberdaya akan rutin dijadwalkan setiap satu bulan sekali. Kadang juga akan menjadi satu minggu sekali ketika kelompok mendapatkan panen besar.


"Baiklah! Aku mengandalkanmu!" Jawab Theo singkat. Sebelum ganti melihat kearah Zhou Kang.


"Zhou Kang, hari ini juga, aku ingin kau terbang bersama Raja Naga Hitam kewilayah Laut Jingga! Tepatnya Pulau Lotus Merah!" Ucap Theo.


"Serahkan gulungan kertas ini kepada Iris dan juga Fairley, katakan bahwa didalamnya ada informasi penting yang harus segera mereka sampaikan kepada Khan Eleanor Tribe!"


"Tekankan pada keduanya bahwa informasi harus sampai di Tribe mereka dalam waktu tidak lebih dari satu minggu kedepan!"


"Kalau perlu, antar keduanya kembali ke wilayah Laut Putih dengan menunggang Raja Naga Hitam! Kau bisa kembali untuk memberi laporan hanya setelah Khan Eleanor Tribe mengambil keputusan!" Lanjut Theo. Seraya melempar gulungan kertas pada Zhou Kang.


"Hmmmm… Boss! Apa aku perlu menaiki Raja Naga Hitam? Menggunakan kapal biasa harusnya cukup!" Ucap Zhou Kang. Terlihat memasang ekspresi wajah aneh.


"Hmmmm… Tidak bisa! Menaiki Raja Naga Hitam tentu akan lebih cepat dan menghemat waktu!" Jawab Theo.


"Memangnya kenapa? Kau ada masalah dengan menaiki Raja Naga Hitam?" Tanya Theo. Menatap kearah Zhou Kang sembari mulai menaikkan salah ujung alisnya.


Satu pertanyaan yang segera disambut dengan raut wajah Zhou Kang bertambah semakin aneh.


"Tentu saja tak ada masalah, itu hanya…"


Zhou Kang hendak menjawab pertanyaan Theo, sampai Razak yang dari tadi diam, tiba-tiba memotong.


"Boss! Kalau orang ini takut menaiki Raja Naga Hitam, biar aku saja yang menyerahkan gulungan itu dan menyampaikan pesanmu pada Iris dan Fairley!" Ucap Razak. Dengan ekspresi wajah datar.


"Bocah! Jaga ucapanmu! Siapa bilang aku takut!" Bentak Zhou Kang.


"Boss! Jangan dengarkan bocah ini! Biar aku yang menyampaikan pesan!" Tambah Zhou Kang. Menatap tajam kearah Razak.


"Hahhaha…! Baiklah! Kalau begitu, kau bisa berangkat sekarang!" Ucap Theo. Seraya membuat gerakan mengayunkan tangan.


*Woooshhhh…!!!


"GRRROOOAAAAHHHHH…!!!"


Seperti biasa, Raja Naga Hitam keluar dari dalam gelang ruang-waktu dengan cara yang sangat mendominasi. Terbang tinggi menembus langit sembari berteriak liar. Sebelum menukik turun tajam.


*Baaaaaammmm…!!!


Mengakhiri aksinya dengan satu pendaratan keras. Menyapukan pandangan kearah sekitar untuk beberapa saat, kemudian menatap tajam kearah Theo. Sorot mata Raja Naga Hitam, seolah mengatakan bahwa ia siap menerima intruksi.


*Gleek…!!


Disisi lain, Zhou Kang yang melihat Raja Naga Hitam sudah mendarat dan berada tak jauh di hadapannya, segera menelan ludah sembari menghirup udara dingin.


Teringat jelas di otaknya bagaimana cerita Zota yang mengatakan bahwa menaiki Raja Naga Hitam, adalah salah satu pengalaman terburuk dalam hidupnya. Deru angin bagai pisau tajam yang menghantam wajah saat Raja Naga Hitam bergerak dengan kecepatan tinggi, masih menyisakan trauma mendalam bagi Zota.


Sambil memasang mata berkaca-kaca, Zota dengan tegas menyatakan bahwa jika dimasa depan harus memilih, itu lebih baik ia berjalan kaki melewati jalur berbahaya yang penuh Spirit Beast ganas dari pada harus kembali menaiki Raja Naga Hitam.


Zhou Kang yang secara kebetulan ikut mendengar saat Zota menceritakan pengalamannya tersebut, tentu saja sekarang menjadi takut ketika Theo menyuruhnya untuk menunggang Raja Naga Hitam.


Namun, didorong oleh rasa gengsi, ia tak bisa menyampaikan penolakan apapun.


"Boss! Apa harus sekarang juga?" Tanya Zhou Kang. Setelah hanya diam memandang kearah Raja Naga Hitam untuk beberapa waktu.


"Tentu saja! Tapi jika kau keberatan, Razak sudah menawarkan untuk mengambil alih misi ini!" Ucap Theo.


"Yahhh…! Jika kau takut, biar aku saja!" Jawab Razak singkat. Kembali dengan intonasi dan wajah datar. Jelas tak ada niat untuk mengejek Zhou Kang. Ia hanya secara polos menyampaikan apa yang ada di benaknya setelah melihat ekspresi wajah Zhou Kang.


"Bocah! Sudah kubilang jangan bicara sembarangan! Aku sama sekali tak takut!" Bentak Zhou Kang. Seraya dengan langkah ragu, melakukan lompatan untuk duduk di atas singgasana punggung Raja Naga Hitam.


"Baiklah! Raja Naga Hitam! Tolong antar dia ke wilayah yang telah kutandai!" Ucap Theo. Melakukan transfer informasi pada rune formasi segel dalam jiwa buatan Raja Naga Hitam.


"Boss…!!! Sebelum berangkat, bisakah kau beri intruksi tambahan pada makhluk ini untuk tak terlalu…"


Zhou Kang hendak menyampaikan agar Theo memerintahkan Raja Naga Hitam tak terbang dengan kecepatan tinggi. Namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya…


"GRRROOOAAAAHHHHH…!!!"


Raja Naga Hitam yang hanya peduli pada intruksi Theo, tiba-tiba berteriak liar. Meredam suara Zhou Kang yang segera meringsut gemetar kedua kakinya.


*Woooshhhh…!!!


*Woooshhhh…!!!


Raja Naga Hitam mengepakkan sayap beberapa kali untuk mendapat ketinggian.


*WOOOSHHHH…!!!


Sebelum dengan hentakan keras, terbang cepat meninggalkan tempat.


Zhou Kang sendiri, akhirnya hanya bisa pasrah, mengeraskan pegangan pada kedua sisi singgasana, sembari menutup mata.


'B*jingan!' Maki Zhou Kang dalam hati.