
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Laut Putih, sebuah pulau misterius yang tertutup kabut)
"Jadi, setelah semua langkah agresif yang dilakukan oleh Kelompok Bandit Serigala pada lautan Merah, Jingga, dan Kuning, sampai saat ini Sinbad masih belum juga melakukan pergerakan?" Tanya Khan Eleanor Tribe. Kepada beberapa orang yang terlihat bersujud di hadapannya.
"Benar yang mulia! Dia hanya memerintahkan Dante untuk memimpin armada besar! Itu juga tanpa melibatkan satu orangpun anggota 10 Naga dalam misi tersebut!" Jawab salah satu orang yang sedang bersujud.
Mendengar laporan tersebut, Khan Eleanor Tribe tampak mengerutkan kening untuk beberapa saat.
"Sungguh mencurigakan!" Gumam Sang Khan pada akhirnya.
"Tak mungkin ia hanya akan melihat saat beberapa Lautan yang selama ini dengan susah payah ditaklukkan Perompak Naga Laut, berakhir ditangan Kelompok Bandit yang bahkan baru beberapa minggu memasuki wilayah Thousand Island!" Lanjut Khan Elaenor Tribe.
"Yah, bahkan ketika kita mencoba melakukan pergerakan besar untuk menyingkirkan pengaruh para Perompak di wilayah Laut Nila tahun lalu, ia dengan tanggap turun tangan sendiri memimpin Aliansi 7 Lautan!" Tanggap bawahan yang sedang bersujud.
"Jelas ia sedang merencanakan satu hal yang sangat penting! Begitu penting sampai menurutnya cukup sepadan ditukar dengan 3 wilayah Lautan!" Gumam Khan Eleanor Tribe.
"Lakukan pengamatan menyeluruh kesekitar Pulau Getaran Api! Jika perlu, usahakan juga menyusupkan beberapa orang untuk menerobos masuk kedalam pulau!" Lanjut Khan Elaenor Tribe.
"Aku tak perduli berapapun harganya, kita harus tau rencana si Sinbad ini! Perasaanku benar-benar tak enak!" Tutup Sang Khan. Dengan ekspresi wajah serius.
"Baik yang mulia!" Jawab salah satu bawahan. Kemudian mengambil ijin undur diri. Segera melaksanakan intruksi.
"Yang mulia! Bagaimana dengan Nona Iris? Apa masih belum ada kabar darinya? Bagaimanapun, kita juga tak bisa sepenuhnya percaya pada Kelompok Bandit Serigala!" Ucap salah satu bawahan lain.
"Masalah Iris, tak perlu dipikirkan! Setelah ini aku akan menyuruh putraku, untuk menyusul ke Laut Merah. Secara langsung melihat perkembangan situasi!" Jawab Khan Eleanor Tribe.
Satu jawaban yang segera disambut oleh anggukan singkat oleh para bawahan yang masih berlutut. Tampak sangat sepakat dengan ide sang Khan.
***
(Pulau Serigala, Ruang medis)
"Hmmmm… Ini benar-benar sulit! Andai saja Zota memiliki dual Element Seed!" Gumam Theo. Merasa bahwa Element Seed Tipe Tanah milik Zota, sedikit sulit diselaraskan dengan Serbuk Besi. Meskipun memang masih memiliki satu kesamaan dalam hal Mana Tanah yang merupakan satu atribut dasar pembentukan Mana Besi. Namun tetap saja tubuh Zota tak memiliki atribut Api.
Hal ini menyebabkan Theo kesulitan untuk melakukan proses penyambungan. Padahal baru saja ia selesai menjinakkan Ranah jiwa Zota, agar tak terus melakukan perlawanan.
"Sialan! Aku tak tahu sampai kapan ini akan terus bertahan!" Gumam Theo. Dengan keringat bercucuran dikening. Sementara matanya, menatap tajam penuh konsentrasi pada proses penyambungan yang sedang ia kerjakan.
Menggunakan aliran Mana Cahaya yang ia keluarkan dari kedua ujung jari telunjuk, Theo secara perlahan, sedikit demi sedikit memilin Serbuk Besi Bunga Udumbara, untuk disambung dengan urat-urat lengan Zota.
Saat ini, hanya lengan kanan Zota yang belum sepenuhnya selesai dalam proses transplantasi, sementara Paha kiri Zota yang sebelumnya juga buntung, telah tersambung sempurna dengan kaki barunya yang terbuat dari Serbuk Besi.
Sebuah kaki baru yang begitu padat serta kokoh. Terus mengeluarkan aura Mana Besi pekat yang bercampur dengan hawa kehidupan kuat. Karena bagaimanapun juga, Razak sang pencipta kaki logam tersebut, mencurahkan segala yang ia punya untuk membuatnya.
Dibantu oleh Sasi serta Tuan Leluhur yang mana berkompetisi dan menjadikan proses penempaaan kaki dan tangan logam serbuk besi sebagai sarana pelatihan khusus untuk Razak, akhirnya menjadikan kaki dan tangan logam Serbuk Besi yang diciptaaan bocah tersebut, dimana merupakan karya pertamanya sebagai seorang penempa, menjadi sebuah mahakarya yang sangat mengagumkan. Bahkan Theo sendiri, tak bisa menyembunyikan ekspresi wajah terkesannya saat pertama melihat Kaki dan Tangan Logam Serbuk Besi ciptaaan Razak.
Namun tetap saja, sebagus apapun karya pertama Razak, itu akan percuma bila proses penyambungan yang saat ini sedang di lakukan oleh Theo, berakhir gagal.
Semua proses transplantasi, kini berkembang menjadi tergantung pada jumlah simpanan Mana Cahaya yang tersisa dalam Element Seed Theo. Karena diluar dugaan Theo, langkah memilin Serbuk Besi pada setiap otot lengan, yang nantinya akan dipakai sebagai fondasi penyambungan tangan, ternyata memakan jumlah Mana Cahaya yang cukup banyak.
Terlebih lagi, ini adalah proses kedua yang dilakukan oleh Theo, karena sebelumnya juga telah menghabiskan banyak simpanan Mana Cahaya, untuk memilin Serbuk Besi pada otot paha, menyambung kaki.
Theo sendiri, tak sempat melakukan proses pengisian ulang simpanan Mana. Waktu terus berjalan, sedikit saja terlambat dan membuang waktu, tubuh Zota yang sudah mulai kehilangan energi kehidupan, benar-benar tak akan mampu bertahan lebih lama.
Sementara mengandalkan ikatan kontrak Tuan-hamba untuk mengisi ulang Mana, itu juga percuma. Karena tak ada satupun diantara orang-orang yang terikat kontrak Tuan-hamba dengannya, memiliki Element Seed beratribut Cahaya.
Bagaimanapun juga, atribut Mana Cahaya adalah sebuah atribut yang sangat langka, sama langka dengan atribut Kegelapan. Bahkan selama perjalanan panjang Theo dalam dunia Knight, itu hanya Masternya, Xiao Tiankong, serta orang-orang Endless Heavens Sect yang sempat ia lihat memiliki atribut Mana Cahaya.
"Tuan, tak adakah yang bisa saya lakukan?" Ucap Sasi, saat merasa aliran Mana Cahaya yang keluar dari dalam tubuh Theo, semakin lama semakin tipis.
"Cukup diam dan jangan ganggu!" Jawab Theo cepat. Satu jawaban yang membuat Razak dimana akan ikut menyuarakan kalimat sama dengan Sasi, segera tutup mulut.
Dua orang yang sedang berada di ruang media tersebut, akhirnya hanya bisa mengamati dalam diam. Sembari memasang ekspresi wajah khawatir. Khususnya Razak. Sedari awal, ia sudah merasa tak tahan dan kasihan kepada Zota. Yang mana meskipun tampak telah kehabisan tenaga untuk berteriak, masih saja mengerang kesakitan.
"Sedikit lagi! Sedikit lagi! Bertahanlah simpanan Manaku!" Gumam Theo. Mempercepat gerakan memilin yang ia lakukan. Namun….
"Sialan!" Bentak Theo secara tiba-tiba. Saat merasa simpanan Mananya tak akan cukup.
Dengan ekspresi wajah marah. Theo yang jelas tak bisa terima jika Zota mati di depan matanya, segera melakukan gerakan menusukkan tangan kearah dada. Meremas erat Element Seednya.
Tindakan Theo, tentu saja membuat Razak dan Sasi yang melihat, seketika memasang ekspresi wajah tertegun. Benar-benar terkejut.
"Tuan…!!!"
"Diam…!!!" Bentak Theo. Menghentikan langkah Sasi yang akan maju kedepan.
"Tuan…! Sudah cukup! Itu berlebihan!" Seru Sasi. Kini kehilangan ketenangan.
*Boooommmmm…..!!!
Namun, bertepatan dengan Sasi menyerukan kalimat cemasnya, aliran berbagai atribut Mana, secara tiba-tiba meledak keluar dari dalam tubuh Theo. Ia masuk pada mode Rage buatan Absolute. Dimana tak terlihat seperti biasanya. Karena pada Rage buatan Absolute Theo saat ini, selain enam atribut Mana normal, itu juga bercampur dengan riak aliran Mana berbentuk merah darah.