
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"AAARHHHHGGGG…..!!!!"
Diselimuti oleh aliran Mana Api ganas. Theo berteriak keras dengan mata terbuka lebar. Terus berteriak sampai suaranya terdengar serak. Terlihat sangat menderita dan kesakitan.
"Ja… Jasia…!!!" Dalam teriakan penuh penderitaan, Theo dengan susah payah menyebut nama Jasia.
"Bosss….!!!"
"Tuannn….!!!"
"Apa yang sebenarnya terjadi? Boss…!!!"
Seru Razak, Sasi, dan Zota. Tak tahu harus berbuat seperti apa. Karena ketika mereka mencoba untuk kembali mendekat, jilatan-jilatan api ganas yang sedang membekap tubuh Theo, mulai menyebar kearah ketiga orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
Membuat Zota, bahkan Sasi, harus menerima beberapa luka bakar yang cukup serius pada beberapa bagian tubuhnya. Sementara Razak, berhasil selamat dari luka karena Sasi bergerak cepat melindungi sebelum jilatan api menyentuh tubuhnya.
"Razak! Cepat keluar dan panggil Leluhurmu kemari?" Ucap Sasi pada akhirnya, memberi intruksi pada Razak untuk memanggil Tuan Leluhur, sekaligus mulai melakukan gerakan segel tangan. Memecah formasi penghadang yang sebelumnya ia tempatkan di sekitar ruang medis.
"Kita perlu bantuan sebanyak yang kita bisa untuk entah bagaimana melakukan sesuatu pada kondisi tuan!" Lanjut Sasi.
*Tappp….!!!
Mendengar kata-kata Sasi, tanpa memberi tanggapan apapun, Razak segera melangkah cepat keluar dari dalam ruangan.
Disisi lain, tepat ketika Razak telah meninggalkan tempat, Sasi memberi lirikan tajam sekilas kearah dimana Razak melangkah pergi. Sebelum ganti menoleh kearah Zota.
"Kau sebaiknya juga pergi! Tempat ini akan menjadi semakin berbahaya!" Ucap Sasi.
"Tidak! Aku tetap disini! Lakukan saja apa yang perlukan kau lakukan! Aku tahu bahwa tadi, kau hanya ingin membuat Razak pergi!" Tanggap Zota.
"Hmmmm….!"
Mendengar jawaban Zota, Sasi hanya memberi tatapan sekilas, sebelum kembali melakukan gerakan tangan cepat. Memasang formasi segel penghadang untuk membuat area sekitar ruang medis, kembali benar-benar terisolasi dari dunia luar.
***
(Dek Luar Glory Land Warship)
*Tap…!!!
*Tap….!!
*Tap….!!!
Beberapa orang yang sedang memasang ekspresi wajah cemas, tampak melakukan pendaratan pada dek Glory Land Warship.
Tuan Leluhur adalah yang pertama kali sampai, kemudian di susul oleh beberapa orang lainnya, Gerel, Hella, dan Iris.
Keempat orang ini yang tak menjadi bagian dalam misi penyerangan wilayah Laut Jingga dan Kuning, sebelumnnya sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing, sampai tiba-tiba ledakan aliran Mana Api intens dan terasa begitu ganas, mendadak muncul dan terasa dari arah bagian dalam Glory Land Warship.
Merasakan hal tersebut, orang-orang ini cepat tanggap segera bergerak menuju lokasi tempat sumber ledakan aliran Mana. Dengan ekspresi wajah cemas menduga apakah mungkin terjadi serangan menyusup tiba-tiba pada markas besar mereka.
"Apa yang terjadi?" Ucap Tuan Leluhur, begitu melihat Razak melompat keluar dari ruang bagian dalam Glory Land Warship. Merasa sedikit lega karena bocah tersebut dalam kondisi baik-baik saja. Mengingat aura ledakan Mana Api yang ada di dalam, terasa begitu ganas dan berbahaya.
"Itu Boss…! Terjadi sesuatu yang aneh pada tubuh Boss! Sebaiknya Master Leluhur masuk kedalam! Master Sasi mengatakan bahwa…."
Razak masih berusaha menjelaskan dengan nada panik, sampai tiba-tiba…
*Wunggggg…..!!!!
Formasi penghadang yang dibuat oleh Sasi, kini mulai menyebar luas. Tak hanya melingkupi area ruang medis. Namun juga mulai menyelubungi seluruh Glory Land Warship.
Meluasnya formasi penghadang secara tiba-tiba, segera menyebabkan setiap orang yang sedang berdiri diatas dek, terdorong paksa keluar dari atas Glory Land Warship.
"Master Sasi! Apa yang ia lakukan?" Tanya Razak, sangat terkejut.
Disisi lain, Tuan Leluhur mulai menatap tajam kearah Glory Land Warship.
Sampai kemudian, aliran Mana Api ganas yang sebelumnya hanya ada di bagian dalam Glory Land Warship, secara tiba-tiba meledak keluar. Menerobos pada dek kapal perang, sebelum membentur keras formasi penghadang.
"Tidak! Master Sasi dan Zota masih ada di dalam!" Seru Razak.
"Sialan! Apa yang sebenarnya di lakukan oleh Goblin br*ngsek ini!" Maki Tuan Leluhur. Secara cepat melompat kedepan.
*Boooommmm….!!!
Memberi satu serangan teknik Mana Besi dahsyat, untuk mencoba merusak formasi penghadang.
*Boooommmm….!!!
*Boooommmmm….!!!
*Boooommmmm….!!!
*Boooommmmm….!!!
Melihat tindakan Tuan Leluhur tersebut, tiap orang lain yang juga berada di sekitar, segera mengikuti, baik itu Hella, Gerel, Iris, dan juga Razak, menyerang formasi segel penghadang dengan teknik terkuat masing-masing.
***
(Ranah Jiwa Theo)
*Tappp….!!!
Dengan langkah ringan, Ernesto mendarat tepat diluar ranah jiwa. Menatap dengan tatapan penuh pertimbangan pada ranah jiwa Theo yang saat ini sedang sepenuhnya di selimuti oleh dekapan api liar yang begitu ganas. Membara dengan warna merah yang mendominasi.
"Api macam apa ini sebenarnya? Kenapa bisa menerobos masuk kedalam sini?" Gumam Ernesto, sebelum mulai melangkah kedepan.
"Hmmmm…!"
Namun, baru satu kaki Ernesto melangkah, hawa panas yang begitu menyengat, dimana bahkan mampu membuat rohnya bergetar hebat, segera dapat ia rasakan.
Merasa maju lebih jauh akan membahayakan roh serta eksistensinya, Ernesto memilih untuk menghentikan langkah. Tak berniat untuk memeriksa lebih dekat.
*Bzzzzzttt….!!!
Masih dengan tatapan mata menimbang, Ernesto melakukan gerakan menunjuk kedepan, melempar satu derak listrik merah untuk menghantam api yang sedang menyelimuti ranah jiwa. Sekedar melakukan percobaan sederhana.
*Wuusshhh….!!!
Dan begitu derak listrik merah milik Ernesto menyentuh api, aliran listrik tersebut seketika dimusnahkan, hangus berubah menjadi ketiadaan.
"Api yang sangat berbahaya! Bahkan mampu membakar habis Mana Listrik mutasiku dalam sekali lahap!" Gumam Ernesto. Mulai merasa lega karena tadi tak memaksakan untuk maju lebih jauh. Karena bagaimanapun juga, bentuk tubuhnya saat ini hanyalah sebuah roh yang sangat rapuh.
Jika listrik merahnya saja bisa di lahap dengan mudah, itu tentu bukan pekerjaan sulit bagi api yang sedang membekap ranah jiwa Theo, untuk melahap roh Ernesto.
Ernesto masih memasang ekspresi wajah menimbang, berfikir keras untuk melakukan tindakan macam apa. Karena jika terus di biarkan, api ganas ini akan benar-benar berakhir melahap Ranah jiwa Theo. Satu hal yang jelas menyebabkan Theo mati seketika. Kematian Theo, jelas bukan merupakan hal bagus untuk Ernesto.
*Tappp….!!!
Sampai kemudian, saat Ernesto terlihat berfikir keras, dari arah belakang, terdengar pendaratan lain. Sebuah pendaratan yang di barengi dengan hawa menekan berat dari aliran Mana Kegelapan.
"Siapa?" Seru Ernesto, menoleh cepat dengan raut wajah waspada.
"Hmmmm… Manusia kelas rendahan, apalagi cuma dalam wujud roh, tak berhak menanyakan apapun padaku!" Jawab sosok tersebut. Yang masih berselimut bayang-bayang Kegelapan. Sebelum mulai melangkah maju kedepan. Menatap tajam kearah ranah jiwa Theo. Benar-benar sepenuhnya mengabaikan kehadiran Ernesto.
Sosok ini, tak lain adalah Gusion, Iblis Keempat Hell Orb yang terikat segel di dalam tubuh Theo.
Gusion melangkah melewati Ernesto. Berada pada posisi sangat dekat dengan derak api liar yang menyelimuti ranah jiwa Theo. Begitu dekat hingga ia bisa menyentuh api tersebut dengan telapak tangan.
"Aliran energi asing dari abad kekosongan! Abad kekosongan lain yang berbeda dari masa kejayaan Ras Iblis dan Ras Malaikat!" Gumam Gusion, begitu telapak tangannya menyentuh api, sehingga bisa merasakan pancaran energi yang keluar dari dalamnya.
"Sepertinya makhluk pemilik api ini berasal dari salah salah satu jaman lain yang telah di hancurkan oleh Sage Lord Salomon!" Tambah Gusion.
"Sayangnya, aku tak terikat kontrak murni dengan bocah ini! Hanya kontrak penyambung! Karena bagaimanapun juga, kontrak murni yang mengikatkku ada pada Hell Orb! Jadi, tak ada satu hal apapun yang bisa kulakukan selain mengamati dan berjaga dari luar!"
"Semua akan tergantung pada makhluk dan roh-roh lain di dalam sana yang memiliki kontrak murni untuk dapat menyelamatkan bocah ini!" Tutup Gusion. Sebelum mulai mengeluarkan aliran Mana Kegelapan pekat. Membungkus derak Api liar pada sekitar ranah jiwa, untuk mencoba sedikit menahan sebarannya.
----
Note :
Diakhir chapter selanjutnya, ada sedikit pesan yang ingin saya sampaikan pada kawan-kawan pembaca, tolong beri sedikit waktu untuk menyempatkan membaca catatan tersebut barang sejenak ya. ^^