
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_______________________________________
*Wuuussshhh…!!!
Theo bersama Razak yang menyusul tepat di belakang, terus jatuh dengan kecepatan konstan semakin dalam pada sumur misterius.
Seperti yang sempat disampaikan oleh Theo, di dalam sumur, aliran Mana Ruang menjadi semakin pekat. Meskipun memang tak terlihat, itu mulai bisa di rasakan secara nyata. Hal ini menyebabkan setiap orang yang memasuki sumur misterius, akan sedikit sulit mengatur aliran Mana yang bergerak dalam Meridiannya.
Peredaran Mana pada Meridian yang terhambat, tentu juga berimbas pada berkurangnya kemampuan kontrol tubuh. Pergerakan ikut menjadi terhambat sampai batas-batas tertentu. Karena bagaimanapun juga, garis-garis Meridian adalah satu elemen penting dalam tubuh manusia yang berhubungan dengan segala hal kemampuan tubuh fisik. Termasuk juga pergerakan.
Dengan semua halangan tersebut, baik itu Theo maupun Razak, saat ini hanya bisa mengikuti alur dari kecepatan jatuh tubuh mereka di dalam sumur. Tak bisa menambah kecepatan agar bisa sampai pada dasar lebih cepat, dan juga tak bisa mengurangi kecepatan jika terjadi sesuatu yang tak terduga menunggu di ujung sumur.
Keduanya hanya bisa mengikuti arus sembari menatap waspada kearah bagian bawah sumur yang sepenuhnya gelap.
"Terus pertahankan sikap waspada! Meskipun terakhir kali aku turun kesini tak mendapat kejutan apapun selama perjalanan sampai di dasar, semua kemungkinan masih bisa terjadi! Bagaimanapun juga, kita benar-benar belum sepenuhnya memahami mekanisme dari sumur ini!" Ucap Theo. Memecah keheningan.
"Baik!" Jawab Razak singkat. Jelas tak akan pernah mempertanyakan intruksi Theo.
Sampai kemudian, tepat ketika Theo merasa bahwa dirinya telah memasuki awal dari waktu tiga jam terjun bebas, secara tiba-tiba ia mengaktifkan aliran Mana Cahaya dari dalam Element Seednya. Memanfaatkan Mana Cahaya yang bersinar terang menyelimuti tubuh, sebagai sarana mempertajam visi. Kegelapan pekat, seketika sirna.
"Razak! Bersiap untuk pendaratan!" Ucap Theo. Seraya mulai menyalurkan Mana Angin untuk sepenuhnya terfokus pada kedua ujung kaki.
Theo bisa saja meminta Luna untuk mengaktifkan aliran Mana Gravitasi, memakai Mana Gravitasi untuk memperingan Gravitasi sekitar, memuluskan proses pendaratan.
Hanya saja, untuk mencegah hal-hal tak terduga yang bisa saja terjadi atau terpancing mendekat imbas sebaran Mana Gravitasi yang jelas bergesekan dengan Mana Ruang pekat disekitar, Theo memutuskan untuk tetap memasang sikap waspada.
Sebisanya menyimpan kemampuan kendali akan Mana Gravitasi, untuk hanya di keluarkan ketika memang dalam situasi terdesak. Sementara kondisi saat ini, jelas masih dalam situasi sepenuhnya bisa dikendalikan Theo dengan baik.
*Woooshhhh…!!!
Theo menyebar aliran Mana Angin pada kedua telapak kaki tepat ketika akan menyentuh dasar sumur. Sebaran yang dilakukan dalam waktu yang sepenuhnya tepat, membuat tubuh Theo sedikit terdorong keatas begitu Mana Angin menyebar pada lantai dasar sumur. Theo melakukan pendaratan dengan cara halus nan elegan.
*Tappp….!!!
Disisi lain, detik berikutnya setelah Theo melakukan pendaratan, Razak, dengan gerakan sedikit menghentak kaki, berhasil mendarat dengan sempurna. Tak menimbulkan riak apapun.
Sebuah aksi yang tentu saja segera menarik minat Theo. Karena bagaimanapun juga, dalam prosesnya, Razak terlihat sama sekali tak mengaktifkan aliran Mana dalam tubuhnya. Tak mengeksekusi teknik gerakan apapun. Theo hanya merasakan satu sebaran aura begitu tipis, terlepas keluar dari ujung kaki Razak tepat saat sang Bocah selesai mendarat.
"Wahhh… Apa itu tadi?" Tanya Theo. Dengan intonasi nada penuh minat.
"Boss! Kau bisa melihatnya?" Tanya Razak balik. Dengan nada heran. Memasang wajah terkejut.
"Tidak, aku hanya bisa merasakan secara samar!" Jawab Theo.
"Secara samar? Tetap saja! Itu luar biasa Boss!" Jawab Razak.
"Hmmmm… Apakah itu sesuatu lain yang kau dapat dari proses menyelesaikan tantangan Kastil Raja Dewa Air?" Tanya Theo.
"Benar! Tepat setelah melewati portal tantangan, aku sampai pada dunia yang di sebut Magnarium!"
"Wahhh, dunia yang cukup unik, dan tentu saja sangat menantang!" Tanggap Theo. Seraya mulai mengaktifkan Eye of Agamoto, untuk kemudian melangkah pada salah satu lorong.
"Benar! Dunia yang benar-benar sesuai untuk Knight pemilik dual Element Seed Besi sepertiku!" Jawab Razak. Mengikuti berjalan dibelakang punggung Theo.
"Sesuai?" Tanya Theo lagi. Tepat setelah Razak menyelesaikan kalimat terakhir.
Mendengar Theo kembali bertanya, juga merasa belum selesai menjawab pertanyaan Theo diawal, Razak segera meneruskan penjelasan.
"Meteor yang terus terlontar dari dalam portal diatas langit, memiliki kandungan besi yang cukup pekat, bukan cuma pekat, tapi padat dan murni!" Lanjut Razak.
"Imbas dari tekanan atribut besi tiap meteor yang menghujam daratan, menyebabkan satu efek gejolak alam yang cukup aneh! Magnarium, seperti mencoba untuk mempertahankan dirinya agar tak hancur dari hujaman meteor alami, memberi tekanan balik!"
"Yah, aku pernah membaca, bahwa tiap dunia, akan memiliki jiwanya sendiri! Seperti sebuah dinasti yang akan disapu habis oleh bencana saat jiwa dunia, merasa orang-orang dalam dinasti tersebut, telah terlalu banyak mengambil tanpa memberi manfaat balik yang sepadan bagi keberlangsungan dunia tersebut!" Tanggap Theo.
"Meskipun memang itu hanya teori tanpa landasan dasar yang cukup kuat, lebih seperti dongeng. Namun cukup bagus untuk dijadikan sebagai falsafah hidup! Kita menuai apa yang telah di tabur! Begitu cara dunia bekerja!" Tutup Theo.
Mendengar kata-kata tersebut, Razak menanggapi dengan pandangan khusyuk pada punggung Theo untuk sementara waktu. Sebelum mulai mengangguk. Menancapkan kata-kata falsafah Theo dalam hatinya.
"Jadi, bagaimana bentuk tekanan balik dari Magnarium?" Tanya Theo.
"Menyebar aliran atribut besi balik!" Jawab Razak.
"Saling tekan antara Meteor dan Magnarium, menimbulkan efek tersebarnya satu aliran aura medan magnet!" Lanjut Razak.
"Medan magnet?"
Mendengar penjelasan terakhir Razak, Theo yang cukup terkejut, segera menghentikan langkah kaki, menoleh pada Razak untuk sementara waktu, sebelum menyuruh sang bocah melanjutkan.
"Aura medan magnet, menjadi atribut selanjutnya setelah Mana Api dan Besi yang memenuhi Magnarium!" Ucap Razak. Mulai meneruskan saat melihat isyarat mata Theo.
"Hanya saja, perlu kendali akan Mana Besi murni, untuk bisa merasakan aura medan magnet ini! Tak semua orang bisa merasakannya! Bahkan penduduk setempat yang sejak lahir tinggal di Magnarium!"
"Aku sendiri sebagai keturunan suku Osiris yang dikatakan sangat dicintai oleh aliran Mana Besi murni, tak bisa merasakan aura medan magnet ketika pertama kali menginjak kaki di Magnarium!"
"Baru setelah bertahan untuk beberapa tahun di Magnarium, dalam bimbingan salah satu tetua yang membantu untuk memperdalam kendali akan Mana Besi, aku mulai bisa merasakan aura medan magnet!"
"Ditambah dengan menyerap sumberdaya dari sisa-sisa meteor yang hancur, aku mulai bisa mengendalikan aura medan magnet!"
"Jadi, Boss! Kau sungguh luar biasa saat mampu merasakan aura medan magnet, tepat ketika pertama kali aku mengalirkannya!" Tutup Razak.
"Jadi begitu! Aura medan magnet ya?" Gumam Theo.
"Bahkan setelah tak lagi di Magnarium, dan kembali ke Gaia Land, kau masih bisa mengendalikan aura medan magnet?" Tanya Theo.
"Yah, karena tiap dunia, pada intinya selalu memiliki aura medan magnet terpancar keluar pada bagian terdalam dunia tersebut! Termasuk juga Gaia Land!" Jawab Razak.
"Meskipun kandungan dan luapan pancaran nya memang berbeda, dimana jelas aura medan magnet yang ada di Gaia Land tak sepekat Magnarium, aku masih tetap bisa mengendalikan pada batasan tertentu!" Tutup Razak, seraya membuat gerakan menghentak kaki ringan. Menghimpun aura medan magnet pada telapak kaki, untuk membuat tubuhnya sedikit melayang diudara.
Razak, melakukan demonstrasi langsung di hadapan Theo, agar Boss Besar-nya tersebut bisa melihat secara langsung bagaimana aura medan magnet bekerja.
"Luar biasa!" Gumam Theo. Jelas semakin tertarik.