
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Desa Kecil, Teria)
"Kami pulang…!!!"
"Lihat…! Lihat…! Dalam perburuan kali ini, kami panen besar!"
Seru para pemuda anggota tim perburuan. Kepada penduduk desanya yang segera berlari keluar dengan antusias untuk menyambut kedatangan mereka.
Para anggota tim perburuan, dengan bangga memamerkan dua tubuh Demonic Beast Kalajengking Haus Darah yang berhasil mereka bawa pulang.
"Wahhhh… Besar sekali!" Ucap salah satu anak kecil yang datang berkerumun.
"Lihat! Yang satu ini bahkan masih dalam keadaan sepenuhnya utuh!" Sahut bocah lain, secara ragu-ragu akan menyentuh tubuh Kalajengking Haus Darah yang sebelumnya mati dalam keadaan membeku total.
"Jangan sembarang menyentuh! Kita tak tahu apakah tubuhnya masih menyimpan racun!" Bentak seorang wanita tua, menarik kerah baju bocah yang hendak menyentuh Kalajengking Haus Darah.
"Hahhahaha…! Gui tua! Tak perlu terlalu cemas! Kami sudah memisahkan racun dalam tubuh dua Kalajengking Haus Darah ini!" Ucap Gugio. Sembari tertawa lantang.
Mendengar kata-kata Gugio, para bocah yang berkerumun di sekitar tubuh Kalajengking Haus Darah, segera memasang raut wajah ceria. Diawali oleh seorang bocah nakal yang memanjat kepala sang Demonic Beast, anak-anak lain berlomba mengikuti.
Sekelompok bocah ini tampak bahagia memainkan seolah mereka adalah Hunter yang sedang mencoba menaklukan Demonic Beast.
Sementara para penduduk lain yang juga ada dilokasi, hanya memperhatikan sembari memasang raut wajah bahagia.
Sampai kemudian, sesosok pria tua berjalan membelah kerumunan. Mendekat kearah Gugio.
"Gugio!" Ucap sang pria tua.
Melihat pria tua dihadapannya, Gugio segera membuat gerakan salam tangan.
"Salam pak tua Gaho!" Ucap Gugio.
"Perburuan kali ini, benar-benar membawa hasil yang luar biasa!" Tambah Gugio. Memasang senyum lebar.
"Tak hanya luar biasa! Ini sungguh anugerah!" Tanggap pria yang di panggil pak tua Gaho.
"Tiap bagian tubuh dari Kalajengking Haus Darah adalah Sumberdaya berharga! Dengan menjual sumberdaya sebanyak ini, kebutuhan desa kita akan terpenuhi untuk 4-5 bulan kedepan!" Lanjut pak tua Gaho.
"Hahhahaha…! Itu benar! Artinya tim pemburu bisa beristirahat untuk paling tidak setengah tahun kedepan! Sejenak menikmati hidup tenang tanpa harus melakukan perburuan rutin yang mempertaruhkan nyawa tiap bulan!" Ucap Gugio.
"Itu bagus! Itu bagus! Para pemuda ini sudah bekerja sangat keras! Mereka layak mendapatkan istirahat!" Tanggap pak tua Gaho.
"Tapi ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa membunuh Kalajengking Haus Darah? Demonic Beast kelas menengah! Terlebih lagi, dua sekaligus!" Tanya pak tua Gaho, mengerutkan keningnya.
Mendengar pertanyaan tersebut, Gugio yang merupakan pemimpin tim perburuan, terlihat akan segera memberi penjelasan. Namun pak tua Gaho tiba-tiba meneruskan kalimatnya setelah untuk sesaat memandang kearah anggota tim perburuan.
"Gugio, dimana cucuku? Dimana Gris?" Tanya pak tua Gaho. Mulai memasang raut wajah cemas saat tak menemukan keberadaan Gris di antara anggota tim perburuan.
Ternyata pak tua Gaho, adalah kakek dari Gris.
"Ahhh… Tak perlu cemas! Gris baik-baik saja! Ia saat ini sedang…"
Gugio hendak menjelaskan. Namun, lagi-lagi kalimat yang sudah ia susun, harus kembali tertelan dalam tenggorokan saat beberapa suara benturan keras, terdengar dari arah luar gerbang desa.
"Hmmmm…?" Gumam Gugio.
"Senior! Ini gawat! Beberapa Demonic Beast menerobos masuk!" Seru penjaga gerbang desa. Memasang wajah sangat panik.
"Bagaimana bisa? Bukankah formasi penyamaran yang mengelilingi desa masih aktif?" Ucap pak tua Gaho.
"Bergerak!"
Sementara itu, Gugio tanpa menunda segera memberi intruksi agar tim perburuan, bergerak memeriksa.
***
(Padang pasir di luar gerbang desa)
*Tapp…!!!
*Tapp…!!!
*Tapp…!!!
"Tidak mungkin! Itu adalah Lipan Merah!" Ucap pak tua Gaho. Memandang dengan tatapan bergetar.
Bagaimana pak tua Gaho tak menjadi dingin hatinya. Demonic Beast Lipan Merah, merupakan makhluk yang memiliki kelas sama dengan Kalajengking Haus Darah. Yakni Demonic Beast tingkat menengah.
Satu dari Demonic Beast dengan tingkatan tersebut, akan cukup untuk memporak-porandakan desa-nya.
Terlebih lagi sekarang bukan hanya satu, tepat di hadapan mata pak tua Gaho, lima Lipan Merah bertubuh raksasa nan panjang, sedang menggeliat dengan tatapan mengerikan. Memandang kearah kelompoknya.
Pak tua Gaho dan para pemuda anggota tim perburuan bergetar ketakutan. Jelas merasa tak memiliki kesempatan untuk bisa menang.
Untuk berusaha mengalahkan satu Kalajengking Haus Darah saja, tim perburuan yang bekerja sama, mengeluarkan semua yang mereka punya, tetap nyaris tewas jika Theo tak muncul dan memberi bantuan.
Namun, saat setiap orang masih menatap dengan tatapan bergetar, Gugio disisi lain, dari tadi justru memasang ekspresi wajah biasa. Cenderung tenang.
"Para Lipan Merah ini, sedang terluka parah!" Ucap Gugio.
Sebagai seorang dengan tingkat kultivasi paling tinggi, Gugio bisa merasakan bahwa energi kehidupan yang terpancar dari dalam tubuh kelima Lipan Merah, sangatlah tipis.
*Tappp…!!!
Detik berikutnya, dua sosok tiba-tiba melakukan pendaratan pada lokasi tepat di hadapan kelima Demonic Beast Lipan Merah.
Yang baru saja mendarat, tak lain adalah Theo. Menggendong Gris. Gadis itu memeluk tubuh Theo erat.
"Siapa pemuda itu? Kenapa Gris bersamanya?" Tanya pak tua Gaho. Sebelum raut muka heran diwajahnya, berganti panik saat menyadari sesuatu yang lebih penting.
"Gris! Menyingkir! Cepat pergi! Berbahaya!" Teriak pak tua Gaho.
Teriakan yang justru disambut oleh Gris dengan kerutan kening. Gadis itu malah mulai membenamkan wajahnya di dada Theo.
"Pak tua Gaho! Sepertinya tak perlu khawatir!" Ucap Gugio. Kini justru memasang ekspresi antusias.
"Hei…"
Theo yang dari tadi diam, akhirnya membuat suara.
"Apalagi yang kalian tunggu? Para Lipan ini sudah sekarat! Sebagai seorang pemburu, apa kalian hanya akan melihat?" Tanya Theo.
"Hahhahaha…! Kalian dengar? Tunggu apalagi? Segera maju untuk memanen!" Seru Gugio. Memberi intruksi. Sebelum kemudian menjadi yang pertama menerjang kedepan.
"Tuan muda ini benar-benar luar biasa!"
"Panen besar!"
"Kita bisa istirahat setahun penuh! Bahkan lebih!"
Para pemuda anggota tim perburuan, menjadi bersemangat ketika akhirnya menangkap situasi yang terjadi. Tanpa menunda, mengikuti Gugio untuk mengerjang kedepan.
Sementara Theo, melangkah kearah berlawanan. Mendekati pak tua Gaho.
"Anak muda! Aku bisa menduga secara kasar bahwa kau mungkin telah memberi banyak bantuan pada desa kami! Tapi, kuperingatkan padamu, berhenti untuk mengambil kesempatan dengan terus memeluk tubuh cucuku!"
"Turunkan sekarang juga!" Dengus pak tua Gaho. Memasang raut wajah tak senang tepat ketika Theo telah sampai di hadapannya.
"Hmmmm… Kakinya terkilir!" Balas Theo singkat. Seraya menurunkan Gris dari gendongannya.
"Hmmmmm…! Pintar mencari alasan! Aku juga pernah muda! Jelas sekali kau cuma mengambil keuntungan! Bagaimanapun juga, cucuku adalah gadis paling cantik dan menawan di desa!" Tanggap pak tua Gaho.
Tanggapan yang hanya disambut Theo dengan senyum tipis sederhana. Tampak tak terganggu dengan sikap pria tua dihadapannya.
"Cucuku, kau baik-baik saja? Apa benar kakimu terkilir?" Tanya pak tua Gaho. Yang sekarang menunduk untuk memeriksa kondisi Gris.
Namun, pertanyaan khawatir pak tua Gaho, nyatanya justru disambut oleh Gris dengan tatapan tajam.
"Ahhh… Ada apa? Katakan padaku! Apa pemuda ini berbuat sesuatu yang tak baik padamu?" Tanya pak tua Gaho. Begitu melihat tatapan Gris kepadanya.
"Sama sekali tidak! Dia bukan orang yang seperti kau pikirkan!" Dengus Gris.
'Kakek bodoh! Kenapa juga bersikap demikian! Kenapa meminta tuan Muda Theo menurunkanku!' Dengus Gris dalam hati. Benar-benar merasa sangat kesal.
---
Note :
Sekali lagi, absen malam!