Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
201 - Kemunculan Kembali


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


"Mati…!" Gumam Fairley, seraya melepas sulur-sulur tanaman tajam dari telapak tangannya. Sulur-sulur yang bergerak cepat menembus dada Guan Zifei.


"Gouuugghhhh…!!!"


Guan Zifei, untuk kesekian kalinya menyembur darah segar. Visinya sudah hampir padam sampai tiba-tiba…


*Woooshhhh….!!!


*Blaaaarrr….!!!


Bertepatan dengan Fairley selesai melancarkan serangan, lautan tiba-tiba bergejolak hebat. Langit yang awalnya cerah, seketika menjadi gelap. Badai dahsyat, terbentuk dalam sekejap. Membekap seluruh medan pertempuran Laut Ungu.


Badai dahsyat yang tiba-tiba terjadi tersebut, juga diiringi oleh sebuah pusaran air raksasa, mulai terbentuk pada salah satu sudut wilayah perairan Laut Ungu.


Peristiwa alam aneh yang terjadi, segera membuat seluruh Tetua dan pasukan Eleanor Tribe memasang wajah waspada, beberapa bahkan terlihat ketakutan.


Bagaimanapun juga, sebagai seorang manusia, setiap orang akan memiliki insting atau perasaan takut alami pada sebuah badai. Terlebih pada jilatan Halilintar ganas yang saat ini juga menderu liar tak tertahan diatas langit hitam.


Hanya manusia dengan mental teguh yang akan mampu menahan gejolak rasa takut yang secara alami hinggap pada sudut terdalam hatinya.


"Tuan Muda, ini jelas bukan peristiwa biasa! Sebaiknya segera selesaikan main-main!" Dengus Tetua Pertama Eleanor Tribe. Tampak sudah tak tahan dengan sikap sembrono Fairley.


"Hmmmm… Hanya badai biasa, sebagai seorang Tetua dari Tribe yang hidup di wilayah kepulauan, kau harusnya malu saat takut terhadap badai!" Jawab Fairley. Memasang wajah meremehkan.


"Tuan Muda! Berhenti bersikap keras kepala!" Dengus Tetua Kedua Eleanor Tribe, begitu mendengar jawaban Fairley. Sebelum menatap kearah langit badai yang bergelora dalam jilatan gelombang petir untuk sementara waktu.


Sang Tetua tampak memicingkan mata, jelas merasakan aliran Mana kuno nan misterius dimana merupakan penyebab dari terbentuknya badai secara tiba-tiba.


Sementara Tetua Pertama, sejak selesai memberi intruksi agar Fairley berhenti main-main, hanya terus melihat kearah pusat badai, dimana saat ini, mulai terbentuk sebuah pusaran air raksasa.


"Kalau kalian ingin pergi, maka pergi saja duluan! Aku masih ingin melampiaskan rasa marahku dengan membantai anggota kelompok Bandit Serigala lebih banyak lagi!" Gumam Fairley tiba-tiba. Sepenuhnya mengabaikan intruksi dari dua Tetua Utama Eleanor Tribe yang kini sedang mengawalnya.


*Sraakk…!!!


*Sraaakkk…!!!


Fairley menyelesaikan kalimatnya, dengan membuat satu gerakan menarik sulur-sulur tanaman berduri yang sebelumnya sempat ia gunakan untuk menembus dada Guan Zifei.


"Hehehe…! Jadi siapa selanjutnya!" Gumam Fairley, menatap dengan pandangan menyapu sekitar. Akan menargetkan anggota Bandit Serigala lain yang berposisi paling dekat.


Hanya saja, tatapan mata Fairley yang awalnya terlihat bengis, kini berubah menjadi kerutan curiga saat melihat raut wajah tiap anggota kelompok Bandit Serigala yang ada di sekitar.


Bagaimana Fairley tak curiga, tepat beberapa detik sebelumnya, para anggota Kelompok Bandit Serigala, masih memasang raut wajah penuh amarah begitu melihat aksi Fairley yang memberi serangan berat pada Guan Zifei.


Namun kini, tepat ketika peristiwa alam aneh dimana badai dahsyat tiba-tiba terbentuk, seketika raut wajah tiap anggota kelompok Bandit Serigala, berubah menjadi seperti penuh harap. Seluruh dari mereka, hanya menatap kearah satu titik. Yakni pusat badai.


Bukan hanya anggota Bandit Serigala, seluruh anggota pasukan Aliansi 7 Lautan yang berada di atas medan pertempuran, juga melakukakan hal sama. Menatap penuh harap kearah pusat badai.


Bahkan Guan Zifei yang sebelumnya sudah sekarat, dengan tiba-tiba memaksa tubuhnya untuk tetap bertahan. Memberi sentakan aliran Mana tersisa dalam Element Seednya, untuk membuat kedua matanya kembali mendapat ketajaman.


*BLAAAARRR….!!!


*BLAAAARRR….!!!


*BLAAAARRR…!!!


Badai berkembang menjadi semakin dahsyat, jilatan-jilatan Halilintar diatas langit, menjadi semakin menderu.


*Woooshhhh…!!!


Bersama semakin dahsyatnya badai yang terjadi, tepat di pusat badai, laju pusaran air juga semakin kencang. Menjadi semakin besar.


Situasi liar yang terjadi, menyebabkan pandangan setiap orang kini tertuju pada pusat badai. Termasuk juga seluruh anggota pasukan Eleanor Tribe dan Barbarian Tribe yang ada di lokasi, pasukan dari dua Tribe besar ini yang sebelumnya berfikir bahwa peristiwa yang terjadi hanya merupakan badai dahsyat biasa dimana sering terjadi di wilayah Laut, untuk sekarang berubah waspada raut wajah masing-masing. Mulai merasakan tekanan berat yang menerpa dari arah pusaran raksasa yang ada di pusat badai.


Sampai kemudian, dalam situasi yang tiba-tiba menjadi hening, dimana hanya deru keras petir dan suara pusaran air yang menjadi senandung liar diatas medan pertempuran, satu suara keras membahana, tiba-tiba terdengar memecah keheningan. Berasal dari inti formasi armada besar Kapal Perang Eleanor Tribe.


"TETUA PERTAMA! TETUA KEDUA! APA LAGI YANG SEDANG KALIAN TUNGGU?"


Khan Eleanor Tribe, meneriakkan seruan lantang dengan membawa aura kelas Emperor tahap Surga tersebar luas bersama seruan tersebut. Suara wanita ini menggema pada seluruh medan pertempuran.


Mendengar seruan tersebut, Tetua Pertama dan Tetua Kedua Eleanor Tribe yang sebelumnya masih terpana menatap pusat badai, akhirnya kembali mendapat kesadaran.


"AMANKAN FAIRLEY SEKARANG JUGA!"


Khan Eleanor Tribe, kembali berseru lantang. Memberi intruksi langsung pada dua Tetua-nya.


*Tappp…!!!


*Tappp…!!!


*BOOOOOMMMM….!!!


Dan tak lama kemudian, saat pusaran air raksasa telah berkembang menjadi tak terbayangkan, berputar liar memporak-porandakan wilayah laut yang ada di sekitar lokasi pusaranya, satu suara ledakan keras terdengar lantang.


*Wuuungg…!!!


Suara ledakan keras, dilanjutkan dengan satu suara dengungan yang menggema memekakkan telinga.


*Woooshhhh…!!!


Dengunan tersebut, menjadi pertanda dari sebuah Kastil Raksasa, secara tiba-tiba bergerak menyeruak dari dalam pusaran air raksasa. Membelah pusaran tersebut hingga menyebabkan putarannya terhenti total. Lebih tepatnya, laju pusaran air raksasa, terpecah.


*Wuuungg….!!!


Kastil Raksasa menyerukan dengunan lantang untuk sekali lagi setelah keluar dari dalam pusat badai. Terbang melayang diatas laut medan pertempuran dengan membawa aura dominasi intens.


"Boss…!!!"


"Booosss…!!!"


"Boss Besar!!!"


"Kapten…!!!"


"Kapten…!!!"


Bersama munculnya Kastil Raksasa, teriakan-teriakan penuh harap, terdengar keluar dari masing-masing mulut anggota Bandit Serigala dan Aliansi 7 Lautan. Mereka menyerukan panggilan pada Boss Besar dan Kaptennya masing-masing.


Sementara pasukan dari pihak Eleanor Tribe, kini bertambah semakin waspada. Bergerak mundur. Menjauh sebisanya dari lokasi pusat badai. Entah kenapa memiliki perasaan buruk di hati masing-masing.


*Wuuungg…!!!


*Kraaakkk….!!!


Kastil Raksasa yang masih melayang di atas langit, kembali mengeluarkan sebuah suara dengungan nyaring. Namun kali ini ditambah dengan suara retakan keras. Dinding-dinding megah Kastil, tampak hancur di beberapa bagian.


*BOOOOOMMMM….!!!


Sampai akhirnya, Kastil Raksasa, secara tiba-tiba meledak. Hancur menjadi ribuan kepingan kecil.


"Kastil Raja Dewa Air, telah menemukan garis takdir-nya!"


Hancurnya Kastil Raksasa, diiringi dengan sebuah suara misterius, dengan aneh menggema. Terdengar di dalam kepala setiap orang yang sebelumnya sempat melihat langsung prosesi hancurnya Kastil Raksasa tersebut.


*Woooshhhh…!!!


*Woooshhhh…!!!


*Woooshhhh…!!!


Peristiwa selanjutnya, dari dalam remukan sisa Kastil Raksasa yang belum sepenuhnya tersebar, enam sosok, terlempar keras pada enam arah berbeda.


Keenam sosok ini, tentu saja adalah mereka yang baru saja berhasil menyelesaikan Tantangan Kastil Raja Dewa Air.


Theo, Razak, Hella, Sinbad, Dante, dan juga Iris, mendarat di enam lokasi berbeda. Tiap-tiap dari sosok ini, segera dengan tanggap melakukan pengamatan cepat pada lokasi sekitar pendaratan mereka masing-masing.


*BOOOOMMMM….!!!


Sampai kemudian, ketika lima dari enam sosok masih berusaha memahami situasi, satu ledakan aura keras yang begitu menekan, tiba-tiba terhempas dari salah satu sosok tersebut.


"BERANI SEKALI? SIAPA?"


Itu adalah Theo, yang tiba-tiba berubah marah ekspresi wajahnya. Membentak keras sembari menatap kearah beberapa lokasi tertentu.


"Meirin, Meria, Isaa!" Gumam Theo. Dengan nada yang sepenuhnya ditekan, saat merasa ikatan Kontrak Tuan-hamba pada tiga anggotanya tersebut, telah putus.


Tatapan mata Theo, hanya berhenti ketika ia menangkap aura familiar, berada di sekitar lokasi tak jauh dari ia sedang berdiri.


*Bzzzzzttt…!!!


Sosok Theo menghilang. Sebelum muncul kembali pada salah satu dek Kapal Perang yang sudah hancur sebagian.


"Boss…!"


Guan Zifei bergumam lirih, berusaha memasang senyum sederhana begitu melihat sosok Theo muncul di hadapannya.