Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
43 - Pulau Api Getaran


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Laut Ungu, Markas Besar Aliansi 7 Lautan)


Markas Besar Aliansi 7 Lautan, berada di sebuah pulau yang memiliki ukuran relatif luas. Pulau yang berada di wilayah Laut Ungu tersebut, sama seperti kebanyakan pulau lain yang ada di Thousand Island, memiliki iklim serta lingkungan tropis.


Yang membedakan hanyalah, selain ukurannya yang luas, pada pulau tersebut juga terdapat dua buah gunung berapi yang masih sangat aktif. Keberadaan dua gunung berapi ini, menyebabkan sering terjadi gempa pada lokasi wilayah sekitar pulau. Bahkan di setiap beberapa menit sekali, akan selalu terasa getaran-getaran kecil.


Lingkungan alam tersebut yang akhirnya menjadi faktor utama dimana menjadikan markas besar Aliansi 7 Lautan, dikenal dengan nama Pulau Api Getaran.


Satu wilayah yang sangat di hindari pada masa lampau, karena memiliki lingkungan yang sangat keras dan berbahaya. Namun, ketika setiap penduduk Thousand Island baik itu penduduk biasa, Kelompok Perompak, juga Kelompok Tribe menghindari pulau Api Getaran, hal berbeda justru dilakukan oleh Sinbad.


Kapten Perompak Naga Laut ini, malah memilih Pulau Api Getaran, sebagai tempat Kelompok Perompak Naga Lautnya membangun markas. Dimana kemudian berkembang menjadi markas besar Aliansi 7 Lautan ketika Sinbad mendirikan Aliansi yang mewadahi hampir seluruh Kelompok Perompak besar yang ada di wilayah 7 Lautan Thousand Island tersebut.


Dan terbukti, langkah tak wajar yang diambil Sinbad dalam memilih lokasi markas besar ini, nyatanya merupakan satu langkah yang sangat brilian. Karena tak seperti dugaan banyak orang, dengan lingkungan alam sangat berbahaya, Pulau Api Getaran menyimpan banyak manfaat. Terutama dalam hal pertahanan. Karena setiap lawan yang berniat menyerang markas, akan berhadapan terlebih dahulu dengan lingkungan sekitar yang tak menguntungkan.


Mulai dari getaran-getaran atau bahkan gempa besar yang terjadi setiap saat, sampai dengan serangan para Spirit Beast liar yang begitu ganas di wilayah pulau tersebut. Karena bagaimanapun juga, para Spirit Beast yang tinggal di tempat itu, adalah para Spirit Beast yang memiliki vitalitas dan keganasan tingkat tinggi. Efek dari harus bertahan hidup di lingkungan keras.


Sementara disisi lain, ketika para penyerang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan. Anggota Perompak Naga Laut, atau anggota Aliansi 7 Lautan lainnya, dimana merupakan sang pemilik markas. Sudah akan menunggu di tempat-tempat aman atau benteng kokoh yang telah di bangun tahan dengan lingkungan sekitar.


Orang-orang ini bahkan sudah terbiasa dan memiliki dugaan waktu tertentu kapan getaran atau gempa akan terjadi. Selain itu, mereka juga sudah hafal tempat-tempat berbahaya yang merupakan sarang dari Spirit Beast ganas.


Fakta-fakta itulah yang kini membuat markas besar Aliansi 7 Lautan, menjadi salah satu markas Kelompok Knight paling kokoh di muka Gaia Land. Hampir mustahil untuk dapat di terobos.


Satu langkah brilian, dari beberapa hal lain yang menyebabkan nama Sinbad begitu di segani.


Kembali ke situasi terkini, disebuah lokasi Pulau Api Getaran, diapit oleh dua gunung berapi besar. Markas besar Aliansi 7 Lautan yang megah berdiri tegak. Kokoh dengan dinding benteng yang melindungi bagian depan dan belakang. Dimana menempel pada masing-masing lereng kaki gunung.


Sebuah langkah pertahanan markas yang sangat sempurna. Karena membuat pemilik markas, hanya harus memfokuskan pertahanan pada kedua dinding benteng. Sementara lokasi kanan dan kirinya, telah dilindungi sempurna oleh benteng alami. Dua gunung berapi besar.


Tepat di tengah markas sendiri, yang mana merupakan satu area lapang. Kini terdapat sebuah meja jamuan besar, dengan puluhan kursi di tempatkan melingkar mengelilingi meja. Sementara diatas meja, berbagai macam jenis makanan lezat, sedang menunggu untuk di lahap. Anggota Aliansi 7 Lautan, sepertinya tengah melakukan satu jamuan makan besar. Karena setiap kursi, telah diisi penuh oleh kumpulan orang berwajah bengis dengan tingkat kultivasi yang tak biasa.


Hanya menyisakan satu kursi yang masih terlihat kosong. Berada tepat di sebelah seorang pria muda yang tengah duduk pada kursi utama yang di desain memiliki ukuran lebih tinggi dari kursi-kursi lain.


Situasi jamuan tampak ramai karena baik itu orang-orang yang duduk di kursi meja jamuan, ataupun lainnya yang berdiri di belakang, terlihat sibuk melakukan percakapan. Sampai kemudian secara tiba-tiba….


*Bzzzzzttt….!!!


*Baaaaaammmmm.…!!!!


Dengan ekspresi wajah marah, Dante melakukan sebuah pendaratan berat yang diawali dengan derak listrik biru menyebar kesekitar. Membuat setiap orang yang sebelumnya ada di dekat lokasi pendaratan Dante. Segera mengambil beberapa langkah mundur untuk menghindar.


Pendaratan tiba-tiba yang di lakukan Dante tersebut, membuat ia kini seketika menjadi pusat perhatian setiap orang. Juga membuat suasana ramai, berubah sedikit hening. Hanya menyisakan bisikan-bisikan lirih dari beberapa orang.


"Hmmmmm… Tak biasanya Dante, sang Harimau penyendiri tampil begitu eksplosif!" Tanggap salah satu orang berwajah bengis yang sedang duduk di kursi meja jamuan.


Mendengar kata-kata orang tersebut, Dante tak memberi jawaban apapun, hanya membalas dengan tatapan tajam. Seolah ingin menyampaikan agar pria yang baru saja bicara, tutup mulut.


"Ohhhh… Ini dia! Tatapan tajam penuh pesona yang membuatku dengan rela hati bergabung menjadi bagian Aliansi 7 Lautan!" Tanggap seorang wanita muda berwajah cantik dan memakai pakaian ketat. Dimana juga sedang duduk di kursi meja jamuan.


Satu kalimat yang disambut Dante dengan lirikan sekilas. Tampak tak begitu perduli. Sebelum ia mulai berjalan pada kursi kosong.


Tepat ketika Dante sampai di depan kursi, ia menghentikan langkah untuk menghadap seorang pria muda yang sedang duduk pada kursi tinggi.


"Ini adalah kegagalan pertamaku! Dan kupastikan, tak akan pernah terjadi lagi, Kapten!" Ucap Dante. Dengan nada dingin. Sebelum akhirnya duduk pada kursi kosong yang telah disiapkan untuknya.


Pria muda yang mendapat laporan Dante, tentu saja adalah Kapten Perompak Naga Laut yang tersohor. Sinbad.


Memiliki tatapan penuh ketajaman, hampir sama seperti milik Theo, Sinbad yang mendengar laporan kegagalan misi Dante, justru mulai memasang senyum lebar.


"Dante! Tak perlu terlalu serius hanya karena satu kegagalan! Lagipula, aku sudah menduga akan terjadinya kegagalan ini!" Ucap Sinbad. Dengan intonasi nada tenang.


"Dengan Gaia Son Paviliun dan Dark Guild berbalik melawan kita, itu memang satu hal mustahil untuk dapat mempertahankan Laut Jingga dan Laut Kuning! Apalagi Laut Merah yang berada tepat di belakang dua lautan tersebut!" Lanjut Sinbad.


"Tujuanku memberi perintah agar kau melakukan pergerakan, sebenarnya cuma untuk memberi gelombang awal. Gelombang awal yang tentu saja bisa kita gunakan untuk mengukur kedalaman kekuatan serta jumlah pasukan pihak lawan!"


"Setelah ini, kau bisa memberi kita informasi tersebut bukan? Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa misi yang kau lakukan, sebenarnya justru sukses!" Tutup Sinbad.


Satu kalimat yang segera mendapat lirikan tajam dari Dante. Merasa kesal karena Sinbad tak memberi tahu langsung tujuan sebenarnya misi Laut Merah.


"Tidak sepenuhnya sukses, karena Boss Besar kelompok Bandit Serigala yang terkenal itu, sama sekali tak menampakkan diri. Baik itu di wilayah Laut Jingga, ataupun wilayah Laut Kuning!" Jawab Dante.


"Menarik!" Gumam Sinbad. Sebelum secara tiba-tiba, mulai berdiri dari tempat duduknya.