
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
----BONUS CHAPTER MALAM INI----
"Tidak mungkin!" Gumam Tuan Leluhur. Dengan tatapan mata takjub yang tak bisa ia sembunyikan. Begitu melihat puluhan tanaman tersebut mekar di sekeliling ranjang medis.
Tuan Leluhur tentu saja menjadi takjub, karena tanaman-tanaman tersebut, tak lain adalah Bunga Purnama yang sangat langka. Dimana kini dalam satu waktu, bermekaran serempak di satu tempat dalam sekejap mata.
Jenis bunga yang sama dimana pernah dijadikan hadiah oleh Eleanor Tribe kepada Suku Osiris ribuan tahun lalu. Hadiah berharga yang kemudian digunakan oleh suku tersebut sebagai pusat pancaran energi penyembuh pada ruang medis Benteng Osiris.
"Bagaimana bisa? Mana Hijau apa itu sebenarnya?" Gumam Tuan Leluhur. Kini menjadi semakin penasaran dengan Mana Kuno berwarna Hijau yang selalu di gunakan oleh Fairley.
"Hmmmm…"
Sementara Sasi, hanya kembali mendengus ringan. Meskipun juga sama penasaran dengan Tuan Leluhur, tapi ia merasa seperti pernah menjumpai pancaran energi Mana yang sejenis dengan Mana Kuno berwarna Hijau tersebut.
'Dimana aku pernah merasakan pancaran energi Mana seperti ini? Begitu Kuno!' Gumam Sasi dalam hati. Tampak mulai melakukan kemampuan khusus Ras Goblin. Yakni menerobos jaringan otak untuk menggali informasi yang terbenam.
Satu kemampuan bawaan yang menjadi ciri khas dari Ras Goblin. Dimana menyebabkan mereka menjadi Ras dengan daya ingat serta ketelitian yang sangat luar biasa.
"Aaahhhh… Sekarang aku ingat! Jadi seperti itu!" Gumam Sasi, setelah beberapa saat. Akhirnya kembali teringat dimana ia pernah menjumpai aliran Mana seperti yang sedang memancar keluar dari dalam tubuh Fairley.
"Salah satu dari jenis benda-benda tersebut!" Tambah Sasi. Dengan intonasi nada paham serta tatapan penuh minat kearah Mana Kuno berwarna Hijau.
"Hmmmm… Apa yang sudah kau ingat?" Tanya Tuan Leluhur. Terlihat ingin agar Sasi membagi informasi.
"Bukan urusanmu!" Jawab Sasi singkat. Dengan ekspresi wajah acuh.
"Cih…!" Dengus Tuan Leluhur. Akhirnya memilih untuk tak lagi peduli dan ingin tahu. Kembali melihat kearah bunga-bunga Purnama yang mekar sembari menyebarkan semerbak aroma kehidupan pekat. Begitu menyegarkan.
"Setelah ini, jangan pernah sekalipun melakukan hal yang dapat menggangu konsentrasiku!" Ucap Fairley. Saat ini benar-benar terlihat hanya sepenuhnya tertarik kepada Theo.
Sedari tadi, ia terus menatap kearah tanamam sulur kecil yang digunakannya untuk mengintip Ranah Jiwa Theo, dengan tatapan serta sorot mata penuh minat.
'Nimfa! Aku mohon bantuannya!' Gumam Fairley dalam hati.
Bersamaan dengan gumamam tersebut, intensitas energi kehidupan yang berasal dari aliran Mana Kuno berwarna hijau, kini memancar semakin pekat.
'Tentu saja! Seperti biasa, aku dengan senang hati akan membantumu!' Jawab satu suara yang terdengar berasal dari seorang gadis kecil, membalas gumaman Fairley.
'Ohhh… Kulihat malah kau tak bersikap seperti biasanya! Kenapa tiba-tiba menjadi begitu antusias?' Tanya Fairley. Saat mendengar intonasi nada riang berlebihan dari suara jawaban gadis kecil.
'Hehehe…! Itu karena di dalam sana, aku merasakan hawa keberadaan salah satu saudariku! Benar-benar rindu!' Jawab sang gadis kecil. Yang sebelumnya sempat di panggil dengan nama Nimfa oleh Fairley.
'Begitukah?' Tanggap Fairley, kini tatapan penuh minat yang dari tadi ia tunjukkan kearah Theo, bertambah semakin menjadi saat mendengar jawaban Nimfa.
'Sudah! Jangan terlalu lama! Kita langsung masuk saja!' Jawab Nimfa. Sebelum dengan pancaran energi kehidupan berwarna hijau pekat, menarik kesadaran Fairley untuk memasuki Ranah Jiwa Theo.
***
(Ranah jiwa)
*Tap…!!!
Fairley baru saja mendarat di dalam Ranah Jiwa Theo. Namun, belum sempat ia bahkan untuk melihat kedepan…
*Woooshhhh…!!!
*Woooshhhh…!!!
*Woooshhhh…!!!
*Woooshhhh…!!!
Empat aura yang sangat menekan, dengan cepat menerjang kearah dimana ia baru saja melakukan pijakan. Menyebabkan wujud kesadaran Fairley segera terdorong mundur kebelakang. Bergetar dengan sangat hebat.
"Sialan! Apa ini?" Umpat Fairley, dengan intonasi penuh kecemasan.
Bagaimanapun juga, ia saat ini hanya dalam bentuk kesadaran. Satu wujud yang benar-benar rentan akan serangan mental atau aura.
Jika hal tersebut benar-benar terjadi, maka itu sama saja dengan Fairley telah mati. Karena bagaimanapun juga, tubuh tanpa kesadaran, meskipun masih tetap hidup, hanyalah sebuah wadah kosong tanpa pikiran.
Wadah kosong tanpa pikiran, berarti Fairley harus rela untuk menjadi manusia idi*ot tanpa fungsi otak seumur hidupnya.
"Nimfa…!!!" Dalam kepanikan, Fairley menyerukan nama gadis kecil.
"Ohhh… Aku disini! Maaf sedikit terlambat ikut masuk!" Jawab Nimfa, seraya mulai menyalurkan energi Mana berwarna hijau pekat untuk menyelubungi seluruh wujud kesadaran Fairley.
Sosok Nimfa sendiri, merupakan perwujudan dari sebuah roh bocah wanita imut yang memiliki warna rambut hijau.
"Huft…" Gumam Fairley, saat merasa tekanan yang menerjang, telah mereda pada level yang mampu ia tahan.
"Hahh…!!! Sekarang siapa lagi yang menerobos masuk! Menambah pekerjaan saja!" Dengus Belphegor. Dengan intonasi nada yang terdengar sangat malas. Menatap kesal kearah Fairley.
Tepat ketika Fairley dengan bantuan Nimfa telah berhasil meredakan tekanan aura yang menerpa tubuhnya, ia akhirnya dapat melihat, tak jauh di hadapannya, tepatnya di depan lokasi dari Element Seed Theo tumbuh dalam Ranah Jiwa, empat sosok Roh anak kecil dengan wujud tak biasa sedang terbang melayang.
Seperti sedang melindungi sosok kesadaran Theo yang saat ini duduk bersila sembari memasang ekspresi wajah teduh, menutup kedua mata. Tampak dalam posisi melakukan kultivasi. Terlelap hanyut pada proses kultivasi mendalam.
"Siapa kalian?"
Kali ini Asmodeus yang bicara. Dengan suara bentakan lantang. Sorot matanya tajam menatap kearah Fairley untuk beberapa saat. Sebelum ganti mengalihkan pandangan pada Nimfa.
"Hmmmm…! Gadis tanaman lainnya!" Dengus Asmodeus. Entah kenapa menjadi semakin kesal ketika melihat sosok Nimfa.
"Jadi, itu kalian yang menyebabkan satu fenomena aneh terjadi pada Ranah Jiwa orang ini?" Tanya Fairley tiba-tiba. Setelah melakukan pengamatan untuk beberapa saat.
"Siapa juga kau? Kenapa kami harus menjawabnya! Cepat keluar! Mau kumakan hah?" Bentak Baal.
Sementara Mammon yang juga melayang di sekitar Element Seed, seperti biasa tak menunjukkan perubahan ekspresi wajah apapun. Hanya memandang datar kearah Nimfa.
"Aku menginginkannya!" Ucap Mammon tiba-tiba. Setelah hanya diam sedari tadi. Seraya mulai memancarkan aliran enam atribut Mana dari dalam tubuhnya. Akan maju mendekati Nimfa. Tapi, sebelum ia sempat melakukan gerakan melayang apapun…
"Menginginkan apa? Jika kau berani menyentuhnya, maka aku sendiri yang akan memberimu pelajaran!"
Suara bentakan lain, dimana berasal dari salah satu sudut gelap Ranah Jiwa, mendadak terdengar lantang. Dibarengi dengan aliran Mana Gravitasi intens yang begitu pekat.
"Tuuuu…!!!"
Joy Kecil melayang mendekat. Masih bersama roh gadis Gravitasi yang duduk pada cangkangnya.
"Luna…!!!"
Melihat sosok gadis Gravitasi, Nimfa segera memasang ekspresi wajah antusias. Berteriak memanggil dengan nada riang.
"Hahhaha…! Nimfa! Sungguh rindu!" Seru Luna. Segera melayang cepat kearah Nimfa yang juga telah bergerak melayang lebih dahulu.
Kedua gadis roh ini, saling memegang tangan masing-masing ketika sudah dalam posisi berhadapan. Keduanya tampak memiliki wajah yang sama persis. Yang membedakan hanyalah warna rambut. Jika Nimfa memiliki rambut berwarna hijau pekat, Luna memiliki warna rambut putih keperakan layaknya bulan.
"Hmmm… Melihat pertumbuhan dari aliran Mana Tanaman yang ada di dalam rohmu, sepertinya kita di petik dan dimakan di waktu yang hampir bersamaan!" Ucap Luna.
"Yahh…! Seperti memang begitu!" Tanggap Nimfa. Dengan rona wajah ceria.
Sosok asli Nimfa, ternyata merupakan wujud roh dari salah satu Demon Fruit. Ancient Thing jenis kelima. Jika Luna adalah manifestasi dari Gravity Fruit, Nimfa sendiri adalah manifestasi dari roh Nature Fruit.
----
Note :
Chapter tambahan ini saya persembahkan kepada pembaca dengan alamat email :
-SAIF.AL.ZAI***@GMAIL.COM
-NURKHOTS***@GMAIL.COM
-DEDENURHAYA***@GMAIL.COM
Terimakasih banyak atas dukungannya, benar-benar meringankan tekanan aura ganas yang sedang menerpa author setiap waktu.
Seperti janji saya sebelumnya, sebagai imbal balik dari setiap hal baik yang saya terima, sebisa mungkin akan saya balas langsung dengan chapter ekstra.
Sekian, terimakasih...!!!
Big Love!
(Follow akun Instagram SDC -@sevendeadlychild- untuk berbagai informasi menarik, seperti Sneak peek, informasi umum mengenai cerita, ilustrasi karakter, juga link untuk mendukung author)