Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
161 - Lembah Demonic Beast


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


"Ada tiga!" Gumam Theo. Menghitung aura berkelas diatas Emperor tahap Bumi yang saat ini berada pada wilayah Lembah Demonic Beast.


"Kwaaakkk…!!!"


*Boooommmm…!!!


Theo baru selesai dalam pemindaian yang ia lakukan, sampai tiba-tiba, seekor Demonic Beast kelas tinggi berwujud burung pemakan bangkai, bergerak menerjang kearahnya.


"Sial…!" Dengus Theo, bergerak cepat menghindari serangan menyelinap tersebut.


'Tantangan Lembah Demonic Beast Tartarus Land!'


Theo tampak bersiap melancarkan serangan balik pada pihak lawan, sebelum suara Kung-Peng, tiba-tiba terdengar di dalam kepalanya.


"Hmmmm…?" Gumam Theo, saat akhirnya mendengar lagi suara Kung-Peng.


'Kalahkan tiga Demonic Beast terkuat yang tinggal di wilayah Lembah ini!' Lanjut Kung-Peng. Memberi detail tantangan Lembah Demonic Beast pertama yang sekarang di kunjungi Theo.


"Cukup berat!" Ucap Theo. Begitu Kung-Peng selesai menyampaikan detail tantangan.


"Kwaaakkk…!!!"


*Woooshhhh…!!!


Theo bergerak cepat mundur beberapa langkah saat melihat Demonic Beast burung pemakan bangkai, kembali melancarkan serangan dengan liar.


"Roaaarr…!!!"


"Groooooaaaahhh…!!!"


"Kiieeekkkkkk…!!!"


"Wahhh… Ini buruk!" Ucap Theo, saat melihat kini bukan hanya burung pemakan bangkai yang bergerak menyerang.


Dari berbagai arah yang berbeda , puluhan penghuni Lembah Demonic Beast yang berada pada lokasi dekat Theo, mulai bergerak mengikuti langkah burung pemakan bangkai.


Theo yang merasa kini dalam situasi sepenuhnya terkepung, mulai memasang raut wajah sangat serius. Menghimpun serta memadatkan aliran Mana Cahaya dalam tubuhnya.


*Wuuungg…!!!


Aksi Theo, diiringi dengan suara dengungan keras begitu aliran Mana Cahaya, terkompres padat pada seluruh bagian tubuhnya. Menyebabkan sosok Theo saat ini berubah bagai sebuah miniatur matahari kecil yang menyilaukan mata. Cahaya terang benderang, memancar dari dalam tubuhnya.


Puluhan Demonic Beast ganas penghuni Lembah yang sebelumnya maju menerjang, segera melambatkan langkah masing-masing. Berteriak liar seolah sangat marah dengan adanya atribut Mana Cahaya yang sekarang memasuki wilayah mereka.


"Rantai Cahaya Pengikat Jiwa!"


Dibawah deru teriakan marah rombongan Demonic Beast ganas,  Theo secara tiba-tiba mengeksekusi suatu teknik.


*Woooshhhh…!!!!


Aliran Mana Cahaya yang sebelumnya terkompresi pada tubuh Theo, terhempas keluar. Menyebar luas untuk sesaat sebelum berubah menjadi ratusan rantai cahaya.


"Rantai induk!" Gumam Theo, mengeksekusi teknik lanjutan.


*Sraaaakkkk…!!!


Rantai berbentuk cahaya kembali keluar dari dalam tubuh Theo, tepatnya dari dalam bagian dada. Namun ada perbedaan tertentu dari rantai cahaya yang keluar dari dalam dada Theo kali ini, jika sebelumnnya semburat yang keluar adalah ratusan rantai, kali ini hanya satu buah rantai. Sebuah rantai dengan pancaran cahaya lebih terang dari ratusan rantai lain.


*Sraaaakkkk…!!!


*Sraaaakkkk…!!!


*Klangg…!!!


*Klaanggg…!!!


Ratusan rantai cahaya yang sebelumnya menyebar luas, segera tertarik dan menyatu dengan rantai yang terikat pada dada Theo. Rantai di dada tersebut, menjadi semacam simpul yang menarik seluruh rantai lain.


Ratusan rantai yang telah terikat menjadi satu, kini bergerak melayang ringan disekitar tubuh Theo.


Sementara Theo sendiri yang berada dalam selimut ratusan rantai cahaya, tampak mulai menyebar aura King tahap Surga kesegala arah. Sepenuhnya memindai area sekitar.


"Kwaaakkk…!!!"


*Woooshhhh…!!!


Menyebarkan aliran Mana Angin yang bercampur Mana Kegelapan intens, sang Demonic Beast tampak membuat gerakan menghujam kedua cakar yang di tujukan pada kepala Theo.


*Sraaaakkkk…!!!


Namun, baru setengah langkah Demonic Beast burung pemakan bangkai menerjang, salah satu dari ratusan rantai cahaya yang sebelumnya masih melayang ringan di sekitar tubuh Theo, tiba-tiba melaju cepat. Bergerak untuk kemudian mendaratkan sebuah serangan yang mengetuk dada sang Demonic Beast.


*Sraaaakkkk…!!!


Pihak lawan baru sedikit terdorong mundur kebelakang sampai Theo yang mengendalikan seluruh rantai cahaya dengan rantai induk, mengirim salah satu rantai cahaya lainnya, kali ini bergerak cepat mengikat leher Demonic Beast burung pemakan bangkai. 


"Kaaakkk…!!!"


Sang Demonic Beast, segera tercekat saat rantai cahaya kedua, menjerat ketat leher rampingnya. Jelas sedang kesulitan bernafas. Merasa sangat kesakitan.


Namun, teriakan penuh rasa sakit dari pihak lawan, justru disambut oleh Theo dengan semakin mengencangkan jerat rantai cahaya.


"Kaaaa…!!!"


Tubuh Demonic Beast burung pemakan bangkai, mulai jatuh ketanah. Menggeliat seperti sedang meminta pertolongan untuk nyawanya.


"Roaaarr…!!!"


"Groooooaaaahhh…!!!"


"Kiieeekkkkkk…!!!"


Theo yang masih fokus mempertahankan jerat rantai pada leher pihak lawan, segera terpecah konsentrasinya saat mendengar teriakan-teriakan liar di sekitar yang sebelumnya sempat mereda akibat pancaran kemilau Mana Cahaya, kini untuk sekali lagi menderu keras. Puluhan Demonic Beast yang sempat menghentikan langkah karena waspada, mulai kembali menerjang maju. Hampir secara bersamaan.


"Hmmmm…!" Gumam Theo. Menyambut serangan gelombang besar Demonic Beast, dengan memainkan kedua tangan.


Ratusan Rantai cahaya yang melayang ringan, segera bergerak cepat menyebar. Menuju masing-masing Demonic Beast yang sedang bergerak mendekat untuk menyerang.


*Sraaaakkkk…!!!


*Draakkkkk….!!!


*Klang…!!!


*Klaang…!!!


Suara gemerincing rantai-rantai cahaya, terdengar nyaring ketika bagian-bagian tubuh Demonic Beast, mulai terikat dalam jeratan intens.


Suara gemerincing tersebut, juga diiringi oleh teriakan ganas para Demonic Beast yang mencoba untuk melepaskan diri.


Teriakan-teriakan yang menyebabkan suasana lingkungan sekitar, berubah menjadi sangat mencekam.


"Hmmmm…!!! Ini buruk!" Gumam Theo. Saat ia yang masih berusaha menahan para Demonic Beast, merasakan gelombang serangan lain sedang bergerak mendekat dari arah kejauhan.


Pancaran Mana Cahaya serta keributan yang sedang terjadi, memancing para Demonic Beast lain yang tinggal di wilayah lembah, untuk datang mendekat.


"Oe…!!! Apa ini serius!" Gumam Theo. Begitu melihat dari arah kejauhan, gelombang ratusan Demonic Beast kelas tinggi, bergerak dalam langkah berderap sembari berteriak liar. Seluruhnya, sedang memfokuskan aura pada Theo begitu bisa melihat keberadaan sosoknya.


'Oe bocah! Sebenarnya apa yang sadang kau lakukan? Menggunakan Mana Cahaya di tempat seperti ini? Itu sama saja dengan kau sengaja mengetuk sarang lebah!' Ucap Ernesto tiba-tiba dari dalam sarung tangan kilat. Mengomentari aksi Theo yang dinilainya cukup sembrono.


'Diam kau ba*jingan!' Dengus Theo. Merasa kesal saat Ernesto selalu saja keluar dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan disaat yang tidak tepat.


Theo sendiri pada awalnya hanya ingin memanfaatkan kondisi Lembah Demonic Beast yang begitu pekat akan aliran Mana Kegelapan, untuk melatih kendali atas Mana Cahaya miliknya. Merasa bahwa lingkungan ditempat tersebut, akan sangat cocok digunakan sebagai sarana pelatihan. Karena bagaimanapun juga, kepekatan aliran Mana Kegelapan, jelas menjadi dorongan bagus bagi Mana Cahaya yang merupakan musuh alaminya.


Namun, situasi akhirnya berkembang diluar kendali saat Theo menyadari bahwa ia ternyata tak bisa bergerak secara sembarangan di dalam Lembah Demonic Beast sembari memancarkan Mana Cahaya.


Theo tak menduga bahwa perbedaan intensitas aliran Mana Kegelapan di Tartarus Land dimana berbeda jauh dengan Gaia Land, akan berpengaruh terhadap sensitivitas para Demonic Beast yang tinggal didalamnya. Menyebabkan mereka begitu peka terhadap aliran Mana Cahaya.


Digerakkan oleh insting, para Demonic Beast, segera bergerak mendekat dengan liar. Tampak begitu marah.


'Sekarang bagaimana kau akan menghadapi mereka? Dasar idiot! Cepat kabur!' Seru Ernesto. Dengan nada panik.


"Sudah kubilang diam!" Bentak Theo. Sembari mulai memasang seringai lebar.


"Meskipun memang diluar perhitunganku, namun itu cukup bagus juga! Karena sangat jarang aku berada dalam situasi seperti ini!" Lanjut Theo.


"Ini benar-benar membawa satu perasaan nostalgia tertentu! Mengingatkanku pada kehidupan di dalam Gerbang Dosa!"


"Kita mulai latihannya!" Seru Theo. Justru malah meledakkan aliran Mana Cahaya dengan lebih intens dari dalam tubuhnya.


Teriakan-teriakan liar segera semakin menderu. Hampir seluruh Demonic Beast kelas tinggi yang tinggal di dalam Lembah, kini terpancing untuk bergerak mendekat.


'Kau gila!' Ucap Ernesto.