Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
164 - Para Pemikul Tantangan


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


(Dunia yang seluruh permukaan-nya adalah air)


*Tapp…!!!


*Tapp…!!!


*Tappp…!!!


*Krakkk…!!!


Dengan langkah cepat, White Fang membuat gerakan memijak air. Dalam setiap pijakan kakinya sendiri, air akan membeku. Sementara diatas punggung Sang Sabertooth Salju, Hella dengan Tombak Es pada tangan kanan, menatap tajam kedepan.


Sosok Hella dan White Fang, saat ini terlihat begitu anggun dalam balutan armor yang sepenuhnya terbuat dari Es. Armor-armor indah berwarna biru tua yang di kenakan oleh Hella dan White Fang, merupakan Armor es yang di ciptakan Hella sendiri.


Dalam perjalanan menyelesaikan tantangan Kastil Raja Dewa Air, Hella yang membaur dengan penduduk lokal dunia tempat ia berada sekarang, berhasil mempelajari teknik penempaan unik.


Suatu teknik penempaan yang memanfaatkan aliran Mana dalam tubuh setiap orang, untuk ditempa dan digabung dengan aliran Mana yang menyebar pada alam sekitar, dijadikan kebentuk armor.


Dan dalam kasus Hella, Nona muda dari House of Asgard ini memakai aliran Mana Es milik White Fang, untuk ditempa menjadi armor Es. Armor es cantik nan menawan yang memiliki ketahanan lebih tangguh dari seluruh armor yang pernah dikenakan oleh Hella.


"Nona Hella! Kita sudah dekat!" Ucap satu dari lima orang yang sedari awal, mengikuti Hella di belakang.


Tak seperti Hella yang memakai armor Es membekap seluruh bagian tubuh, kelima orang ini, dimana seluruhnya adalah wanita, hanya memiliki armor yang terbuat dari Mana Air pada beberapa bagian tubuh saja. Sementara bagian lain yang tak tertutup armor air, mereka lindungi dengan armor logam biasa.


Hella yang mendengar kata-kata dari wanita sebelumnya, segera memerintahkan White Fang untuk menghentikan langkah. Berhentinya laju Hella, diikuti oleh kelima wanita yang ada di belakang.


"Hmmmm… Dimana lokasinya?" Tanya Hella, dengan pandangan menyapu sekitar. Segera mengerutkan kening saat merasa tak menemukan apapun selain hanya permukaan air luas sepanjang mata memandang.


Mendengar pertanyaan Hella, kelima wanita tak langsung memberi jawaban, setiap dari mereka terlihat tak hentinya memandang pada sosok Hella dengan sorot mata penuh kekaguman. Jelas sedang mengagumi armor Es yang dikenakan Hella dan White Fang.


"Nona! Jika kami mengatakan dimana lokasinya, apakah kau benar-benar akan memberi rahasia tentang bagaimana menempa armor seperti milikmu?" Tanya salah satu wanita.


Mendengar itu, Hella segera menoleh.


"Aku bukanlah tipe orang yang akan dengan mudah menarik lagi kata-kataku!" Ucap Hella.


"Setelah sampai di lokasi, dengan segera akan kuberitahu bagaimana menyelaraskan teknik penempaan kalian! Sehingga kalian bisa menciptakan armor penuh yang menutup seluruh bagian tubuh!" Lanjut Hella.


Jawaban Hella, segera disambut dengan raut wajah antusias oleh kelima wanita. Setiap dari mereka mulai saling pandang satu sama lain, sebelum akhirnya melakukan gerakan segel tangan.


*Wunggggg…!!!


*Woooshhhh…!!!


Formasi tercipta. Bersama dengan itu, sebuah benda berukuran raksasa yang memiliki bentuk layaknya pilar logam berwarna hitam pekat, menyeruak keluar dari dalam permukaan air tak jauh dari lokasi Hella berada.


'Tantangan Kastil Raja Dewa Air! Cabut 4 Paku Semesta yang membelenggu dunia!'


Suara Kung-Peng, tiba-tiba terdengar didalam kepala Hella bersama dengan munculnya logam hitam raksasa.


"White Fang! Maju!" Ucap Hella, tanpa menunda segera bergerak cepat menerjang kedepan.


*Boooommmm…!!!


White Fang menerjang, mendobrak dan akhirnya menerobos masuk kedalam sebuah pintu yang ada di tengah pilar logam.


*****


(Dunia dengan aroma wangi semerbak serta berbagai macam tumbuhan raksasa mekar dimanapun mata memandang)


"Mundur! Nona cepat mundur!"


Iris bergerak cepat mengikuti sebuah seruan mundur. Nona muda Eleanor Tribe tersebut, tampak sedang bersama sekelompok makhluk aneh berwujud tanaman yang bisa bergerak dan berbicara.


'Tantangan Kastil Raja Dewa Air! Selesaikan konflik perang antar ras yang telah berlangsung selama ratusan tahun!'


Suara Kung-Peng, terdengar di dalam kepala Iris.


"Menyelesaikan konflik diantara mereka? Apa kau benar-benar serius?" Ucap Iris. Dengan raut wajah buruk. Benar-benar tak menyangka bahwa tantangan yang harus ia selesaikan, adalah untuk menghentikan konflik antar ras.


Raut buruk pada wajah Iris, berubah menjadi semakin buruk saat suara Kung-Peng tak lagi terdengar. Hanya keheningan yang menyambut pertanyaanya.


"Sialan!" Maki Iris. Menoleh kebelakang untuk sekilas melihat rombongan makhluk menyeramkan yang sedang mengejar.


****


(Dunia yang berkecamuk dalam badai dahsyat menghiasi langit setiap saat)


*Blaaaarrrr….!!!


Jilatan Halilintar dahsyat, menghujam sebuah puncak bukit kecil. Dalam sekejap segera menghancurkan bukit tersebut menjadi serpihan tak bersisa.


"Anak muda! Kau masih bisa bertahan?"


Dalam suasana yang masih riuh dengan gelegar halilintar, seorang nenek tua berteriak lantang kearah bekas bukit kecil berada.


Pada lokasi itu sendiri, tampak sosok Dante dengan tubuh penuh balutan luka, berdiri tegak menatap langit. Sudah dalam wujud Meridian Knight Qilin Petir.


"Tentu saja aku masih bisa bertahan! Kau cukup mengambil jarak tertentu agar tak mati!" Ucap Dante. Tanpa menoleh kearah sang nenek tua. Tatapan matanya, masih terfokus kearah langit. Seperti sedang mencari sesuatu.


Sorot mata Dante, berubah penuh ketajamam saat akhirnya menemukan yang sedang ia cari. Seekor makhluk raksasa berbentuk belut, diselimuti aliran Mana Listrik pekat sedang berenang diatas awan badai.


Nenek tua sendiri, segera memasang wajah ngeri saat juga berhasil menangkap Keberadaan sosok raksasa yang berenang dalam lautan awan badai diatas langit tersebut.


"Dewa…! Dewa dunia!" Gumam sang nenek tua. Berlari mundur untuk mencari tempat perlindungan.


Disisi lain, Dante justru mengambil langkah berlawanan dengan sang nenek tua. Ia menerjang maju, melompat keatas puncak bukit lain sembari mulai menghimpun aliran Mana Listrik pada tangan kanan untuk membentuk sebuah tombak listrik raksasa.


"Hooooaaarrgggghhhh….!!!"


Dante berseru lantang tepat ketika ia sampai di puncak bukit. Bersama seruan lantangnya, tombak listrik yang sedari tadi ia himpun pada tangan kanan, dihujam dengan seluruh tenaga keatas langit.


*Woooshhhh….!!!


Tombak listrik melaju kencang membelah udara dan menembus kepulan awan badai.


Tantangan yang di terima Dante dari Kung-Peng. Adalah mengalahkan dewa dunia, tempat saat ini ia berada.


*****


(Sebuah dunia yang disebut oleh para penduduk lokal dengan nama 'Bumi')


"Tenangkan pikiranmu! Capai sebuah situasi dimana kau berada diantara ingin, dan tak ingin!"


"Keseimbangan mental sempurna!" Ucap seorang kakek tua. Dimana saat ini sedang berada dalam posisi duduk bersila dibawah guyuran sebuah air terjun raksasa nan deras.


Tepat di sebelah kakek tua bermeditasi, sosok Sinbad yang juga dalam posisi meditasi sama dengan sang kakek, tampak memejamkan mata. Namun tak seperti kakek tua yang memiliki raut wajah tenang, Sinbad terlihat begitu gusar.


"Haaahhhh….!!! Kakek tua! Itu mustahil berada dalam kondisi yang kau sebutkan tadi!" Bentak Sinbad. Membuka mata.


"Berada diantara ingin dan tak ingin, bagaimana seorang manusia memiliki mental seperti itu? Setiap manusia, pasti memiliki suatu hasrat tak tertahan dalam dirinya!" Lanjut Sinbad.


Keluhan Sinbad, nyatanya tak mendapat reaksi berlebihan dari sang kakek. Ia terlihat masih memejamkan mata. Sebelum mengambil nafas panjang.


"Keseimbangan sempurna, memang tak bisa dicapai oleh sembarang manusia!" Ucap sang kakek tua.


"Itu terus yang kau ucapkan ratusan kali dalam beberapa bulan ini! Beri penjelasan yang lebih spesifik!" Dengus Sinbad.


Kakek tua yang mendengar Sinbad kembali mengeluh, kali ini hanya membalas dengan helaan nafas panjang. Menggeleng singkat sebelum jatuh pada meditasi mendalam. Keberadaannya seolah lenyap. Bersatu dengan alam sekitar.


"Kung-Peng sialan! Tantangan macam apa ini sebenarnya! Mencapai kondisi Anata?"


"Itu akan lebih baik jika tantangannya adalah mengalahkan dewa atau boss monster tertentu seperti Kastil-kastil Raja Dewa lainnya!" Gumam Sinbad. Merasa sangat kesal dengan jenis tantangan yang harus ia selesaikan.