Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
146 - Peta Tua


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Hahhaha…!!! Kita kaya! Desa Kita kaya raya!" Seru para penduduk desa.


Peristiwa serangan gelombang Demonic Beast yang sebelumnya dianggap sebagai sebuah malapetaka, kini justru berubah menjadi anugerah saat para penduduk desa, melihat mayat-mayat berharga dari puluhan Kalajengking Haus Darah berserakan di sekitar desa-nya.


*Tap…!!!


Dibawah sorak sorai para penduduk, Theo melakukan pendaratan ringan tepat di tengah kerumunan, dimana saat ini berada di sekitar pintu gerbang.


"Tunggu apa lagi? Mereka semua milik kalian!" Ucap Theo. Sembari memasang senyum sederhana. Tatapan matanya, terarah pada pak tua Gaho.


"Hahahha…! Tim perburuan! Segera berkerak!" Teriak Gugio, memberi intruksi pada tim-nya tanpa menunggu pak tua Gaho.


"Siap…!!"


"Oke…!!"


"Kita kaya!"


Para pemuda anggota tim perburuan, termasuk juga Gris, dengan wajah bersemangat mulai bergerak untuk melakukan proses pemilahan.


"Oe…! Jumlah tubuh Kalajengking Haus Darah yang perlu di pilah sangat banyak! Jadi, para lelaki dan juga wanita yang masih cukup memiliki tenaga! Harap bantuannya juga!" Seru Gugio lagi.


Permintaan Gugio, disambut dengan perasaan bahagia oleh para penduduk desa. Semua yang merasa mampu, bergerak untuk membantu. Menyisahkan kini hanya anak-anak dan orang tua yang masih tinggal di tempat.


"Wahhh… Kakak, siapa anda? Kenapa begitu baik kepada kami?" Ucap salah satu gadis kecil, berlari mendekat untuk menatap Theo dengan sorot mata penuh kekaguman.


"Yahhh…!! Kau kuat sekali kak! Sungguh keren!" Sahut bocah lain.


"Bagaimana agar aku bisa menjadi kuat sepertimu?" Bocah-bocah desa, mulai mengerumuni Theo.


"Bukan cuma kuat, dia juga sangat murah hati! Setelah membantu untuk menghentikan serangan Demonic Beast, ia memberi semua kepada desa!" Ucap seorang wanita tua yang kini juga ikut mendekat kepada Theo.


"Anak muda! Apa kau masih lajang? Aku punya seorang cucu yang cukup cantik dan menawan!" Sahut wanita tua lain.


"Hei…! Kalau masalah itu, cucuku jelas lebih cantik dari pada cucumu!" Tanggap wanita tua yang pertama berbicara. Memasang wajah sengit.


"Hmmmm… Bukankah cucumu sudah bertunangan?"


"Hmmmm… Cuma bertunangan! Asal belum menikah, bukankah bisa di batalkan kapan saja!"


Suasana berubah menjadi semakin riuh ketika para bocah dan orang tua, berebut untuk menarik perhatian Theo.


"Maaf…! Aku hanya penjelajah yang mungkin cuma singgah barang sejenak, jadi mohon jangan terlalu berlebihan!" Ucap Theo. Menanggapi kerumunan disekitar sembari memasang senyum sederhana.


*Tapp…!!!


Sebelum kemudian, tanpa menunggu tanggapan dari orang-orang yang berkerumun, sosok Theo tiba-tiba menghilangkan. Muncul kembali tepat di sebelah pak tua Gaho.


"Tuan kepala Desa, sepertinya kita punya kesepakatan!" Ucap Theo.


Perkataan Theo, ditanggapi oleh pak tua Gaho dengan memasang raut wajah tak sedap.


"Ikut aku!" Jawab pak tua Gaho singkat, tanpa menoleh kepada Theo. Sembari mulai berjalan meninggalkan tempat.


***


(Kediaman kepala desa)


Pak tua Gaho, ternyata berjalan untuk kembali menuju kediaman-nya.


Dan begitu telah sampai di dalam ruang jamuan makan sebelumnnya, Ia meminta kepada Theo untuk menunggu. Sementara pak tua Gaho sendiri, memasuki salah satu ruang lain yang bersebelahan dengan ruang jamuan makan.


"Ohhh… Urusan di luar sudah selesai?" Tanya Theo.


"Belum, tapi aku merasa keberadaanku dan Gris, akan lebih berguna disini! Jadi kuputuskan memberi arahan kepada para anggota tim perburuan untuk melanjutkan dan memimpin proses pemilahan!" Jawab Gugio. Dari nada bicara serta raut wajahnya, jelas sekali Gugio kini tak lagi memiliki kecurigaan apapun kepada Theo.


Disisi lain, Gris yang juga ikut masuk bersama Gugio, segera mengambil tempat duduk tepat di sebelah Theo. Tak henti memasang senyum indah nan menawan.


"Tuan muda, bukan hanya kuat, kau sepertinya juga cukup ahli dalam seni meminum teh!" Ucap Gris. Membuka obrolan. Tampak sengaja mendekatkan wajah pada Theo.


Tindakan yang membuat Gugio, mulai tersenyum canggung ketika melihatnya.


"Wanita muda! Jangan terlalu bersemangat! Itu akan buruk jika kakekmu melihat apa yang coba kau lakukan sekarang!" Ucap Gugio.


Mendengar kata-kata Gugio yang sebenarnya ditujukan untuk sekedar menggoda, Gris justru menanggapi dengan memasang raut wajah kesal.


Gadis ini terlihat akan menanggapi, sampai pintu ruangan sebelah yang awalnya tertutup, tiba-tiba terbuka.


"Memang apa yang sedang ia coba lakukan?" Ucap pak tua Gaho tepat ketika sosoknya melangkah keluar. Menatap tajam kearah Gris yang saat ini sedang duduk dalam posisi sangat dekat dengan Theo.


Sementara Gris sendiri, dengan cepat segera mengambil jarak begitu melihat tatapan mata kakek-nya.


"Hmmmm…" Dengus pak tua Gaho. Seraya mulai mengambil posisi duduk bersila.


Theo sendiri, segera melirik gulungan kertas yang saat ini ada ditangan pak tua Gaho.


"Ingat, kau hanya meminjam!" Ucap pak tua Gaho. Membuka tali pengikat gulungan, untuk mulai melebarkan peta pada lantai ruangan.


Peta yang telah sepenuhnya terbuka, tentu saja segera menarik perhatian setiap orang yang ada di ruangan. Karena selain pak tua Gaho yang merupakan kepala desa, belum ada yang pernah melihat gambaran peta secara langsung. Termasuk juga Gugio dan Gris.


Theo sendiri, bisa melihat bahwa peta yang tampak sudah sangat tua tersebut, sepenuhnya tak memiliki judul yang biasa akan dimiliki tiap peta pada bagian paling atas.


Yang tergambar pada peta, hanya deretan titik-titik wilayah tertentu yang telah di beri tanda silang.


"Tanda dengan lingkaran merah, adalah lokasi dari Desa Teria!" Ucap pak tua Gaho, mulai memberi penjelasan sembari menunjuk peta.


"Dan lokasi yang sedang kau cari, Lembah Demonic Beast, ada pada wilayah ini, ini, dan ini!" Lanjut pak tua Gaho, menunjuk lima lokasi yang di beri tanda silang merah pada peta.


Mendengar penjelasan pak tua Gaho, Theo segera mengerutkan kening. Tak menduga bahwa Lembah Demonic Beast, ternyata merupakan lima lokasi yang berbeda.


Namun, kerutan di dahi Theo hanya bertahan untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menghilang.


"Hmmmmm… Baiklah! Aku mengerti!" Tanggap Theo.


Mendengar itu, pak tua Gaho mulai menggulung lagi peta. Sebelum mengikat seperti sedia kala.


"Anak muda! Sebenarnya apa yang kau cari di tempat-tempat itu? Asal kau tahu, seluruh Lembah Demonic Beast, adalah lokasi terlarang di atas Benua Azure ini!"


"Terlarang karena memang merupakan lokasi yang sangat berbahaya! Seperti namanya, disana merupakan lokasi tempat ratusan jenis Demonic Beast kuat membangun sarang!" Ucap pak tua Gaho.


Kata-kata pak tua Gaho, hanya disambut oleh Theo dengan kembali memasang senyum tipis sederhana.


"Tuan kepala desa, terimakasih atas peringatannya! Tapi aku akan tetap pergi!"


"Untuk alasan kenapa? Mohon maaf, aku tak bisa memberi penjelasan! Itu akan terlalu rumit!" Ucap Theo.


"Terserah! Lagipula, aku sedang tak memberi peringatan! Cuma penasaran saja!" Tanggap pak tua Gaho. Memasang wajah acuh.


"Baiklah! Jadi, siapa orang dari desa kalian yang akan ikut bersamaku sebagai pemegang peta?" Tanya Theo.


Seperti kesepakatan awal, pak tua Gaho hanya akan sepakat meminjamkan peta dengan syarat salah satu orang desa Teria, ikut bersama Theo sebagai pemegang peta.


Theo sendiri, sebenarnya justru merasa diuntungkan dengan syarat tersebut. Karena bagaimanapun juga, ia adalah orang asing di Tartarus Land. Sehingga akan sangat memudahkan jika ada penduduk asli yang jelas telah memahami wilayah sekitar, pergi bersamanya untuk membaca peta.


"Gugio, kau bersedia untuk menjalankan tugas ini?" Tanya pak tua Gaho. Menyerahkan tugas membawa peta dan menemani Theo, pada Gugio.


"Tak masalah!" Jawab Gugio singkat.


"Baiklah! Kalau begitu, sudah di putuskan!" Ucap pak tua Gaho. Namun, baru sedetik ia menyelesaikan kalimatnya…


"Aku juga ikut!"


Gris, menyuarakan keinginannya untuk ikut serta dalam perjalanan Theo menuju Lembah Demonic Beast.