Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
101 - Eleanor Tribe Bergerak


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Serangan ganda dua arah pada Laut Nila!" Potong Sinbad.


Kalimat yang disambut Dante dengan anggukan kepala singkat.


"Itu benar!" Ucap Dante.


"Tak ada alasan lain pihak Eleanor Tribe yang selama ini terus bersikap pasif, secara tiba-tiba bergerak dengan kekuatan penuh! Selain berniat hendak menggempur wilayah Laut Nila bersama dengan Kelompok Bandit Serigala dari arah wilayah Laut Biru!"


Jawaban Dante, disambut oleh keheningan total. Setiap orang menatap tajam kearahnya untuk menunggu ia melanjutkan dan menyelesaikan kalimatnya.


"Berkenaan dengan itu pula, kusarankan agar kita membagi sebagian besar pasukan utama di wilayah Laut Ungu ini, untuk bergerak ke wilayah Laut Nila!" Ucap Dante. Dibawah tatapan tajam mata setiap orang, menutup semua penjelasan dengan memberi saran.


Disisi lain, Sinbad yang juga mendengar saran Dante, nyatanya tak segera memberi tanggapan. Ia terlihat mengerutkan kening sembari menatap kearah atas untuk beberapa waktu. Jelas sedang memikirkan sesuatu.


"Hmmmm… Bagaimana dengan situasi perbatasan wilayah Laut Hijau?" Tanya Sinbad tiba-tiba.


Pertanyaan tiba-tiba dari Sinbad yang seperti tak berhubungan dengan situasi genting wilayah Laut Nila, segera membuat Dante ikut mengerutkan kening.


Bagaimanapun juga, Laut Hijau yang ditanyakan oleh Sang Kapten, bukanlah wilayah yang berbatasan dengan wilayah Laut Nila, dimana sekarang sedang dalam situasi genting.


Laut Hijau, justru adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan Laut Ungu, tempat sekarang mereka berada. Pulau Api Getaran, markas besar Aliansi 7 Lautan.


Kerutan kening Dante, bertahan untuk beberapa saat, sampai kemudian menghilang ketika ia yang sebenarnya masih belum paham dengan arah jalan pikiran Sinbad, akhirnya memutuskan untuk hanya memberi laporan.


"Kapal-kapal perang Kelompok Bandit Serigala masih berada disana! Menghadap lurus kewilayah Laut Ungu kita!" Jawab Dante.


"Menurut dugaanku, mereka hanya berniat melakukan pengalih perhatian dengan seperti menjaga perbatasan, sebelum akhirnya melakukan gerakan mendadak ke wilayah Laut Biru, ikut menggempur wilayah Laut Nila dari sana! Bergabung dengan Eleanor Tribe!" Lanjut Dante. Kembali menyampaikan pemikirannya.


"Bahkan, mungkin saja sekarang sebagian besar dari kelompok mereka sudah mulai bergerak ke wilayah Laut Biru dalam langkah senyap!" Tutup Dante.


Penjelasan Dante, nyatanya justru disambut oleh senyum lebar mengembang pada wajah Sinbad.


"Kau salah!" Ucap Sinbad.


"Hari ini juga, cukup kirim 5000 pasukan yang dipimpin oleh 1 Naga untuk membantu pertahanan Laut Nila! Sementara 9 Naga yang lain, bersama 15.000 pasukan yang tersisa, tetap tinggal!" Tutup Sinbad. Kini menambah senyum lebar, dengan ekspresi wajah antusias.


"Apa? Sin…!"


Intruksi aneh Sinbad, segera menyebabkan Dante dan juga para 10 Naga, mulai menatap kearahnya dengan pandangan ganjil, tak mengerti kenapa Sinbad malah memutuskan untuk mempertahankan pasukan utama di Laut Ungu.


"Hahahhaa…! Ini akan menarik! Boss Besar kelompok Bandit Serigala! Meskipun kita belum pernah saling bertemu, namun harus kuakui bahwa kau dan aku, adalah jenis yang sama! Seorang penakluk!" Gumam Sinbad. Berbicara dengan dirinya sendiri. Sepenuhnya mengabaikan tatapan ganjil setiap orang yang ada di dalam ruangan.


"Kuterima tantanganmu ini dengan tangan terbuka lebar! Hahahhahaha…!!!" Seru Sinbad. Mulai tertawa lantang.


'Hmmmm… Sepertinya keputusanku untuk menerima tawaran dari Barbarian Tribe satu minggu yang lalu sudah sangat tepat!' Gumam Dante. Seraya melangkah pergi meninggalkan ruangan.


***


Kapal-kapal perang dengan bendera Eleanor Tribe berkibar gagah pada tiap-tiap tiang layar utama, kini sedang melakukan pergerakan dalam gelombang besar menuju kearah perbatasan wilayah Laut Nila.


Memimpin di ujung paling depan, adalah sebuah kapal perang raksasa berukuran 3 kali lipat dari kapal perang lainnya. Diatas dek kapal perang itu sendiri, beberapa orang yang memiliki aliran Mana begitu mendalam, sedang berdiri tegak menatap kedepan.


Kelompok orang ini, tak lain adalah para tetua Eleanor Tribe. Berdiri dengan wajah sedikit menunduk, dalam posisi dibelakang punggung satu sosok wanita.


Sementara Fairley dan Iris, tampak mengapit wanita tersebut pada sisi kanan dan kirinya.


"Ibu! Dengan adanya diriku, apa itu perlu untuk kau ikut langsung dalam rencana penyerangan ini?" Tanya Fairley. Kepada sosok wanita di sebelahnya, yang tak lain adalah ibunya, Khan Eleanor Tribe.


"Hmmmm… Dengan kondisi konyol penuh luka yang kau alami saat kembali dari misi mengunjungi Kelompok Bandit Serigala, apa kau pikir aku akan dengan bodoh menyerahkan misi penting ini sepenuhnya kepadamu?"


"Membiarkan kau memimpin pasukan besar untuk bekerjasama dengan Kelompok Bandit yang Boss Besarnya sempat membuatmu dalam kondisi meregang nyawa?" Dengus Khan Eleanor Tribe. Begitu mendengar kata-kata putranya, Fairley.


Disisi lain, mendengar kata-kata balasan yang begitu tajam keluar dari mulut ibunya, Fairley segera mulai menggertakkan gigi. Ia tampak benar-benar benci saat ada orang yang kembali membahas tentang hasil akhir pertarungannya melawan Theo di Pulau Lotus Merah tersebut.


"Iris!" Dengus Fairley. Merasa kesal pada sang adik yang telah melaporkan situasi kunjungan kepada ibunya.


"Apa? Aku hanya menyampaikan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri! Kau datang hanya untuk membuat kacau!" Dengus Iris balik.


"Hmmmm… Katakan saja itu karena kedatanganku, membuatmu tak lagi bisa melanjutkan kegiatan menebar pesona pada Boss Besar Bandit Serigala sialan itu!" Ucap Fairley.


"Diam kau!" Bentak Iris. Wajahnya memerah. Percampuran antara malu dan marah di waktu bersamaan.


"Kalian berdua diam! Sama-sama tak berguna dan memalukan!" Dengus Khan Eleanor Tribe. Sembari sedikit menyebarkan aura Emperor tahap Surga dalam tubuhnya.


Sedikit aura yang bocor, segera menyebar pada dek kapal perang. Menyebabkan setiap orang merasa tertekan. Termasuk Fairley dan Iris yang seketika menutup mulut masing-masing.


"Satu bersikap layaknya gadis desa dungu yang mengejar lelaki antah berantah! Tak paham dengan kedudukannya!" Gumam Khan Eleanor Tribe, melirik kearah Iris.


"Sementara satunya lagi, dengan bodoh melakukakan tantangan, meskipun belum tahu benar kedalaman kekuatan lawan! Berakhir kalah dengan sangat konyol dan memalukan!" Lanjut Khan Elaenor Tribe, kini ganti melirik kearah Fairley.


"Aku hanya memiliki dua anak! Dan keduanya benar-benar memalukan!!" Tutup sang Khan. Dengan intonasi nada dingin.


"Ibu…! Aku hanya kurang waspada! Jika ada kesempatan lagi, kupastikan hasilnya akan berbeda!" Jawab Fairley. Merasa tak terima direndahkan oleh ibunya sendiri di hadapan banyak tetua.


"Diam…! Reaksioner! Mudah kehilangan ketenangan dan terbawa situasi! Padahal kau adalah Tuan muda pertama Eleanor Tribe! Calon Khan generasi selanjutnya!" Bentak Khan Eleanor Tribe.


"Dengan sikap bawaanmu itu yang jelas dari garis darah ayahmu, kau hanya membuat masa pensiunku, akan berjarak lebih lama lagi! Benar-benar tak bisa diandalkan!" Lanjut Khan Elaenor Tribe. Kini benar-benar marah.


"Apa jadinya jika aku menyerahkan misi penyerangan ini hanya kepadamu? Bukan bekerjasama dengan para Bandit, kau pasti justru berusaha membuktikan diri! Bersaing dengan Boss Besar mereka!" Dengus Khan Eleanor Tribe. Semakin menambah tekanan aura kelas Emperor miliknya.


"Tetua pertama! Tetua kedua! Kalian ambil alih untuk sementara! Awasi dua bocah ini! Beri laporan ketika armada kita sudah akan sampai di perbatasan wilayah Laut Nila!" Ucap sang Khan, sebelum berbalik dan mulai berjalan memasuki kapal perang.


"Segera kabari juga saat Kelompok Bandit Serigala memberi pesan!" Tutupnya untuk terakhir kali.


"Baik…!"


"Akan hamba laksanakan!"


Jawab Tetua Pertama dan Tetua Kedua. Semberi kemudian, melirik kearah Fairley dan Iris.


Disisi lain, Fairley dan Iris, sempat saling tatap satu sama lain, sebelum akhirnya pergi.


Hubungan dua bersaudara ini, sepertinya memburuk pasca kembali dari misi pengawasan Kelompok Bandit Serigala.