Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
168 - Meridian dan Ranah Jiwa


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


*Bzzzzzttt….!!!


Derak listrik merah muncul kembali di suatu lokasi yang cukup jauh dari Lembah Demonic Beast.


"Uhuuukkk…!!!"


*Buuuuggg….!!!


Theo yang sosoknya muncul dari udara kosong, segera terbatuk, memuntahkan banyak sekali darah segar. Seraya kemudian, tubuhnya terjatuh kebelakang. Pada posisi terlentang menatap langit.


"Hahahahha….!!!"


"Hahhahaha…!!!"


"Hahhahahaha….!!!"


"Uhuukkk…!!!"


Dengan mulut masih bersimbah darah, Theo mulai tertawa lantang seperti orang gila. Terus tertawa sembari memasang seringai lebarnya yang khas. Tawa Theo hanya terputus saat ia untuk kesekian kalinya, memuntahkan darah segar.


'Kau idiot gila! Sungguh bodoh!' Dengus Ernesto tiba-tiba.


'Jika tantangan-nya adalah mengalahkan 3 Demonic Beast terkuat, kenapa justru memancing seluruh penghuni Lembah? Bukankah kau bisa saja bergerak dalam langkah senyap untuk mendatangi satu persatu Boss Lembah?' Tanya Ernesto. Benar-benar tak habis pikir dengan tindakan sembrono Theo di dalam Lembah Demonic Beast beberapa saat yang lalu.


"Oe roh gentayangan! Kenapa kau selalu sibuk mengomentari apapun yang kulakukan? Ini adalah hidupku! Tubuhku sendiri! Jadi itu terserah aku ingin melakukan apa! Parasit sepertimu, cukup mengamati dan menikmati hiburan!" Jawab Theo. Seraya mulai mengambil posisi duduk bersila.


'Tetap saja! Di dalam hidupmu, tak hanya ada dirimu sendiri!' Dengus Ernesto.


"Banyak omong! Dari awal aku tak pernah meminta kau menyelinap masuk kedalam Sarung Tangan Kilat yang telah ku kontrak!" Dengus Theo balik.


"Jadi, seperti yang sebelumnya kukatakan, jangan banyak berkomentar! Cukup nikmati hiburan yang tersaji!" Lanjut Theo. Kini mulai melakukan pemindaian pada lokasi sekitar.


'Hmmmm… bocah konyol keras kepala! Setidaknya, jelaskan padaku apa poin dari semua tindakan ceroboh tadi!' Dengus Ernesto. Masih tak terima dan terus mengejar.


"Adrenalin!" Jawab Theo.


"Sudah sangat lama tubuhku tak jatuh dalam situasi yang memicu adrenalin sedemikian intens seperti tadi!" Lanjut Theo.


"Aku butuh dorongan lebih agar bisa mencapai puncak dari kelas King tahap Surga! Mencoba menerobos penghadang terakhir agar bisa naik ke kelas selanjutnya! Seorang Emperor!"


"Dengan Adrenalin yang memuncak akibat kebutuhan untuk mempertahankan hidup, itu jelas adalah satu hal yang bagus untuk meningkatkan seluruh potensi tubuh!" Tutup Theo.


Mendengar jawaban Theo, Ernesto tak segera memberi tanggapan untuk beberapa saat. Hanya diam.


'Cara berlatih yang sungguh berlebihan! Suatu saat, kau akan mati konyol!' Tanggap Ernesto pada akhirnya.


"Hmmm… Tidak ada yang berlebihan atau konyol dengan cara berlatihku! Karena cara-cara tersebut, adalah hal yang membuat aku bisa sampai di posisi sekarang!" Jawab Theo. Seraya mulai berjalan dengan langkah tertatih menuju kesuatu arah.


"Orang yang tak berani mempertaruhkan segalanya dan mengambil resiko, tak akan pernah bisa mencapai puncak tertinggi! Sama halnya denganmu! Berakhir menjadi roh gentayangan setelah gagal menempa perangkat yang setara dengan Ancient Thing!" Tutup Theo.


Theo terus berjalan, langkahnya lambat karena harus menahan rasa sakit pada sekujur tubuh. Beberapa kali Theo juga sempat menghentikan langkah untuk sekedar mengatur nafas serta mengatur aliran Mana dalam tubuh yang bergejolak.


Selain mengatur nafas, langkah kaki Theo juga kerap terhenti karena merasa ada kelompok Demonic Beast yang bergerak dekat dalam posisinya. Menyebabkan Theo harus mengaktifkan teknik Ice Projection untuk beberapa saat. Mengaburkan keberadaan dari pandangan para Demonic Beast.


Tartarus Land, dengan para Demonic Beast ganas yang berkeliaran, benar-benar dunia yang penuh bahaya. Theo tak bisa membayangkan bagaimana umat manusia berhasil tetap mempertahankan eksistensi di dunia macam ini.


Sebagai perbandingan, bahkan di Gaia Land, tepatnya Glaire Empire, dimana sempat terjadi peristiwa gelombang Demonic Beast menyerang pemukiman umat manusia, itu sudah cukup untuk membuat beberapa House harus kehilangan pondasinya.


Kehilangan banyak Knight berbakat dalam proses memukul mundur para Demonic Beast. Termasuk juga House Alknight yang harus jatuh pada posisi terpuruk pasca memimpin House-House lain dalam peristiwa serangan Demonic Beast.


"Umat manusia dan insting bertahan hidupnya, memang bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan!" Gumam Theo. Melanjutkan langkah kaki untuk menuju sebuah celah sempit diantara dua bukit kecil.


Tepat ketika Theo telah memasuki celah perbukitan dan merasa bahwa lokasi sekitar cukup aman, ia segera mengaktifkan teknik Ice Projection. Sepenuhnya menutup area sekitar.


"Baiklah! Pertama, mari pulihkan kondisi Meridian yang tersayat cukup parah!" Gumam Theo. Mengeluarkan beberapa Pill obat.


Tanpa banyak membuang waktu, Theo menelan satu dari beberapa Pill obat yang telah ia keluarkan. Membiarkan aliran energi kehidupan yang berada dalam Pill, untuk mengalir secara alami kedalam garis-garis Meridiannya.


Setengah hari berlalu sampai Theo merasa Meridiannya sudah cukup dalam kondisi baik untuk bisa digunakan menyalurkan aliran Mana.


Theo menelan Pill obat lain, kali ini sembari menyalurkan aliran Mana Cahaya untuk menuntun luapan energi kehidupan dalam Pill, bergerak menuju Ranah Jiwa.


Setelah Meridian, Theo berencana memulihkan luka yang ada di dalam Ranah Jiwanya. Dimana juga cukup parah.


Proses pemulihan Ranah Jiwa sendiri, berlangsung lebih lama dari proses penyembuhan Meridian. Itu memerlukan lebih dari setengah hari sampai Theo merasa Ranah Jiwanya telah berkembang menjadi lebih baik.


"Hmmmm… Berjalan baik seperti yang kuinginkan!" Gumam Theo. Mulai membuka mata. Selesai dalam proses meditasi penyembuhan luka.


"Sepertinya, untuk waktu-waktu kedepan, aku perlu lebih sering memaksa diri jatuh dalam kondisi mengancam nyawa!" Lanjut Theo. Kini memasang seringai lebar. Terlihat sangat puas.


Bagaimana Theo tak puas, perjudian yang sempat ia lakukan, benar-benar berakhir dalam situasi yang ia inginkan.


Berkat memuncaknya adrenalin dalam pertempuran mengancam nyawa melawan ratusan Demonic Beast kelas tinggi, Meridian dan Ranah Jiwa Theo yang sempat terluka parah karena dipaksa oleh Theo dalam kondisi puncak hingga melebihi batas yang mampu ditahan, kini berkembang menjadi maju ketingkat atau level yang lebih tinggi setelah kembali pulih.


Theo bisa merasakan aliran Mana yang beredar dalam Meridian, berjalan lebih lancar dan cepat dari sebelumnya. Untuk Ranah Jiwa, volume penyimpanan Mana menjadi lebih luas. Membuat Theo bisa menyalurkan aliran Mana lebih banyak lagi kedalam Element Seednya.


Kenaikan level pada Meridian dan juga Ranah Jiwa, adalah hal yang sangat dibutuhkan Theo untuk saat ini. Karena dalam beberapa waktu belakangan, ia memang berada dalam situasi sulit untuk bisa naik ke puncak kelas King tahap Surga.


Bagaimanapun juga, Element Seed tipe Netral yang ia miliki, berkembang menjadi semakin sulit untuk dibudidayakan setiap kali Theo naik ke kelas lebih tinggi. Kebutuhan untuk suplai aliran Mana pada Element Seed Tipe Netral yang memang jauh dari normal karena memiliki enam jenis atribut Mana berbeda yang harus ditumbuhkan, tak mampu diimbangi oleh perkembangan Meridian serta Ranah Jiwanya.


Kesulitan yang harus dihadapi Theo, kemudian berkembang seperti jalan buntu saat ia terus memakai teknik Rage buatan Absolute. Karena teknik tersebut, meski tak lagi menyebabkan jatuhnya tingkat kultivasi berkat bantuan Lord Satan, tapi ganti memberi kerusakan pada garis-garis Meridian serta Ranah Jiwa.


"Hmmmm… Sekarang mari kita coba efek dari pengetahuan baru yang kudapat di dunia ini!" Gumam Theo, seraya kemudian, membuat gerakan mengayun tangan.


Bersama gerakan Theo, beberapa sisa tubuh Demonic Beast kelas tinggi yang sempat ia ambil dari Lembah Demonic Beast, terlontar keluar dari dalam gelang ruang-waktu.


"Makan!" Ucap Theo. Memasang seringai lebar. Sementara pada tangan kanan, derak Api Surgawi, mulai menyala terang.


----


Note :


"Like dan Komen setelah baca! Atau kupotong sesuatu yang ada disana!" Ucap Aria, sembari menatap tajam kesuatu arah.