
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Aku juga ikut!" Ucap Gris. Memasang tatapan tajam kepada pak tua Gaho. Seolah paham bahwa permintaannya ini, akan mendapat tentangan dari kakeknya tersebut.
"Kau bicara apa? Aku jelas tak akan memberi ijin! Lembah Demonic Beast, adalah tempat yang sangat berbahaya!" Ucap pak tua Gaho, memberi reaksi yang benar-benar sesuai perkiraan Gris.
"Hmmmm… Tepat awal bulan lalu, aku telah genap berusia 17 tahun! Memasuki usia dewasa!" Ucap Gris.
"Jadi kakek, kau tahu bahwa tak bisa lagi mengatur apa saja yang ingin kulakukan! Sama seperti halnya kau tak bisa melarangku ikut perburuan rutin desa!" Lanjut Gris.
"Aturan desa sudah jelas! Seorang penduduk desa yang telah berusia dewasa, dan juga mampu menapaki jalan Hunter dengan telah membuka Gerbang dalam ranah jiwanya, bebas untuk melakukan perjalanan keluar!" Tutup Gris.
"Kau…!"
Kata-kata Gris, segera membuat pak tua Gaho tak bisa memberi argumen balasan. Karena memang begitu adanya aturan turun temurun di desa Teria.
Sementara disisi berlawanan, Gris yang melihat kakeknya tak bisa berkata-kata, kali ini mulai memasang raut wajah puas penuh kemenangan.
Suasana, segera berubah hening. Baik itu Theo atau Gugio, memutuskan hanya diam dan memperhatikan. Sama sekali tak ingin terlibat dalam perdebatan antar kakek-cucu di hadapan mereka saat ini.
"Gugio!"
Sampai akhirnya, kebeningan pecah saat pak tua Gaho tampak kembali menemukan ketenangan.
"Hmmmm…" Gumam Gugio, menanggapi pak tua Gaho.
"Tolong awasi gadis pembangkang ini dengan baik!" Ucap pak tua Gaho.
"Oke…!" Jawab Gugio.
"Dan kau anak muda! Jangan sekali-kali mencari kesempatan! Jauhi cucuku!" Tambah pak tua Gaho. Kini menatap tajam kearah Theo.
"Kau bisa tenang!" Jawab Theo singkat.
Sementara Gugio, justru mulai memasang raut wajah canggung saat mendengar peringatan yang ditujukan pak tua Gaho kepada Theo.
'Hmmmm… Jelas sekali itu cucumu yang akan terus mencari kesempatan!' Gumam Gugio dalam hati.
Disisi lain, Gris segera menatap kearah Theo dengan tatapan penuh keantusiasan, senyum cerah tak henti terpahat di wajahnya.
Gugio sempat melirik bergantian kearah pak tua Gaho dan Gris untuk sesaat, sebelum tatapannya, berhenti pada Theo.
"Tuan muda, apa kau sedang terburu-buru?" Tanya Gugio.
"Karena bagaimanapun juga, aku masih harus menyelesaikan urusan menjual sumberdaya yang di dapat dari tubuh Kalajengking Haus Darah ke kota terdekat!" Lanjut Gugio.
"Dengan sumberdaya berharga sebanyak itu, akan berbahaya jika hanya diserahkan pada para pemuda! Mereka masih kurang pengalaman! Terlebih lagi, cuma aku yang memiliki relasi cukup terpercaya di kota!" Tutup Gugio.
"Hmmmm…"
Mendengar kata-kata Gugio, Theo terlihat berfikir untuk beberapa saat.
"Sebenarnya aku memang cukup terburu! Tapi itu tak masalah jika kau menyelesaikan urusanmu dulu! Lagipula, aku juga tertarik untuk ikut mengunjungi kota!" Ucap Theo.
Seperti yang telah disampaikan oleh Theo, ia sebenernya memang tak ingin terlalu banyak membuang waktu. Segera menyelesaikan tantangan dan kembali ke dunia asal.
Namun, setelah berfikir ulang, Theo yang dapat menduga bahwa tantangan dari Kastil Raja Dewa Air pastinya akan cukup berat, terlebih lagi setelah mengetahui fakta bahwa lokasi tantangan, yakni Lembah Demonic Beast ternyata adalah lima tempat berbeda, ia akhirnya memutuskan untuk membuat persiapan terlebih dahulu.
Di kota, Theo ingin mencari bahan-bahan yang mungkin bisa ia gunakan untuk meracik beberapa pill obat sebagai bekal menyelesaikan tantangan, sembari berniat menunggu waktu pengisian ulang Mana Listrik Mutasi pada Sepatu dan Sarung tangan kilat selesai, agar kembali bisa digunakan ketika nanti ia telah sampai di Lembah Demonic Beast.
"Terimakasih atas pengertiannya!" Jawab Gugio.
"Namun, proses menjual akan memakan waktu yang agak lama, karena sumberdaya yang kita jual, luar biasa banyak! Jadi kita mungkin perlu beberapa kali melakukan perjalanan ke kota!" Tambah Gugio. Memasang raut wajah tak enak hati kepada Theo.
Kata-kata Gugio, segera disambut Theo dengan kerutan kening. Bukan karena keberatan dengan proses yang memakan waktu cukup lama, melainkan menjadi heran.
"Apa kalian tak memiliki item ruang penyimpanan?"
Mendengar pertanyaan Theo, kini ganti Gugio yang mengerutkan kening. Tak hanya Gugio, Pak tua Gaho dan Gris, juga tampak memasang raut wajah tak biasa.
"Anak muda! Apa kau sedang menghina desa kami?" Dengus pak tua Gaho.
"Menghina?" Tanya Theo heran.
Melihat reaksi heran di wajah Theo, Gris segera ikut menanggapi.
"Tuan muda! Item ruang penyimpanan, adalah barang berharga yang hanya akan dimiliki oleh orang-orang penting! Para raja, atau pemimpin Klan serta Guild besar yang biasanya memiliki item ruang penyimpanan!" Ucap Gris.
"Jadi, bagaimana penduduk desa kecil seperti kami memiliki item ruang penyimpanan?" Lanjut Gris.
"Barang berharga?" Gumam Theo. Sekarang paham bahwa teknik penempaaan di Tartarus Land, masih cukup jauh tertinggal jika dibandingkan Gaia Land.
Setiap orang masih menatap kearah Theo dengan tatapan tak biasa, pak tua Gaho, bahkan terang-terangan memasang raut wajah tak sedap. Sampai kemudian, Theo tiba-tiba membuat gerakan mengayunkan tangan. Dan bersama gerakan tersebut, puluhan item, keluar dari dalam Gelang ruang-waktu.
"Item ruang penyimpanan!" Gumam Gugio, menatap takjub pada gelang ruang-waktu di pergelangan Theo.
Bukan hanya Gugio, Gris kini semakin menampilkan sorot mata penuh pemujaan kepada Theo.
Sementara disisi lain, pak tua Gaho justru semakin memasang ekspresi tak suka kepada pemuda di hadapannya tersebut.
"Apa maksudmu? Ingin pamer?" Dengus pak tua Gaho.
"Hmmmm… Kakek! Kenapa kau selalu berfikiran buruk pada tuan muda Theo? Bukankah itu justru bagus ia mempunyai item ruang penyimpanan? Kita bisa meminjam untuk menghemat waktu menjual sumberdaya ke kota!" Sahut Gris. Mendengus balik.
"Itu benar!" Ucap Gugio, masih menatap takjub pada gelang ruang-waktu.
"Tuan muda, itu bisa menghemat waktu jika…"
Gugio belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sampai Theo tiba-tiba memotong.
"Maaf…! Aku tak bisa meminjamkan atau memakai gelang ini untuk hal semacam itu!" Ucap Theo.
Kalimat yang disampaikan Theo, segera membuat raut wajah Gugio dan Gris berubah kecewa. Benar-benar tak menduga bahwa Theo akan segera menolak tanpa pikir panjang.
"Hmmmm… Kalian dengar bukan? Dia hanya pamer!" Ucap pak tua Gaho. Merasa puas akhirnya bisa membalas tatapan sengit yang dari tadi ditujukan sang cucu, Gris, kepadanya.
"Tuan kepala desa, sebenarnya kalian tak perlu meminjam item ruang penyimpanan milikku!" Ucap Theo. Seraya melirik puluhan item berbentuk cincin diatas meja yang sebelumnya sempat ia keluarkan dari dalam gelang ruang-waktu.
"Apa maksudmu?" Tanya pak tua Gaho, tak mengerti.
"Puluan cincin yang ada di atas meja, itu disebut dengan Spacial Ring. Salah satu jenis item ruang penyimpanan!" Ucap Theo.
Tepat ketika selesai mendengar penjelasan Theo, mata semua orang segera tertuju kearah puluhan Spacial Ring yang saat ini tergeletak di atas meja.
"Spacial Ring? Item ruang penyimpanan?" Gumam Gugio, dengan nada bergetar.
Tak hanya Gugio, bahkan pak tua Gaho, saat ini memasang raut wajah bergetar.
Bagaimana tidak, selama puluhan tahun masa hidupnya, pria tua ini hanya sekali pernah melihat item ruang penyimpanan, itupun cuma sepintas, kantong kecil milik pemimpin salah satu Klan besar yang secara tak sengaja ia jumpai di kota.
Dan sekarang, di atas meja makannya sendiri, puluhan item ruang penyimpanan, sedang tergeletak seperti sebuah barang tak penting.
"Tuan muda, kau berkenan meminjamkan pada kami?" Tanya Gris.
"Kenapa harus meminjam? Kalian boleh memilikinya!" Jawab Theo.
"Lagipula, aku masih menyimpan cukup banyak! Dan bisa membuat lagi kapanpun!" Tambah Theo. Sembari memasang raut wajah santai.
Raut santai di wajah Theo, berbanding terbalik dengan tiga orang lain yang ada di dalam ruangan. Gugio dari tadi tak bisa menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Sementara Gris, membelalakkan mata lebar.
Pak tua Gaho? Ia sempat berdiri sejenak karena begitu terkejut. Sebelum kemudian, justru jatuh terduduk dilantai saat Theo mengatakan bahwa mereka bisa memiliki puluhan Spatial Ring yang ada di atas meja.
----
Note :
Yang baca doang, gak like dan komen, bakal di geprek Thomas!