
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Baik Tuan Dante! Kami tak akan melakukan hal sembrono lagi!" Jawab salah satu anggota penjaga perbatasan. Merasa dingin pada punggungnya.
Sementara kawan yang lain, dimana sedang berdiri tepat disebelah anggota penjaga perbatasan yang baru saja bicara, tak memberi tanggapan apapun. Hanya terus diam sembari memasang ekspresi wajah ngeri menatap kearah Dante.
Anggota penjaga perbatasan ini bergetar ketakutan ketika merasa satu hembusan angin ringan yang menerpa wajahnya, dimana berasal dari lokasi Dante berdiri, berakhir menyebabkan satu luka goresan pada kulit lehernya.
"Kenapa masih berdiri disini? Apakah kalian sudah menyelesaikan waktu tugas menjaga perbatasan?" Tanya Dante. Masih dengan nada dingin saat melihat dua orang penjaga hanya diam ditempat sembari menatap kearahnya.
"Ahhh…!!! Kami akan lanjutkan patroli!" Ucap salah satu anggota penjaga perbatasan cepat. Sebelum tanpa menunda pergi meninggalkan lokasi.
"Tunggu…!!!"
Diikuti oleh kawannya yang dari tadi hanya bisa mematung. Benar-benar merasa takut dengan sosok Dante.
"Hmmmm…! Sampah…!" Gumam Dante. Saat dua anggota penjaga perbatasan telah meninggalkan tempat.
Tak lama kemudian, Dante mulai dengan teliti memeriksa tubuh penyusup yang baru saja ia habisi. Mencari satu hal yang mungkin bisa berguna untuk mendapatkan informasi apapun mengenai Eleanor Tribe. Dimana menurut Dante, belakangan ini mengambil sikap cukup mencurigakan. Karena sama sekali tak melakukan pergerakan.
*Tapp…!!!
Dante masih memeriksa tubuh penyusup, sampai tiba-tiba, suara pendaratan ringan terdengar dari arah belakang.
"Emmmm… Tuan Dante yang terhormat, bukankah itu cukup menyeramkan, menggerayangi tubuh tanpa kepala?" Ucap sosok wanita yang baru saja mendarat. Dimana merupakan Kapten dari Kelompok Perompak Bendera Merah, Ching Shih. Atau biasa dikenal dengan sebutan Madam Ching. Salah satu dari 10 Naga Aliansi 7 Lautan.
Mendengar kata-kata dari wanita tersebut, Dante sama sekali tak merespon. Masih melanjutkan kegiatannya.
"Yahhh… Meskipun harus kuakui bahwa tubuh penyusup dari Eleanor Tribe ini memang benar-benar indah, tapi bukankah lebih baik bermain dengan yang masih hangat dan segar? Aku tak masalah menemanimu untuk sedikit melemaskan otot yang tegang!" Tambah Ching Shih. Dengan intonasi nada yang begitu menggoda.
"Kupastikan padamu, akan memberikan pelayanan terbaik! Lagipula, bentuk tubuhku juga tak kalah indah darinya!" Tutup Ching Shih. Seraya mulai berjalan mendekat kearah Dante.
Disisi lain, merasa Ching Shih berjalan mendekat, Dante segera menghentikan aktivitasnya.
"Madam Ching, apa yang sebenarnya sedang kau lakukan disini? Bukankah sudah kukatakan dari awal, bahwa aku tak butuh siapapun dari 10 Naga untuk menemaniku menjaga perbatasan!" Ucap Dante. Meski telah menghentikan aktivitas, ia tampak masih tak menoleh kearah Ching Shih.
"Ohhhh…! Kenapa selalu bersikap dingin padaku? Padahal aku terus berusaha ramah keapdamu! Tak bisakah kau sedikit membuka hati?" Tanya Ching Shih. Sama sekali tak berniat menghentikan langkah walau tau Dante mengusirnya.
"Diam! Aku tak punya waktu untuk omong kosong dan hal tak penting!" Tanggap Dante. Seraya mulai melirik tajam kearah Ching Shih. Membuat langkah kaki wanita itu terhenti.
"Tuan Dante, jangan terlalu serius dengan segala macam hal! Bukankah kau lihat sendiri, bahkan Kapten Sinbad masih bisa bersantai! Bersenang-senang dengan para anggota yang lainnya!" Tanggap Ching Shih.
"Hmmmm…!!! Sinbad! Seperti biasa pandai memainkan eskpresi wajah serta kalimat, untuk memanipulasi orang-orang di sekitarnya!" Ucap Dante. Seraya mulai menatap kearah puncak salah satu gunung berapi.
"Tuan Dante, kau seolah ingin mengatakan bahwa Kapten Sinbad sedang tak dalam kondisi baik-baik saja!" Ucap Ching Shih.
"Memang apa yang menyebabkan kau begitu khawatir? Dalam beberapa waktu belakangan, perkembangan kekuatan dari Aliansi 7 Lautan menunjukkan kemajuan yang cukup pesat!"
"Kita bahkan berhasil menyudutkan pihak Eleanor Tribe, satu dari 10 Biggest Knight Group. Kelompok tunggal yang menguasai Thousand Island selama ribuan tahun!"
"Meskipun memang kita baru-baru ini kehilangan pengaruh di tiga wilayah laut, Laut Merah, Jingga, dan Kuning, tapi semua itu masih dalam situasi yang sepenuhnya di kontrol oleh Kapten! Ia bahkan sudah menduganya! Jadi, kurasa tak ada satu kondisi yang perlu di cemaskan!"
"Terutama jika rencana besar yang sedang di usahakan oleh Kapten diatas sana, berjalan dengan lancar, maka tak akan ada yang bisa menghentikan langkah Aliansi 7 Lautan!"
"Dengan kekuatan baru tersebut, ditambah dukungan dari kau dan 10 Naga, mendobrak masuk wilayah Laut Putih bukanlah lagi hal yang sulit!"
"Begitu pula dengan merebut lagi wilayah Laut Merah, Jingga, dan Kuning yang telah lepas!" Tutup Ching Shih. Dengan ekpsresi serta nada heran. Tampak tak mengerti dengan sikap serius secara berlebihan yang selalu di tampilkan oleh Dante.
Mendengar kata-kata Ching Shih, Dante yang masih menatap kearah puncak salah satu gunung berapi, hanya menghela nafas pelan untuk sementara waktu.
"Itulah kenapa aku mengatakan bahwa Sinbad adalah orang yang pandai memainkan eskpresi serta kata-kata. Selalu berhasil memanipulasi orang-orang yang ada di sekitarnya!" Ucap Dante. Sebelum kembali terdiam untuk beberapa saat.
"Kau bahkan tak akan merasa bahwa sedang di permainkan olehnya!" Lanjut Dante. Dengan nada pelan.
"Tak seperti kalian, aku sudah mengenal ornag ini sejak masih sama-sama bocah! Bisa dikatakan kita tumbuh besar bersama!" Tutup Dante. Sebelum akhirnya melanjutkan kegiatan memeriksa tubuh penyusup Eleanor Tribe. Hanya pergi tanpa mengatakan apapun lagi begitu merasa tak ada hal penting yang berhasil ia temukan.
Sementara Ching Shih yang mendengar jawaban Dante, dimana terdengar begitu mendalam. Memutuskan untuk tak kembali meneruskan sanggahannya. Ia hanya diam mengamati semua yang di lakukan Dante. Ikut berjalan dibelakang punggung Dante saat pria dingin tersebut meninggalkan tempat.
Bagaimanapun juga, dari semua orang anggota kelompok Perompak Naga Laut, ataupun anggota Aliansi 7 Lautan, itu hanya Dante yang paling mengerti Kapten mereka, Sinbad.
Dante yang tumbuh besar bersama Sinbad semenjak keduanya masih kanak-kanak. Bisa melihat dengan jelas dengan hanya sekali tatap ketika memandang kearah wajah Sinbad. Ia tahu meskipun Sinbad terus menunjukkan ekspresi wajah riang dan mengadakan pesta setiap malam, itu hanya untuk menenangkan situasi.
Dengan kedatangan tiba-tiba Kelompok Bandit Serigala di wilayah Thousand Island, bisa dikatakan konstalasi kekuatan telah benar-benar berubah. Dan ini jelas mengganggu rencana jangka panjang yang telah di susun oleh Sinbad.
Menyebabkan Sinbad harus memajukan beberapa rencana. Salah satunya adalah rencana yang ada di puncak gunung berapi. Padahal Dante tahu jelas, hal tersebut sangat beresiko. Karena menurut perhitungan yang ia lakukan bersama Sinbad sebelumnya, untuk dapat menaklukkan sang raja gunung berapi, Sinbad setidaknya harus berada di kelas Emperor tahap Surga.
Kenapa Dante tak melakukan kerjasama saja dengan Sinbad? Sebenarnya Dante sudah menyarankan hal tersebut. Namun Sinbad dengan tegas menolak. Kombinasi antara sikap keras kepala dan penyuka tantangan yang dimiliki oleh Sinbad, membuat Dante tak melanjutkan untuk memaksakan. Karena ia paham betul itu adalah hal yang percuma.
Situasi berakhir dengan Dante yang setiap saat merasa terus cemas. Bergerak sangat serius untuk menjaga agar tak ada satu ancamanpun yang datang untuk menggangu rencana serta usaha yang sedang dilakukan Sinbad di dalam kawah gunung berapi.
Dante tahu, Sinbad sengaja tak membiarkan situasi genting yang di hadapi oleh Aliansi 7 Lautan, untuk tersebar ke para anggota lainnya. Oleh karena itu ia terus memasang ekspresi wajah santai serta mengadakan pesta tiap malam.
Padahal jelas, langkah dari Aliansi 7 Lautan, sepenuhnya sedang berada di ujung tanduk. Bergantung hanya pada apakah Sinbad bisa menaklukkan raja gunung berapi, sehingga berhasil mendapatkan kekuatan baru.
----
Note :
"Bahhh...!!! Kalian sesama penghuni realm kelas rendah, jangan pelit like nya!" Dengus Thomas.
"Iya, masak kudu curhat tiap hari!" Tanggap Heri Kiswanto Alknight. Sembari makan gorengan.