Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
144 - Sebuah Peta


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Desa kalian seharusnya memiliki sebuah peta khusus! Aku ingin meminjamnya untuk sementara waktu!" Ucap Theo.


Kalimat yang disampaikan Theo, disambut oleh pak tua Gaho segera berdiri.


"Meminjam?" Ucap pak tua Gaho. Seraya mulai melepas aura dalam tubuhnya.


Aura yang keluar dari dalam tubuh pak tua Gaho, dengan cepat memberi perasaan menekan pada Gugio dan Gris yang ada di dalam ruangan. Dua orang ini, sedikit kesulitan untuk mengambil nafas.


Sementara Theo, terlihat masih duduk dengan tenang. Mempertahankan senyum tipis nan sederhana di wajahnya. Benar-benar merasa tak terganggu.


'Aura yang setara dengan General tahap awal! Itu berarti, pak tua Gaho ini adalah Hunter yang telah berada di Gerbang Hijau!'


'Hunter terkuat Desa ini!' Lanjut Theo. Bergumam dalam hati. Justru tampak tertarik dengan tingkatan kultivasi di Tartarus Land.


"Kau bilang meminjam? Entah darimana kau mengetahui bahwa desa kami memiliki peta Lembah Demonic Beast! Namun, itu adalah peta yang di jaga secara turun-temurun! Kau pikir aku akan dengan sembarangan memberi padamu? Orang asing!" Bentak pak tua Gaho. Semakin menambah intensitas tekanan aura dalam tubuhnya.


"P-pak tua…!!!"


"Kakek…!!!"


Gugio dan Gris, merasa semakin tertekan. Mulai terbaring menyentuh lantai.


Namun, tepat ketika pak tua Gaho terlihat akan mulai membuat langkah maju kedepan…


*Woooshhhh…!!!


Masih dalam posisi duduk bersila, sembari menyempatkan untuk meraih teko teh yang ada diatas meja, Theo merilis aura dalam tubuhnya.


"Pak tua, tolong tenangkan dirimu barang sejenak!" Ucap Theo. Memberi dorongan balik pada aura pak tua Gaho.


"Urgggg…!!!"


Aura yang terpancar dari dalam tubuh Theo, seketika membuat pak tua Gaho terdorong mundur kebelakang. Menggertakkan gigi-giginya. Sementara Gugio dan Gris, kini bukan hanya menyentuh tanah. Bahkan benar-benar tak bisa bernafas. Itu seperti sebuah gunung raksasa, sedang menghujam punggung keduanya.


"I-ini!" Gumam pak tua Gaho. Terlihat sudah tak mampu lagi menahan tekanan yang mendera tubuhnya. Akan jatuh berlutut.


Tapi, tepat ketika pak tua Gaho akan jatuh, Theo secara tiba-tiba menarik kembali aura miliknya. Sengaja memberi muka pada pak tua Gaho agar tak sampai berlutut di hadapannya.


"Itu benar! Jika memakai ukuran kultivasi yang ada di Tartarus Land, aku adalah Hunter Gerbang Merah! Hunter Gerbang Merah puncak! Tinggal membuka gerbang keenam, maka aku akan menjadi Hunter Gerbang Hitam!" Ucap Theo. Mengkonfirmasi kata-kata pak tua Gaho. Seraya dengan santai menuang teh di dalam teko pada sebuah cangkir.


"Bisa kulihat, kau adalah Hunter terkuat di desa ini! Memimpin sebagai kepala desa!" Lanjut Theo. Dengan gerakan anggun, meminum teh yang telah selesai ia seduh.


"Namun, kau sebagai orang terkuat, hanyalah Hunter Gerbang Hijau!"


"Jika memang aku memiliki niat buruk, tentu tak sulit bagiku, Hunter Gerbang Merah puncak untuk memporak-porandakan desa Teria! Sebelum dengan paksa merebut peta dari tanganmu!"


"Tapi kau bisa lihat sendiri, aku tak melakukan itu!" Tutup Theo. Kembali memasang senyum tipis sederhana.


Tepat ketika Theo menyelesaikan kalimatnya, suasana ruang segera menjadi hening. Kini bukan hanya pak tua Gaho menatap kearahnya dengan tatapan penuh keraguan. Gugio dan bahkan Gris, ikut menatap penuh kecurigaan.


"Aku tentu punya kemampuan merebut dengan paksa! Namun memilih untuk memberi uluran tangan, sebagai imbalan, aku hanya ingin sekedar meminjam peta untuk sementara waktu! Segera akan kukembalikan setelah urusan selesai! Itu saja!"


Sebelumnya, tepat ketika Theo terlempar dari portal ruang dan mendarat di Tartarus Land, Kung-Peng memberi intruksi tahapan awal dari tantangan, adalah menuju ke satu lokasi tertentu.


Mengikuti arahan Kung-Peng, Theo akhirnya sampai di lokasi dimana tim perburuan Desa Teria pimpinan Gugio, sedang bertempur melawan Demonic Beast Kalajengking Haus Darah.


Intruksi selanjutnya, adalah mencari informasi tentang keberadaan desa Teria. Guna mengambil sebuah peta yang akan menuntun Theo pada lokasi sebenarnya dari tantangan Kastil Raja Dewa Air. Lembah Demonic Beast.


Setelah informasi tentang peta Lembah Demonic Beast, Kung-Peng tak lagi memberi Theo petunjuk apapun. Satu hal yang membuat Theo akhirnya menyimpulkan bahwa untuk kedepan, itu tergantung usahanya sendiri menyelesaikan tantangan.


Bagaimana cara mendapat peta serta menemukan Lembah Demonic Beast, mungkin adalah bagian dari tantangan yang harus ia selesaikan. Mekanisme panjang yang nantinya akan dijadikan Kung-Peng, Master Kastil Raja Dewa Air, sebagai penentu apakah Theo layak menyandang gelar Master selanjutnya. Menjadi pemilik Aqua Sword. Satu dari enam Mighty Sword.


Meskipun memang Theo sebenarnya tak terlalu berminat pada Aqua Sword, karena bagaimanapun juga ia telah memiliki Gerbang Dosa, dimana bersemayam 7 bocah dosa di dalamnya yang bahkan sampai saat ini belum seluruhnya berhasil ia taklukkan, Theo tetap ingin menyelesaikan tantangan sebaik mungkin.


Menjadikan Dante sebagai contoh, dimana mendapat dua item legendaris, Kristal Beast Qilin dan Kristal Plant Bunga Udumbara. Hadiah tak biasa dari Kastil Raja Dewa Air, tentu layak untuk ditunggu.


Untuk Aqua Sword, Theo akan lebih senang jika itu Razak atau Hella yang berhasil mendapatkannya.


"Hmmmm… Bagaimana?" Tanya Theo. Memecah keheningan.


"Tetap saja…"


Pertanyaan Theo, hendak di tanggapi oleh pak tua Gaho. Sampai tiba-tiba, seorang penduduk desa yang sepertinya adalah penjaga gerbang, mendadak memasuki ruangan dengan memasang ekspresi wajah panik.


"Pak tua Gaho! Senior Gugio, ini gawat! Ini gawat!" Ucap sang penjaga. Begitu memasuki ruangan.


"Ada apa?" Tanya Gugio cepat.


***


(Gerbang kota)


"Tidak mungkin! Ini malapetaka besar! Bagaimana bisa mereka menemukan lokasi desa kita?" Ucap pak tua Gaho. Memandang dengan tatapan bergetar.


Sementara Gugio, bahkan tak bisa mengucapkan kalimat apapun. Raut wajahnya sangat buruk.


Saat ini, tepat diluar desa Teria, sekelompok Demonic Beast Kalajengking Haus Darah dalam jumlah puluhan, mendekati seratus, tengah dalam situasi mengelilingi desa. Bergerak maju kedepan sembari mengeluarkan teriakan-teriakan mendesis keras yang begitu mengerikan.


"Hmmmm… Sepertinya dua Kalajengking yang sempat kalian bawa kembali ke desa, adalah induk dari kawanan Demonic Beast ini!" Ucap Theo. Memberi tanggapan.


"Mengikuti insting dan aroma dari induknya, mereka berhasil menemukan desa kalian!" Tambah Theo.


"Jadi, bagaimana? Kita jelas tak bisa mengatasi begitu banyak Kalajengking Haus Darah!" Sahut Gris. Menatap kearah Theo dengan wajah panik serta memelas. Jelas berharap uluran tangan.


"Kenapa bertanya padaku? Bukankah aku orang asing?" Balas Theo.


Kata-kata Theo, segera membuat raut wajah setiap orang, berubah menjadi buruk.


"Aku bisa saja membantu kalian! Sejujurnya, kawanan Demonic Beast ini tak terlalu menyusahkan untuk kusingkirkan!" Ucap Theo.


"Hanya saja, pak tua Gaho, kau jelas tahu imbalan apa yang kuminta!" Lanjut Theo. Kembali memasang senyum tipis sederhana.


Tepat ketika Theo menutup kalimatnya, sorot mata setiap orang segera terarah pada pak tua Gaho.


Sementara pak tua Gaho sendiri, tampak memasang raut wajah sulit. Menatap bergantian kearah Theo dan gerombolan Kalajengking Haus Darah yang kian mendekat.


"Kakekk…!!! Apa susahnya? Dia hanya meminjam! Bukan meminta!" Seru Gris.


"Haaahhh…! Baik! Baik! Akan kupinjamkan! Dengan syarat, kau harus membawa salah satu penduduk desa ikut bersamamu untuk tetap memegang peta tersebut!" Ucap pak tua Gaho pada akhirnya.


"Bagaimana?"


"Sepakat!" Jawab Theo singkat. Sebelum sosoknya seketika lenyap.