
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_______________________________________
(Tartarus Land, Lembah Demonic Beast)
Dimulai dari puluhan, sampai kemudian menjadi ratusan. Sosok Theo yang dengan sengaja meledakkan aliran Mana Cahaya, saat ini tampak sedang di kerumuni oleh ratusan Demonic Beast kelas tinggi.
*Woooshhhh…!!!
*Boooommmm….!!!
Dengan tubuh penuh luka, Theo terus melancarkan serangan-serangan berdaya ledak besar dengan jangkauan luas. Seringai lebar bak penjahat jalanan, tak pernah lepas dari wajahnya meskipun saat ini jelas sedang dalam situasi mengancam nyawa.
'Bocah! Kau benar-benar gila!'' Dengus Ernesto. Dengan nada yang terdengar sangat khawatir. Bagaimanapun juga, Ernesto adalah roh item yang keberadaanya benar-benar tergantung pada eksistensi Theo.
Oleh karena itu, melihat kini Theo bertindak tak seperti yang selama ini ia tahu, Ernesto tentu saja menjadi sangat gusar.
Pria yang memiliki julukan sebagai Knight Legendaris itu, benar-benar tak menyangka bahwa Theo yang biasanya selalu memasang sikap dingin penuh perhitungan, ternyata bisa berubah sedemikian rupa menjadi sosok yang sangat sembrono. Dengan sengaja menarik ratusan Demonic Beast ganas kelas tinggi untuk bergerak menyerang di saat bersamaan.
"Hahahhahah…! Kau adalah roh gentayangan! Apalagi yang perlu ditakutkan? Pada dasarnya, kau sudah mati!" Seru Theo. Seraya membuat gerakan menangkup pada dua kepalan tangan. Mengeksekusi teknik Absolute Zero.
*Woooshhhh…!!!
*Kraaakkk….!!!
Beberapa Demonic Beast, segera terjebak dalam balok es raksasa. Imbas dari terkena efek teknik Absolute Zero.
Sebagian dari mereka mati dalam posisi tubuh membeku. Namun, sebagian lagi dalam jumlah yang lebih banyak, berhasil bertahan, menghancurkan selimut balok es yang membekap tubuhnya.
"Groooooaaaahhh…!!!"
Tiga Demonic Beast, menyerang secara bersamaan dari arah depan begitu terbebas dari balok es.
*Bammm…!!!
*Baammm…!!!
Theo berhasil menahan dua serangan, sementara satu serangan terakhir, ia hindari dengan melakukan lompatan mundur.
"Kiieeekkkkkk…!!!"
*Boooommmm…!!!
Namun, baru beberapa langkah Theo bergerak mundur, sebuah serangan lain secara tiba-tiba menghujam dari arah belakang.
"Sial!" Maki Theo, saat merasa sedikit kehilangan fokus. Berakhir tak menyadari datangnya serangan menyelinap dari arah belakang yang dalam sekejap menghujam punggungnya.
*Baaammmm…!!!
Tubuh Theo kembali terlempar kedepan dengan bekas luka cukup parah pada punggung.
"Hmmmm…???"
Merasa belum cukup buruk, Theo yang masih dalam posisi terlempar, bisa melihat 5 Demonic Beast telah menanti di depan.
*Bangg…!!!
*Bangg…!!!
Dua serangan berhasil di tahan Theo menggunakan tangan kanan dan kiri, sementara tiga serangan lain, mendarat bebas pada sekujur tubuhnya.
"Goooaaahhh…!!!"
Theo kembali terhempas. Hanya untuk mendapati beberapa Demonic Beast kelas tinggi lain, telah menanti di jalur terjangannya.
Melihat hal tersebut, raut wajah Theo bukan menjadi takut, justru berubah marah.
"Kalian pikir aku ini apa? Makan siang yang bisa dimainkan?" Bentak Theo. Benar-benar kesal menjadi bahan lempar sana sini para Demonic Beast.
*Bzzzzzttt…!!!
Dalam posisi terlempar, Theo menyalakan derak listrik merah pada sarung tangan kilat. Menyambut datangnya serangan para Demonic Beast, dengan dua kepalan tangan berderak liar.
*BLAAAAAAAZZZZTTTT….!!!
*Boooommmm….!!!!
Suara ledakan Mana listrik yang menggelar, terdengar nyaring. Diiringi pula dengan suara hancurkan wilayah lokasi tempat terjadinya benturan antara tinju Theo dengan beberapa bagian tubuh Demonic Beast yang sempat menerjang untuk melancarkan serangan.
Tiga Demonic Beast mati dalam kondisi tubuh hancur berantakan. Sementara sebagian Demonic Beast yang lain, mendapat luka parah, segera digerakkan oleh intsing, mereka melakukan langkah mundur. Mengambil jarak tertentu.
Melihat hal itu, Theo sama sekali tak membiarkan momentum yang ia dapat lewat begitu saja. Dengan gerakan menarik tangan, Theo kembali mengumpul aliran Mana Cahaya yang sempat tersebar. Membentuk ratusan rantai cahaya sekali lagi.
"Giliranku!" Gumam Theo, melakukan gerakan mengibas tangan.
Bersama dengan gerakan tersebut, beberapa rantai cahaya yang sempat terbang melayang di sekitar tubuhnya, seperti sedang berenang di udara, mulai melaju cepat kearah beberapa Demonic Beast yang dalam kondisi tubuh penuh luka.
*Sraaaakkkk…!!!
*Baaammmm…!!!
*Baaammmm…!!!
"Kemari! Biar aku menghancurkan kepalamu dengan tunjuku ini!" Dengus Theo, seraya menarik salah satu Demonic Beast yang lehernya terikat rantai.
*Woooshhhh….!!!
*Boooommm….!!!
Tanpa perlawanan berarti, tubuh sang Demonic Beast tertarik kearah dimana Theo berdiri. Diakhiri dengan tinju berderak aliran Mana Besi pekat, terhujam pada kepalanya. Seketika menghancurkan menjadi berkeping-keping.
"Lagi…!" Ucap Theo, kembali menarik rantai cahaya lain.
*Woooshhhh….!!!
Seekor Demonic Beast, tertarik. Namun…
*Boooommmm…!!!
Ketika Theo hendak melancarkan teknik Iron Fist, dua serangan menyelinap, lagi-lagi menghujam punggungnya.
"Gooahhh…! Ba*jingan!" Bentak Theo, kembali terlempar saat dua Demonic Beast, menerjang dari arah belakang disaat bersamaan.
'Sudah kubilang! Ini percuma! Jumlah mereka terlalu banyak!' Bentak Ernesto.
"Diam! Jika kau sebegitu takut mati untuk kedua kalinya, lebih baik fokuskan konsentrasimu itu untuk melakukan regenerasi listrik merah!" Bentak Theo.
*Tappp…!!!
*Sraaaakkkk….!!!!
Theo mendarat dengan kaki menggesek tanah. Dalam gerakan cepat, melakukan pemindaian lokasi sekitar, menghitung jumlah Demonic Beast yang berada cukup dekat dengannya.
"Hmmmmm…!!!"
*Bzzzzzttt…!!!
Dua kepalan tangan Theo, kini dialiri derak Mana Listrik normal berwarna kuning. Dan ketika intensitas Mana Listrik telah sampai pada kepadatan tertentu, Theo melakukan gerakan manangkup tangan.
*BLAAAAAAAZZZZTTTT….!!!
Bersama gerakan Theo, gelombang sebaran Mana Listrik, meluas dalam sekejap. Menyapu wilayah sekitar.
"Teknik Absolute Zero milik Sinbad, cukup berguna dalam situasi ini!" Gumam Theo. Memakai konsep teknik Absolute Zero, dengan menggunakan atribut Listrik.
Aroma hangus berasal dari beberapa tubuh Demonic Beast yang mati terpanggang masih begitu menyengat, sampai tiba-tiba, gelombang Demonic Beast yang sempat sedikit menyebar untuk menghindari teknik Theo, kembali menerjang secara bersamaan.
"Hmmmmm…. Kali ini, pakai Api Surgawi!" Ucap Theo, menyalakan derak Api Surgawi keemasan pada dua kepalan tangan.
Disisi lain, menyadari intensitas tak biasa dari derak Api keemasan di dua kepalan tangan Theo, beberapa Demonic Beast segera menghentikan laju terjangan, kembali mundur untuk mengambil jarak.
Sementara beberapa Demonic Beast lain, seperti tak peduli, cukup percaya diri dengan ketahan tubuh fisik mereka. Terlihat ingin segera mencabik-cabik tubuh Theo yang terus memancarkan aliran Mana Cahaya.
"Groooooaaaahhh…!!!"
Menyerukan teriakan-teriakan penuh kemarahan, puluhan Demonic Beast menerjang sembari melepas berbagai aura dan atribut berbeda.
"Maju…! Kemari!" Seru Theo. Dengan segera, membuka gerakan menangkupkan tangan sekali lagi.
*Wuss…!!!
Derak Api Surgawi pada tangan kanan dan kiri Theo, bergejolak ringan untuk sesaat ketika saling menyentuh satu sama lain. Sebelum kemudian….
*BLAAAARRRR….!!!!
*WOOOSHHHH….!!!!
Gejolak ringan, berubah menjadi amukan dahsyat.
Menjadikan tubuh Theo sebagai poros, Api Surgawi meledak dalam sebaran luas membakar apapun yang berada dalam jangkauannya.
Puluhan Demonic Beast, kembali mati dengan kondisi hangus terbakar.
"Hmmmm…!!" Melihat serangannya berhasil, Theo bergumam lirih. Sebelum mengeluarkan beberapa Pill dari dalam gelang ruang-waktu.
*Kraauuukkk…!!!
Theo memakan sekaligus seluruh Pill obat yang baru ia keluarkan. Dalam sekejap memulihkan beberapa persen simpanan Mana dalam ranah jiwanya yang sempat menguap.
'Memang berapa lama lagi tubuhmu akan bertahan? Memakan Pill obat secara berlebihan, jelas akan membebani jalur Meridianmu!' Ucap Ernesto.
"Bukankah sudah kubilang cukup diam saja?" Dengus Theo.
*Woooshhhh…!!!
Seraya kemudian, Theo kembali menyalakan derak Api Surgawi. Namun kali ini, seperti menemukan suatu ide untuk meminimalisir penggunaan Mana, Theo tak menambah intensitas sama sekali dari Api Surgawi, melainkan menyebar Api Surgawi, untuk menyelimuti rantai-rantai cahaya.
Teknik baru tercipta begitu Theo selesai merubah ratusan rantai cahaya, sepenuhnya menjadi berselimut Api Emas. Seringai lebar, sekali lagi menghiasi wajah Theo.