Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
173 - Kuburan Demonic Beast


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


*Tapp….!!!


*Tapp….!!!


*Tappp….!!!


Theo bergerak cepat, melompat dari satu bukit ke bukit lain, menyusuri wilayah-wilayah tertentu Lembah Demonic Beast. Sembari berlari, Theo juga menggunakan rantai emas untuk mengikat senjata Tombak milik Badak raksasa. Menarik senjata tersebut mengikuti kemanapun ia bergerak.


Sementara Badak raksasa, sesosok Demonic Beast ganas yang merupakan satu dari tiga Boss Lembah, makhluk terkuat yang mendominasi Lembah Demonic Beast selama beberapa puluh tahun terakhir, saat ini terlihat dengan wajah panik serta tubuh penuh luka, sedang berusaha mengejar Theo.


Akan tetapi, usaha yang dilakukan oleh sang Badak, tampak sia-sia. Karena bagaimanapun juga, ia adalah Demonic Beast dengan tipe kekuatan. Memiliki daya hancur mengerikan jika dalam situasi pertempuran fisik.


Namun, semua kelebihan tersebut saat ini tak berguna ketika harus menghadapi Theo yang memanfaatkan kecepatan langkah kaki. Sesekali mengaktifkan sepatu kilat untuk menambah jarak antara dirinya dan Badak raksasa saat Ernesto memberi tanda bahwa simpanan Mana Listrik Merah, cukup untuk digunakan mengaktifkan Sepatu kilat.


Situasi konyol bagi Badak raksasa nan perkasa, dimana sedang dengan putus asa mengejar Theo, bertahan untuk beberapa saat. Sampai akhirnya, sang Demonic Beast menghentikan langkah saat gejolak Mana Kegelapan liar yang ada di dalam ranah jiwanya, mulai berkecamuk hebat, tak memiliki sarana untuk disalurkan keluar karena senjata tombak yang berfungsi sebagai penstabil, saat ini tak berada di tangannya. Sedang di bawa Theo berlari kesana-kemari.


"ROAAARR…..!!!!"


Boss Lembah Badak raksasa, berteriak liar dengan sangat marah untuk terakhir kalinya. Jelas sedang mengutuk Theo. Sementara Theo yang mendengar teriakkan liar tersebut, hanya membalas dengan lirikan singkat, menampilkan seringai lebar layaknya penjahat jalanan kearah Badak raksasa.


Seringai lebar Theo, merupakan hal terakhir yang dilihat oleh Badak raksasa. Sebelum ranah jiwanya tak mampu lagi bertahan.


*BOOOOOOMMMMM…..!!!!


Sama seperti Banteng Hitam, Demonic Beast Boss Lembah lainnya, Badak raksasa, mati dalam kondisi Ranah Jiwa meledak dahsyat. Ledakan yang membuat makhluk mengerikan penuh dominasi tersebut, mati tanpa menyisakan sedikitpun bagian tubuh. Sepenuhnya lenyap dalam debu.


Disisi lain, tak seperti peristiwa ledakan sebelumnya, Theo yang kini telah siap dan telah memahami betul seberapa luas jangkauan dari efek sebaran Mana Kegelapan dari ledakan ranah jiwa Boss Lembah, dapat menghindari dampak buruk karena sudah mengambil jarak cukup aman.


Theo hanya perlu membuat pelindung Mana Besi sederhana untuk sekedar menghalau sekelumit sebaran sisa yang tak terlalu berbahaya.


"Selesai sudah!" Gumam Theo.


'Yah, tapi cukup disayangkan tiga Demonic Beast yang menjadi Boss di dalam Lembah ini, mati tanpa menyisakan apapun.' Tanggap Ernesto.


"Mau bagaimana lagi, untuk saat ini, tak ada cara lain yang lebih efisien dari meledakkan mereka!" Ucap Theo.


"Lagipula, mereka pada dasarnya hanya Demonic Beast sekelas Emperor tahap Bumi! Sama dengan kebanyakan Demonic Beast lain yang tinggal di Lembah ini! Daging-daging Chimera yang telah di janjikan oleh Paviliun Harta, akan lebih berguna dalam proses penempaan tubuh fisik dan Meridianku!" Lanjut Theo.


'Hmmm… Kurasa menyebut tempat ini sebagai Lembah sudah tak relevan lagi!' Balas Ernesto.


Mendengar kata-kata tersebut, Theo secara singkat melirik pada lingkungan sekitar.


"Yahh… Tempat ini sudah berubah menjadi Kuburan Demonic Beast! Hahhahaha…!" Ucap Theo. Begitu melihat kondisi lingkungan sekitar.


Lembah Demonic Beast yang begitu legendaris juga menakutkan di Tartarus Land, tempat dimana ratusan Demonic Beast ganas berkumpul untuk membangun sarang, saat ini berubah menjadi lokasi sunyi yang hancur berantakan, dua kali ledakan ranah jiwa Boss tempat ini, benar-benar telah merubah bentuk geografis dari Lembah Demonic Beast.


Dan seolah mempertegas penyebutan Theo tentang Kuburan Demonic Beast, pada hampir seluruh wilayah, berserakan sepanjang mata memandang sisa-sisa mayat Demonic Beast.


Bukan suara Kung-Peng yang terdengar memecah keheningan, namun itu adalah suara dengunan keras saat sebuah menara raksasa yang memancarkan aliran Mana Kegelapan pekat, secara tiba-tiba menyeruak keluar dari dalam tanah pada lokasi paling tengah Lembah Demonic Beast.


*WUUUNGG….!!!!


*SRAAAAKKKK….!!!!


Dengunan terus menggema, bersama dengan itu, menara misterius terus meninggi dan meninggi, hanya berhenti ketika sudah mencapai ketinggian tertentu, dimana lebih tinggi dari semua bukit besar yang ada di wilayah Lembah.


*Wuuungg…!!!!


Dengungan yang sempat mereda, kembali terdengar nyaring ketika sebuah portal ruang aneh yang tak stabil, tercipta diatas menara misterius.


"Hmmmmm….?" 


Theo bergumam lirih saat melihat kemunculan portal aneh dipuncak menara. Sampai kemudian, raut wajah Theo, berubah penuh kewaspadaan ketika bisa menangkap keberadaan sesosok makhluk dari balik portal. Makhluk tersebut, entah kenapa memberi Theo perasaan dingin dalam dada saat ia menatap kearahnya dengan tatapan tajam penuh nafsu membunuh.


"BERANI SEKALI….!!!!" Bentak sosok tersebut. Dengan intonasi nada penuh amarah. Seraya menyebarkan aura yang begitu intens nan menekan.


Mendapat gelombang aura tersebut mengunci tubuhnya, Theo tanpa sadar mengambil satu langkah mundur kebelakang.


'Emperor tahan Surga puncak!' Gumam Theo dalam hati.


'Demonic Beast yang telah sepenuhnya berada di puncak dunia kultivasi! Mempunyai kesadaran dan juga kecerdasan! Telah berevolusi!' Ucap Ernesto. Ikut memberi komentar. Seolah pernah menghadapi, atau setidaknya berjumpa dengan sosok Demonic Beast dengan tingkatan yang sama.


Theo masih terdiam, tak tahu harus mengambil langkah seperti apa, jelas merasa sedang sangat terancam. Karena bagaimanapun juga, jika makhluk tersebut benar-benar memutuskan untuk keluar dari portal, maka tamat sudah riwayatnya. Ia jelas tak memiliki kesempatan untuk bisa menang. Bahkan ia juga ragu bisa kabur meskipun menggunakan sepatu kilat.


Namun, raut wajah penuh kewaspadaan Theo, hanya bertahan untuk beberapa saat. Ia kembali menjadi tenang saat melihat bagaimana portal ruang yang baru tercipta, sepenuhnya dalam kondisi tak stabil.


Dan benar saja, hanya beberapa saat setelah aura intens nan menekan milik makhluk yang berada di balik portal menyebar luas, portal ruang, secara perlahan seperti kehabisan energi untuk bisa mempertahankan mekanisme-nya.


Portal ruang semakin bergetar hebat, sampai kemudian, akhirnya benar-benar lenyap. Bersama lenyapnya portal tersebut, menara misterius, juga mulai runtuh.


"Hmmmm… Tartarus Land ini, benar-benar tempat yang sangat berbahaya!" Gumam Theo.


'Tantangan Kastil Raja Dewa Air, membunuh 3 Demonic Beast terkuat Lembah Demonic Beast pertama, telah selesai!'


Hampir bersamaan dengan runtuhnya menara misterius, suara Kung-Peng yang sedari tadi sudah ditunggu oleh Theo, akhirnya terdengar.


"Oke, sudah terkonfirmasi dengan jelas!" Gumam Theo.


"Sudah tak ada lagi urusan tersisa di tempat ini, saatnya menuju target selanjutnya!" Tutup Theo, berbicara dengan dirinya sendiri. Sebelum dengan tanpa menunda lebih lama, bergerak cepat meninggalkan tempat.


Sejujurnya, Theo masih merasa agak tak nyaman dengan tatapan penuh nafsu membunuh serta aura menekan yang tadi sempat ia dapat dari sesosok makhluk kelas puncak yang berada di balik portal.


Oleh karena itu, ia memutuskan untuk bersikap hati-hati. Segera bergerak meninggalkan lokasi. Karena bagaimanapun juga, ia hanya orang asing yang untuk sementara menjelajah Tartarus Land. Benar-benar tak begitu paham dengan situasi ataupun makhluk-makhluk yang tinggal di dunia ini.


Theo tak akan mengambil resiko apapun jika itu sudah tak berhubungan dengan tantangan yang perlu ia selesaikan.


"Semakin cepat, akan semakin baik!" Ucap Theo.


Dengan langkah gesit, bergerak kesuatu arah, tempat ia bisa merasakan keberadaan ranah jiwa Pion pertama dan Pion kedua.