
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Menarik!" Gumam Sinbad. Sebelum secara tiba-tiba, mulai berdiri dari tempat duduknya.
Tindakan Sinbad, segera diikuti oleh seluruh orang yang duduk di kursi meja jamuan. Dimana merupakan para Kapten Kelompok Perompak besar yang kini di kenal dengan sebutan 10 Naga.
10 Naga, adalah para Kapten Perompak dengan tingkat kultivasi Emeperor. Merupakan orang-orang dengan nama besar yang sebelumnya tersebar di seluruh wilayah 7 Lautan Thousand Island.
Dimana akhirnya berhasil di satukan oleh Sinbad dalam satu panji, Aliansi 7 Lautan. Sebuah langkah yang membuat Eleanor Tribe, penguasa tunggal wilayah Thousand Island, mulai tersudut. Karena para Kelompok Perompak besar yang dulunya bergerak acak sendiri-sendiri. Kini bersatu dalam satu Kelompok Aliansi besar.
Satu hal yang tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah panjang wilayah Thousand Island. Karena bagaimanapun juga, menyatukan para Kapten Perompak besar yang memiliki ego serta kebengisan tingkat tinggi, jelas adalah hal yang bisa dikatakan mustahil. Namun, kemustahilan tersebut, nyatanya dengan brilian berhasil di pecahkan oleh Sinbad.
Menorehkan namanya sebagai satu dari sedikit orang yang telah mampu membuat catatan sejarah baru. Akan terus di ingat oleh generai selanjutnya sebagai tokoh penting dalam sejarah dunia Knight Gaia Land.
Sang penakluk 7 Lautan! Itulah julukan yang saat ini tersebar luas keseluruh wilayah Thousand Island, juga mulai tersebar keseluruh wilayah Gaia Land. Dimana dengan sangat sempurna, mendeskripsikan nama besar Sinbad.
10 Naga, pilar Aliansi 7 Lautan, kini berdiri menatap kearah ketua aliansi mereka. Hanya Dante yang masih tetap duduk di kursinya. Mulai menuangkan arak pada sebuah cangkir.
Sinbad yang sedang berdiri, kemudian meraih cangkir arak yang tadi telah diisi oleh Dante. Mengarahkan cangkir yang ia pegang dengan kedua tangan. Pada 10 orang yang ada di hadapannya.
Rambut panjang Sinbad yang diikat rapi, sedikit bergerak tersapu angin saat ia mulai menunjukkan tatapan penuh ketajaman. Ditambah dengan dua pedang indah yang tersarung pada kedua sisi pinggang, dimana terus memancarkan aura dominasi yang menekan. Menambah pesona dari sosok Sinbad yang saat ini bagaikan seorang penguasa tunggal. Seolah tak akan pernah berada di bawah kaki orang lain.
Sosok Sinbad yang berdiri sembari terus memancarkan aura penuh dominasi, menyebabkan setiap orang sedikit menundukkan wajah. Merasa tak layak untuk menatap kearah Sinbad terlalu lama.
Hanya 10 Naga yang masih bertahan menatap lekat mata Sinbad. Sembari memasang wajah bersemangat penuh kebanggaan. 10 orang ini terlihat jelas sangat setia pada sang pemimpin aliansi yang ada di hadapan mereka.
Suasana seketika menjadi hening saat semua orang menghentikan kegiatan masing-masing. Tak berani mengucapkan sepatah katapun. Menunggu untuk Sinbad mulai berbicara.
"Aliansi 7 Lautan!" Ucap Sinbad. Masih dengan tatapan penuh ketajaman dan aura mendominasinya, mulai mengarahkan pandangan menyapu sekitar. Melihat seluruh anggota Aliansi 7 Lautan.
Sebuah tindakan yang disambut oleh seluruh anggota biasa, dengan menangkupkan kedua tangan pada dada. Memberi sikap salam hormat kearah Sinbad.
Sementara anggota 10 Naga, dengan tanggap mengambil cangkir arak masing-masing. Mengarahkan balik kepada pemimpinnya.
"Tak peduli itu Kelompok Bandit Serigala! Tak peduli itu Gaia Son Paviliun atau Dark Guild! Bahkan Eleanor Tribe sekalipun!" Ucap Sinbad. Memulai pidatonya.
"Saat waktunya telah tiba, ketika semua berjalan lancar, maka tak ada Kelompok manapun yang akan bisa menghentikan Aliansi 7 Lautan kita!" Lanjut Sinbad. Seraya mengalihkan pandangan. Menatap dengan tatapan penuh maksud kearah salah satu puncak gunung berapi.
"Dan kupastikan, saat itu tak akan lama lagi!" Seru Sinbad lantang. Menutup kalimatnya dengan aura dominasi yang semakin menyebar. Seraya mulai meminum cangkir arak ditangannya hanya dalam sekali tegukan.
Satu tindakan yang kembali diikuti oleh seluruh anggota 10 Naga. Dengan cepat meminum cangkir arak masing-masing. Kemudian membanting keras cangkir ditangan mereka. Pada meja jamuan.
"Hidup Aliansi 7 Lautan!" Seru salah satu Naga yang memiliki perawakan kekar dan berkepala plontos. Berteriak lantang sembari mengeluarkan aura ganas dari dalam tubuhnya.
"Hidup Aliansi 7 Lautan!"
"Hidup Aliansi 7 Lautan!"
"Hidup Aliansi 7 Lautan!"
Setiap orang anggota Aliansi 7 Lautan, berteriak lantang sembari membocorkan aura masing-masing. Begitu antusias. Satu hal yang menyebabkan teriakan-teriakan lain, ikut menggema pada beberapa sudut pulau.
Teriakan liar yang membalas teriakan anggota Aliansi 7 Lautan ini, adalah milik para Spirit Beast ganas yang sepertinya terganggu dengan aura milik seluruh anggota Aliansi 7 Lautan.
Bertepatan dengan teriakan-teriakan dan ledakan aura tersebut. Pulau Api Getaran, mulai bergetar hebat. Gempa yang secara rutin melanda wilayah sekitar pulau ini, menambah suasana panas cenderung mencekam yang sedang terjadi.
"Pidato yang bagus! Jika sudah tak ada lagi yang ingin kau sampaikan, aku akan pergi ke wilayah perbatasan Laut Putih! Memantau apakah Eleanor Tribe melakukan pergerakan tiba-tiba!" Ucap Dante. Saat suasana masih cukup riuh. Mulai berdiri dari duduknya.
"Hmmmm… Ambil sedikit waktu santai! Terlalu serius juga bukan hal bagus!" Jawab Sinbad.
"Jamuan makan seperti ini, tak cocok untukku! Lagipula, seperti yang kau katakan dalam pidatomu, langkah kita sepenuhnya tergantung pada rencana yang sedang kau kerjakan!" Balas Dante, seraya memberikan lirikan tajam kearah puncak gunung berapi yang tadi sempat di lihat Sinbad.
"Aku akan menjadi orang yang memastikan, tak ada gangguan apapun yang terjadi! Dan jelas, ketika Kelompok Bandit Serigala masih di pisahkan oleh dua laut diluar sana dengan kita, maka ancaman utama tersisa adalah yang ada di depan mata! Laut Putih dengan Eleanor Tribenya!" Tutup Dante.
"Baiklah kalau begitu! Aku mengandalkanmu!" Balas Sinbad.
"Jangan terlalu lama menghabiskan waktu untuk hal tak penting macam ini! Segera selesaikan urusan yang ada diatas sana!" Tanggap Dante.
"Hmmmm… Itulah kenapa kau tak cocok menjadi seorang pemimpin! Hal-hal macam ini juga penting! Kita perlu untuk terus menaikkan moral anggota!" Jawab Sinbad. Seraya memetik buah anggur yang tersaji di atas meja jamuan. Dengan gerakan santai memakannya.
"Terserah!" Gumam Dante. Melangkah meninggalkan tempat.
"Bersulang untuk Dante Sang Harimau Penyendiri!" Teriak Sinbad lantang. Dengan cepat meminum cangkir arak. Tepat ketika Dante baru mengambil beberapa langkah memunggungi Sinbad.
"Dante…!!!"
"Dante….!!!"
"Sang Harimau Penyendiri!"
"Hidup Dante…!!!"
Teriakkan penuh semangat yang menyerukan nama Dante, segera lantang terdengar.
Mendengar itu, Dante segera menghentikan langkah, berbalik untuk menatap tajam kearah Sinbad beberapa saat. Terlihat kesal. Sebelum dengan ekpsresi wajah acuh. Kembali meneruskan langkah. Benar-benar tak peduli dengan teriakan lantang di sekitar yang terus menyerukan namanya.
"Hhahahhaha….!!!"
Disisi lain, ekspresi wajah kesal yang di tunjukkan oleh Dante. Justru membuat Sinbad tertawa lantang begitu puas. Sebelum menatap dengan tatapan serta senyum sederhana kearah punggung Dante yang semakin menjauh.
"Kapten! Jika boleh, aku ingin pergi bersama Dante!" Ucap seorang wanita salah satu Naga yang tadi sempat menggoda Dante ketika pertama kali mendarat.
"Ohhh… Tentu saja! Temani pria serius itu! Jangan sampai ia terlalu berlebihan!" Jawab Sinbad.
"Terimakasih!" Jawab sang Naga wanita. Dengan ekspresi riang gembira bergerak cepat menyusul Dante.
"Hahahhaha…! Aku ingin melihat bagaimana wajahnya bertambah kesal!" Ucap Sinbad. Jelas tahu bahwa kehadiran wanita tersebut, akan membuat Dante semakin kesal.
"Kapten! Kau mau makan apa?" Ucap salah satu Naga Wanita lain. Dengan gerakan genit. Mengambil tempat duduk Dante di sebelah Sinbad yang telah kosong.
"Anggur saja!" Jawab Sinbad. Sembari memasang senyum menawan.