Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
63 - Nature Fruit


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


Gravity Fruit, menyebabkan sang pemakan mempunyai kendali atas Mana Gravitasi. Satu Mana tersembunyi yang tak bisa di lihat oleh semua makhluk. Hanya pemakan Gravity Fruit yang bisa melihat serta memiliki kendali untuk memanfaatkan aliran Mana jenis ini.


Orang lain baru bisa melihat, setelah sang pengonsumsi Gravity Fruit, melakukan kendali akan aliran Mana Gravitasi tersebut.


Disisi lain, hampir sama dengan pemakan Gravity Fruit, orang yang telah mengkonsumsi Nature Fruit, akan memiliki kendali untuk melihat serta memanfaatkan aliran Mana khusus lainnya. Yakni Mana Tanaman.


Membuat sang pemakan Nature Fruit, akan bisa menciptakan wujud kehidupan dari tanaman-tanaman jenis tertentu yang telah berhasil mereka pelajari dan pahami betul kontruksi sel-sel batang tubuhnya.


Satu kemampuan yang jelas sangat berguna. Karena bukan hanya bisa dipakai dalam situasi pertempuran, tapi juga bermanfaat dalam bidang Alchemy.


Selain Gravity Fruit dan Nature Fruit, dua Demon Fruit lain yang telah di ketahui adalah Space Fruit untuk Mana Ruang, serta Time Fruit untuk Mana Waktu.


Keduanya sempat dimiliki oleh Tiankong. Dan pada jaman ini, Space Fruit telah dikonsumsi oleh salah satu Tetua Endless Heavens Sect. Sempat di pakai sebagai salah satu unsur penting yang menggangu jalannya pertempuran besar Hutan Pinus Beku.


Dengan fakta diatas, kini menyisahkan hanya satu jenis dari Five Demon Fruit yang belum di ketahui.


'Hmmm… Jadi orang ini merupakan pemakan dari salah satu Demon Fruit!' Gumam Fairley, begitu melihat sosok Luna.


"Nimfa! Dia memiliki kemampuan Mana khusus jenis apa?" Tanya Fairley. Tak bisa menahan rasa penasaran di dalam benaknya.


Mendengar pertanyaan Fairley, dimana merupakan Masternya, Nimfa segera menoleh untuk sesaat.


"Luna? Dia merupakan pemilik Mana Gravitasi!" Jawab Nimfa singkat. Sebelum dengan cepat kembali melihat kearah Luna.


"Ahhhh… Mana Gravitasi! Sekarang menjadi semakin menarik!" Gumam Fairley.


"Hei…!!!"


Fairley masih tampak bergumam pada dirinya sendiri. Sembari memasang ekspresi wajah penuh minat. Sampai tiba-tiba, Asmodeus kembali membentak. Membangunkan Fairley dari lamunannya.


"Hmmmm… Lalu siapa kalian?" Tanya Fairley. Ketika akhirnya untuk sekali lagi menatap kearah para bocah dosa.


Mendengar Fairley yang saat ini dalam posisi sebagai orang luar dimana menerobos masuk kedalam Ranah Jiwa Theo ternyata justru mempertanyakan siapa dirinya, Asmodeus tentu saja segera memasang ekspresi wajah mengerikan.


"Makhluk hina! Dari awal kami mempertanyakan siapa dirimu dan kenapa dengan berani menerobos masuk!" Gumam Asmodeus. Seraya mulai membocorkan nafsu membunuh pekat.


"Bukannya menjawab, kau malah bertanya balik?" Lanjut Asmodeus. Tak lagi menahan sedikitpun hawa membunuh yang tadi sedikit ia tahan.


Disisi lain, merasakan luapan hawa membunuh tersebut, Fairley segera memasang ekspresi waspada, cenderung takut.


Bagaimana tidak, selama perjalanan hidupnya, Fairley belum pernah sekalipun menjumpai aliran Hawa membunuh yang begitu dingin dan menusuk seperti sedang di keluarkan oleh Asmodeus.


"Hawa membunuh yang begitu mengerikan! Siapa sebenarnya gadis kecil ini?" Gumam Fairley.


"Aku pernah berjumpa dengan salah satu Tetua paling tersohor dari Dark Guild, tapi hawa membunuh yang ia keluarkan, bahkan berada pada level yang sangat jauh lebih rendah dari milik gadis ini!" Lanjut Fairley, ketika merasa hawa membunuh yang meluap dari roh Asmodeus, sedikit mulai bisa menerobos aliran Mana Tanaman yang menyelimuti seluruh wujud kesadarannya.


"Asmodeus! Sudah, jangan banyak bicara! Kita musnahkan saja orang ini sekarang juga! Benar-benar mengganggu waktu tidurku saja!" Dengus Belphegor.


"Aku menginginkannya!"


Disisi lain, Mammon juga kembali bergumam. Dari tadi, dengan ekpsresi wajah datarnya yang khas, sama sekali tak melepaskan tatapan mata pada Nimfa.


"Sudahlah! Makan saja dengan sekali lahap!" Ucap Baal. Tanpa menunggu lebih lama, segera menerjang maju kedepan.


*Woooshhhh…!!!


Diikuti oleh Asmodeus dari belakang.


*Woooshhhh…!!!


*Woooshhhh…!!!


Sebelum detik berikutnya, Belphegor dan Mammon melakukan langkah menerjang yang sama.


"Ohhh… Tidak! Tidak!"


Melihat keempat bocah dosa bergerak secara tiba-tiba, Nimfa tentu saja menjadi panik.


"Luna! Aku tak bisa membiarkan Masterku mati! Aku tak mau kembali menjadi wujud buah dan menunggu tanpa kepastian untuk orang lain mengkonsumsi wujud buahku lagi!" Seru Nimfa.


"Hmmmm… Tentu saja!" Dengus Luna. Menatap tajam kearah para bocah dosa.


*Wuuungg…!!!


*Sraaaakkkk…!!!


Disisi lain, Nimfa yang jelas juga tak hanya bisa tinggal diam, segera mengalirkan Mana Tanaman untuk menciptakan sulur-sulur penahan yang dengan cepat menyergap roh keempat bocah dosa.


"Joy Kecil!" Ucap Luna kemudian.


"Tuuuuu…!"


*Wunggg…!!!


Seperti paham dengan keinginan Luna, Joy Kecil dalam sekejap menciptakan aura pelindung untuk menutup sekitar wilayah dimana Fairley berada.


"Ba*jingan! Justru membela orang luar! Selama ini, aku tahu kalau kau tak bisa dipercaya!" Bentak Asmodeus. Menatap dengan penuh nafsu kepada Luna.


"Joy Kecil! Jangan menjadi pengkhianat!" Teriak Baal. Kepada Joy Kecil.


"Tuuu???"


Sebuah teriakan yang disambut oleh Joy Kecil dengan raut wajah polos dan tak mengerti. Menatap bergantian kearah Baal dan Luna. Terlihat kesulitan untuk memilih harus mendengarkan siapa.


"Hmmmm… Jika kau tak menurutiku, maka kedepan aku tak akan mau lagi menemani bermain!" Dengus Luna. Memasang wajah cemberut.


"Tuuu…"


Kata-kata Luna, segera menyebabkan raut wajah Joy Kecil menjadi sedih.


"Kau gadis Gravitasi sialan! Jangan manfaatkan kepolosan Joy Kecil!" Bentak Baal. Terlihat marah.


"Hmmmm… Apa? Itu kalian yang berlebihan! Bagaimanapun juga orang ini cuma masuk tanpa niat buruk apapun!" Ucap Luna.


"Bagaimana kau tau ia tak punya niat buruk?" Tanggap Belphegor.


"Nimfa, apakah kalian punya niat buruk?" Tanya Luna cepat kepada saudarinya begitu mendengar pertanyaan Belphegor.


"Tentu saja tidak!" Jawab Nimfa singkat.


Satu jawaban yang membuat Luna memasang ekspresi wajah puas.


"Dengar sendiri bukan?" Ucap Luna.


"Ohhh… Dan kau pikir dengan hanya begitu kami akan percaya?" Bentak Asmodeus.


"Teman! Yang kukatakan benar adanya! Masterku hanya ingin memeriksa kondisi Ranah Jiwa Master kalian! Tak lebih!" Jawab Nimfa.


"Bagaimanapun juga, aku jelas tak akan melakukan hal buruk apapun pada Master dari Luna!" Lanjut Nimfa.


"Diam…! Dan siapa temanmu! Jangan sekali-kali panggil aku seolah kita adalah teman!" Bentak Asmodeus. Memasang ekspresi wajah mengerikan.


Ekspresi yang segera membuat Nimfa menjadi takut, bersembunyi di belakang punggung Luna.


"Asmodeus! Kenapa kau membentak!" Seru Luna balik. Dengan wajah kesal.


"Kau juga! Jangan pernah panggil namaku! Kita bukan teman!" Bentak Asmodeus lagi. Menjadi semakin marah.


*Woooshhhh…!!!!


"DIAAAAAMMMM…!!!!"


Para roh penghuni ranah jiwa terlihat masih berseteru satu sama lain, sampai tiba-tiba, sebuah suara bentakan lantang, diiringi dengan hawa menekan yang begitu intens. Terdengar dari arah Element Seed.


Theo yang sejak awal terlihat berkultivasi dengan tenang, kini telah membuka kedua mata. Menatap tajam dengan pandangan menyapu kearah setiap sosok yang ada di hadapannya.


"Dasar bocah-bocah tak berguna! Aku hanya memberi intruksi sederhana! Jangan biarkan ada yang menggangu! Halangi semua usaha eksternal yang berusaha menarik keluar kesadaranku!"


"Sehingga aku bisa melakukan penyerapan Mana Api kualitas terbaik milik Golden Crow yang sebelumnya sempat kuambil beberapa! Mencoba memanfaatkan untuk naik tingkat!"


Kata-kata marah bernada dingin Theo, ditambah pancaran aura yang keluar dari dalam Element Seed, segera membuat setiap makhluk yang ada di sekitar, hanya bisa menutup mulut. Bergetar ketakutan.


"Hanya intruksi sederhana! Bukan hanya tak mampu menjalankan, kalian malah ikut ribut dan menggangguku!" Lanjut Theo, sebelum menatap tajam kearah Fairley.


"Dan kau! Katakan pada orang-orang yang ada diluar, untuk cukup diam dan menunggu!"


"Pergi!" Tutup Theo. Seraya membuat gerakan mengayunkan tangan.


Dalam sekejap, dan tanpa menunggu jawaban apapun, menendang keluar wujud kesadaran Fairley dari dalam Ranah Jiwa.


---


Note :


Akun Instagram SDC.